Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
99



Angga melihat barisan panjang itu, dia sudah mengantri hampir 15 menit, dan di depan mereka masih ada sekitar 6 orang lagi, dan dia sudah tidak tahan lagi.


"Wah, masih lama ya, sudah sangat haus." kata Bella sebenarnya hanya bergumam untuk dirinya sendiri, tapi Angga mendengarnya.


Angga yang juga sudah tidak sabar lagi, langsung mengambil sesuatu dalam sakunya, seperti sebuah kartu nama, tapi berwarna emas, dia langsung mengacungkannya ke atas.


Beberapa pegawai yang ada di sana langsung mendekat, mereka terkejut, itu tanda pengenal Angga, dan kenapa dia ada di kerumunan orang yang mengantri.


Bella yang melihat itu langsung kaget.


"Tuan, Nona, silahkan melalui jalur khusus. " kata seorang pegawai di sana.


"Kenapa begitu?" kata Bella melihat Angga, kan kesepakatannya mereka akan seperti orang-orang lain.


"Aku lelah, dan haus, tidak bisa menunggu lebih lama." kata Angga mencari alasan, dia lalu menarik Bella ke arah kursi khusus yang baru saja disusun untuknya dan Bella. Semua orang di sana jadi memperhatikan mereka. Gerai minuman yang seharusnya self service, untuk Angga mereka melakukan pelayanan, Bella jadi tampak tak enak menjadi perhatian oleh begitu banyak pasang mata yang tampak iri.


" Anda ingin minum apa Tuan?" kata Pelayan itu.


"Tanyakan saja padanya. Aku hanya ingin minum air putih." kata Angga.


"Baik, Anda ingin minum apa Nona?"


"Yang ini saja, terima kasih." kata Bella tersenyum, setelah pelayan pergi, dia sedikit menarik tangan Angga yang dari tadi tak lepas menggenggam tangan Bella.


"Kenapa?" kata Angga seolah tidak peduli.


"Lihat lah, lagi-lagi kita jadi sorotan."


"Biar saja."


"Ehm, tapi kenapa semua orang tahu tentang dirimu? Sampai mereka melakukan ini semua. " kata Bella penasaran, belum sempat Angga menjawab, seorang pria dengan setelan jas sangat rapi mendatangi mereka.


"Selamat siang Tuan Angga, maaf, saya tidak tahu Anda datang." kata pria itu memberikan hormat pada Angga.


"Ya, lanjutkan pekerjaan kalian."kata Angga seperti biasa dingin.


"Baik Tuan." kata Pria itu, dia undur diri.


"He? Kenapa dia juga kenal denganmu? kau ini terkenal di mana-mana ya?" kata Bella bingung.


Angga melirik sedikit ke arah Bella, masa dia masih belum tahu? Dia bodoh atau pura-pura bodoh? Pikir Angga.


"Tentu dia kenal denganku, aku pemilik mall ini." kata Angga menatap Bella dengan tajam namun juga ada kelembutan.


Bella terdiam, ha? Mall ini milik Angga? Mall sebesar ini miliknya? Yang benar saja?, pikir Bella sedikit tidak percaya.


"Kau seharusnya tahu sekarang kalau kekasihmu bukan orang sembarangan. " kata Angga dengan sikap angkuh.


"Ya, suamiku juga seorang pangeran. "kata Bella bergumam pelan karena kesal dengan sikap angkuh Angga, dia bergumam sangat pelan agar Angga tak mendengarnya, nyatanya, Angga tetap mendengarnya.


"Apa maksudmu?" kata Angga jadi kesal.


"Ah, tidak, hanya bergumam, " kata Bella merasa salah bicara.


"Bagaimana caranya agar kalian bercerai?, aku akan suruh  Asisten Jang mencari jalannya, " kata Angga dengan wajah begitu kesal, dia sudah mau pergi kencan begini, Bella malah bicara soal Aksa. dia mengambil handphonenya dengan paksa. Menulis pesan, lalu dia membuang handphonenya dengan sembarangan ke meja.


Bella tersenyum lucu, Angga kalau cemburu sangat imut, pikirnya.


"Jangan marah ya, ya, " kata Bella menarik-narik lengan baju Angga.


Bersamaan dengan itu, minuman Bella juga di antarkan, sebuah Milk tea dengan boba yang lagi terkenal sekarang, juga di antarkan sepotong kue coklat dengan lapisan hijau di dalamnya.


" Nona  ini pesanan Anda, Avocado Mousse cake kami paling di minati, silahkan di coba, khusus untuk Anda," kata pelayan itu dengan senyuman merekah, melihat itu tentu Bella sangat senang, coklat dan alpukat benar-benar sempurna.


"Terima kasih ya. " kata Bella dengan antuasias mencoba makanannya. Dia mengambil sedikit, dan rasanya nikmat, langsung meleleh saat di mulut Bella, wah, tidak ada kenikmatan lebih dari ini, Bella jadi tidak memperhatikan Angga yang memperhatikannya dengan senyuman manis, tapi lama-lama Bella ingat juga ada Angga di sampingnya.


"Ada apa?" kata Bella.


"Mulai sekarang kau itu hanya seorang gadis yang belum menikah, dan aku adalah satu-satunya kekasihmu." kata Angga terlihat bangga dan senang.


"Maksudnya?" kata Bella bingung.


"Bella sudah di nyatakan meninggal oleh suaminya, dan seluruh tanda kependudukan dan juga dokumenmu menunjukkan namamu sekarang Mika, so, Mika adalah tunanganku, kau adalah tunangan ku."


"Ha? Tunangan?" kata Bella bingung, kemarin dia pacaran, hari ini jadi tunangan? Kenapa begitu cepat.


"Ya, menurut semua dokumen kependudukan kau adalah Mika, kau tunanganku. Jadi jangan coba-coba lagi mengatakan kau punya suami." kata Angga tajam. Bella hanya terdiam. Belum dia sempat menjawab, tiba-tiba…


"Kakak, Tidak aku sangka bertemu denganmu di sini, bukannya kau tidak suka ketempat seperti ini?" kata Medeline memecah suasana itu.


Angga hanya sedikit menaikkan sudut bibirnya, tidak punya keinginan untuk menjawab, kalau tidak ingat dia adalah adiknya Jofan, dia sudah mengusirnya karena sudah menganggu momennya bersama Bella. Bella melihat Medeline dengan tatapan sinis, di balas pula oleh Medeline.


Medeline menyuruh seseorang untuk mengambilkan dia kursi untuk di duduki, dia lalu segera duduk begitu kursi itu datang.


" Apa kabarmu Nona? aku baru sadar aku tidak tahu namamu." kata Medeline.


"Mika, namanya Mika." kata Angga berat.


"Serius, namanya Mika? " kata Medeline cukup terkejut. Bella hanya tersenyum, tak ingin menanggapi Medeline.


Medeline mengigit bibirnya, pantas saja Angga begitu dekat dengannya, wanita ini jangan-jangan hanya berpura-pura menjadi Mika untuk mendekati Angga, pintar juga taktiknya, pikir Medeline.


"Kau ingin?" kata Bella mengambil sedikit Avocado mousse itu, lalu menyodorkannya pada Angga. Melihat itu Medeline sedikit tersenyum sinis.


"Kak Angga bukan orang yang suka makanan manis, gimana sih? Masa itu saja kau tidak tahu." kata Medeline menyindir  Bella. Bella juga tahu, hanya tak enak memakannya sendiri, kalau memang tak mau ya sudah, Bella juga bisa makan sendiri.


Bella lalu menarik lagi makanan itu, bersiap ingin memakannya, namun tangannya langsung di tangkap oleh Angga.


"Ehm, ada apa? " kata Bella


"Kenapa kau makan bagianku, sini berikan padaku. "kata Angga,


Bella sedikit kaget, jika Bella sedikit kaget, Medeline sudah sangat kaget, kaget hingga matanya hampir keluar, Bella lalu menyuapi Angga dengan coklat itu, Bella tersenyum sangat manis, senang Angga menerima makanannya, apa lagi sekarang Angga menatapnya begitu lembut. Medeline yang mempehatikan adegan itu hanya bisa menahan amarahnya, rasanya dia sudah terbakar, terbakar hingga matanya merah, dia mengepalkan tangannya dengan kuat, hingga kuku-kukunya menancap di daging tangannya. Tidak perlu menunjukkan kemesaraan seperti itu juga, pikir Medeline.


" Kak, aku sepertinya harus pergi dulu, selamat siang. " kata Medeline buru-buru pergi sebelum dia medelak, Bella yang melihat itu langsung tersenyum.


"Cepatlah makannya, aku sudah ingin pulang sekarang, tempat ini tidak membuatku nyaman. "kata Angga terlihat cuek lagi.


"Baiklah, kau hanya romantis di depan  orang. "kata Bella lagi.


"Tapi kau yang ingin dilihat bagus di depan orang. " kata Angga lagi.


"Iya, iya, akan ku habiskan. "kata Bella lagi.


Bella langsung makan kuenya dengan buru-buru, setelah itu dia segera mengikuti Angga yang sudah berdiri duluan, lalu mereka pulang, untunglah Asisten Jang sudah bersiap menjemput mereka, setelah itu mereka langsung pulang.