Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
186



Sania membawa nampan berisi air dan obat khusus yang sudah di siapkan oleh dokter kerajaan, di tengah perjalanan dia meletakkan nampan itu sebentar di meja sebelum dia sampai ke ruangan Ratu, dia lalu mengambil obat merah muda itu, segera mengantikannya dengan obat yang sudah di siapkan oleh Jofan. Sudah hampir seminggu dia melakukan hal ini, untungnya sepertinya tidak ada yang curiga, dan untungnya peringai Ibu ratu tidak banyak berubah.


Sania cepat-cepat memasukkan tempat obat itu ke kantungnya, dan ingin segera mengangkat nampan itu kembali, sebelum tiba-tiba suara berat seorang pria terdengar mengisi lorong itu.


"Tunggu! Apa yang kau lakukan? " kata suara pria itu, Sania segera mematung, tubuhnya terasa berat, dia ingat benar suara siapa itu. Seketika seluruh tubuhnya terasa nyeri bagaikan seluruh bekas sayatan itu kembali terbuka.


Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat dari arah belakangnya, Sania yang masih terpaku itu perlahan memberanikan diri untuk memutar tubuhnya, dia menunduk, tangannya bahkan terasa gemetar. Dan benar saja, pria yang setiap malam membuat mimpi buruk baginya berdiri tepat di depannya.


Aksa sebenarnya hanya ingin melihat keadaan ibunya karena hari ini adalah hari ulang tahunnya, saat dia hampir sampai dia melihat seorang wanita membawa nampan, dari perawakan tubuhnya entah kenapa dia merasa familiar.


"Siapa kau ini? " kata Aksa tegas.


"Seorang pelayan khusus ibu ratu Tuan, dia cacat, wajahnya terbakar saat dia kecil, hancur dengan banyak luka, Anda tidak akan ingin melihatnya, " kata Asisten Wan yang menjelaskan pada Aksa, Aksa yang melihat itu segera mengamati Sania, untungya baju Sania tertutup sepenuhnya, jika Aksa melihat bekas luka sayatannya, dia pasti curiga.


Aksa melihat bekas luka yang jelek sekali di bagian kepalanya yang botak, membuat dia mengerutkan dahinya, menjijikkan sekali, pikirnya.


"Pergilah, kau membuatku memiliki mimpi buruk, "kata Aksa ketus, Sania mengenggam nampan itu dengan sangat erat, bukannya dia yang sudah membuat Sania bahkan tidak bisa tidur tenang setiap malam, namun Sania mencoba menahan emosinya, dia hanya mengangguk kecil dalam tunduknya, dan segera pergi.


"Lain kali saja kita bertemu ibu Ratu, aku kehilagnan mood bertemu dengannya, "kata Aksa yang memandangi cara berjalan Sania, terlalu familiar, namun siapa?, hal ini merusak moodnya seketika.


Pintu ruangan ratu dbukakan oleh penjaga di sana, Sania memberikan senyuman pada mereka, setidaknya penjaga di sana adalah orang-orang yang cukup ramah pada Sania, sama seperti setiap harinya, Ayana duduk dengan diam, menatap kosong pada dinding yang usang, bau ruangan itu sudah tidak pengap, Sania mencoba menutupinya dengan meletakkan beberapa karangan bunga di sudut-sudut ruangan Ayana, walau pun masih lembab, namun keadaannya tidak sekacau pertama kali dia datang ke sini.


"Selamat pagi ibunda Ratu, saya membawakan Anda obat Anda, ayo makan obat dulu, " kata Sania dengan sangat halus, Sania cukup simpati melihat keadaan seorang ibunda ratu yang nanti anaknya akan menjadi raja, namun harus di kurung selama 15 tahun, dia sedikit bersyukur tidak menjadi istrinya Aksa, kalau dia jadi, apakah nasibnya juga akan sama dengan Ayana?.


Tak seperti biasanya, Ayana kali ini merespon, matanya yang biasa kosong menatap dinding itu melirik dan menatap Sania, Sania melihat perubahan itu sedikit terkejut, dia berpikir, apakah Ayana akan marah atau bagaimana?.


"Kemarikan," Suara serak Ayana terdengar, sudah bekerja beberapa minggu di sini, tapi baru kali ini dia mendengar suara Ayana. Sania segera mengambilkan piring kecil berisi pil untuk Ayana, Ayana segera mengambilnya dan meminumnya sendiri tanpa bantuan Sania. Ayana memperhatikan Sania dengan wajah sendu.


"Terima kasih," kata Ayana.


Sania hanya diam lalu mengangguk. Ayana segera mengambil gelas yang tadi dan dengan cepat melemparkannya ke tembok.


Prang … !


Gelas itu pecah berkeping-keping, bahkan pecahannya berserakan ke mana-mana, Sania yang melihat itu tentu kaget, kenapa tiba-tiba Ayana bisa bersikap begitu Agresif.


"Ibu Ratu memecahkan gelas, "kata Sania masih meredam rasa terkejutnya.


"Oh, itu sudah biasa, bersihkan saja dengan sapu, hahaha, kasihan orang baru kaget dengan hal begituan, "kata Penjaga itu segera kembali menutup pintunya, Sania langsung melihat ke arah Ayana lagi, Ayana kembali memperhatikan Sania, Sania jadi bingung melihat Ayana.


"Aku harus bertingkah seperti itu agar mereka berpikir aku masih gila, "kata Ayana lembut, dengan senyuman tipis yang menghiasi bibir pucatnya. Sania hanya memandangnya.


"Kemarilah, siapa namamu? " kata Ayana menepuk ranjang yang ada di sampingnya, Sania awalanya masih sedikit ragu-ragu, namun dia mengikuti kemauan Ayana, dia lalu duduk di sampingnya.


"Kau satu-satunya orang yang berani menganti obat racun itu, dari mana kau tahu obat itu bukan obatku yang sebenarnya, itu obat yang hanya di ketahui oleh keluarga kerajaan, apa kau keluarga kerajaan? " kata Ayana lagi sedikit berbisik, takut para penjaga mendengarnya.


Sania menatap mata Ayana yang tampak indah dan tulus itu, dia hanya sedikit tersenyum lalu mengangguk. Ayana memperhatikan wajah Sania yang di tutupi topeng, bekas luka di kepalanya yang tidak bisa di tutupi itu membuat Ayana kasihan.


"Siapa yang membuatmu seperti ini? Suamiku kah? " kata Ayana meraba luka di kepala Sania, terasa hangat dan halus, juga tak rata, benar-benar luka yang buruk untuk seorang wanita.


Mendapat sentuhan begitu lembut dari tangan Ayana, entah kenapa Sania jadi tersentuh, dia bahkan tidak bisa menolak ketika air matanya mulai merembes di matanya. Sania tidak mungkin menceritakan bahwa Aksa lah yang membuatnya begini, bagaimana pun Ayana adalah ibunya Aksa.


"Kenapa menangis sayang? Apakah benar dia mengeksekusimu begini? " kata Ayana, tahu bagaimana peringai buruk suaminya, Sania lalu menggeleng lemah.


"Aksa kah?  Bella ini kah kau? Tapi kau tidak punya mata berbeda, " kata Ayana, Sania memandang Ayana, dia ingat segalanya, bahkan dengan Bella? Apa jangan-jangan dia masih ingat apa yang membuatnya di sini.


"Aku bukan Bella, namaku Iva Ratu, aku di sini  di perintahkan untuk menolongmu, " kata Sania lagi tidak ingin berlarut-larut, dia harus menyelesaikan misinya secepat mungkin hingga dia punya waktu membalaskan dendamnya.


"Menolongku? Siapa yang ingin menolongku? " kata Ayana tampak penasaran.


"Angga Xavier Huxley, dia menyuruhku untuk menolong Anda, hingga dia menyerahkan obat khusus untuk Anda, "kata Sania lagi.


"Angga? anak itu … dia pasti sudah besar sekarang, aku tahu kenapa dia menolongku, " kata Ayana tampak melemparkan pandangannya ke arah lain.


"Angga ingin tahu apa yang terjadi pada orang tuannya, " kata Sania.


"Aku tidak bisa mengatakannya, jika aku mengatakannya, Aksa akan kehilangan hak istemewanya, dan semua orang bisa menyerangnya, Anakku tidak boleh menanggung kesalahan ayahnya, "kata Ayana yang masih memikirkan keadaan anaknya.


Sania terdiam mendengar alasan Ayana, apakah dia tidak tahu sekarang anaknya sudah menjadi seorang monster yang tidak punya perasaan.