Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
219



Ratu ayana melihat wajah Raja Leonal, Dendamnya yang sudah di simpannya selama 15 tahun ini, akhirnya bisa di balaskannya, dengan sangat membab*i buta dia memukuli tubuh Raja Leonal, menyampaikan semua emosinya yang sudah begitu tertumpuk, Pria seperti ini harus di musnahkan, pikirnya.


 


Bella baru saja keluar, saat dia melihat Ratu Ayana mulai memukuli tubuh Raja Leonal, melihat itu dia terdiam sebentar, dia tahu penderitaan Ratu Ayana, amarahnya yang terpendam akhirnya bisa dia salurkan.


 


Bella tak lama mengamati, dia lalu segera ingat untuk keluar dari tempat itu, tapi Bella belum tahu bagaimana keluar dari sana, dia harus pergi ke sebuah lorong di sebelah kiri, dan akhirnya Bella melihat lorong itu, namun belum sampai dia ke tempat lorong itu, langkahnya terhenti, melihat Aksa berdiri di ujung lorong yang lurus, Mata Aksa terpaut pada Bella, Aksa sudah merindukan sosok ini, sekuat tenaga dia melawan diri agar tidak lagi melihat Bella, karena dia sudah berjanji akan membiarkannya tenang, namun baru saja dia mendapat kabar ayahnya menyekap Bella di tempat ibunya, karena itu dengan segara ke tempat ibunya, sekarang Wanita itu ada di depannya, terlihat sangat kaget ketika melihat dirinya.


 


 


Suasana hening itu berubah ketika suara pukulan besi terdengar nyaring terkenal lantai batu, Ratu Ayana masih melampiaskan kemarahannya, Aksa melihat hal itu dari belakang Bella, Bella juga hanya bisa mematung melihat Aksa, apakah Aksa juga akan menahannya? Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus lari sekarang? kalau lari apakah kandungannya tidak akan bermasalah?.


 


 


"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran," Suara Aksa menggema di seluruh lorong, membuat Bella yang tadinya terlihat panik langsung berubah lega, tak ingin buang-buang waktu dan memang takut Aksa berubah pikiran, dia segera berjalan dan berbelok ke lorong sebelah kiri.


 


 


Mata Aksa terus mengikuti langkah Bella, hingga wanita yang di cintainya itu menghilang di balik tembok, Lalu perhatian Aksa berpindah, Aksa bisa melihat jelas dari pintu yang terbuka lebar apa yang ibunya sedang lakukan, dia tahu percis siapa yang dipukuli ibunya, Aksa segera berjalan ke arah kamar ibunya, dengan cepat mengambil tongkat yang terus menerus dipukulkan pada tubuh ayahnya, bahkan tongkat itu sudah berubah warna menjadi merah, berlumur darah Raja Leonal.


 


 


"Sudah Ibu, "kata Aksa.


Ayana melihat anaknya, wajahnya yang tampak sangat emosi karena melampiaskan semuanya segera melunak, Aksa segera mendekap ibunya kedalam pelukkannya, membuang tongkat itu menjauh, dan hanya melihat tubuh ayahnya yang sudah bersimbah darah.


 


Bella menyelusuri lorong yang ternyata memang benar-benar gelap, dia bahkan harus benar-benar perlahan menapakkan kakinya, dia takut terpeleset atau tersandung sesuatu saat berjalan di lorong itu, tidak ingin melukai kandungannya, karena hanya ini satu-satunya yang dia punya sekarang.


 


Dia berjalan perlahan, tiba-tiba dia mendengar suara dari belakangnya, membuat dia seketika berbalik, dia jadi gemetaran di tempat yang sangat minim cahaya ini, apalagi udara lembab dan dingin, membuat seluruh bulu kuduknya berdiri, tapi dari pada harus kembali ke sana dan bertemu Aksa, dia lebih baik terus berjalan.


Dia mundur perlahan-lahan, namun baru saja ingin berputar, tubuhnya menabrak seseorang di belakangnya, karena cahaya remang-remang dan jujur saja Bella sudah mulai ketakutan, dia tidak sadar dan langsung berteriak, namun sebuah tangan hangat langsung menutup bibirnya, menahan suara teriakan Bella, Orang itu juga langsung memeluknya dari belakang, menyeretnya ke lorong lebih dalam, Bella mencoba untuk berontak, namun tenaganya tak bisa mengimbangi, lalu dia ingat, jika dia terlalu berontak, yang ada kandungannya nanti bermasalah, apa lagi dia mulai merasa keram di perut bawahnya, karena itu dia menjadi pasrah saja.


 


 


Tak lama pria itu membawa Bella keluar, di antara cahaya Bulan yang remang, Pria itu melepaskan bekapannya dan pelukannya, Bella segera melihat ke arah pria itu. Bagai dalam mimpinya, sosok pria yang paling dia rindukan, yang wajahnya tidak pernah dia lupakan, yang namanya selalu dia sisipkan setiap kali berdoa, berdiri di depannya, menatapnya dengan sangat lembut, seolah mengatakan bertapa dalam rasa rindunya pada Bella.


 


 


 


 


"Aku pulang,"kata Angga, kata-kata itu yang selalu ingin di katakannya saat bertemu Bella, juga kata itu yang ingin sekali Bella dengar dari Angga, membuat Bella menangis dengan penuh air mata, tak menyangka dia bisa mendengar kata-kata itu sekarang.


 


 


Melihat tangis Bella yang berderai juga tumpukan rindu yang sudah menyesakkan hati Angga, Wanita ini yang selalu menjadi motivasinya agar bisa sembuh, wanita ini yang setiap saat ada di pikirannya, dia tidak ingin apapun lagi di dunia ini, dia hanya ingin bisa memeluk kembali istrinya, dengan cepat Angga segera menarik Bella dalam pelukannya, pelukan yang sangat dalam dan hangat menyelimuti keduanya, lewat pelukan ini mereka ingin mencurahkan seluruh rasa, tak akan pernah lagi ingin berpisah, 5 bulan ini benar-benar menyiksa bagi ke duanya.


 


 


"Tuan Angga kita belum aman, " kata salah seorang Tentara yang berjaga di sana. Mendengar itu Angga sadar, ya mereka belum bisa berhenti di sini, bagaimana pun mereka masih di sekitar kerjaan, Angga tak tahu apa yang terjadi di dalam, jadi dia harus membawa Bella secepatnya.


 


 


"Kita Pulang," kata Angga lagi.


"Ya."


 


 


Angga langsung menggenggam tangan Bella, perlahan lahan membawa Bella keluar dari jalan belakang kerajaan itu, untunglah salah satu dari tentara yang mereka bawa juga merupakan orang yang membawa bukti yang pernah di serahkan oleh Sania dulu, jadi dia tahu jalan masuk dan di mata tepatnya tempat penyekapan Ratu sehingga akhirnya mereka bisa dengan selamat kembali ke mobil.


 


 


Angga membantu Bella naik ke mobil militer yang cukup tinggi, lalu setelah itu Dia masuk dan segera pergi dari sana, di perjalanan salah satu prajurit melaporkan keadaannya pada Presiden,, membuat Jofan sedikit lega saat ini dia baru saja keluar dari bandara dengan mobil pribadinya.


 


 


"Nona Bella selamat, apakah Anda ingin langsung bertemu dengan nya Nona Shella," kata Jofan melirik Shella yang dari tadi tampak cemas.


"Benarkah? pasti, aku sangat ingin bertemu dengannya,"kata Shella begitu senang.


"Baiklah, Kita ke tempat Angga," kata Jofan tersenyum, wajahnya yang dari tadi tegang sudah terlihat lebih santai, membuat senyumannya itu terlihat sangat-sangat manis, dan Shella terperangkap oleh senyuman itu. apa yang di pikirannya?, Pria yang duduk di sampingnya ini adalah seorang Presiden, dan dia hanya pelayan. Bahkan memikirkannya saja itu bukan hal yang baik, karena itu Shella hanya menatap jendela, melihat pemandangan di luar yang bermandikan cahaya rembulan malam itu.