
' Bebas? terkadang aku lupa bagaimana rasanya, karena aku sudah menyerah pada sebuah batas, batas antara hidupmu dan hidupku yang tampak jelas'
____________________________________________
" Tempat apa ini? " kata Bella.
" Owh, Ini Central Park Nona, taman bunga kota, sepertinya kalau tidak salah ini hari pertama pembukaan festival bunga, " kata Judy.
" Festival bunga? Wah, pasti banyak bunga di sana yah? " kata Bella semangat.
" Ya, banyak bunga berwarna warni bermekaran, dan di bentuk sedemikian rupa hingga terlihat sangat indah, ini acara tahunan di kota ini Nona "
" Benarkah? Kenapa aku tidak pernah tahu ya, Judy, bisakah kita melihat kesana sebentar saja, aku sangat penasaran, " kata Bella.
" Tapi di sana sangat ramai, " kata Judy menatap tempat itu.
" Sebentar saja, jika tidak memungkinkan aku janji akan segera kembali, Aku akan selalu memakai kacamata dan maskerku" kata Bella lagi.
" Baiklah kalau begitu Nona, saya akan melihat dulu syarat untuk masuk, mengingat ini adalah hari pertama pembukaannya, " kata Judy.
" Terima kasih Judy, aku akan menunggu di sini, " kata Bella.
Judy lalu keluar dan segera menuju gerbang taman itu, Bella sedikit penasaran, dia melihat Judy yang sedang berbicara pada para penjaga, saking penasarannya dia segera memakai kacamata dan maskernya, keluar dan menghampiri Judy. Judy yang melihat ke datangan Bella langsung menghampirnya.
" Bagaimana, Judy? " kata Bella.
" Maaf Nona, sepertinya hari ini kita tidak bisa datang kesini, karena yang boleh masuk hanya orang-orang yang mempunyai undangan eksklusif, " kata Judy dengan wajah kecewa.
" Yah, tapi tidak apa-apa, lain kali kita kesini lagi, " kata Bella mencoba untuk menghibur diri sendiri, padahal dia ingin sekali melihat bunga-bunga yang ada di dalamnya.
" Maaf, Mereka berdua itu datang bersama Tuan Daihan " kata seseorang mengalihkan perhatian Bella dan Judy.
Bella memperhatikan pria itu, pria itu adalah asisten Daihan kemarin, dari dalam Bella juga dapat melihat Daihan berjalan menuju ke arah mereka. Dia tersenyum dengan manisnya, pria itu benar-benar mengoda dengan kharismanya.
" Selamat pagi, Mika, tidak aku sangka bertemu denganmu di sini, " kata Daihan tersenyum. Dia memperhatikan tampilan luar Bella, senyumnya lalu terhapus.
" Kak, kakak di sini juga? " kata Bella tak percaya, di mana dia akan pergi di situ pula ada Daihan.
" Ehm… yah, aku mendapat undangan dari Gubernur, jadi aku datang, ehm… kau sangat berbeda, " kata Daihan.
" Owh, iya ini kemarin Angga menyuruh Dorland untuk mengubah seluruh penampilanku menjadi seperti Mika, " kata Bella lagi.
" Sepertinya kita lebih baik berbicara di dalam, di sini terlalu ramai, " kata Daihan.
" Baiklah kak, " kata Bella.
Daihan berjalan di samping Bella, dia segera menuntun Bella masuk, pertama kali mereka masuk ada sebuah gerbang yang begitu sangat besar dan dibalut oleh bunga-bunga yang indah, Bella bahkan hingga mendogak melihat gerbang yang sangat besar itu. Begitu masuk banyak sekali bunga-bunga yang bermekaran dan berwarna warni, juga beragam jenisnya.
Bella begitu terpana, dia benar-benar kagum dan takjub dengan apa yang di lihat, bunga-bunga di sana begitu indah, selain bunganya yang indah, penataan bunga-bunga itu juga membuat takjub, bunga-bunga disana di bentuk hingga membentuk seorang wanita dengan gaun yang panjang, ada pula yang membentuk seekor burung merak dengan ekor dari bunga-bunga yang di susun sedemikian rupa hingga begitu menakjubkan, di sana juga ada labirin bunga yang cantik. Untung saja Bella memakai maskernya, kalau tidak wajahnya yang sedang melogo pasti terlihat.
" Haha, maafkan aku Kakak, di sini sangat indah, hingga aku melakukan hal seperti ini, " kata Bella.
" Tidak apa-apa, lihatlah, kau belum pernah melihat hal seperti ini kan? " kata Daihan begitu pengertian.
" Iya, aku tidak tahu bunga-bunga bisa begitu cantiknya, " kata Bella.
" Ngomong-ngomong kenapa tidak membalas pesanku? " kata Daihan menatap Bella walaupun wajahnya tertutup dengan kacamata dan masker, membuat beberapa pengunjung tampak aneh melihat penampilan Bella, ya pasti, orang datang kesini untuk melihat keindahan bunga, bangaimana bisa menikmatinya jika mengunakan kaca mata hitam seperti itu?
“ Pesan? Tidak ada pesan dari kakak, " kata Bella mengeluarkan handphonenya, lalu memastikan bahwa tidak ada pesan apapun dari Daihan, dan benar saja tidak ada pesan apapun, Daihan juga memperhatikan handphone Bella yang di bukanya, tidak ada sama sekali pesan yang tadi dikirimnya. Dia lalu menunjukkan pesan yang dikirimnya pada Bella, Bella hanya memandangi pesan itu.
" Sudah tidak perlu dipikirkan, mungkin ada masalah sinyal, " kata Daihan.
" Iya mungkin, tapi akhir-akhir ini sepertinya aku sering tidur berjalan, " kata Bella lagi.
" E? Tidur berjalan? “ kata Daihan bingung.
" Ya, karena aku merasa tidur di ruang tengah, tiba-tiba tadi aku sudah ada di kamar, " kata Bella dengan polosnya.
Daihan terdiam, dia lalu hanya tersenyum tipis, apakah Bella tak pernah berpikir kalau Angga yang membawanya ke kamar? bahkan Daihan saja tahu itu… tapi dia malah berpikir dia sedang tidur berjalan. Daihan mengigit bibirnya, hal ini membuktikan bahwa Angga peduli padanya.
" Lihat di sana, ada air terjun bunga, " kata Daihan menunjukkan bunga-bunga yang disusun sedemikian rupa hingga menjadi seperti air terjun seribu bunga, bunga-bunga itu di dominasi dengan mawar merah dan mawar putih, membuat semerbak bunga mawar tercium cukup menyengat namun tetap lembut terasa, dia mencoba mengalihkan perasaannya.
Bella berjalan kearah air mancur itu, sangat indah, hingga dia tidak bisa berkedip. Di tempat itu cukup sepi, Daihan memperhatikan Bella.
" Kau bisa membuka kaca matamu, kalau pakai kacamata seperti itu pasti kurang indah, aku akan mejagamu di sini, " kata Daihan.
Memang benar, melihat bunga-bunga dengan kacamata hitam seperti ini sangat tidak menyenangkan, warnanya jadi tidak seindah sebenarnya, tapi Bella cukup takut untuk memperlihatkan matanya.
" Tidak perlu kakak, aku masih takut, " kata Bella.
" Tidak apa-apa, sini." kata Daihan dengan perlahan membuka kacamata Bella dan juga dengan perlahan membuka maskernya, menunjukkan begitu indah matanya yang tak kalah indah warnanya dengan bunga-bunga yang ada disana, Daihan terpaku…menatap Bella yang sekarang dengan jelas bisa di lihat wajahnya, Daihan terpana, Bella sangat cantik, namun penampilan Bella yang sekarang, benar-benar mirip dengan Mika sebelum meninggal, membuat Daihan merasa tak nyaman.
Bella menatap bunga-bunga di air terjun itu, benar-benar lebih bagus dari pada saat dia memakai kacamata itu, dia lalu menatap Daihan yang masih terpaku menatapnya.
" Ada apa kak? Apa aku terlihat aneh? " kata Bella.
" Tidak, seperti biasa kau sangat cantik, hanya saja terlalu familiar, " kata Daihan tersenyum tipis, dia sebenarnya sedikit tenganggu dengan penampilan Bella sekarang, bagaimana pun dia lebih menyukai penampilan Bella sebelumnya, Angga terlalu mengubah Bella agar benar-benar menjadi Mika, ini hal yang di takuti Daihan sebelumnya, Bella bisa menjadi Mika namun kenapa harus menjadi sepertinya 100%, menurut Daihan tidak diperlukan.
Bella hanya tersenyum tipis, dia lalu melihat kembali ke air terjun penuh dengan bunga mawar itu, dia mencium wanginya.
" Aku rasa jika kita pergi ke sini pada malam hari akan lebih indah bukan? " kata Bella menambah lebar senyumnya.
" Ya, benar, lain kali aku akan mengajakmu ke mari pada malam hari jika kau punya waktu bebas, " kata Daihan tersenyum manis menatap Bella.
Bella pun menatap Daihan, mendengar kata bebas, entah kenapa kata-kata itu seperti sangat jauh baginya, bebas itu apa? Bahkan Bella tak tahu artinya, seumur hidup dia belum pernah bebas.