
Saat Angga masuk ke dalam ruangan Bella, dia melihat Bella sedang ditangani beberapa suster dan seorang dokter, dia langsung bergegas menghampiri Bella.
"Ada apa denganmu? "kata Angga kaget.
"Tidak, aku sudah tidak apa-apa, jadi aku meminta dokter untuk melepaskan infus di tanganku. "kata Bella lembut.
"Apa itu tidak apa-apa? " kata Angga bertanya dengan serius pada dokter yang tampak gugup.
"Tidak apa-apa Tuan, Nona keadaanya sudah sangat baik. " kata dokter itu menjelaskan.
"Bisakah aku pulang sekarang? aku terlalu penat di sini terus menerus. " kata Bella lembut pada dokter itu.
"Tentu Nona. " kata dokter itu menunduk karena Angga menatapnya dengan tajam, jangan sampai dokter ini tersenyum pada Bella, dia pasti langsung memecatnya.
"Baiklah, kita pulang hari ini ya? " kata Bella sumringah.
"Baiklah. Judy siapkan semua keperluan untuk pulang. "kata Angga lagi.
"Baik Tuan," Kata Judy segera.
Setelah membuka infus dan bersiap-siap, mereka akhirnya berjalan pulang.
Di perjalanan Asisten Jang mengirimkan pesan bahwa seluruh keperluan yang di butuhkan Sania dan Jofan sudah disiapkan. Angga melihat itu tak membalas, dan segera meletakkan handphonenya kembali ke jasnya.
"Ada apa?" Kata Bella menatap Angga yang tampak serius setelah melihat handphonenya.
"Tidak ada, hanya laporan dari Asisten Jang tentang Jofan." Kata Angga lagi
"Oh, siapa yang sakit?"
"Teman wanita Jofan. Sekarang dia sudah memindahkan semua perawatannya ke rumahnya." Kata Angga menerangkan sambil melihat wajah Bella.
"Wah, Jofan pasti sangat menyukai wanita itu, dia bahkan memindahkannya ke rumahnya. Ehm... aku jadi ingat pertama kali kita bersama, kau juga memindahkan perawatanku ke rumahmu." kata Bella mengingat, dia lalu tersenyum sangat manis, Angga hanya memandang Bella. Apa ini saat yang tepat untuknya mengajak Bella untuk menikah?.
"Ehm, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Kata Angga dengan suara serak dan berat, kenapa sekarang dia jadi gugup? rasanya dulu waktu dia melamar Mika, dia sama sekali tidak gugup, apa karna dia berpikir Mika pasti menerimanya?. Bella bertolak belakang sekali dengan Mika, bahkan terkadang Angga tak bisa menebak kemauan Bella. Akankah nanti Bella menerima ajakannya? Angga jadi galau sendiri.
"Ehm, apakah hal ini penting?" kata Bella halus, menatap Angga yang tampak begitu gugup.
"Ya." kata Angga lagi
"Kalau begitu bisakah menunggu sampai rumah?" kata Bella melirik Judy dan supir yang ada di depan mereka, karena jika mereka mengatakannya sekarang, apa lagi hal penting, Judy dan supir ini akan mengetahuinya.
"Ok, baiklah." kata Angga lagi segera memperbaiki posisinya, dan mencoba untuk lebih santai bersandar di sandaran kursi mobil itu, walau sebenarnya kegugupan dan perasaan ragu itu ada, baru kali ini seorang Angga merasakan perasaan takut ditolak, padahal dia selalu yakin akan segala hal.
Kilatan-kilatan cahaya lampu jalan membuat siapapun senang melihatnya, Bella menatap keluar jendela, dia pikir di tidak akan bisa lagi melihat pemandangan ini karena akan terkurung selamanya di kastil itu, untung ada Angga yang tak menyerah mencari, pikir Bella menatap sosok tampan di sampingnya yang melihat ke arah depan dengan tatapan dinginnya, bukan pria yang ramah, namun punya pesonanya sendiri. Pantas saja hatinya menerima pria ini dengan mudah, tak perlu banyak berkata, dia sudah menunjukkan semua buktinya.
"Kenapa menatapku begitu?" kata Angga, wajahnya masih melihat ke depan, tapi matanya melirik. ke arah Bella.
"Wah, tak apa-apa, Aku tak menyangka, kekasihku tampan juga." goda Bella, Angga yang tadinya melirik membuang pandangan ke depan, Tangannya mengepal, tanda dia gugup karna ucapan Bella, Bella tertawa kecil. melihat wajah tegang Angga.
"Jangan tertawa begitu." kata Angga lagi dengan nada serius.
"Memangnya kenapa? kan kita hanya berempat di sini. " kata Bella.
"Kalau kau terus bergitu, aku tak akan bisa menahan diri untuk menciummu." kata Angga serius, tapi dia juga berniat mengoda Bella.
Bella yang mendengar itu langsung terdiam, tapi tersenyum malu-malu, melihat ke arah depan, Judy dan supir yang bertingkah seolah mereka hanya pajangan yang tidak bisa mendengar apa.
Diam lah, mereka pasti menertawakan kita, kata Bella dengan bahasa isyrat.
Aku serius, mau ku buktikan?. Jawab Angga lagi.
Angga tersenyum, tidak menjawab perkataan Bella, hanya mengenggam tangan Bella dengan erat, seolah tak akan mengizinkan cintanya pergi, Bella yang benar-benar merasa hangat dan berbunga-bunga di hatinya hanya bisa terus tersenyum memandang Angga, bisa hidup seperti ini setiap hari rasanya sudah cukup, pikir Bella.
----*****----
Jofan menatap tubuh Sania yang masih belum sadarkan diri, berbaring dengan nyaman di kamar tamu, beberapa alat dari rumah sakit untuk memantau keadaanya tampak di sampingnya, 3 orang perawat dan 1 dokter selalu standby ada di sampingnya.
"Kapan dia akan sadar?" tanya Jofan
"Untuk perkiraan dia akan sadar saya tidak bisa memastikannya, luka Nona Iva cukup parah, jika dia bisa sadar besok, itu sudah jadi keajaiban dan bukti keinginannya untuk sembuh dan hidup sangat tinggi, saya khawatir keadaannya seperti ini akan lebih lama." jelas Dokter itu.
"Baiklah, tolong laporkan pada ku apapun tentangnya. " kata Jofan lagi.
"Baik Tuan."
Jofan sekali lagi melihat dan mengamati wajah Sania, dulu dia begitu cantik, tapi tak di sangka takdirnya begitu buruk. Jofan jadi merasa benar-benar kasihan dengannya.
Tak lama dia mengamati, Jofan langsung keluar dari kamar tamunya.
"Kalian jaga dia, jangan sampai siapapun tau keberadaannya, bahkan orang tuaku." kata Jofan dengan sangat serius.
"Baik Tuan."
Setelah mendengar itu, Jofan segera berjalan pergi, dia tahu, kalau orang tuanya mengetahui dia merawat seorang wanita apa lagi keadaannya sepeti ini, kemungkinan hanya 2, mereka akan melarang, tapi yang paling parah, mereka akan memanfaatkannya, dan Jofan tidak ingin ke duanya terjadi.
Jofan mengambil ponsel, lalu menelepon Angga.
"Halo, kau sudah sampai di rumah?" tanya Jofan sambil duduk di salah satu sofa besar di ruang tengahnya yang tak kalah megah dengan istana.
"Sudah, ada apa?"
"Terima kasih sudah menyiapkan semuanya, ehm, keadaannya belum membaik, aku akan mengundurkan rencana yang melibatkan dia." kata Jofan lagi memijit keningnya yang sedikit pusing.
"Baiklah, itu tak masalah, bagaimana pertemuanmu dengan Presiden?" kata Angga lagi.
"Dia terlihat cukup memahami keadaannya." kata Jofan
"Kabar yang baik."
"Ya, tapi jangan terlalu senang, ini terlalu tenang setelah penculikan, aku takut Aksa punya rencana yang lain. Aku rasa kau harus memberitahukan pada Bella tentang ibunya, jika Aksa mengunakan ibu Bella, harapanmu akan tipis nantinya, Bella bisa dengan suka rela menyerah pada Aksa. " kata Jofan
"Ya, aku sudah memikirkannya, aku sudah menyediakan pengamanan di sana." kata Angga lagi.
"Jangan terlalu mencolok, ku yakin mereka juga punya mata-mata di sana, mengetatkan penjagaan akan memancing mereka."
"Baiklah."
"Bisakah kau bilang pada Bella, untuk selalu memakai perhiasan khusus yang aku berikan saat berada diluar, karna jika terjadi sesuatu, kita bisa tahu keadaannya."
"Baiklah, aku akan memberitahukannya."
"Baik." kata Jofan
Belum sempat dia menutup panggilannya seorang penjaga datang.
"Ada apa?" kata Jofan
"Nona Sania sudah sadar." kata penjaga itu memberitahukan.
Jofan mengerutkan dahi, kaget, secepat ini?.