
Sania membuka matanya, mengamati sekitar dengan liar, menatap langit-langit ruangan yang tinggi dan lampu kristal kecil yang tergantung. Tangan kanannya pegal, dia melihatnya, sebuah jarum infus sudah terpasang. Kepalanya cukup sakit, namun tak sesakit terakhir dia ingat, di mana dia sekarang?.
Tangan kirinya meraba-raba kasur empuk dengan separai sehalus sutra, setelah dia di eksekusi, baru kali ini dia bisa merasakan kembali tidur di tempat tidur seperti ini.
"Anda sudah sadar?" kata seorang pria dengan jas dokrter, dia langsung melakukan pengencekan pada Sania, beberapa perawat juga mengikuti instruksinya. Melihat datanya, dokter itu hanya geleng-geleng kepala.
"Ada apa?" kata Sania melihat wajah dokternya yang raut mukanya cukup buruk.
"Nona, keadaan Anda kritis, dengan berat hati saya akan membuat Anda kembali tertidur, bangun saat ini malah membuat keadaan Anda memburuk." kata Dokter itu.
Air mata hangat mengalir si sudut mata Sania, jatuh tepat di sela-sela rambutnya. Dia sudah tahu walaupun dia berhasil di selamatkan, namun sebenarnya keadaannya tak lebih baik, ini hanya mengulur kematiannya.
"Jangan buat aku tidur lagi, aku mohon." kata Sania lirih, air matanya tak terbendung lagi, meluber membasahi sekitar matanya.
"Tapi Nona, Tuan mengatakan saya harus melakukan hal yang terbaik untuk Nona." kata dokter itu.
"Tuan siapa?"
"Tuan Jofan."
Sania menghapus air matanya dengan keras, Jofan? kenapa dia baik sekali pada Sania, pasti karna rencana itu, ya! Sebelum dia meninggal dia harus membantu Jofan, selain itu dia juga bisa tenang karna akan bisa membuat Aksa menderita
"Ini tubuhku dan hak ku untuk meminta Anda tidak melakukan itu, 1 lagi, saya minta keadaan saya di rahasiakan, jika tidak saya akan menuntut Anda secara hukum." kata Sania tegas walaupun suaranya berat dan bergetar, masih terlalu sedih menerima kenyataan.
Dokter itu diam, saling menatap pada perawat yang ada di sana, mereka bingung, kalau tidak menyampaikan yang sebenarnya, jika Jofan tahu mereka tamat, tapi jika melakukanya, Mereka juga tamat secara instan. sekarang mereka bagaikan makan buah si malakama.
Tak lama pintu ruangan itu terbuka, jofan masuk dengan wibawanya, menatap Sania yang sudah sadar, senyuman manis tersunging spontan.
"Bagaimana keadaannya?" kata Jofan menatap serius dokter itu, keringat dingin langsung bercucuran pada dahi dokter itu, saat itu juga melihat ke arah Sania, dan Sania juga sama, menatap dokter itu dengan tajam. Matilah aku,pikir dokter itu.
"Keadaan Nona Iva... ehm... setelah pemeriksaan..." kata dokter itu ragu, berulang kali membuka dan menutup hasil pemeriksaan, membuat Jofan bingung.
"Kenapa hasil pemeriksaannya?" Gertak Jofan.
"Baik! Baik sekali hingga saya tak bisa percaya, mukjizat sekali." kata Dokter itu terbata-bata.
Mendengar itu Jofan tersenyum manis, melihat ke arah Sania, Sania juga mencoba tersenyum, sampai dia ingat dia tak memakai topeng. Dia langsung menutupi wajahnya dengan tangannya.
"Kalian boleh keluar." kata Jofan lagi.
" Baik Tuan." kata dokter itu mantap, merasa lega bisa keluar dari sana, tak Tuan Angga, tak Tuan Jofan, sama saja, pikir dokter itu.
Jofan mendekati Sania, Sania yang gugup tetap berusaha menutupi lukanya yang cukup dalam.
"Aku sudah melihatnya, dan juga sudah terbiasa dengan wajahmu, tidak perlu lagi menutupinya." kata Jofan lembut berdiri di sisi ranjang Sania.
Sania mengigit bibir, tapi dia merasa sangat-sangat tidak percaya diri jika tetap menunjukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa Tuan, Ehm, saya ada di mana?" kata Sania.
"Ini kediamanku, sampai kau pulih, kau boleh tinggal di sini, tenang, Aksa tidak mungkin tahu kau ada di sini." kata Jofan
Sania menatap Jofan, kediamannya? Jofan memindahkannya ke rumah pribadinya? Apa tak terlalu berlebihan? jika memang ingin Aksa tak mengenalinya, bukannya merawat di markas militer seperti waktu itu sudah cukup.
"Tidak apa-apa Tuan." kata Sania.
"Aku juga sudah berdikusi dengan Angga, kami akan menunggumu pulih dahulu baru menjalankan misi itu, karena itu kami akan mengundurkan rencananya."
Sania mendengar itu mengerutkan dahi, dia tidak akan bisa pulih, memundurkan rencana malah membuatnya tak berguna. Tidak! dia tidak boleh menyia-nyiakan waktu lagi. Dia harus melakukan hal itu segera.
"Tidak Tuan, saya siap, jangan undurkan rencananya, saya hanya kelelahan, Anda boleh bertanya pada Dokter bagaimana keadaan saya, besok juga saya akan lebih baik." kata Sania
Jofan mengerutkan dahi.
"Kenapa?"
"Saya tidak bisa tidur nyenyak setiap malam memikirkan Aksa masih bisa tidur nyenyak setelah melakukan semua hal ini pada saya." kata Sania, sorot matanya penuh dendam.
Jofan menangkap hal itu.
"Panggilkan dokter itu lagi." kata Jofan.
"Baik, Tuan."
Asisten Jofan langsung keluar, tak berapa lama masuk dengan Dokter yang wajahnya sudah cukup terbebani.
"Benarkah keadaannya akan membaik beberapa hari ini? dia harus melakukan suatu pekerjaan, apakah dia sudah bisa melanjutkannya?" kata Jofan sebenarnya dengan nada biasa dan bersahabat, tapi tetap saja membuat Dokter itu rasanya akan pingsan.
Dokter itu lalu menatap Sania menatapnya datar, namun Dokter itu tahu maksudnya
"Keadaan Nona Iva, sangat baik, dia bisa melakukan apapun yang dia mau." kata dokter itu pasrah.
"Bukannya sebelumnya kau bilang keadaanya buruk?"
"Ya, tapi setelah Nona Iva bangun, keadaannya membuat saya menarik pernyataan saya yang tadi, benar 2 hari lagi dia sudah bisa beraktifitas."
"Baguslah kalau begitu, kalian bisa tinggal di sini untuk tetap merawatnya." kata Jofan, membuat dokter itu tersentak kaget, tak bisakah mereka pulang saja?, pikir dokter bekaca mata tebal itu sambil mengelap keringat yang mengucur deras.
"Baik Tuan." mau tak mau hanya itu yang bisa di ucapkannya, Jofan mengeluarkan gesture untuk
dokter itu keluar, dokter itu mengerti.
"Baiklah aku juga tidak akan menganggumu." kata Jofan lembut, dia lalu segera mulai melangkah.
"Tuan Jofan, terima kasih." kata Sania tersenyum.
"Sama-sama." Kata Jofan tersenyum, melanjutkan jalannya dan pergi dari ruangan itu.
Sania kembali menatap langit-langit ruangan yang penuh dengan ukiran yang indah, suasananya dingin dan lampu yang di biarkan remang membuat suasana hatinya makin buruk. Merasa kecil dan kesepian di tengah ruangan yang begitu besar, dan sekarang hanya ada dia dan kesendirian.
Berapa hari lagi yang tersisa baginya di dunia ini? bisakah dia kembali melihat orang tuanya? bisakah besok dia membuka mata melihat sinar mentari yang menyinari? hidup seperti ini ternyata jauh menderita, tak tahu kapan akan berpindah alam, Sania jadi takut memejamkan matanya, takut tidak akan bisa lagi membuka matanya selamanya lagi.
Air matanya sudah lama berlinang, membasahi bantal putih yang di gunakannya, dia mengigit bibirnya agar meredam suaranya, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Sebegitu fatalkah kesalahannya dulu? hingga harus menanggung semuanya sekarang?.
Sania terus saja menatap atas, tapi pandangannya kosong, tak ingin tidur, namun akhirnya tertidur pula.