
Bella berjalan perlahan, semakin dia masuk, semakin tak sanggup dia berjalan, langkahnya berat, dia terus menatap ibunya, matanya benar-benar nanar, memancar kesedihan yang amat sangat.
Suasana di sana cukup sumpek, udaranya sepertinya tak bertukar dengan baik, rasanya pun panas, mungkin karena pulau kecil ini di kelilingi oleh laut. Ruangan itu kosong, hanya ada ranjang, di dindingnya banya ada beberapa dekorasi sederhana agar membuat ruangan itu layak huni.
Wanita itu tak terusik, hanya menatap kosong ke tempat Bella tadi melihatnya, hanya sesekali dia berkedip lambat, selanjutnya wajahnya datar menatap tanpa cahaya di matanya.
Bella terhenti saat dia tepat ada di dekat ibunya, dia kembali memperhatikan ibunya, bajunya lusuh namun tak seperti yang lain, bajunya untuh tanpa ada lubang atau bagaimana, apa ada yang menjaganya? pikir Bella.
Bella duduk di ranjang ibunya, suara ranjang tua itu berderit, tapi tetap saja ibunya tak bergeming, menatap lurus dengan kosong, entah apa yang ada di pikirannya sekarang.
Bella kembali mengamati wajah ibunya, kerutan-kerutan yang terpatri di wajahnya, tampak bukan kerutan karna kebahagiaan, kebanyakan karna tekanan, membuatnya terlihat jelas di daerah dahi, raut wajahnya walau sekilas terlihat datar, namun tampak bergitu tertekan dan sedih.
Bella lalu memperhatikan tangan ibunya yang saling bertumpu, begitu lentik namun banyak sekali guratan-guratan dalam, tanda dulunya dia begitu bekerja keras.
Air mata Bella kembali mengalir tanpa terbendung, bahkan tak berkumpul sama sekali, lolos saja dari matanya dan jatuh, napasnya cukup sesak, bukan karena pengap, tapi karna membayangkan bagaimana susahnya hidup ibunya, wanita ini pasti gila karna mencarinya.
BeLla menguatkan diri, mengambil tangan ibunya, mengenggamnya, telapak tangannya terasa kasar dan kering, namun hangat seperti yang di ingat Bella, merasakan kehangatan itu, Bella menangis namun juga tertawa, betapa dia merindukan kehangatan ini, setiap malam di kastil dingin itu, yang dia rindukan hanya hangatnya sentuhan ibunya mengelus pipinya sebelum tidur.
Bella meletakkan telapak tangan ibunya ke pipinya, merasakan rindu yang amat sangat hingga dia terisak, namun ibu itu tidak bergeming sama sekali, tetap diam, seolah tak ada Bella di sana.
"Ma, aku ada di sini, Ma ... aku sudah pulang." kata Bella lirih, terdengar bergetar, namun penuh kelembutan dan cinta, derai air mata tak bisa lagi terbendung, bahkan Judy yang berdiri agak jauh dari sana pun terharu melihat pertemuan Ibu dan anak ini.
"Ma, lihatlah aku, aku sudah ada di sini ma, anakmu sudah pulang," kata Bella lagi sedikit keras, berusaha agar ibunya berpaling.
Usahanya tak sia-sia, ibu itu berpaling, menatap Bella namun lagi-lagi matanya hanya kosong, Bella menatap mata biru ibunya, matanya sangat indah, sangat cantik seperti milik Bella, namun penuh dengan kesedihan yang mendalam.
"Nakesha?" suara ibu itu kecil, lirih, dan begetar. Bella terkejut mendengarnya, Nakesha? itukah nama aslinya?.
"Ya, Ma, Nekesha sudah ada di sini," kata Bella lagi, terlihat sedikit senang karena ibunya bisa berkomunikasi dengannya.
"Nakhesa? di mana?" kata wanita itu lagi, lirih namun wajahnya datar.
Bella terdiam, dia pikir ibunya mengenalinya, tapi dia malah bertanya Bella di mana? padahal Bella sudah ada di depannya, Bella mengigit bibirnya. Ibunya mungkin hanya ingat dirinya yang berumur 5 tahun.
----****----
Dia mendekati wanita itu dengan mantap, wajahnya tampak serius mengamati wanita dengan setelan kaos hitam dan celana hitam itu, rambutnya tampak dia masukkan semua ke dalam topinya. wajahnya yang cantik tampak sedikit marah.
"Mika!" kata Angga saat ada di depan wanita itu.
Wanita itu menatap Angga, menatapnya dengan tatapan tajam seolah ingin marah.
"Mika, bagaimana kau ada di sini? " kata Angga memegang pergelangan wanita itu spontan. Membuat wanita itu kaget dan menarik tangannya dengan cepat, pergelangan tangannya lepas.
"Apa-apan sih, aku bukan Mika, namaku Nakesha, dan jangan coba-coba bermain drama di depanku, aku tidak kenal dengan mu, dan aku tahu kau ingin mengambil Ibuku, aku tidak akan tinggal diam! pergi kalian dari sini!" kata wanita itu keras, bahkan marahnya terkesan benar-benar penuh emosi.
Angga mengerutkan dahinya, menatap dalam-dalam pada wajah Nakesha, Benarkah dia tidak mengenali Angga? apakah dia amnesia karna berusaha bunuh diri? apakah ini alasannya tak mencari Angga selama 2 tahun ini?.
"Kau benar-benar tidak mengenaliku?" kata Angga lagi masih tak percaya.
"Ya! dan minggir, kalau tidak aku akan teriak di sini!" kata Nakesha mantap, dia lalu melirik ke arah jendela ruangan ibunya, menangkap sesosok wanita sedang bersama ibunya, matanya membesar, dia marah, pria ini benar-benar mengecohnya, dia berpura-pura memanggilnya Mika, 'sok kenal' dengannya, agar mengalihkan perhatiannya hingga membuat dia lupa, dan mereka mendekati ibunya, apa sih maunya mereka? pikir Nakesha.
"Minggir kau!" kata Nakesha mendorong bahu Angga dengan kasar agar dia bisa lewat.
Mendapat perlakuan itu, Angga hanya bisa terdiam, dia masih cukup syok, apakah dia benar-benar Mika? tapi kelakuannya benar-benar berbeda. Namun Angga segera sadar, kalau dia masuk, pasti momen Bella dengan ibunya akan terusik.
"Minggir kalian! atau aku akan teriak! Awas! " kata Nakesha mencoba menerobos beberapa orang penjaga yang ada di sana, Angga mencoba untuk menghadangnya, namun Nakesha sudah masuk ke dalam ruangan itu, dia berjalan langsung ke arah Ibunya dan Bella, dia berdiri di sampingnya dengan tatapan marah, siapa wanita ini? berani-beraninya menyentuh ibunya.
"Siapa kau hah?! berani menyentuh Ibuku?!" kata Nakesha mengelegar karna marah.
Bella langsung menatap Nakesha, wajahnya yang tadinya cukup kaget mendengar suara Nakesha, ketika menatap wajah wanita itu, dia benar-benar kaget, Mika?.
Nakesha menatap wajah Bella yang menatapnya kaget, melihat ke dua bola matanya, Nakesha langsung tahu, dia putri yang di cari ibunya 20 tahun ini. Tak bisa! dia adalah putrinya, walaupun sekarang dia datang, dia tak boleh mengambil ibunya, ibunya satu-satunya yang dia punya di dunia ini.
Nakesha marah, tanpa aba-aba dan peringatan, tiba-tiba saja Nakesha menampar Bella dengan keras. bahkan Bella tak sempat mengelak, Angga yang ada di sana kaget, matanya membesar. dan segera berdiri di depan Nakesha.
"Apa yang kau lakukan?!" kata Angga menangkap tangan Nakesha dengan marah, menekan tangannya dengan sangat erat, dia tak peduli, wanita ini siapa? dan dulunya dia siapa? tapi baginya sekarang, tak boleh ada yang menyakiti Bella, walaupun dia Mika sekali pun.
"Aku yang harusnya bertanya?! apa yang kalian lakukan di sini, dia ibuku, jangan coba-coba mengambilnya dariku!" kata Nakhesa keras, dia mencoba menarik tangannya, namun di tahan Angga yang menatapnya dengan sangat tajam dan menusuk, namun Nakesha tak gentar, tatapannya pun menantang, dari wataknya wanita ini keras dan tempramental, Bukan, dia bukan Mika, pikir Angga menatapnya tajam.