Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
169



Angga membukakan pintu mobil untuk Bella, setelah Bella masuk, Angga meminta kunci mobil pada Asisten Jang, dia lalu masuk dan duduk di tempat pengemudi, dia mengambil sapu tangan dari jasnya, lalu mengelap perlahan wajah Bella yang masih penuh dengan keringat, Bella hanya menatap suaminya yang menatapnya cemas.


"Lain kali jangan begini, kau membuat aku sangat khawatir," kata Angga mengelap lembut wajah Bella.


"Aku hanya ingin mencarinya, itu salah satu bukti pernikahan kita," kata Bella mengambil sapu tangan dari tangan Angga.


"Baiklah," kata Angga.


Angga segera melajukan mobil mereka, Jofan mengikuti mereka dari belakang. Tak lama mobil mereka masuk ke areal perumahan Jofan, Angga keluar dan langsung membukakan pintu untuk Bella, Jofan yang melihat itu mengerutkan dahi, kemajuan yang sangat pesat pikirnya.


"Di mana dia?" Kata Angga mengenggam tangan Bella dengan erat.


"Aku juga tidak tahu, kita masuk saja dulu," kata Jofan, Jofan lalu melangkah menuju ke pintu utama yang langsung di s


ambut oleh pelayannya.


"Di mana Nona Madeline?" kata Jofan.


"Sedang membaca majalah di ruang tengah," kata Pelayan itu, Jofan mendengar itu melirik Angga sebentar, dia lalu berjalan menuju ruang tengah rumahnya, benar saja, dengan santainya Madeline membaca majalah di sana.


Madeline menatap kakaknya masuk, melihat Angga di belakangnya, Madeline langsung berdiri senang, namun saat dia melihat Bella, senyumannya memudar, berganti wajah kesal, dia kembali duduk, pura-pura membaca majalahnya lagi


"Madeline," kata Jofan.


"Kenapa kalian tiba-tiba datang ke sini semua?" kata Madeline bahkan tanpa melirik mereka yang mengitarinya.


Angga melirik jari tangan Madeline yang memakai cincin yang sama persis dengan yang dia berikan pada Bella, jadi dugaannya benar, Madeline sengaja berpura-pura membuang cincin itu untuk mengerjai Bella saja.


Angga tak banyam omong, dia segera mengambil tangan Madeline, membuat Madeline kaget hingga berdiri, bahkan Jofan dan Bella pun kaget.


"Ini cincin istriku, bagaimana bisa di tanganmu?" kata Angga menatap Madeline kesal, Madeline menatap Angga begitu sedikit merasa takut, apalagi sekarang tangan Angga mengenggam pergelangan tangannya dengan sangat keras, bahkan seperti mati rasa.


Angga memang sengaja mengenggam tangan Madeline dengan sangat erat, pergelangan tangan Madeline begitu kecil, bahkan rasanya kalau Angga menggunakan tenaga penuh, pergelangan tangannya bisa saja hancur.


"Kak! kau menyakitiku," kata Madeline memelas, namun Angga bahkan tak mengendurkan tangannya, wajahnya kejam dan serius.


"Angga, Maafkan adikku," kata Jofan kasihan melihat Madeline meringis kesakitan.


"Kau menampar istriku, membuatnya berpanas-panasan, kalau hanya sakit begini tidak akan terasa, sayang kau wanita, jika tidak ...." kata Angga begitu emosi, Bella sendiri bahkan takut melihatnya, Madeline sudah berkaca-kaca.


"Aku tidak suka dengannya, Kak! aku sudah mencintaimu dari kecil, aku bahkan tidak bisa mencintai orang lain selain dirimu, kenapa kau malah menikahi wanita murahan seperti dia! aku benar-benar membenci kalian berdua!" kata Madeline histeris.


"Aku tak punya perasaan apapun padamu, sudah ku katakan sejak lama bukan, kau saja yang bodoh menungguku, dan 1 lagi, aku sudah menikah, sekali lagi kau menganggu istriku, maka, aku tak akan segan-segan denganmu, aku tak peduli kau siapa?" kata Angga melirik Jofan pada akhirnya, Jofan hanya diam saja.


Angga melepaskan cincin itu dari jari Madeline dengan paksa, lalu menghempaskan tangan Madeline dengan kasar, Bella hanya mematung, Angga benar-benar menyeramkan jika marah.


"Sampai mati aku tak akan membiarkan kalian bahagia! aku akan membuat kalian menderita!Aku akan memisahkan kalian bagaimana pun caranya! kak Angga! aku tak akan pernah melepasmu, dan Bella, aku mengutukmu agar kau menyebabkan penderitaan bagi orang-orang yang kau cintai!" kata Madeline histeris berteriak dan menangis.


"Madeline!" kata Jofan keras, mengelegar di seluruh ruangan, membuat Madeline terdiam seketika, Bella pun tersentak kaget, tak tahu Jofan bisa begitu menakutkan juga.


"Berhenti! apa kau sadar yang kau katakan? apa yang sudah merasukimu? berkata hal yang tak pantas, Angga dan Bella sudah menikah, kau seharusnya mengikhlaskan itu semua," kata Jofan yang merasa adiknya sudah telalu ketelaluan.


"Madeline, itu bukan cinta, itu namanya obsesi, kau sudah terobsesi dengan Angga," kata Bella lembut mencoba menenangkan Madeline yang begitu histeris, bahkan seperti orang gila.


"Kau diam! wanita murahan! beraninya kau bicara padaku!" kata Madeline geram bahkan ingin menyerang Bella, Angga langsung pasang badan di depan Bella, Jofan pun langsung bediri di depan Adiknya, dan menampar Madeline.


Semua kaget, bahkan Angga pun kaget, Jofan adalah pria yang memuja wanita, dia tak pernah melakukan kekerasan fisik apa pun pada wanita, melihat Jofan menampar Madeline, Angga cukup kaget, apalagi Bella.


"Kakak?" kata Madeline dengan tangis berderai, tak menyangka, seumur dia hidup, kakaknya tak pernah memukulnya sama sekali, bahkan mencubitnya pun tak pernah.


"Angga, pulanglah, ada urusan keluarga yang harus aku tangani berdua dengan Madeline," kata Jofan datar, hanya menatap Madeline.


Angga mendengar itu tak menjawab, dia mengenggam tangan Bella, lalu segera beranjak dari sana, Madeline hanya menatap kepergian mereka dengan nanar. Setelah Angga pergi.


"Kau sudah kehilangan akalmu Maddy!, kau memalukan keluarga," kata Jofan yang tampak tegas dengan emosi di wajahnya.


Madeline melihat kakaknya hanya bisa menagis.


"Kakak tak tahu perasaanku!" kata Madeline pergi meniggalkan Jofan yang hanya melihatnya.


Jofan menarik nafas panjang, memijit keningnya karena terasa pusing, bagaiman bisa memilih sahabat dan adik sendiri? dan dia mulai merasa bersalah telah menampar Madeline, tapi dia memang harus melakukannya, mungkin keluarganya terlalu memanjakan Madeline hingga apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan.


Angga baru masuk ke dalam mobilnya, melihat Bella yang tampak diam.


"Tanganmu?" kata Angga.


"Oh, ya, ini," kata Bella menyerahkan tangannya yang tampak sedikit lecet.


"Kenapa ini?"


"Oh, tadi Madeline mengeluarkannya secara paksa jadi sedikit lecet," kata Bella lagi.


Angga menatap Bella lagi, menatapnya nanar tapi juga lembut.


"Maafkan aku, kalau bukan karenaku, kau tidak akan begini, kemarilah, pakai di jari yang lain dulu sampai jarimu sembuh, " kata Angga memasangkan cincin itu ke jari manis yang lain.


"Apa yang akan terjadi pada Madeline?" kata Bella.


"Aku tak tahu, biar itu menjadi urusan Jofan, yang penting aku sudah menegaskan perasaanku dengannya, kau jangan khawatir," kata Angga.


Bella masih diam, semenyedihkan itu kah perasaan tak terbalas, bahkan wanita seanggun Madeline bertingakah bagai orang gila, untungnya Bella mendapatkan pria yang sangat mencintainya dan di cintainya.


"Apa yang sekarang kau pikirkan lagi?" kata Angga melihat Bella yang bengong.


"Ah, tidak, Aku hanya berpikir aku sangat beruntung mencintai dan dicintai olehmu," kata Bella.


"Nyonya Xavier, jangan coba mengodaku ya! kita pulang makan siang, lalu pergi ke tempat ibumu, Bagaimana?" kata Angga.


"Baiklah," kata Bella memasang sabuk pengamannya, tak lama Angga menginjak pedal gas mobilnya dan pergi dari sana.