
Jofan masih ada di markas militer itu, dia duduk sambil mikirkan sesuatu, beberapa orang tentara dengan pangkat lumayan tinggi berdiri di dekatnya.
"Bisakah kalian memberikan Nona sebuah tempat tinggal yang lebih nyaman, dia sedang dalam masa penyembuhan, aku rasa asrama itu tidak layak. " kata Jofan menatap Letnan Bernard.
"Saya rasa kami bisa memindahkannya di wilayah militer di sebelah utara berdekatan dengan rumah sakit. Ada beberapa mess dokter yang tidak terpakai. " kata Letnan bernard menatap Jofan dengan serius.
" Ya itu lebih baik, dia juga masih butuh perawatan. Lakukan segera. " kata Jofan
"Baik Tuan. " kata Letnan Bernard, setelah memberikan hormat, dia keluar dari ruangan itu.
Tiba-tiba handphonenya berdering, nama Daihan terpampang di sana, dia langsung mengangkatnya.
"Halo?" kata Jofan
"Halo, kau sedang di mana?" kata Daihan
"Aku sedang ada di markas militer. Tumben mencariku, biasanya kau selalu mencari Angga. " kata Jofan tersenyum tipis
"Aku memang ingin menanyakan keberadaannya, aku mencarinya di kantor dan di rumahnya, tapi dia tidak ada." kata Daihan sedikit terdengar cemas, sebenarnya bukan Angga yang dicarinya, namun Bella, dan dia tahu, Angga pasti bersama Bella sekarang.
"Ehm, dia ada di sini juga." kata Jofan santai
"Di sana? Apa urusannya dia ada di sana?" kata Daihan sedikit kaget.
"Kau tahu wanita yang ditemukan Angga di pantai waktu itu, dia adalah wanita pangeran Aksa, kemarin Aksa menyekapnya, dan Angga menyuruhku untuk mencarinya, saat ditemukan wanita itu dalam keadaan pingsan, sepertinya Aksa juga menyiksanya, hah… kau tahu wanita Angga sekarang sangat cantik, aku saja iri padanya, hahaha. " kata Jofan menerangkan dan sedikit bercanda dengan Daihan.
"Bella disiksa? Bagaimana keadaannya sekarang?" kata Daihan kaget dan sulit menerima kabar yang baru saja dia terima.
Jofan yang mendengar nada suara Daihan yang meninggi sampai kaget, dia mengerutkan dahinya, Daihan tak pernah begitu khawatirnya.
"Keadaanya baik, dia sudah sadar, sedang ada di rumah sakit militer. " kata Jofan masih sedikit kaget
"Aku akan ke sana, kau bisa membuatku masuk bukan? " kata Daihan terdengar buru-buru.
"Ehm, ya, beritahu aku jika kau sudah di depan, aku akan menjemputmu. " kata Jofan masih mengerutkan dahi.
"Baik!" kata Daihan tanpa mengatakan apapun langsung mematikan sambungan teleponnya. Jofan melihat ke arah handphoneya, wajahnya benar-benar berkerut, ada apa dengan Daihan? Eh… jangan-jangan…
---***----
Bella melihat tubuhnya, rambutnya lengket, tubuhnya juga terasa tak nyaman, mungkin karena kemarin tidak di bersihkan dengan sempurna, apalagi dia jatuh di semak dan lumpur.
"Aku ingin mandi, bisa kan? Aku rasa luka yang parah cuma di kepalaku, yang lain tidak masalah kan? " kata Bella
"Ehm, dokter bilang luka kepalamu saja yang tidak boleh kena air 3 hari, selainnya boleh, sebentar, aku sudah menyuruh Judy membawakan perlengkapanmu. " kata Angga yang duduk di sofa dekat Bella, sedang mengurus pekerjaannya. Bahkan mengatakan itu pun dia tidak melihat Bella, sibuk dengan laptopnya. Bella cemberut, kalau begini sama saja, Angga memang di sini menemaninya, tapi dia tetap saja sibuk dengan laptopnya itu.
Satu meja itu sudah disulap Asisten Jang menjadi meja kerja Angga, lengkap dengan segala kebutuhan Angga untuk mengurus pekerjaannya.
"Baiklah." kata Bella tampak cemberut, dia melihat lagi ke arah Angga yang masih fokus dengan kerjaannya, Asisten Jang juga serius memperhatikan Angga.
Bella tidak ingin menganggu Angga, tapi dia bosan hanya duduk di ranjang itu terus menerus tidak melakukan apapun, dia juga ingin pergi ke kamar mandi, jadi dia perlahan menurunkan kakinya.
Saat dia melihat kakinya yang penuh goresan, akhirnya dia tahu kenapa kakinya terasa sakit dan perih, begitu banyak goresannya, membuat Bella sedikit sedih.
Dia wanita yang didik untuk menjaga tubuhnya, melihat kulitnya yang biasanya mulus kini terlihat memerah, Bella merasa kecil hati, apakah nanti bekasnya akan hilang? Pikir Bella. Bella lalu mengelus luka-luka itu, tubuhnya tidak akan secantik dulu lagi.
"Ada apa? " kata Angga yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Bella.
"Eh? Jangan melihatnya. " kata Bella menutupi kembali kakinya. Tak ingin Angga melihat tubuhnya yang sudah tak mulus lagi. dia jadi rendah diri.
Angga menatap Bella yang tampak sedih, tatapan Angga datar, Angga lalu membuka selimut Bella lagi, namun Bella segera menariknya kembali.
" Jangan di buka, aku tidak mau kau melihat kakiku. " kata Bella.
"Telihat tidak bagus."
Angga menarik sedikit sudut bibirnya, Bella ini ada-ada saja.
"Aku sudah melihatnya semalam. "
"Benarkah? "
"Iya. "
"Pasti terlihat buruk ya? " kata Bella lemah.
"Tidak, itu bukan salahmu. Lagi pula kau tidak perlu menyembunyikan apapun dariku."
"Tapi aku tidak suka kakiku seperti itu."
"Lalu mau bagaimana lagi? "
"Apa itu tidak menganggumu? "
"Gadis bodoh, kalau begitu saja mengangguku, memangnya kau pikir aku menyukaimu karena kakimu? " kata Angga tertawa kecil. " Sudah jangan berpikiran macam-macam, tadi kau ingin ke mana? " kata Angga lagi.
" Oh, iya, aku mau ke kamar mandi. " kata Bella.
"Baiklah, sini aku bantu " kata Angga mengulurkan tangannya. Bella baru melihat ke arah tangan Angga. Tangannya masih terbalut perban.
" Kenapa dengan tanganmu? " kata Bella.
" Tidak apa-apa. Hanya luka kecil."
"Bagaimana bisa begini. Apa Aksa juga melukaimu?" kata Bella panik. Kenapa juga Bella baru tahu kalau tangan Angga terperban?.
"Tidak, aku melukai diriku sendiri." kata Angga seadannya.
"Mana ada orang yang melukai dirinya sendiri? " kata Bella sedikit cemas bercampur marah mendengarkan alasan Angga.
"Ini bukan apa-apa, jadi ke kamar mandi atau tidak? Aku harus bekerja lagi." kata Angga dingin, Bella menatapnya dengan wajah manyun, dia perhatian dengan Angga, Angga malah begitu.
"Baiklah, Terima kasih." kata Bella lalu mengapai tangan Angga yang terperban itu.
Angga segera membantu Bella untuk berdiri, saat berdiri Bella baru tahu kakinya juga terasa nyeri, dia berjalan perlahan, saat ingin menuju kamar mandi, pintu ruangan itu terketuk.
Asisten Jang langsung membukakan pintu, ternyata Judy yang sudah membawakan beberapa keperluan Bella.
"Judy!" kata Bella senang melihat Judy.
Judy segera memberi salam pada Angga dan Bella.
"Nona, maafkan saya tidak bisa menjaga Anda dengan baik. "
"Tidak apa-apa, itu bukan salahmu. "kata Bella lembut.
"Saya membawakan beberapa baju dan keperluan Anda. Apakah Anda ingin melakukan sesuatu? " kata Judy lagi.
"Ya, aku ingin membersihkan diri. Angga pekerjaanmu masih banyak kan? Biar Judy saja yang membantuku." kata Bella sambil menatap Angga yang masih memegang tangannya mencoba menjaganya dari tadi.
"Baiklah. " kata Angga, Angga melepas tangan Bella, dia lalu segera kembali ke meja kerjanya di mana Asisten Jang sudah menunggu.
"Mari saya bantu Nona. "kata Judy mengantikan posisi Angga, memapah Bella perlahan memasuki kamar mandi itu.