
Jofan segera menuju ke pulau Amaris, penemuan Bella harus segera di lakukannya, sekarang dia punya beban yang begitu berat, jadwalnya saja begitu penuh hingga beberapa bulan ke depan, dia bukan lagi pemimpin suatu perusahaan, dia adalah pemimpin sebuah negeri, selain urusan Bella ini, dia punya banyak urusan yang juga sama pentingnya.
Perjalanan ke sana cukup jauh, dia bahkan harus berganti kendaraan, dari helicopter menjadi Pesawat jet pribadinya, karena jika dia memakai fasilitas kepersidennya, hal ini akan menjadi masalah baginya di kemudian hari.
Pesawat jet pribadi itu mendarat sempurna di pulau paling ujung negaranya, tak mengambil waktu lama karena hari sudah mulai sore, Jofan langsung turun dari sana, dan segera menuju mobil yang sudah di sediakan oleh Ajudannya.
Jofan memperhatikan pulau itu, ternyata jauh dari pikirannya, ada sebuah perkampungan kecil di sini, kampung yang sederhana namun juga tampak mandiri, dia cukup berterima kasih dengan kasus Bella ini, jika tidak, pulau sekecil ini tidak akan jadi perhatiannya, namun karena sekarang dia sedang ada di sini, dia jadi tahu apa yang harus dilakukannya untuk pulau kecil nan indah ini, tentunya yang utama adalah akses jalan, karena jalan untuk masuk ke dalam pulau ini masih dari tanah. Jofan bisa melihat potensi besar untuk pariwisata dari pulau ini, pasirnya putih, lautnya masih benar-benar bersih dan airnya begitu jernih, sedikit sentuhan, akan membuat pulau ini di lirik dunia sebagai tempat destinasi wisata.
Seraya menikmati pemandangan, Jofan juga sangat berharap, semoga kali ini dia benar-benar bisa bertemu dengan Bella, mobil mereka segera bergerak ke salah satu rumah yang tampak mencolok di antara rumah-rumah yang ada di sekitar pulau ini, rumah itu besar dan terletak jauh dari perkampungan, walau pun hanya berdiding kayu, benar-benar tampak nyaman dan indah.
Jofan turun dari mobilnya yang terparkir dekat dengan rumah itu, rumah itu tampak sepi, Jofan jadi bertanya, bagaimana Bella memeriksakan dirinya saat hamil seperti ini?.
Jofan langsung menuju ke pintu rumah itu, baru saja dia sampai, pintu rumah itu terbuka bahkan sebelum Jofan mengetuk pintunya, seorang wanita terlihat membukanya dengan sangat panik.
"Tuan, Tuan, Tolong saya, Nyonya saya hilang,"kata wanita itu yang diasumsikan oleh Jofan sebagai Shella.
"Apa? Apa maksudmu? " kata Jofan kaget dengan kata-kata Shella.
"Nyonya saya, saya tadi pergi membeli beberapa bahan untuk makan malam, namun saat saya pulang, Nyonya sudah tidak ada lagi, saat saya mencoba melihat CCTV, ternyata nyonya di bawa oleh seseorang,"kata Shella panik, padahal dia tidak tahu siapa orang yang sedang berbicara dengannya ini.
"Bagaimana bisa, siapa yang menculik Bella? "kata Jofan dengan wajah sangat cemas, apa lagi ini? padahal dia sudah berusaha sebisa mungkin mengejar Bella, namun dia belum juga bisa bertemu dengan Bella.
"Bagaimana Anda tahu nama Nyonya saya? "kata Shella kaget, dia baru sadar dia sudah meminta tolong dengan orang asing.
"Aku temannya dulu, tunjukkan padaku rekaman CCTVnya,"kata Jofan serius.
"Oh, iya, baiklah,"kata Shella langsung pergi ke dalam, dia lalu membawa Jofan ke dalam kamar Bella, di sana ada monitor CCTV, Shella langsung menunjukkan rekaman CCTV tersebut kepada Jofan, dan seketika tubuh Jofan mematung, dia langsung terdiam, tangannya mengepal, dan giginya digertakan olehnya, tampak sekali dia sedang geram dan marah.
"Ajudan, aku butuh data di mana Raja Leonal sekarang, dan hubungi mata-mata kita di kerajaan apakah dia tahu tentang Nona Bella? "kata Jofan langsung pada Ajudannya.
"Baik Tuan Presiden,"kata Ajudannya kembali sibuk dengan semua perintah Jofan.
"Anda Presiden? "kata Shella yang memang terisolasi dari dunia luar. Jofan hanya membalasnya dengan senyuman singkat.
Jofan segera bergegas masuk ke dalam mobilnya, Shella dipersilakan duduk di sampingnya, Shella hanya memperhatikan sosok Jofan yang tampak tegas, berwibawa dengan kharismanya dan tentunya wajah tampannya, dia baru kali ini melihat Presiden yang begitu muda, padahal biasanya Presiden itu punya wajah tua yang sangat tertekan. Tanpa menunggu lama mobil mereka langsung pergi dari sana menuju landasan pesawat terbang kembali.
"Tuan, kami sudah mendapatkan data dan laporan, Raja Leonal sudah kembali ke kerajaan, dan menurut mata-mata, Raja membawa Nona Bella dan menyekapnya di ruang Ibunda Ratu," kata Ajudan Jofan.
"Sial, " kata Jofan lagi mengumpat, dia hanya bisa mengatakan hal itu, sebenarnya dia ingin mengeluarkan lebih banyak kata-kata umpatan untuk situasi ini, namun sekarang itu hal terlarang baginya. Dia serasa di permainkan, hari ini dia pergi ke banyak pulau namun ternyata Bella malah di sembunyikan di Ibu kota. Wajahnya yang tampan itu sekarang tampak sangat kesal dengan banyak kerutan. Shella dengan diam menatap hal itu, sayangnya Jofan tidak menatapnya.
Tiba-tiba handphone Jofan berbunyi, dia segera melihat handphonenya, panggilan video dari Angga, Jofan segara mengangkatnya.
"Bagaimana? " kata Angga yang tampak serius melihat Jofan.
"Angga, Bella tidak ada di pulau Albaris, dia di asingkan ke pulau Amaris, dan saat aku ke mari, Bella ternyata sudah di bawa oleh Raja Leonal kembali ke ibu kota,"kata Jofan langsung saja menjelaskan semua hal pada Angga, Angga yang mendengarkan itu tampak terkejut.
"Raja? "kata Angga lagi, dia sudah mulai lancar berbicara. Wajahnya tampak tegang, dia tampak berpikir dengan keras.
"Ya, dia sudah membawa Bella ke sana, dan menyekapnya di ruang Ibunda Ratu, aku akan menyuruh pasukan untuk melakukan penyelamatan, walau pun itu ranah kerajaan, tapi penculikan ini bisa di jadikan alasannya, aku akan tiba di sana 1 jam 30 menit lagi, aku akan segera memimpin penyelamatannya,"kata Jofan dengan cemas.
"Aku … menjemputnya," kata Angga terdengar tegas, dia sudah tahu pasti tidak semudah itu, dia sudah tidak bisa diam saja menunggu seperti ini, menunggu seperti ini bahkan lebih membuatnya gila, dia harus bertindak. Jofan mengerutkan dahi, Angga ingin menjemput Bella.
"Kau ingin pergi menjeputnya? " kata Jofan tidak percaya, dia tambah khawatir dengan pernyataan Angga itu. Angga lalu mengangguk dengan mantap. " Tapi bagaimana keadaan mu? Kau yakin?".
"Ya,"kata Angga lagi, wajahnya begitu serius, sudah 3 bulan ini Angga selalu serius melakukan fisioterapi dengan penuh semangat, tak pernah sedikit pun menyerah, walau pun awalnya benar-benar berat, dia harus jatuh dan terus jatuh, hanya agar bisa berjalan beberapa langkah, dia juga harus menahan kekesalan dirinya, hanya gara-gara tidak bisa mengenggam sendok dan garpu, tapi semua kerja keras itu akhirnya akan terbalas, Kali ini dia akan menyelamatkan Bella, apa pun yang terjadi, dia akan membawa pulang istrinya.
"Baiklah, aku akan memerintahkan Jendral Indra untuk menyiapkan pasukan dan menjagammu di sana, Angga, Berhati-hatilah,"kata Jofan dengan serius, di nada bicaranya pun tersebersit kecemasan. Angga hanya mengangguk, dengan cepat mematikan panggilan teleponnya.
Angga segera menyiapkan dirinya, dia bangkit dari tempat duduknya, berdiri mantap dengan kedua kakinya, dan dia mulai berjalan. 3 bulan ini dia habiskan dengan melatih diri terus menerus, dan memang tak pernah ada kerja keras yang mengkhianati hasil, walau pun dia belum bisa 100% seperti yang dulu, namun dia sudah bisa berjalan dengan baik, juga tangannya pun sudah mulai membaik, hanya tinggal tangan kanannya yang masih sering nyeri dan juga kemampuan bahasanya yang belum selancar dulu.
Angga keluar dari ruang kerjanya, penjaganya segera mengikutinya.
"Presiden sudah menginsturksikan pasukan untuk segera mendampingi Anda ke kerajaan, Tuan Angga, mereka sudah menuju kemari," Kata salah satu penjaga itu pada Angga.
Angga langsung mengangguk, dia segera berjalan menuju pintu keluar dari tempat itu, dengan wajahnya yang dingin dan serius, dia seperti sudah sangat siap untuk menjemput Bella, apapun yang terjadi, dia akan menemukan istrinya. Dia segera masuk ke dalam lift dan segera menuju ke atas.