
Angga memperhatikan beberapa orang yang sedang mempersiapkan alat-alat untuk di gunakan oleh Bella. Jofan juga ada di sana, terlalu tertarik untuk menatap Bella yang sangat cantik menurutnya.
Bella menatap Angga, menangkap wajah cemas Angga, Bella tersenyum dengan manis, mencoba menenangkan Angga yang dari tadi juga tampak gelisah, tapi yang salah tingkah malah Jofan.
"Woh, aku bisa gila kalau begini, terlalu mengoda." Kata Jofan tiba-tiba, membuat semua perhatian malah jatuh padanya sekarang. Angga menatap Jofan tajam.
"Tenang Bro, aku masih ingat kok, kalau tidak aku luapkan, yang ada aku makin pusing. "kata Jofan.
"Alatnya sudah selesai semua Tuan. "kata orang-orang itu.
"Baiklah, Bella ini ada satu set perhiasan, semuanya tersemat kamera dan microfone, kami bisa mendengar dan melihatmu, selama kau masih mengunakan salah satunya, kami bisa tahu keadaan dan keberadaanmu nantinya." kata Jofan menyerahkan kotak perhiasan berwarna merah pada Bella, Bella membukanya, ada sebuah kalung berleontin putih berukuran sedang, sederhana namun tampak mewah, di kanan kirinya ada anting-anting yang senada bentuknya dengan kalungnya. Juga ada sebuah cincin yang terlihat indah.
"Baiklah." Kata Bella.
Bella pertama mengambil antingnya, mengunakannya pada daun telinganya, lalu mengambil cincin, dan memasangkannya di jari manisnya. Terakhir dia mengambil kalung, mencoba untuk memakaikannya.
"Sini aku bantu untuk memakaikannya." Kata Angga, Bella tersenyum dan memberikan kalung itu pada Angga.
Angga segera berpindah tempat ke belakang Bella, Bella menaikan rambutnya agar Angga lebih mudah memakaikannya, melihat leher Bella yang tampak putih dan halus itu, Jofan benar-benar tak bisa berkedip, seandainya saja wanita ini masih milik Aksa, dia pasti akan bertaruh nyawa untuk merebutnya.
"Sudah." Kata Angga dengan suara beratnya.
"Baiklah, terima kasih." kata Bella tersenyum manis, tapi Angga masih memasang wajah ketatnya.
"Baiklah, saatnya kita mulai, kau harus segera ke penjara kota." kata Jofan
Bella hanya mengangguk dengan pasti.
"Aku akan mengantarmu sampai ke sana." kata Angga dengan suara beratnya, dia lalu bergegas keluar, sebenarnya Bella tidak ingin diantar oleh Angga, dia takut karena melihat kecemasan Angga, Bella jadi mengundurkan niatnya, tapi dia juga tidak mungkin menolak itu. Jadi dia hanya mengikuti Angga, tidak menjawab mengiyakan atau menolak.
Bella masuk ke dalam mobil, Angga sudah duduk di tempatnya yang biasa, dia menyenderkan tangannya di jendela mobil, jari-jemarinya di letakkanya di depan bibirnya, terlihat sekali gestur tubuhnya yang tampak cemas.
Bella melihat itu langsung berinisiatif memengang tangan Angga yang lain, merasakan kehangatan yang menyelimuti tangannya, Angga menatap Bella.
"Aku akan baik-baik saja, Aksa tidak mungkin melakukan hal apa-apa di dalam pernjara, di sana banyak polisi loh." kata Bella menenangkan dengan suaranya yang lembut.
Angga tidak membalas, hanya tersenyum sedikit, mungkin karena sudah tahu rasanya kehilangan, dia tidak ingin terulang lagi dan akhirnya terlalu cemas, padahal Angga belum pernah merasa secemas ini dalam hidupnya.
Tak lama mobil mereka berhenti, Angga keluar, Bella juga. Bella bisa melihat Aksa yang sudah menunggunya di pintu gerbang penjara itu, tampak gagah dengan setelan jasnya. Angga juga sudah bisa melihat Aksa, wajahnya langsung berubah dingin.
Aksa tersenyum melihat Bella yang turun dari mobilnya, senyumnya berubah sedikit sinis mellihat siapa yang datang bersamanya.
Angga dan Bella berjalan mendekat, Aksa memandang Angga dengan tajam.
Angga tak menjawab, dia hanya sedikit mengangguk, melirik sedikit pada Aksa yang tersenyum sinis padanya.
"Silahkan Nona." Kata Aksa mempersilahkan, Bella sedikit melihat Angga sebelum memutuskan untuk mulai melangkah, Aksa segera mengikutinya dari belakang. Angga hanya diam mematung melihat kepergian Bella.
Setelah agak jauh, Bella sedikit melihat ke belakang, melihat Angga yang masih menatapnya nanar, Bella tersenyum sedikit, Angga yang melihat itu malah merasa tak enak, dia hanya mengelengkan kepalanya lemah, tidak ingin itu menjadi terakhir kalinya dia melihat Bella.
Beberapa pengawal Aksa yang menunggu di sana membukakan pintu, melihat Aksa datang, para sipir dan polisi yang ada di sana langsung bersiap, mereka sudah diberitahu bahwa Aksa ingin melihat Sania, jadi begitu Aksa masuk, mereka langsung mengarahkanya menuju tempat Sania.
Bella memperhatikan suasana penjara yang pengap, lembab, tercium bau apek dan jamur, suasananya saja sudah membuat orang bergidik ngeri, apa yang di rasakan Sania sekarang? pikir Bella.
Bella dan Aksa memasuki sebuah ruangan, Bella kira itu adalah ruangan sel Sania, tapi bukan, itu hanya sebuah ruangan dengan pencahayaan yang sangat minim, hanya ada satu lampu yang sangat terang namun di berikan pembatas hingga hanya menerangi meja yang ada di bawahnya. Udaranya jauh lebih pengap dari pada di luar tadi, lembab, hingga membuat orang sesak.
Aksa duduk dengan tenang, dua penjaga masuk menunggu di sana, pintu tertutup dengan keras, Bella jadi kaget karenanya, susasana ini cukup membuat nyalinya bergetar dan ciut.
"Tenanglah Nona Mika, mereka akan memanggil Sania ke sini, duduklah, tidak perlu takut. "kata Aksa mencoba menenangkan Bella yang tampak begitu tegang.
"Baiklah." Kata Bella mencoba menguatkan dirinya, dia duduk di samping Aksa, Aksa memandangi wajah Bella yang terlihat sedikit pucat namun tidak membuat kecantikannya pudar.
Bella kembali mengenggam tangannya sendiri, dia lalu menghela napas beberapa kali, dinginnya ruangan itu membuatnya sedikit merasa mengigil.
"Anda tidak apa-apa?" kata Aksa yang melihat keadaan Bella.
"Maafkan aku, aku belum pernah ada di dalam penjara." kata Bella mencoba tersenyum.
"Ya. sedikit mengerikan memang, apa lagi Anda biasanya selalu bebas, tempat seperti ini akan membawa pemikiran yang menakutkan, kecuali Anda pernah dikurung, mungkin ini akan menjadi hal yang biasa." Kata Aksa menerangkan.
"Jadi Anda sudah pernah di kurung? Hingga Anda begitu tenang ada di sini?"
"Ada kurungan lebih parah dari ini Nona Mika, dan kau tidak akan pernah ingin melihatnya." kata Aksa, terlihat dari sorot matanya kesedihan namun juga kemarahan, pikirannya jauh jatuh pada ibunya.
Bella tidak ingin melanjutkannya, dia memilih untuk diam, mengigit bibir dalamnya, menunggu Sania akan datang.
Tak lama pintu itu terbuka, Bella langsung melihat ke arah pintu itu, seorang penjaga masuk, membawa Sania yang mengunakan baju tahanan, tangannya di borgol, beberapa hari saja dia sudah terlihat kurus, rambutnya yang biasa terurai indah itu tampak lepek, seperti sudah tak di cuci berhari-hari, lingkar matanya hitam, matanya sembab dan bengkak, walaupun masih menonjolkan kecantikannya, namun wajahnya terlihat lesu, jauh dari gambaran Sania yang selama ini selalu di lihat Bella, gadis modern nan cantik.
Dia digiring dan didudukan tepat di depan Bella dan Aksa, dia menatap Bella dan Aksa seolah ingin membunuh mereka berdua, emosi dan dendam itu terlihat jelas di matanya.
Aksa tampak tersenyum sinis padanya, namun Sania tidak bereaksi apapun, matanya yang tampak suram hanya menatap lekat-lekat Aksa, seolah ingin memastikan wajah mana yang akan di datanginya pertama kali jika dia sudah mati nanti.
Bella menatap Sania nanar, dia pasti sangat menderita di dalam sana, bahkan di sini saja sudah membuat Bella tertekan, apa lagi di dalam sel bersama para pembunuh dan pelaku kejahatan yang lain.
"Nona Mika ini lah orang yang ingin membunuh Anda, silahkan apa yang ingin Anda ingin katakan." Kata Aksa berbicara seolah-olah memang tidak ada rasa kemanusiaan di dirinya lagi, dingin, dan tak punya perasaan, mungkin memang dia bukan manusia, dia hanya iblis dengan balutan keindahan tubuh manusia, Bella menatapnya sinis, tampang ini lah yang di tunjukkan ketika dia menghabisi Bella dulu.