Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
187



"Seandainya Anda tahu sekarang bagaimana Aksa sudah tumbuh, dia tumbuh seperti ayahnya, apakah Anda akan tetap membiarkannya terjebak dalam dunia seperti itu? dengan kekejaman dan keegoisannya, mungkin Anda tidak tahu bahwa Anda sudah melindungi monster yang sebenarnya, " kata Sania dipenuhi emosi.


Ayana memang tidak tahu bagaimana keadaan Aksa sekarang?, bagaimana dia tumbuh?, bagaimana sifatnya sekarang?, dia hanya tahu anaknya itu penuh dengan kasih sayang padanya, dia berulang kali melindunginya dulu walau pun tak pernah berhasil, tapi di dalam pikirannya, Aksa adalah anak yang baik. Tentu mendengar kata-kata Sania, Ayana tak percaya, bagaimana anaknya bisa menjadi monster?, dia tak akan pernah dan tak akan mau percaya.


Mendapatkan tatapan tak percaya itu, Sania hanya tersenyum.


"Hidupku, wajahku, diriku, semuanya sudah dihancurkan oleh anakmu, bahkan sekarang setiap aku tidur aku tidak bisa tidak bermimpi buruk tentang kekejamannya, dan setiap hari aku berpikir mungkin saja ini hari terakhir aku di sini, karena keadaanku hanya tinggal menunggu waktu, Nyonya, aku tidak bisa memaksamu, aku tahu seburuk apapun Aksa, kau akan tetap melindunginya, karena kau adalah ibunya, namun … kalau kau ingin tahu bagaimana anakmu sekarang? aku lah contoh hidup dari kekejaman anakmu," kata Sania berdiri, membuka topengnya, menunjukkan seluruh wajahnya yang hancur.


Ayana sangat kaget, dia segera menutup mulutnya, matanya membesar melihat luka di sekujur wajah Sania, apa lagi saat Sania mulai membuka bajunya, luka-luka sayatan dan jahitan memenuhi sekujur tubuhnya, Ayana bahkan tidak bisa membayangkan rasa pedih di tubuh Sania saat menerimanya, seketika seluruh tubuhnya nyeri, dia ingat cambukan-cambukan yang dulu di terimanya.


"Aksa membiarkan aku di perkosa oleh 2 penjanganya, sementara dia hanya menonton, dan dengan senangnya dia menyayat-nyayat seluruh tubuhku, Nyonya, jika kau masih ingin melindungi Aksa, aku tidak akan memaksa, namun itu artinya kau membuatnya terjerumus semakin dalam hingga mungkin dia benar-benar akan menjadi iblis tak punya perasaan," kata Sania lagi dengan suara tenang, mencoba sebisa mungkin membuat Ayana mengerti, walau pun jauh di dalam hatinya dia meronta, marah, sakit hati, bahkan seluruh tubuhnya bergetar menahan segalanya.


"Tidak mungkin anakku yang begitu manis bisa melakukan hal seperti ini, " kata Ayana masih tak percaya, di dalam otaknya membayangkan Aksa remaja, yang begitu polos dan tak berdosa, dia hanya tak tahu setelah dewasa Aksa menjelma menjadi apa?.


"Kau tahu apa yang di lakukannya sekarang, dia benar-benar seperti ayahnya, dia meniduri banyak wanita, jika wanita itu tidak mau dengannya, dia akan memenggunakan obat yang sama seperti yang kau makan kemarin, dia akan membuatnya pingsan dan memperkosa mereka, bahkan beberapa dari mereka hingga bunuh diri karenannya, tidak ada yang berani melaporkannya, karena bagaimana pun dia tidak tersentuh oleh hukum, setelah aku mengatakan semuanya, kau yakin akan tetap mendukung kelakuannya?, kalau kau begitu artinya sama saja kau mendukung aksi suami dan anakmu, tapi semua ini adalah keputusanmu, jangan takut, aku dan Angga bukan orang yang kejam, kami akan tetap membuatmu sembuh, jika Angga bisa, dia juga ingin Bibinya bisa keluar dari sini. Semua ini pilihanmu, membantu kami atau berpura-puralah gila seumur hidup di sini, Permisi Ibunda Ratu, mereka akan mulai curiga kalau aku terlalu lama di sini, " kata Sania lagi, dia segera mengenakan pakaiannya, memberi hormat sebentar lalu membawa nampannya dan pergi keluar dari sana, meninggalkan Ayana yang masih syok dengan apa yang baru dia ketahui. Dia benar-benar harus melihatnya sendiri.


---***---


Bella menyusuri lorong rumah sakit pagi itu, Angga tidak bisa bersamanya karena seperti biasa dia harus mengurus beberapa pekerjaan, namun dia berjanji setelah seluruhnya selesai, dia akan segera datang ke rumah sakit. Dia segera menuju ke kamar Archie, Judy dan Manager rumah sakit itu mengikuti Bella, sedangkan penjagaan tampak tak terlalu banyak, Bella sengaja melarang para penjaga untuk masuk ke sana, pasti akan menganggu orang-orang nantinya.


Bella sebenarnya tak pernah suka meyusuri lorong rumah sakit ini, selain suasananya yang monoton putih, lagi-lagi yang paling menganggunya adalah wanginya, benar-benar membuatnya mual, dan rasanya sekarang semakin tajam saja, Bella sampai harus beberapa kali mengelus hidungnya.


"Silakan Nona, ini ruangan Tuan Muda Archie, "kata Manager itu, Bella memberikan senyuman padanya.


"Terima kasih sudah mengantar saya sampai sini, Anda boleh meninggalkan saya, saya tahu pasti perkerjaan Anda sangat banyak, " kata Bella.


"Baik Nyonya, saya Izin dahulu, "kata Manager itu, dia memberi salam lalu pergi dari sana.


Bella segera mengetuk pintu itu perlahan, tak lama pintu segera di buka, Daihan berdiri dihadapan Bella, Daihan tampak terkejut, namun wajah terkejut itu langsung melembut, melihat wanita yang selalu ada di hatinya itu sekarang ada di depan matanya, Bella langsung canggung akan tatapan Daihan itu.


"Aku mendapat kabar bahwa Archie di rawat di sini, apa aku menganggu? Aku hanya ingin bertemu dan melihat keadaannya, " kata Bella lembut dengan senyuman indah, seindah sinar matahari yang menyinari pagi ini. Hari Daihan terlihat cerah karena senyuman itu.


"Tidak, kau datang tepat waktu, dia baru saja bangun," kata Daihan tersenyum, membuka pintu lebih lebar agar Bella bisa masuk, Bella melihat sejenak ke dalam sebelum dia masuk ke ruangan Archie, dia melihat seoarang anak dengan pipi tembem, rambut lurus yang jatuh begitu saja, matanya hitam dan besar, bibirnya mungil, hidungnya mancung walau pun sedikit tertarik oleh pipinya yang tembem, begitu mengemaskan, hingga Bella langsung mendekatiya.


"Sangat tampan, ah, boleh aku mengendongnya? " kata Bella mengelus pipi tembem Archie, membuat Archie sedikit kegelian.


"Tentu, " kata Daihan dengan senyuman sumringahnya berdiri tak jauh dari Bella.


Bella segera menggendong Archie, panas tubuhnya sudah tak sepanas kemarin, Archie juga tampak lebih segar dari pada yang kemarin, bahkan sekarang sudah bisa tertawa, Bella benar-benar menyukai Archie, Dia bermain-main dengan Archie yang ada di dalam gendongannya, Melihat itu Daihan benar-benar bahagia kali ini, ini mimpinya, melihat Bella begitu bahagia, Archie pun tersenyum senang, benar-benar seperti mimpi dan impiannya, seandainya wanita itu sekarang miliknya, makan ini adalah gambaran masa depannya.


"Pa … " kata Archie yang baru bisa berbicara sedikit-sedikit. Membuat Daihan kembali dari lamunannya.


"Woh, Archie sangat pintar, sudah bisa memanggil papa, "kata Bella yang terkejut senang karena mendengar Archie memanggil Daihan. Mendengar kata-kata Bella, hati Daihan berbunga, merasakan kebahagiaan yang sempurna.


"Ya, Papa di sini," kata Daihan yang berjalan mendekati Bella dan Archie.


Bella terus fokus bermain dengan Archie, lalu matanya menangkap sosok Daihan yang ternyata sudah berdiri begitu dekat dengannya, Mata Daihan menatap dengan tatapan penuh rasa sayang pada Bella, membuat Bella menjadi harus secepatnya mengalihkan pandangannya, Daihan hanya mengelus kepala Archie yang sekarang di antara mereka berdua, Daihan benar-benar membuat Bella tak tahu harus bagaimana.


"Bubu, "kata Archie lagi, tangannya di julurkannya ke suatu arah, Daihan dan Bella segera melihat ke mana Archie ingin pergi.


Nekesha baru saja membersihkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi, seketika dia langsung bisa melihat pemandangan yang membuatnya terdiam, Bella ada di sana mengendong Archie, dan Daihan berdiri di dekatnya, menatap wanita itu dengan penuh perasaan, bahkan Nakesha pun tak pernah melihat tatapan cinta itu sebelumnya, hatinya langsung terasa seperti terperas, mereka terlihat sangat bahagia, kenapa tiba-tiba begitu terasa nyeri dan iri, perasaannya menagatakan seharusnya dia yang ada di sana. Tapi dia hanya diam saja.


"Nakesha? " kata Bella segera melihat adiknya ada di sana, tampak baru saja selesai mandi. Nakesha hanya tersenyum canggung, mencoba mengkondisikan perasaannya.


"Nakesha ada di sini membantu menjaga Archie semalaman," kata Daihan memberikan penjelasan.


"Bubu … bubu … " kata Archie mulai merengek, berontak dan mencondongkan badannya pada Nakesha, seolah ingin segera ada di dalam dekapan Nakesha. Bella sampai kewalahan karena Archie walau pun tubuhnya kecil, namun tenaganya cukup kuat.


Nakesha melihat Archie memanggilnya dengan cepat dan sigap mendekat ke arahnya, dia segera mengambil Archie dari gendongan Bella.


"Iya, anak ibu, di tinggal mandi sebentar sudah merengek seperti ini, kan tadi di gendong bibi, " kata Nakesha dengan lembut, terlihat sekali dia pintar mengambil hati Archie, dan Archie sendiri langsung ‘Nemplok’ pada Nekesha, seolah tidak ingin lepas lagi.


"Dia tahu siapa yang paling menyayanginya, " kata Bella tertawa melihat tingkah Archie, Daihan ikut tertawa kecil, sedangkan Nakesha hanya bisa tersenyum, dadanya masih terasa sakit.


"Bahkan semenjak Archie bertemu dengan Nakesha dia tidak mau lagi dengan ku, " kata Daihan, dia terus memandang Bella, tak sedikit pun melihat Nakesha, melihat itu Nakesha hanya bisa menahan perasaannya yang getir.