Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
228



"Tuan, Mobil yang menjemput Anda sudah ada di atas," kata Asisten Ed pada Angga, Asisten Ed langsung keluar dari sana.


"Baiklah," Kata Angga yang segera bersiap-siap, dia mengambil handphonenya dan ingin keluar dari ruang kerjanya, saat dia keluar, Bella segera menghadangnya.


"Sudah ingin pergi?" kata Bella memperhatikan suaminya, dia berhenti dan memandang wajah Angga, belum rela rasanya jauh dari Angga walapun dia tahu suaminya akan kembali lagi. Angga melihat wajah keberatan Bella, namun dia hanya tersenyum manis.


"Hmm," kata Angga sambil mengangguk, mengiyakan pertanyaan istrinya.


Tangan Bella menyusup diantara dasi suaminya, dia lalu membenarkan dasi itu sebentar, dan menatap suaminya dengan senyuman rela tak rela.


"Kali ini pulangnya jangan terlalu lama ya" kata Bella tersenyum manis.


"Ya," kata Angga, dia lalu tersenyum, meletakkan tangannya di belakang kepala Bella, lalu segera menarik kepala Bella, menciumnya dengan lembut, namun di bawah, tangannya segera menyerahkan sesuatu pada Bella, saat mencium itu, mata Angga pun tampak mengawasi sekitar.


Bella yang awalnya menikmati ciuman dahi Angga, langsung terkejut saat Angga menyerahkan sesuatu di tangannya, yang terselip di antara tubuh mereka.


Bawa selalu selama aku tidak ada, isyarat Angga setelah melepaskan ciumannya. Melihat itu Bella mengangguk.


Angga tersenyum lalu sedikit mengusap kepala Bella sebelum dia segera pergi dari sana menuju lift untuk keluar, Bella terus memandangi suaminya bahkan hingga lift tertutup, Bella tetap memegang barang yang di beri oleh Angga, di sembunyikannya pada kantung gaunnya.


Bella lalu masuk ke dalam kamarnya, dia segera menutup semua pintu dan jendela, lalu menegeluarkan barang yang di serahkan oleh Angga, dia baru sadar itu adalah alat kejut listrik, Bella mencoba menekannya, dan kaget melihat percikan listrik pada alatnya, dia juga harus berhati-hati dengan alat ini pikirnya.


Angga segera masuk ke dalam mobilnya, wajahnya yang diam itu tampak begitu tegas dan tak bisa di ganggu, membuat siapa pun yang melihatnya menjaga jarak dengannya, mobilnya segera pergi dari sana.


Angga turun dan masuk ke istana kepresidenan dari pintu belakang, dia juga langsung di tutupi oleh para penjaga yang sudah diperintahkan oleh Jofan, setelah masuk ke dalam, Angga langsung di bawa ke sebuah ruangan.


"Tuan Presiden masih melakukan pertemuan dengan utusan negara tetangga, namun kami sudah di perintahkan untuk melakukan penyamaran kepada Anda," kata penjaga itu.


"Ya." kata Angga, dia lalu di arahkan ke sebuah tempat yang terlihat seperti tempat make-up.


"Selamat siang Tuan, kami akan melakukan sedikit perubahan pada wajah Anda, ini akan memakan waktu cukup lama, jika Anda ingin tidur, kami persilakan, kami akan memulainya sekarang," kata  orang yang sudah bersiap memberikan make up untuk Angga.


"Hmm," kata Angga seadanya memberikan persetujan untuk para orang yang akan memberikan dia Make-up. Make-up ini khusus, butuh wakut 2-3 jam bagi mereka mendadani Angga, mereka mengunakan silikon dan tehnik yang benar-benar bisa membuat wajah seseorang terlihat lebih muda, lebih tua, bahkan berubah total, dalam kasus ini mereka membuat wajah Angga berubah sembilan puluh derajat dari pada biasanya, tampak seperti halnya penjaga biasa.


Angga baru saja melihat wajahnya di cermin, dia sedikit tersenyum, jika Bella melihat wajahnya seperti ini, pasti dia tidak akan bisa mengenalinya. Tim yang mendandani wajah Angga pun tersenyum puas, menutupi wajah sempurna Angga bukan hal yang mudah untuk di lakukan.


"Tuan, ini seragam yang bisa Anda pakai," kata salah satu penjaga, membawakan baju jas hitam khusus seperti pasukan pengawal presiden lainnya.


Angga mengangguk dan segera memakai pakaian itu, saat dia baru saja keluar dari tempat menganti bajunya, Jofan masuk ke dalam ruangan itu.


"Angga sudah datang?" kata nya langsung, melihat kesekeliling, namun Angga tidak dia temukan.


"Sudah, Tuan," kata Penjaganya.


"Yang mana Angga?" katanya bingung, dia tidak terlalu hapal dengan para penjaganya, jadi jika melihat mereka, dia juga belum bisa membedakan yang mana Angga yang mana penjaganya yang asli.


Penjaganya saling melihat, sebelum mereka menunjuk satu orang, Angga yang sebenarnya, dia lalu tersenyum, Jofan sendiri tidak lagi mengenalinya. Jofan sampai menganga sambil mendekati Angga, dia tidak habis pikir bisa melihat Angga dalam wujud seperti ini.


"Kau Angga?" kata Jofan kaget.


"Tidak … mengenali?" kata Angga,


Jofan geleng-geleng kepala, tidak menyangka hasilnya sebagus itu, dia benar-benar tidak percaya itu Angga kalau dia tidak kenal suara Angga, benar-benar berubah.


"Akhirnya aku tidak perlu merasa tersaingi oleh ketampananmu itu," kata Jofan tertawa lepas melihat penampilan Angga yang menurutnya biasa saja. Angga menatap wajah Jofan, kali ini walaupun dia menatapnya dengan dingin, wajah barunya tidak lagi menunjukkan wajah dingin menawan itu, hanya seperti orang biasa yang cemberut.


"Jangan cemberut seperti itu, kau tidak akan bisa mengintimidasiku dengan wajah seperti itu, lagi pula, kau penjagaku, kau jangan melawan perintahku," kata Jofan lanjut tertawa, serasa puas dapat mengalahkan dan mengatur Angga hari ini.


Angga hanya diam saja, mencoba membiarkan Jofan merasa senang karena keadaanya.


"Baiklah, kita harus ke sana sekarang," kata Jofan.


Mereka semua segera berbaris dan mengawal Jofan, hanya Angga yang di perbolehkan untuk berjalan di sampingnya, walaupun tidak terlalu dekat. Jofan masuk ke dalam mobil kepresidenannya, Angga duduk di depan di samping supir agar tidak terlihat mencurigakan. Tak lama mobil mereka segera berjalan, keluar dari area istana kepresidenan itu.


"Mereka memajukan jadwal pemakaman Raja Leonal," kata Jofan pada Angga di depannya.


"Kenapa? " kata Angga melirik Jofan dari kaca spion tengah.


"Entahlah, Aku sudah mendapatkan hasil pemeriksaan untuk mayat Raja Leonal," kata Jofan, dia menyerahkan sebuah kertas pada Angga. Angga langsung membacanya.


Angga membacanya dengan seksama, banyak lebam di tubuhnya, Angga langsung teringat akan perkataan Bella, bahwa Ratu Ayana memukuli Raja Leonal sebelumnya, dia lalu membaca lagi semuanya dan hasil pemeriksaan, penyebab kematiannya adalah gagalnya sirkulasi darah akibat pecahnya pembuluh darah hampir di seluruh tubuhnya. Angga mengernyitkan dahinya, hasil ini sama jika seseorang meninggal karena penyakit keturunan itu. tapi bangaimana bisa Raja Leonal meninggal hanya dalam 1 malam, apakah ada yang terlewatkan?.


Angga lalu membacanya lagi dengan seksama, semua hal tentang pemeriksaan jasad Raja Leonal, lalu dia menemukan sesuatu yang aneh, pada leher terdapat luka kecil seperti bekas suntikan?. Apa jangan-jangan?. Angga mengambil handphonenya, lalu mengetikkan sesuatu di sana, dia segera menyerahkan handphone itu pada Jofan.


Kau bisa mendapatkan file kematian Raja Iverson II. Tulis Angga.


"Ya, kenapa? " kata Jofan sambil mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan pertanyaan Angga. Angga lalu mengambil lagi handphonenya, mengetikkan sesuatu lagi, dan menyerahkanya pada Jofan.


Ada yang tidak benar dari kematian Raja Leonal, penyakit keturuan ini tidak bisa menyebabkan kematian hanya dalam satu malam, aku curiga Aksa melakukan pembunuhan pada Raja Leonal.


"Benarkah? aku akan menyuruh seseorang untuk mengurusnya," kata Jofan langsung mengambil handphoneya dan mengirimkan pesan untuk Ajudannya yang asli. " Sudah, kita tinggal menunggu hasilnya, jika benar Aksa yang membunuh ayahnya? Apa yang bisa kita lakukan dengan itu? " kata Jofan.


Angga mengetikkan sesuatu. Akan berguna untuk menuntutnya suatu saat nanti.’


"Baiklah,"kata Jofan lagi.