Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
246



Angga dan Jofan segera keluar dari rumah itu, berjalan menyusuri pantai di bawah rindangnya pohon-pohon kelapa yang berjejer banyak di sana.


"Bagaimana kau bisa memutuskan untuk tinggal di sini?"kata Jofan melihat kesekeliling.


"Tempat yang indah, dan fasilitas cukup mumpungi," kata Angga seadaanya.


"Kau benar-benar berubah," kata Jofan menatap Angga.


"Semua orang pasti harus berubah jika memang  harus berubah," kata Angga juga mengamati Jofan.


"Hahaha, kau sangat bijak sekarang, oh, iya, lupa, kau akan jadi ayah, harus seperti seorang ayah sekarang."


"Bagaimana di sana?"


"Tidak banyak berubah, kehidupan monoton, di mana kita harus terus maju jika tak ingin ketinggalan, mengejar sesuatu yang entah apa nanti ujungnya, aku iri padamu," kata Jofan membuang pandangannya jauh ke laut.


"Kenapa?" kata Angga.


"Hidup tenang, Istri yang cantik dan setia, apa lagi yang kau butuhkan?" kata Jofan.


"Bukannya semua negeri ini di bawah kuasamu," kata Angga lagi.


"Aku mulai ragu, apakah aku yang menguasai seluruh negeri ini, ataukah mereka yang menguasaiku?" kata Jofan lagi.


Angga tersenyum tipis, untungnya hidup seperti itu sudah lama dia tinggalkan.


"Bertahanlah, itu jalan hidup yang kau pilih, jangan pernah menyesal, tapi jika sudah tak sanggup, lepaskan saja semuanya," kata Angga memberikan nasehat.


"Baiklah," kata Jofan lagi.


Semilir pantai menghantarkan mereka, menemani perjalan dengan obrolan yang cukup panjang, hingga tak di sangka mereka berjalan jauh sekali, mengenang semua kehidupan mereka.


---***---


Malam menyingsing, Jofan sudah bersiap di halaman depan rumah Bella, kali ini dia sedikit terlihat santai, hanya menggunakan kaos dan celana pendek pantainya, di halaman rumah itu, para pegawai Angga menyiapkan berbagai makanan BBQ dan olahan ikan, mereka memutuskan untuk membuat semacam pesta kecil-kecilan mengundang semua pegawai dan juga penjaga Jofan.


"Kalian nikmatilah, ini hari libur, jangan terlalu tegang menjagaku, jika ada yang menyerangku sekarang, akan menjadi berita bagus untuk karirku nanti," kata Jofan becanda seadanya.


Para Penjaga Jofan dan juga Ajudannya saling menatap, mereka memang terlihat sangat kaku dari tadi, namun karena Jofan sudah mengatakan hal itu, mereka jadi bingung harus bagaimana.


"Tuan, ini silahkan," kata Nadia menyerahkan beberapa botol bir pada para penjaga dan ajudan Jofan.


"Nikmatilah, tidak sopan jika tidak menikmati pesta yang sudah di selengarakan untuk kita," kata Jofan santai, dia presiden paling santai yang pernah mereka temui, namun karena itu pula, mereka jadi mulai berbaur dengan ke adaan di sana.


Pesta kecil itu menyenangkan, antara bawahan dan atasan sama sekali tidak ada pembatas, dari para nelayan hingga seorang presiden, semuanya berbaur dengan canda dan tawa, Bella hanya duduk melihat ke adaan, tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi untuk aktif di sana.


"Tuan, maafkan aku, tapi aku sepertinya pernah melihat wajahmu," kata Eza pada Jofan yang sekarang ada di depannya, meminum sebotol bir langsung dari botolnya.


"Benarkah? mungkin karena aku terkenal," kata Jofan.


"Dia itu Presiden," kata Nadia pada Eza, Eza menatap Nadia, dia lalu tertawa keras, terlihat sekali dia sudah cukup mabuk.


"Kau gila, mana mungkin ada presiden bisa datang ke pulau kecil seperti ini dan duduk di depanku sambil minum bir, kalau sudah mabuk ya Nad, kalau dia presiden, aku ini pedana meteri kalau begitu," kata Eza lagi karena mabuk.


"Kau yang mabuk, benaran dia ini Tuan Presiden," kata Nadia yang masih mencoba menyakinkan pada sekumpulan orang yang mabuk di depannya. Semuanya tertawa karena itu.


"Benar Nadia, kalau aku presiden, maka dia pedana Menteri, hormat pedana meteri," kata Jofan yang mengikuti Eza, padahal dia belum mabuk sama sekali, bir seperti ini tidak akan membuatnya mabuk.


Semua orang di sana tertawa kembali, Nadia jadi malu karena perkataan Jofan, tak mungkin dia membatah presiden, jadi dalam benaknya, yang masih waras lebih baik mengalah.


Angga yang berdiri di samping Bella hanya mengamati, sesekali tersenyum melihat celotehan celotehan Jofan dan pegawainya yang menurutnya cukup mengelitik.


"Tidak ingin bergabung, kau boloh minum, tapi hanya sedikit," kata Bella pada suaminya.


"Ah, anakku anak baik, tidak mungkin ingin keluar saat pesta begini," kata Bella.


Namun Baru saja dia bilang begitu, tiba-tiba perutnya menegang, menimbulkan rasa nyeri yang amat sakit.


"Au, aduh," kata Bella memegang perutnya.


"Ada apa? jangan main-main," kata Angga cemas.


"Tidak, perutku nyeri, aduh, ini sakit sekali, " kata Bella menarik napasnya, mencoba mengatur napas seperti yang dianjurkan dokter jika dia merasakan kontraksi.


"Apa ini saatnya?" kata Angga.


"Tidak tahu, tapi … nyerinya berbeda," kata Bella lagi sambil mengatur napasnya.


"Kita ke dokter, Nadia!" kata Angga memanggil Nadia, Bella terus menerus mengatur napasnya.


"Ya Tuan," kata Nadia yang sigap ketika Angga memanggilnya.


"Siapkan semua keperluan Nyonya, kita ke rumah sakit sekarang," kata Angga panik dan cemas.


"Baik Tuan," kata Nadia langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Ada apa Ini?" kata Jofan yang melihat Angga tampak cemas, langsung mendatanginya.


"Sepertinya saatnya," kata Angga,


"Benarkah? aku akan membantu, apa yang harus aku lakukan?" kata Jofan bingung, dia belum pernah melihat apa lagi menolong wanita yang ingin melahirkan.


"Aku butuh mobil sekarang," kata Angga.


"Baiklah, biar aku saja yang menyetir, " kata Jofan segera mengambil kunci mobilnya, dia segera menuju mobilnya.


"Nadia, bawa keperluannya ke mobil Jofan," kata Angga dengan nada cemas.


Nadia mengerti, langsung membawa perlengkapan ke mobil Jofan yang di letakkan langsung di bagasinya.


"Semua sudah siap Tuan," Kata Nadia kembali ke rumah.


"Urus dulu rumah ini, setelah itu datanglah secepatnya ke rumah sakit, Bella Ayo," kata Angga mencoba menolong Bella untuk berdiri, dan berjalan menuju mobilnya.


"Baik Tuan,"kata Nadia.


"Apakah masih sakit? " kata Angga pada Bella yang terlihat sudah biasa saja.


"Sudah tidak, "kata Bella.


"Apakah memang seperti itu?" kata Angga.


"Kata Buku, sakitnya akan datang dan makin teratur jika sudah dekat waktunya melahirkan, aku rasa ada yang keluar," kata Bella melihat ke bawah.


"Ayo, sekarang kita harus pergi ke rumah sakit," kata Angga yang tak tahu apa yang keluar, namun dia yakin ini saatnya.


Bella di dudukan oleh Angga di kursi belakang, sedangkan Jofan sudah bersiap, dia duduk di samping Jofan.


"Aku duduk di depan, jika nyeri, carilah posisi yang menurutmu nyaman," kata Angga yang tak ingin membuat istrinya merasa kesusahan bergerak.


"Baiklah, "kata Bella.


"Ayo," kata Angga memerintahkan Jofan.