Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
154



Angga langsung berbalik, handphonenya langsung di hempaskannya entah ke mana, mantap wajah Bella yang memerah, malu karna sudah mengatakannya.


"Apa yang tadi kau katakan?" Kata Angga masih tak percaya, berberapa hari yang lalu, Dia mengajak Bella menikah dan di tolak dengan mentah-mentah, kenapa sekarang langsung berubah pikiran.


"E ... Mari kita menikah, maaf sudah menolakmu waktu itu, dan aku tahu kau bukan pria yang suka bertanya 2 kali, jadi aku yang akan memintamu untuk menikah," kata Bella menatap Angga, wajahnya bersemu merah, suaranya lembut sekali.


Angga tak berkedip mendengarkan kata-kata Bella, dia masih tidak percaya, baru kali ini dia sampai terdiam tidak bisa berkata apapun.


"Bagaimana?" Kata Bella yang melihat reaksi Angga yang hanya diam saja.


Angga tak menjawab, dia langsung memeluk Bella dengan erat, bahkan Bella kaget dengan serangan tiba-tiba dari Angga.


"Ya, Kita akan menikah, secepatnya. Pasti. Secepatnya," kata Angga benar-benar menumpahkan seluruh perasaannya, memeluk Bella bagaikan tak bertemu dengan wanita ini 100 tahun lamanya, erat dan penuh emosi, bagaimana dia tak bahagia akhirnya Bella setuju, menahlukkan hati Bella hingga dia setuju menikah bukan hal mudah bagi Angga.


Bella yang di perlakukan seperti itu sebenarnya merasa cukup sesak, tapi dia pun merasa sangat senang dan nyaman, hanya tersenyum dan membalas perlakuan Angga.


"Tapi kau akan memakai nama Mika," kata Angga melepaskan Bella dari pelukkannya.


"Tidak apa, lagi pula jika dia kembali, aku sudah yakin kau tetap bersamaku," kata Bella.


"Ya, aku pasti bersamamu."


Bella hanya tersenyum, bagaimana pun Mika juga tak akan bisa kembali, dan melihat perlakuan Angga pada Nakesha, Bella sudah yakin bagaimana perasaan pria ini.


"Aku akan menyuruh Asisten Jang untuk mengurus semua berkas untuk pernikahan kita," kata Angga semangat, langsung berdiri.


"Baiklah, Ehm, kapan kita akan menikah? bukannya itu harus di pikirkan dulu?" kata Bella tersenyum.


"Besok," kata Angga tenang saja, seolah menikah segampang itu, mengambil handphonenya lalu mengirimkan pesan.


"Besok? tidak terlalu cepat? aku kira akan bulan depan atau paling cepat minggu depan," kata Bella kaget, bagaimana bisa menikah besok?.


Angga mencondongkan lagi wajah agar lebih dekat dengan Bella, wajahnya tampak serius.


"Aku pernah kehilangan pengantinku 3 hari sebelum pernikahanku, aku tak akan biarkan itu akan terjadi lagi, apa lagi sekarang pengantinku adalah kau, aku tak ingin ada sesuatu yang terjadi, atau kau berubah pikiran," kata Angga serius namun cukup lembut untuk Bella.


Bella tersenyum, Angga memang tak bisa di lawan.


"Bagaimana aku akan berubah pikiran, toh seperti katamu, aku sudah terikat denganmu seumur hidupku," kata Bella membalikkan kata-kata Angga. Angga tertawa kecil mendengarnya.


Pintu kamar di ketuk, Angga langsung dengan sigap membukanya, Asisten Jang berdiri tegak di depannya.


"Asisten Jang, urus semua keperluan pernikahanku dengan Nona Bella," kata Angga.


"Selamat Tuan, kapan Anda ingin menikah?" kata Asisten Jang cukup senang mendengarnya.


"Besok."


"Besok?" kata Asisten Jang kaget, buru-buru sekali.


"Ya lakukan saja untuk pengurusan pernikahan di catatan negara, soal pestanya bisa kita bicarakan nanti, " kata Angga melirik Bella, Bella mengangguk.


"Baik Tuan, sekali lagi, Selamat atas pernikahan Anda dan Nona," kata Asisten Jang tersenyum, memberi hormat, lalu ingin pergi.


"Asisten Jang, Terima kasih," kata Angga.


"Sama-sama Tuan," kata Asisten Jang, lalu dia melanjutkan jalannya.


Asisten Jang tampak senyum-senyum sendiri, dia lalu membuka pintu dan keluar dari ruangan hotel Angga, menemui Judy yang berdiri di sana, melihat Asisten Jang tersenyum-senyum sendiri, Judy mengerutkan dahi.


"Ada apa denganmu? Tuan Angga memberikanmu bonus?" kata Judy heran.


"Tidak, Tuan dan Nona akan menikah," kata Asisten Jang lagi.


"Kau serius?"


"Ya, dia menyuruhku untuk menyiapkan segala dokumen untuk pernikahannya besok."


"Besok? mengapa begitu buru-buru?" kata Judy kaget, siapa pun yang mendengarnya juga akan kaget.


"Angga dan Bella akan menikah besok?" suara Daihan terdengar kaget, ternyata dia tak sengaja mendengarkan perkataan Asisten Jang dan Judy.


Asisten Jang dan Judy yang tadi terlihat santai, langsung memasang sikap sempurna.


"Selamat siang Tuan Daihan, Ya, besok Tuan Angga dan Nona Bella akan menikah, mungkin Tuan akan segera memberitahukannya pada Anda secepatnya," kata Asisten Jang.


Daihan terdiam, hatinya sakit sekali, mendengar itu dia langsung gundah, kecewa, dan menyesal, kalau tahu akan seperti ini, saat Bella memintanya berpura-pura, dia pasti mengiyakannya, dan sekarang dia benar-benar menyesal. Daihan langsung berjalan dan masuk ke dalam ruangan hotel Angga.


---***---


Angga menutup pintunya, lalu menatap Bella, tiba-tiba saja merasa sedikit canggung, kenapa malah ingin menikah rasanya jadi canggung?.


"Ingin jalan-jalan sebelum pulang, di sini termasuk daerah wisata, setelah itu kita bisa ke tempat ibumu, walaupun dia tidak bisa mengerti sepertinya dia harus tahu kita akan menikah," kata Angga.


"Ya, boleh tidak membawa penjaga? kita pergi berdua saja," kata Bella lagi.


"Baiklah, kita berdua saja," kata Angga tersenyum sambil bersiap-siap. Bella pun segera bangkit, turun dari ranjang, mengambil baju yang pas untuk berjalan-jalan.


Baru saja dia berjalan menuju kamar mandi untuk menganti baju, pintu kamar mereka di ketuk dengan keras. Bella dan Angga kaget, siapa? dan kenapa mengetuk begitu keras dan buru-buru.


" Lanjutkan saja, biar aku yang membukanya," kata Angga, dia langsung mengarah ke pintu, dan membukanya, menemukan Daihan yang wajahnya tampak marah.


"Ada apa?" kata Angga dingin karna melihat wajah Daihan yang benar-benar tak bersahabat.


"Kalian akan menikah?"kata Daihan


"Ya. Besok kami akan menikah. Aku sudah katakan padamu, dia pasti memilihku," Kata Angga terkesan angkuh.


Daihan terdiam, matanya memerah penuh amarah, hatinya benar-benar sakit, dia mengertakkan giginya, tangannya di kepalkannya dengan sangat erat.


Daihan sudah tak bisa menahan diri lagi, dia langsung meninju pipi Angga, Angga yang tak tahu Daihan akan melakukan itu menerima pukulan itu dengan telak.


Asisten Jang yang ada di ruangan itu, langsung menahan Daihan, Angga hanya diam melihat Daihan, dia sedikit terkejut, selama ini Daihan orang yang tenang dan diam, baru kali ini dia tampak sangat marah.


"Ada apa ini?" kata Bella kaget dengan keributan ini, dia baru saja selesai menganti bajunya, melihat pipi Angga yang sedikit memerah dan juga wajah Daihan yang sangat marah, di hadang oleh Asisten Jang, Daihan yang menatap Bella di sana menatapnya sangat nanar, Bella merasa tak enak memandangnya.


"Daihan datang mengucapkan selamat atas pernikahan kita besok," kata Angga dengan nada sarkasme.