
Aksa berjalan dengan sangat cepat menyusuri lorong menuju ke istana utama, sekali lagi pintu dibukakan lebar untuknya oleh para penjaga. Aksa terdiam melihat wajah ayahnya yang masam menatapnya ketika pintu terbuka.
" Ada apa yang mulia raja memanggil saya kemari." kata Aksa yang sadar dia sekarang ada di depan istana utama, walapun sudah tidak ada rasa hormat sedikitpun untuk ayahnya, Aksa hanya ingat tata krama.
"Sudahkah aku mengatakan padamu untuk menjaga sikapmu? Lihat apa yang kau lakukan." kata Raja Leonal dengan saura berat dan tegasnya, dari matanya Aksa bisa melihat kemarahan, namun Aksa hanya melihatnya biasa saja.
"Sekarang kita ada di ambang ketidakpercayaan masyarakat, mereka sudah menilai kita buruk, dan bisa-bisanya hal ini keluar, apa maksudnya ini?" kata Raja lional sangat marah.
Wajah Aksa berkerut, dia sama sekali tidak tahu apa yang dikatakan oleh ayahnya sekarang. Dia merasa tak pernah melakukan hal yang tidak-tidak.
"Lebih baik kau mencari berita apa tentang kerajaan yang sekarang sedang banyak di bicarakan. Malam ini aku minta jawab dari mu, hingga saat itu kau jangan pergi dari sini." kata Raja Leonal
"Ada yang harus aku beresakan malam ini. " kata Aksa langsung menolak kata-kata ayahnya dengan tegas.
"Kau harus menurutiku, kalau tidak, kau tahu kosekuensinya, aku yakin ibumu tak bisa menunggu di sana lebih lama lagi." kata Raja Leonal dengan wajah yang begitu serius.
Muka Aksa masam, dia benar-benar benci jika ayahnya mengunakan ibunya untuk menekannya. Dari kecil itu yang selalu di lakukannya, sayangnya, kelemahan Aksa memang hanya ibunya.
"Aku bukan anak-anak lagi ayah, jika kau ingin membunuhnya, kau sudah melakukannya dari dulu, aku rasa kematian lebih baik untuknya saat ini." kata Aksa dingin, Raja Leonal
langsung berbalik dan menata anaknya dengan sangat tajam, Aksa hanya tersenyum sinis.
"Jangan bilang aku tak tahu kesopanan, aku belajar darimu." Kata Aksa segera pergi daei sana meninggalkan ayahnya yang menarahan amarah.
Aksa langsung masuk ke ruang tengah istana pangeran, dia membuka laptopnya, dan mencari apa yang di bicarakan ayahnya dengan penuh emosi. Dia lalu menemukan sebuah video.
Aksa mengertakkan giginya, di video itu terlihat bagaimana keadaan saat Bella dan Aksa bertemu dengan Aksa, yang parahnya saat Aksa mengatakan tentang ‘dia akan meringankan hukuman Sania jika saja Bella ingin menjadi wanitanya’. Apa lagi sebelumnya ada adegan Sania menangis tersedu-sedu menelpon orang tuanya. Di bawahnya juga di buat caption yang begitu memprovokasi.
‘ Pangeran Aksa dengan tak tahu malu mengatakan hal yang tak pantas pada wanita yang ingin membantu Nona Sania, dan pula, apa menurut kalian dia cocok di hukum mati? Hanya karena percobaan pembunuhan? Aku sangat tidak percaya lagi dengan keluarga kerajaan saat ini.'
Aksa menutup laptopnya dengan keras, matanya merah, namun tak lama senyuman sinis tersunging di wajahnya.
Angga kau ingin main-main sekarang ya? Kita lihat siapa yang akan menang sekarang, pikir Aksa.
Dia segera mengambil handponenya.
"Bawa Nona Bella keluar, pindahkan dia ke gudang di dermaga, lakukan segera sebelum kita kedatangan tamu." kata Aksa tersenyum sinis.
Dia lalu menutup sambungan telepon itu. Matanya tampak melihat kesegala arah, dia mengertakkan giginya.
"Tapi Raja melarang Anda keluar malam ini. " kata penjaga itu
"Aku tidak peduli. Kerjakan sekarang atau kalian semua aku bunuh." kata Aksa dengan seluruh amarahnya.
"Baik Tuan. "
Aksa kembali diam, sampai dia mati tidak akan rela memberikan Bella pada Angga.
---***---
Angga tak bisa duduk tenang, dia bahkan tidak makan hingga malam hari, tidak juga beranjak dari tempat itu sama sekali, wajah khawatirnya menghiasi setiap saat. Dia sangat tidak sabar menunggu kabar dari Jofan. Pikirannya terus di penuhi oleh Bella, bagaimana keadaanya sekarang?
"Mereka menemukan tempatnya," kata Jofan yang juga dari tadi hanya ada di sana.
Angga langsung melihat ke arah Jofan, dia lalu segera mendekatinya.
"Penyergapan akan di lakukan malam ini, menurut informasi, Aksa juga sudah meninggalkan tempat itu."
"Aku akan ke sana." kata Angga tegas.
"Tidak lebih baik kau menunggu di sini?" kata Jofan, dia tahu jika sahabatnya ini sudah mengeluarkan wajah seperti itu dia tidak akan bisa dilarang.
"Aku tidak bisa menunggu santai di sini."kata Angga sambil memakai jacket yang lebih tebal karena ini sudah cukup malam.
"Baiklah, aku akan memberikan info tentangmu pada mereka. Kemungkinan kau hanya bisa menunggu hingga mereka selesai menyelesaikan misi itu. " kata Jofan.
"Ya, lebih baik di sana, aku tidak bisa menunggu tenang lebih lama lagi di sini." kata Angga dengan sorot mata tajam.
"Baiklah, kalian ikut dia, pastikan semuanya aman." kata Jofan.
"Baik Tuan." kata para penjaga yang sepertinya dari pihak militer.
"Berhati-hatilah." kata Jofan melihat sahabatnya.
Angga tak menjawab, hanya mengangguk tegas, tanpa buang waktu dia langsung pergi meninggalkan tempat itu, sebuah Jeep Rubicon sudah tersedia di sana, Angga langsung masuk ke dalamnya, duduk tampak gagah, serius dan dingin, tak lama mobil berjalan, 1 mobil di depan mereka, 1 mobil lagi di belakang mereka.
Tunggu aku, kata hati Angga yang melihat jalan yang gelap gulita, segelap pancaran matanya sekarang.