
Angga berdiri di tepian pantai, menantang angin yang cukup kencang malam itu, hebusannya sedikit menusuk tulang, membuat dia memeluk dirinya sendiri.
Bella berjalan perlahan, membiarkan kakinya termakan pasir yang masih terasa hangat, mendekati perlahan suaminya yang tampak berpikir, dengan senyuman hangat dia meraih bahu suaminya, memeluknya sejenak sebelum Angga cukup kaget dan membalikkan tubuhnya mengahadap Bella.
"Belum tidur?" tanya Angga melihat ke wajah istrinya yang tampak berbinar, terkena pantulan cahaya rembulan dari air laut.
"Bagaimana aku bisa tidur jika suamiku saja belum ada di sampingku," kata Bella mengoda.
"Dasar pengoda kecil," kata Angga tersenyum mendengarkan godaan istrinya, dia mencubit hidung Bella seakan gemas. Bella hanya balas dengan senyuman.
"Yang lain sudah tertidur, sepertinya semuanya cukup kelelahan, Suri juga sudah tidur, aku lihat dia sudah akrab dengan Archie," kata Bella menerangkan.
"Ya, aku juga melihatnya, sepertinya dia memang butuh teman," kata Angga sembari melingkarkan tangannya ke bahu Bella, Bella melirik Angga saat dia sudah masuk dalam pelukannya.
"Bagaimana? sudah kau putuskan?"
"Belum, aku masih ingin membicarakannya padamu."
"Angga, aku sudah memikirkannya, aku tidak akan memaksa kita harus tinggal di sana, aku sadar sekarang, mau di mana saja, itu akan jadi rumah asalkan kau dan Suri bersamaku, aku tak masalah kembali ke sana dan tinggal di istana," kata Bells memandang suaminya dengan dalam.
Angga memperhatikan Bella, lalu mengulas senyuman tipis yang membuat wajahnya tambah manis, Angga memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Bella.
"Kau yakin? kau bilang tak akan lagi kembali ke istana," kata Angga dengan lembut.
"Ya, tapi sekarang semua membutuhkanmu, lagi pula Suri sudah cukup besar, dia sebentar lagi akan sekolah, pendidikannya akan lebih baik jika di sana," kata Bella lagi.
"Ya, aku juga memikirkan itu."
"Jadi bagaimana?"
"Baiklah, kita pulang," kata Angga kembali menarik Bella dalam pelukannya, "Aku sudah berpikir untuk memberikan semua ini pada Eza, biar dia yang melanjutkannya, bagaimana menerutmu?"
"Iya, itu ide yang baik, soal Nadia aku sudah berbicara padanya, dan dia bilang dia ingin ikut kemana pun kita pergi, boleh kah dia ikut? di sini dia cuma yatim piatu," kata Bella merayu Angga.
"Tentu, kita bisa mengajaknya," kata Angga terus memeluk Bella erat seolah tak membiarkan angin menyusup di antara mereka, menyebarkan kehangat di antara mereka berdua, mereka benar-benar sudah lama tak merasakan hal seperti ini.
"Ma! Pa!" suara kecil memecahkan keheningan malam mereka berdua, Angga dan Bella langsung melihat ke arah datangnya suara, tampak Suri yang mengunakan gaun tidurnya dan sedang mengucek matanya, mungkin terbangun karena tidak menemukan ke dua orang tuanya di sampingnya.
Angga mengaruk belakang kepalanya, serasa benar-benar susah hanya untuk menghabiskan waktu bersama Bella, Bella yang melihat wajah Angga, hanya tersenyum.
"Ya, Mama dan Papa akan ke sana sebentar lagi," kata Bella. Suri tak bergeming, berdiri di beranda melihat ke dua orang tuanya berjalan ke arahnya.
Angga langsung mengendong Suri yang masih mengantuk. Benar saja Suri langsung bersandar di bahu ayahnya.
"Suri masih mau menjadi putri?" tanya Angga pelan sambil mengelus punggung putrinya.
"Hu-um," jawab Suri sambil mengangguk pelan.
"Baiklah, besok kita akan pulang, Suri akan tinggal di istna, apa Suri senang?" tanya Angga lagi, tangan Angga mengenggam tangan Bella, menatap dalam pada mata istrinya yang hanya tersenyum.
"Benarkah? Papa tidak bohong kan?" ujar Suri tak percaya.
"Benar, karena itu anak mama ini harus tidur, sudah terlalu malam, kalau tidak tidur sekarang, bisa-bisa besok kita akan ketinggalan pesawat," kata Bella mengambil Suri dalam gendongan Angga.
"Besok kita akan naik pesawat?" pekik Suri senang.
---***---
Bella mendudukkan Suri di samping Archie, Bella juga memasangkan sabuk pengaman Suri yang tampak gugup.
"Tidak apa-apa, bukannya Suri tadi sangat semangat untuk pergi dengan pesawat?" kata Bella yang menatap wajah anaknya yang tegamg ketakutan.
Suri hanya melihat ibunya, dia sesekali melihat ke arah jendelanya, benar-benar tegang dengan pengalaman pertamanya.
"Aku akan menjaganya bibi, Suri tidak perlu takut," kata Archie dengan serius, seolah dia akan benar-benar menjaga Suri.
"Tentu, terima kasih Archie, Suri, lihatlah ada Kak Archie di sebelahmu, Mama dan Papa juga ada di depan, jadi jangan takut ya," kata Bella lagi.
Suri menatap Bella, lalu melihat ke arah Archie , Archie mengangguk pada Suri, seolah meyakinkan Suri, Suri jadi tampak sedikit tenang.
"Iya, mama," kata Suri.
"Anak baik," kata Bella sambil mengelus kepala Suri dan Archie, lalu dia berdiri, Angga sudah menunggunya duduk di depan, yang lain juga sudah bersiap di tempat duduknya.
"Bagimana dia?" kata Angga ketika Bella sudah duduk di sampingnya.
"Dia akan baik-baik saja, jangan khawatir, dia harus bisa mengatasi perasaannya, biarkan dia mandiri, jangan terlalu khawatir dan memanjakannya, lagi pula, Archie sudah menenangkannya, dia mengatakan padaku, dia akan menjaga Suri, dia bahkan memandangku serius," kata Bella tersenyum pada Angga yang terlihat cemas dengan keadaan Suri yang sebenarnya tepat di belakang mereka.
"Benarkah? anak itu mengatakan hal itu?" kata Angga tak percaya, dia melirik kebelakang, melihat Archie dan Suri yang tampak berbincang.
"Dia punya kharisma seorang pangeran," kata Bella tanpa pikir panjang.
"Apa maksudmu? kau ingin mengatakan bahwa dia punya kharisma seperti ayahnya?" kata Angga tampak tak suka kata-kata Bella.
"Bukan, ya, lihat saja, siapa yang tak suka dengan Archie, wajahnya tampan, orangnya sopan, aku rasa itu bukan keturunan dari ayahnya, mungkin itu dari ibunya," kata Bella milirik Angga, ingin tahu apa respon dan jawaban Angga jika disinggung tentang ibu Archie.
"Ntahlah, yang pasti jangan sampai dia mengoda anakku," kata Angga yang tak ingin salah bicara, jadi dia hanya mengalihkan pembicaraan.
Bella yang melihat kegugupan Angga, langsung merasa suaminya itu lucu sekali.
"Haha, anakmu baru berumur 6 tahun, tak perlu begitu takut," kata Bella melirik Angga, Angga tak meresponnya, takut salah bicara lagi.
Persawat mereka segera tebang, saat mendengar gemuruh mesin, Suri semakin tegang, dia bahkan hampir menangis, ini pengaman yang cukup menakutkan baginya, apa lagi papanya tidak ada bersamanya.
Suri mengenggam erat ke dua sandaran tangannya, menutup matanya, rasanya benar-benar seperti tertekan sesuatu, membuat Suri panik.
Namun kepanikannya langsung berkurang saat sebuah kehangatan menyelimuti tangannya yang mencengkram kuat, Suri langsung membuka matanya, melihat siapa yang mengenggam tangannya.
Tangan Archie mengenggam tanngan Suri, dia juga tersenyum pada Suri.
"Jangan takut, aku ada di sini, sebentar lagi tidak akan seperti ini, tenang ya," kata Archie dengan senyuman manis yang menenangkan siapa pun.
Suri yang melihat itu langsung terdiam, perhatiannya teralih, dunianya serasa terisi dengan senyuman menentramkan Archie, membuatnya benar-benar tenang.
"Iya, kakak," kata Suri.
"Jangan cemas, Suri, aku janji padamu setiap kau ketakutan, aku akan menjagamu," kata Archie kembali tersenyum, mengetatkan genggamannya di tangan mungil suri.
Sebuah janji terucap hari itu yang tak akan pernah dilupakan oleh Suri seumur hidupnya.