Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
126



Pintu kamar Angga terketuk dengan keras, membuat dia langsung terbangun, kepalanya terasa sedikit pusing, dia masih sedikit lemas, melihat jam dari jam tangannya, dia baru tidur 2 jam, dan ini sudah tengah malam, siapa berani yang membangunkannya.


Angga duduk sebentar, merasakan seluruh badannya terasa berat, ternyata dia baru sadar, tubuhnya terasa sangat lelah. Namun ketukan di pintu itu tak berhenti, membuat dia mau tak mau segera bangkit dari sana.


Dia lalu segera berjalan menuju pintu ruangannya, melihat  Asisten Jang dan Judy sudah ada di depan pintunya dengan wajah cemas, melihat mereka Angga langsung tahu.


Dia segera keluar dari ruangannya, tidak menunggu lama, wajahnya yang dingin itu tampak cemas.


"Ada apa lagi? " kata Angga berjalan dengan buru-buru ke arah ruangan Bella.


"Sepertinya Nona sakit, badannya sangat panas dan Nona menggigil Tuan. " kata Judy melaporkan.


"Panggilkan dokter secepatnya."kata Angga lagi.


"Dokter di sini sedang mengawasi latihan tempur di tempat lain, dengan kata lain, tidak ada dokter yang stand by di sini. "kata  Asisten Jang


Angga segera masuk ke dalam ruangan Bella, melihat Bella meringkuk kedinginan, pasti karena malam-malam dia berendam di bath up tadi.


Angga tanpa aba-aba langsung menyelipkan tangannya di bawah pundak dan lutut Bella, suhu tubuh Bella yang panas langsung terasa oleh Angga, Bella tertidur, namun terlihat sangat tidak nyenyak, keringat berbutir tampak di dahinya.


"Angga... kau jahat sekali..." racau Bella antara sadar atau tidak.


Mendengar itu hati Angga menjadi sakit, apa Bella sakit begini karenanya?.


"Siapkan mobil, kita ke rumah sekit sekarang juga. "kata Angga buru-buru membawa Bella keluar, sesampainya di mobil,dia langsung meletakkan Bella dan segera pergi dari sana.


Angga langsung membawa Bella menuju ke rumah sakitnya. Segera saja para dokter menangani Bella, tak lama Bella sudah masuk ruang rawat inap, kembali infus menghiasi tangannya yang putih.


Lagi-lagi malam ini Angga hanya bisa menunggui Bella di samping ranjangnya, walaupun di ruangan rumah sakit ini tersedia ranjang untuk penunggu, namun dia tidak bergeming, duduk dengan sabar menunggu Bella yang berangsur-angsur demamnya turun.


Mungkin karna tubuhnya juga lelah, apa lagi sekarang kepalanya sangat berat, akhirnya Angga malah tertidur sambil terus memegang tangan Bella.


"Kenapa aku di sini? " kata Bella yang mulai membuka matanya. Melihat ruangan kamar rawat yang sudah menjadi langganannya, tangannya terasa pegal, setelah melihat, ternyata jarum infus sudah tertancap di sana.


Di tangan yang satunya lagi terasa hangat. Dia melihat ke arah tangannya, menemukan Angga yang tertidur lelap, sepertinya dia juga sangat lelah, bahkan tidak sadar kalau Bella sudah bangun.


Apakah Angga menungguinya lagi? Perasaan Bella sedikit tersentuh, namun kembali lagi otaknya mengirimkan gambaran-gambaran yang terjadi kemarin siang, dan perasaan tersentuh itu lenyap, tertutup rasa sakit hati.


Bella ingin menarik tangannya, namun genggaman Angga sangat erat, bahkan saat tidur dia tidak ingin melepaskan Bella. Bella mencoba beberapa kali, namun tidak berhasil, Bella jadi pasrah saja, takut membangunkan Angga, dan kalau Angga bangun dia tidak tahu harus bicara apa dengan pria ini nantinya.


Bella hanya bisa menunggu, dia tidak bisa tidur lagi, bahkan matanya saja sudah tidak mau memejam lagi, dia hanya memperhatikan Angga yang begitu lelap, seolah sedang tidur di tempat yang begitu nyaman, padahal dia hanya tidur sambil terduduk di samping ranjang Bella.


Wajah Angga yang tampan itu memang lebih mempesona jika tidur, bahkan rasanya sangat berbeda dengannya saat sadar, kelembutan di wajahnya, bahkan seperti malaikat.


Pintu kamar rawat Bella terbuka perlahan, sangat perlahan bahkan jika Bella tidur, dia tidak akan mendengarnya, Judy masuk dengan hati-hati.


Judy melihat Bella yang sudah bangun, dia hanya tersenyum melihat Bella dan melihat Angga yang masih tertidur. Judy tahu Bella tidak bisa bergerak karena tangannya di genggam oleh Angga.


"Tuan baru saja tertidur, Beliau menjaga Anda dari tadi malam, apakah saya harus membangunkannya Nona?" kata Judy dengan suara sedikit berbisik.


"Biarkan saja," kata Bella lagi, walaupun semarah apapun, dia tentu masih punya rasa peduli pada pria ini.


"Saya akan mengukur suhu Anda dulu ya? Kemarin Anda demam begitu tinggi, membuat Tuan panik, hingga membawa Anda ke sini. " kata Judy mengambil termometer di samping tempat tidur Bella, mengarahkannya di dahinya dan untungnya suhu Bella sudah normal.


"Aku tidak ingat dipindahkan ke sini. "kata Bella lembut.


"Ya, dokter mengatakan mungkin Anda demam karena luka Anda. Suhu Anda sudah normal Nona, apakah Anda butuh sesuatu?"


"Oh, baiklah, ehm, bolehkan kau membawakanku makanan, aku cukup lapar. " kata Bella tersenyum.


"Baiklah, aku akan membawakan Anda makanan. "kata Judy bersiap.


"Eh, Judy, bisakah kau mengambil selimut itu, tolong selimutkan ke tubuh Angga. "kata Bella lagi, merasa sepertinya di ruangan itu cukup dingin, lagi-lagi tak bisa menolak hati kecilnya yang sangat peduli kepada Angga.


"Baik Nona."


Judy segera mengambil selimut yang ada di ranjang penunggu, lalu segera dia selimutkan pada tubuh Angga. Judy lalu memberikan hormat dan langsung keluar.


Bella kembali menatap Angga, dia mengigit bibirnya, apa dia terlalu keras dengan Angga? bahkan Angga begitu khawatirnya hingga tidak tidur lagi tadi malam.


kehangatan tangan Angga sangat terasa, menjadi perasaan dominan yang sekarang dirasakan oleh Bella bahkan mengalahkan rasa pegal di tangan kirinya. Pria ini terkadang memberikan rasa sakit, tapi juga rasa nyaman.


Bella menunggu, hanya bisa berbaring karna kalau dia duduk, tangannya akan tertarik, lama-lama terasa bosan juga, hanya bisa melihat langit-lagit dan sesakali melihat Angga yang tak bergeming.


Di luar cahaya matahari sudah sangat terang, tidak biasanya Angga sama sekali tidak terusik dengan semua itu, Bella tahu Angga benar-benar kelelahan kalau begini.


Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, awalnya Judy masuk, lalu di belakangnya muncul sosok Jofan yang sudah mengunakan baju formalnya, sangat rapi dan tampan, wanginya bahkan menyerebak memenuhi ruangan Bella mengalahkan bau khas rumah sakit itu.


Melihat keadaan itu, Jofan sedikit terkejut, Angga pasti tidak tidur lagi, jadi dia hanya diam, mencoba membiarkan Angga tetap tidur. Bella yang melihat kedatangan mereka hanya bisa tersenyum, ingin bergerak, namun Jofan mengeluarkan gestur untuk diam saja.


"Bella, bagaimana kabarmu? " kata Jofan mendekati Bella dengan suara kecil.


"Aku sudah baik. "kata Jofan.


"Dia tidak tidur lagi kan? Dia jarang bisa tidur selelap ini jika tidak terlalu letih. "kata Jofan lagi.


Bella hanya mengangguk.


"Hah, dia sangat khawatir denganmu, kemarin dia bahkan rela tidur di ruangan yang tak layak hanya agar bisa tidur di samping ruanganmu. " kata Jofan lagi sambil memperhatikan Angga.


"Benarkah? " Bella tidak percaya, seorang seperti Angga melakukan itu? bukannya dia sangat suka dengan kenyamanan.


"Benar, dia pasti sangat menyukaimu, 5 tahun bersama Mika, aku belum pernah melihat dia rela meninggalkan semuanya, bahkan dia membatalkan semua pertemuan dan kesempatan bisnisnya hanya untuk menjagamu. Tak seromantis orang-orang sih, tapi aku yang mengenalnya dari kecil, tahu itu adalah pengorbanan besar untuk Angga. " kata Jofan lagi melihat wajah Angga.


"Kau pasti membelanya karena dia temanmu. "kata Bella yang masih tidak bisa percaya.


"Aku serius, kau bisa tanya Judy atau  Asisten Jang, sejak kapan Angga bisa seperti ini? belum pernah dia rela menjaga seseorang sampai tidur terduduk seperti itu. Dia itu orang paling egois, yang dia tahu hanya dirinya sendiri, tapi lihat sekarang. Bahkan aku yang seorang pemuja wanita saja, tak akan rela membuang begitu banyak kesempatan hanya untuk menjaga seorang wanita. " kata Jofan lagi