
"Kakak, aku pernah menyuruhmu untuk memperlakukanku seperti Mika kan? Bisa kah kau melakukannya sekarang?" kata Bella mencoba menatap wajah Daihan, Daihan mendengar itu langsung diam, wajah kecewanya langsung muncul.
"Maafkan aku kak, tapi aku tidak ingin membuat kakak berharap lebih, aku hanya menganggap kakak sebagai kakakku, aku takut kakak akan terluka, maaf kan aku kak. Kita cukup jadi kakak beradik saja ya kak. " kata Bella berusaha berbicara selembut mungkin pada Daihan, mencari kata-kata pas untuk menyampaikan perasaannya.
Bella menatap Daihan, wajahnya yang biasa sehangat matahari itu berubah suram, dari matanya pancaran cahaya itu tidak terlihat lagi, apa lagi senyuman, sedikitpun tak tersunging, Bella mengigit bibirnya, dia sudah mematahkan hati pria sebaik Daihan.
Hati daihan sangat terpukul mendengar kata-kata Bella, hingga rasanya napasnya terhenti, suara Bella memang sangat lembut, namun arti kata-kata itu yang benar-benar meremukkan hatinya. Daihan mengulum bibirnya, mencoba menahan nyerinya. Dia baru tahu seperti apa rasanya di tolak. Pertama kali mencintai, langsung di tolak. Perih sekali.
"Apa kau mencintai Angga?" kata Daihan dengan suara serak tertahan.
Mendengar itu Bella sedikit bingung menjawabanya, perasaannya dengan Angga memang berbeda. Tapi dia tidak mungkin mengatakannya dengan gamblang pada Daihan.
Daihan menatap Bella yang tampak sedikit salah tingkah ketika Daihan menanyakannya, Daihan sudah tahu jawabannya.
"Aku sudah tahu jawabannya. " kata Daihan sedikit tersenyum, mencoba menyembunyikan luka yang tersirat di matanya yang mulai memerah, Melihat itu Bella merasa sangat tak enak, mematahkan hati seorang pria yang begitu sempurna, tapi mau apa di bilang? Hati Bella telah memilih pada siapa dia jatuh cinta, dan perasaan itu tak bisa dipaksakannya.
"Maafkan aku kak." kata Bella makin tak nyaman, hatinya benar-benar merasa bersalah.
"Sudahlah, itu tidak apa-apa." kata Daihan, matanya yang merah itu terlihat basah. Dia akhirnya tahu perasaan Mika saat dia menolaknya dulu, ternyata benar-benar sakit dan frustasi, bernapas saja pun tak mampu.
"Kak..." kata Bella melihat Daihan yang berdiri dan berbalik.
"Aku tidak akan mengubur perasaanku padamu, biar aku tetap mencintaimu. Jika suatu saat kau ingin mencariku, datang saja. aku selalu ada." kata Daihan membelakangi Bella, menyeka kedua matanya dengan ibu jari dan telunjuknnya bersamaan, tak menunggu jawaban Bella, dia lalu segera keluar.
Bella kembali menekan kedua bibirnya, merasa sangat bersalah, akan kah di menyesali keputusannya ini nanti?.
Saat Daihan membuka pintu, Angga sudah berdiri di sana dengan serius, menatap Daihan dengan tatapan tajam, namun Daihan tidak ingin berurusan dengan Angga sekarang, jadi dia melewatinya dan segera pergi dari sana.
Daihan tahu Bella menyukai Angga dari awalnya, namun dia berusaha untuk menolaknya karena dia tidak mendengar langsung dari bibir Bella, namun tidak di sangka, begitu cepat pula Bella mengatakan yang sebenarnya pada Daihan.
Angga menatap kepergian Daihan. Sebenarnya dia mendengar semuanya, dan hatinya yang panas tadi langsung berubah dengan kesenangan, hatinya langsung sangat bahagia. Tapi dia tidak mungkin menunjukkannya, hanya senyum manis yang mewakilinya, tidak di sangka Bella bisa begitu tegas menolak Daihan. Ah dia bingung, bahagia di atas penderitaan sahabatnya, harus kah?.
Angga menarik napasnya dalam-dalam, mencoba setenang mungkin, walaupun sekarang rasanya dia ingin terus tersenyum, tapi tak mungkin menunjukkan itu pada Bella.
Dia membuka pintu kamar Bella, Bella yang sedang terduduk langsung menatap Angga yang masuk sudah mengenakan baju santainya, wajahnya jauh lebih semangat dari saat dia bangun tidur tadi.
Angga mengamati wajah Bella yang tampak sedikit suram, Bella memang masih merasa tak enak telah membuat Daihan seperti itu, tapi saat melihat Angga, perasaannya makin kacau.
"Sudah makan? " kata Angga mencari alasan untuk bisa bicara dengan Bella.
"Sudah. " kata Bella tanpa ekspresi apapun. Angga yang melihat itu sedikit bingung, apakah Bella menyesal mengatakan itu pada Daihan? Kenapa wajahnya muram sekali.
"Eh, apa kah ada yang ingin kau lakukan? " kata Angga bingung mencari topik untuk di bicarakan, baru kali ini dia benar-benar ‘Mati kutu’.
Angga mengigit bibirnya, biasanya jika seperti ini dia akan merasa kesal, tapi kali ini dia bukannya kesal, dia malah salah tingkah, tidak tahu harus apa, jadi dia putuskan untuk duduk di ranjang penunggu, menaikkan kakinya, lalu bersandar di tembok rumah sakit itu, sebentar memejamkan matanya.
Bella melihat Angga yang tampak rebahan di sampingnya, pria itu tampak santai, tak seperti biasanya yang selalu sibuk dengan pekerajaanya.
"Tidak bekerja?" kata Bella memecah kecanggungan di antara mereka.
Angga yang mendegar itu langsung membuka matanya, melirik ke arah Bella. Akhirnya Bella mau berbicara padanya. Dia langsung sedikit tersenyum.
"Tidak, aku kan sudah bilang akan menjagamu." kata Angga langsung terduduk tegap, menurunkan kakinya ke lantai, mengarahkan tubuhnya ke arah Bella.
"Kenapa? aku sudah tidak apa-apa, bukannya nanti akan merugikan pekerajaanmu." kata Bella.
Angga menaikkan sedikit sudut bibirnya, lalu bangkit dan berdiri di dekat Bella, Bella menatap wajah Angga yang jauh lebih tinggi karena Bella sedang duduk.
"Aku minta maaf." kata Angga lalu duduk di posisi Daihan tadi, tapi lebih dekat, cukup dekat hingga Bella bisa merasakan wangi khas tubuh Angga.
"Untuk apa minta maaf terus? " kata Bella yang sebenarnya sudah malas membalas hal ini.
"Aku minta maaf kau melihatku seperti kemarin, aku minta maaf kalau kata-kataku menyakiti hatimu. Aku minta maaf, sudah membiarkanmu menangis sendiri." kata Angga dengan tatapan sendu nan lembut, penuh dengan penyesalan yang terpancar.
Bella menatap mata hitam Angga, sinarnya benar-benar penuh penyesalan, dia jadi ingat kata-kata Jofan tadi pagi, apakah benar Angga bahkan tidak memberikan Bella pada Daihan walaupun Mika kembali?.
"Bukannya kau ingin Mika yang ada di sini." kata Bella lagi, masih tidak bisa begitu mudah mempercayai itu.
"Aku benar-benar minta maaf soal itu, aku bukan ingin Mika ada di sini, aku hanya merasa marah, karena Daihan tidak ingin membantu Mika, kehilangan orang yang dulu pernah ada di hidupmu sekian lama tidak akan mudah, dan aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosiku." kata Angga lagi.
"Lalu? Itu sudah membuktikan bahwa kau masih menginginkan Mika. kalau menginginkan Mika, untuk apa memaksaku untuk menjadi wanitamu." kata Bella lagi, dia merasa kembali panas, Angga menjawabnya dengan ambigu, membuatnya jadi salah menafsirkan.
"Bukan begitu, bagiku saat ini Mika hanya masa lalu, aku tidak mungkin bisa langsung menghapusnya, tapi bukan berarti dia juga masih ada di hatiku, sekarang satu-satunya wanita yang ada di hatiku cuma dirimu. " kata Angga lembut, mencoba menyakinkan Bella tentang perasaannya, mendengar itu perasaan Bella menghangat.
"Kau yakin aku yang kau inginkan? Bukan Mika? " kata Bella lagi menunjuk di dada Angga, tepat di jantungnya, Angga melihat arah tangan Bella. Dia lalu tersenyum sedikit.
"Ya aku yakin. " kata Angga dengan tegas.
"Bahkan jika ada kemungkinan dia datang lagi? kau yakin kau tidak akan lagi mencintainya?" kata Bella
"Ya. Aku bisa pastikan itu." kata Angga dengan wajah serius.
"Baiklah, aku orang yang sangat tidak bisa mentolelir hal seperti ini, bahkan jika ada kesalahan yang sebesar pasir pun, aku tidak akan bisa menerimamu lagi." kata Bella dengan tegas menatap Angga
"Baiklah. " kata Angga