Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
222



Raja Leonal terbangun, seluruh tubuhnya rasanya remuk, cahaya sorot lampu yang terang menyilaukan matanya hingga dia harus memicingkannya, dia ingin bergerak namun ternyata kaki dan tangannya terikat dengan sangat erat. Dia berontak namun semuanya sia-sia.


Aksa memperhatikan ayahnya yang sedang mengeliat mencoba melepaskan dirinya namun tak berhasil sama sekali, hidungnya lebam, mengeluarkan darah, di samping kepalanya juga terlihat banyak darah, bibirnya sobek, dan seluruh tubuhnya penuh bekas pukulan ibunya. Aksa menaikkan sedikit sudut bibirnya, membuat senyuman sinis di wajahnya.


"Sudah bangun ayah? "kata Aksa lagi dengan senyuman yang begitu mengerikan.


"Aksa? apa yang kau lakukan? "kata Raja Leonal dengan nada cukup emosi mengetahui anaknya ternyata ada di sana, dia kira yang menyekapnya adalah orang-orang Angga untuk membalas dendam, namun ternyata anaknya sendiri.


"Apa yang aku lakukan? Aku tidak melakukan apa pun, bukan aku yang membuatmu jadi babak belur seperti itu, ibuku yang melakukannya, kau seharusnya berterima kasih padaku, aku menghentikannya, jika tidak, mungkin kau tidak bisa bangun lagi, alias mati,"kata Aksa pada Ayahnya, dia menatap ayahnya secara tajam, wajahnya pun di dekatkan pada ayahnya, seolah dia menegaskan dia tidak main-main soal hal ini.


"Lepaskan Ayah, ini bukan hal yang lucu,"kata Raja Leonal.


"Lucu? Siapa yang mengatakan ini lucu Ayah, aku tidak sedang melucu denganmu, aku bahkan tidak ingat terakhir kalinya aku bisa tetawa karena lucu, itu semua karenamu, terima kasih ayah. "


"Lepaskan aku!"


"Melepaskanmu, aku tidak akan melakukannya, kemarin aku ingin sekali membiarkan ibu menghabisimu, tapi kau tahu, aku rasa jika kau mati dengan cara seperti itu, itu sangat menyenangkan untukmu, karena itu aku putusakan untuk membuat kematianmu lebih meyakitkan," kata Aksa menyeringai seram pada ayahnya, membuat Raja Leonal makin panik, tidak menyangka Aksa bisa begitu menyeramkan.


"Aku dengar kau sudah menemukan penawar untuk penyakit kita, apakah kau membuatkannya juga untukku? Sayangnya aku mendapatkan kabar, kau hanya membuat penawar itu untuk dirimu sendiri,"kata Aksa mengelilingi tubuh ayahnya yang terikat, menghidupkan aura mencekam bagi Raja Leonal.


"Darah Angga tidak cukup untuk kita berdua," kata Raja Leonal mencoba membela diri.


"Benarkah? tapi sangat berbeda dengan laporan yang aku dapatkan, kau punya 3 kantong darah Angga, itu bahkan bisa menyembuhkan 3 orang, apa itu kurang? "kata Aksa lagi.


Raja Leonal mengertakan giginya, dia memang punya penawarnya, dan memang dia tidak berencana untuk membuatkan penawar itu untuk Aksa, dia tahu Aksa mempunyai peringai buruk yang suatu saat akan mengancam dirinya dan kerajaanya, karena itu dia ingin melenyapkan Aksa, namun tentu dia tidak tega merenggut nyawa darah dagingnya sendiri, karena itu satu-satunya jalan adalah dengan cara membiarkan kutukan itu merenggutnya.


"Bagaimana ayah? Aku sangat ingin mendengar pembelaanmu sekarang,"kata Aksa.


"Lepaskan aku Aksa, Jangan bertindak seperti binatang yang membunuh orang tuanya sendiri," kata Raja Leonal penuh emosi.


"Aku lahir dari seorang binatang, bagaimana bisa aku menjadi manusia, kita tidak ada bedanya ayah, aku tahu apa yang kau lakukan pada kakek, kau melakukannya di depan mataku bukan? "kata Aksa mengenang peristiwa saat ayahnya menyuntikan darahnya sendiri kepada kakeknya hingga kakeknya  harus mati mengenaskan karena penyakit kutukan itu.


Raja Leonal hanya bisa terdiam, melihat ke arah Aksa dengan lirikan tajam, dia benar-benar sudah salah mendidik anaknya, tak di sangka dia juga mendapatkan balasan seperti ini. Raja Leonal lalu tertawa dengan lantang.


"Kau cukup membuatku takut,"kata Raja Leonal yang melihat Aksa, Aksa tak tertarik sama sekali dengan tawanya, Aksa tahu hal itu hanya di buat ayahnya untuk membuatnya ragu.


"Apa ini karena wanita itu? karena Bella? " kata Raja Leonal.


"Ya, sebagian, namun sebagian lagi bukan, aku sudah lama membencimu, semua hal yang aku punya, kau rampas, kau selalu ingin memiliki apapun yang aku punya, kasih sayang ibuku, kakekku, hingga istriku, menurutmu ada lagi kah hal yang akan membuatku berpikir untuk tidak membunuhmu? " kata Aksa.


"Kau tidak akan mendapatkan apa pun juga jika kau membunuhku,"kata Raja Leonal.


"Oh ya, aku akan naik tahta, ibu ku akan bebas, bukan kah itu cukup mengiur kan. "


"B*angs*at! Anak kurang ajar! " kata Raja Leonal


"Aku belajar dari ahlinya, Ayah, " kata Aksa menekan kata ayah. Dia lalu berjalan arah pintu, membuka pintu ruangan kecil dan gelap itu, dan segera membiarkan orang-orang masuk. Raja Leonal kaget, ternyata orang-orangnya juga sudah bersengkokol dengan Aksa?.


"Kalian, bagaimana bisa? "kata Raja Leonal  pada orang-orang kepercayaannya.


"Semua bisa, aku selalu ingat kata-kata favoritemu, Kita tidak bisa percaya dengan semua orang selama uang masih berharga, bukan kah begitu ayah? apakah kau sudah lupa dengan kata-kata ciptaan mu senndiri," kata Aksa tesenyum licik.


Raja Leonal diam, dia hanya menatap Aksa dengan sangat marah, emosi terpancar jelas di matanya, kalau dia bisa selamat, dia akan membunuh Aksa, tak peduli dia siapa.


" Habisi dia, aku sudah cukup muak berbicara dengannya, " kata Aksa sambil duduk di sana, seolah ingin melihat momen-momen ini.


Penjaga di sana langsung memegangi kepala Raja Leonal agar tidak bergerak, dan yang lain segera mengeluarkan sebuah suntikan dengan isi cairan berwarna merah kekuningan.


"Apa yang ingin kalian lakukan? "kata Raja Leoanal, sekrang dari matanya terpancar ketakutan yang dalam, Aksa menangkap itu, dia langsung memberhentikan sejenak orang yang ingin menyuntikkan caira itu,seolah ingin menikmati wajah ketakutan ayahnya. Sangat membuatnya puas.


"Kau ketakutan ayah? " kata Aksa pada ayahnya yang gemetar berkeringat dingin.


"Aksa, kau gila,"kata Raja Leonal.


"Hahaha, tenang saja ayah, besok kau sudah mati untuk mengingat semua perbuatanku ini padamu, di dalam suntikan ini ada eksrak dari darahku, ayah tahu sendiri bukan efeknya jika aku suntikan ini ke darahmu, yap, kau akan mengalami hal yang sama seperti yang kakek rasakan, seluruh tubuhmu akan kejang, dan juga darah mulai keluar dari seluruh lubang di tubuhmu, aku akan menikmati prosesnya, kau juga ayah, agar kau tahu bagaimana sakitnya yang di rasakan kakek dulu,"kata Aksa tenang, dia memberikan gestur pada orang tersebut dan mereka segera menyuntikkan cairan itu ke bagian tangan kanan Raja Leoanal, Raja Leonal berteriak, namun tidak membuat Aksa bergeming, dia benar-benar menikmati semuanya, bahkan hingga ayahnya pingsan dia baru meninggalkan tempat itu, mengawasi semua perkembangan ayahnga dari CCTV yang terpasang di sana, dia tahu proses ini akan sangat menyakitkan, karena dia sudah pernah lihat sebelumnya, kakeknya di bunuh ayahnya dengan cara ini, padahal hanya kakeknya yang dulu begitu dekat dengannya setelah ibunya di sekap.


Dini hari, Raja Leonal sudah tak bergerak lagi, mati dalam genangan darahnya sendiri.