Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
87



"Woh, di atas sangat mengerikan, tapi juga menyenangkan. " kata Bella pada Daihan


"Benarkah? mau lagi?"


"Tidak. Kakak mau mencobanya?"


"Ah tidak, aku tidak suka ayunan, kakiku terlalu panjang." Kata Daihan, Bella jadi memperhatikan kaki Daihan yang memang terlihat jenjang.


"Baiklah, kakak ingin main apa?"


"Kenapa bertanya padaku, kau yang sedang sedih, main mana yang kau mau."


"Benar juga. Aku ingin main itu." Kata Bella menujuk pada prosotan.


"Baiklah, kalau itu kau harus naik sendiri, aku tidak perlu mendorongmu." Kata Daihan bercanda sambil berjalan menuju prosotan bersama Bella.


"Jangan coba-coba mendorongku di sana." Kata Bella dengan nada mengancam tapi juga ada nada manja.


"Hahaha, iya, tidak akan, tenang saja." Kata Daihan suka dengan nada bicara Bella.


Daihan membantu Bella untuk naik ke atas prosotan itu, Bella lalu duduk di ujungnya, dengan cepat Daihan menunggu di bawahnya, siap menangkap Bella jika terjadi apa-apa.


Bella mengangkat tangannya, sambil tertawa bahagia dia turun dari prosotan itu, dia turun dengan sangat cepat, mungkin karena tidak biasa dia malah ingin jatuh, untung saja ada Daihan yang menangkapnya, kalau tidak dia pasti sudah tersungkur jatuh.


Tapi gara-gara itu sekarang Bella malah ada di dalam pelukan Daihan, Bella bisa merasakan kehangatan dan wangi khas Daihan, membuat wajahnya seketika bersemu malu.


"Aku mau main lagi." Kata Bella buru-buru melepaskan diri dari Daihan, Daihan yang melihat Bella yang salah tingkah, hanya tersenyum lucu.


"Hati-hatilah saat naik ke sana." Teriak Daihan.


"Iya."


Bella kembal menaiki perosotan itu, saat dia duduk di atas, dia mengamati Daihan.


"Kakak, awas. " kata Bella, dia tidak mau adegan tadi terjadi lagi.


"Tapi nanti kau jatuh. " kata Daihan cemas dan tidak bergeming


"Tidak, aku akan tetap duduk sampai di bawah."


"Baiklah kalau begitu." Kata Daihan, dia sedikit mundur ke belakang, masih berjaga-jaga takut Bella tersungkur.


Bella langsung membiarkan tubuhnya turun dari perosotan itu, dia tertawa bahagia, hingga dia terduduk di tanah, bokongnya sakit, tapi dia tetap tertawa. Tawanya menular ke Daihan yang juga tertawa melihat tingkah Bella yang benar-benar seperti anak-anak.


"Sini aku bantu bangun. " kata Daihan menjulurkan tangannya.


"Terima kasih kakak. " kata Bella mengapai tangan Daihan.


Setelah berdiri, Bella membersihkan celana yang terkena tanah tadi, setelah itu dia membersihkan tangannya. Daihan hanya menatapnya saja.


"Kakak, kau harus main sesuatu. " kata Bella


"Aku tidak mau." Kata Daihan tersenyum


"Ayolah, tidak baik menolakku, itu main itu saja." kata Bella tanpa sadar menarik tangan Daihan, Daihan yang tangannya sekarang di pegang Bella, walau hanya sekedar menarik lengannya saja, merasa terkejut dan senang, saking senangnya dia hanya melihat Bella yang berjalan di depannya, pancaran cinta itu terlihat jelas.


" Ini, kakak naik ini, aku akan memutarnya. " kata Bella melihat ke arah Daihan yang masih terpaku. Daihan ternyata belum tersadar dari pikirannya, padahal Bella sudah melepaskan tangannya.


   "Kak? Kenapa bengong." Kata Bella mengerak-gerakkan tangannya di depan Daihan.


"Oh, tidak, ehm… aku harus naik ini?" kata Daihan.


"Ya.. naiklah, nanti aku akan memutarmu." Kata Bella tersenyum manis bagaikan anak-anak.


"Haha, baiklah, aku akan menurutimu."  Kata Daihan naik.


"Pegangan ya kak."


Bella lalu memutar permainan itu, memutarnya perlahan-lahan, ternyata Daihan berat juga, pikirnya, namun perlahan-lahan Bella bisa memutarnya dengan mudah, awalnya Daihan tampak tertawa melihat Bella yang memutarnya dengan kesusahan, tapi karena Bella ingin membalas tindakan Daihan tadi, dia memutarnya terus menerus, hingga putaran itu menjadi sangat cepat.


"Wow, wow, Bella, sudah-sudah, aku pusing." Teriak Daihan namun tetap menyungingkan senyumnya.


"Belum, belum kencang. "


"Hei, jangan begitu, sudah."


"Hahaha, baiklah kak, aku akan berhenti. "kata Bella berhenti memutar permainan putaran itu, namun karena Bella memutarnya cukup kencang, jadi Daihan baru bisa berhenti sempurna dengan cukup lama.


Daihan segera turun dan terhuyung-huyung karena pusing dan sedikit mual karena permainan itu. Bella yang melihat wajah Daihan sedikit pucat jadi merasa bersalah.


"Kakak, kau tidak apa-apa kan?" kata Bella mendekati Daihan.


"Haha, hanya sedikit pusing, masih mau main lagi." Kata Daihan mencoba untuk tidak terlihat lemah.


"Tidak, aku haus, kita pergi minum sesuatu yuk. " kata Bella


"Tunggulah sebentar, aku sudah menyuruh  Asistenku untuk menyiapkan makan siang dan minuman untukmu. " kata Daihan.


"Hah? Benarkah? jadi kita akan makan di sini?" kata Bella tak percaya, matanya berbinar-binar.


"Ya, kita akan makan di sini, kita akan piknik. "


"Wah, kakak, aku yakin pacarmu kelak akan sangat bahagia, kau benar-benar tahu cara membuat hati wanita bahagia." Kata Bella tampak sumringah.


"Kalau begitu jadilah pacarku." Kata Daihan, membuat senyum sumringah Bella tadi yang merekah, perlahan hilang dengan kecanggungan.


Bella diam, Daihan pun hanya menatap Bella dengan tatapan lembut namun menegaskan dia serius, hanya semilir angin yang terdengar, menghempas dedaunan di pohon yang tampak senang menari indah, meliuk mengikuti buaian angin. Beberapa daunnya jatuh ke tanah, membuat Bella dan Daihan seolah terperangkap oleh momen itu.


"Tak perlu menjawabnya sekarang, nanti saja jika kau sudah tahu siapa yang sebanarnya di hatimu, aku tidak akan memaksakannya." Kata Daihan begitu lembut, jantung Bella berdetak kencang, perlakuan Daihan begitu lembut dan halus, kalau di pikir-pikir apa yang dilakukan Daihan selama ini memang sangat-sangat menyentuh, memperlakukan Bella dengan sangat spesial, penuh kasih sayang yang jelas tampak, tapi kenapa? di pikirannya dan hatinya sekarang hanya Angga.


" Maaf Tuan, Di mana ini semua akan di letakkan. " kata  Asisten Daihan yang baru datang, ada 3 orang lain yang datang berasama dia.


"Letakkan saja di bawah pohon yang rindang itu."


"Baik Tuan. "


Bella melihat  Asisten Daihan segera meletakkan beberapa barang di sana, tapi dia masih terdiam cangung dengan suasana beberapa menit yang lalu terjadi di sana.


" Sabar ya, sebentar lagi selesai, kita bisa makan, semoga kau suka,, itu dari restoran milikku." Kata Daihan memecah kecanggungan itu.


"Oh, pasti aku sangat suka, kakak tenang saja." kata Bella juga mulai ingin mencairkan susasana, tapi setelahnya mereka menunggu hanya dengan diam.


"Tempat dan makanan sudah siap semua Tuan." Kata  Asisten Daihan itu.


"Terima kasih. Ayo. " kata Daihan mempersilahkan, Bella dengan sungkan berjalan ke arah mereka akan makan.


Bella sedikit terkejut dengan apa yang di siapkan oleh mereka tadi, di sana sudah terdapat karpet putih yang terlihat sangat nyaman, beberapa bantal alas duduk juga di sediakan, selain itu juga ada bantal kecil berwarna merah hati dan putih yang lain sebagai dekorasi, di tengahnya terdapat meja pendek tempat makan tersusun dengan sangat rapi, bahkan mereka meriasnya dengan beberapa bunga kering dan lilin, 2 botol wine di taruh dengan elegan di ujung, piring dan peralatan makan pun sudah tertata sangat cantik.


"Wow, ini sangat indah kakak, aku bahkan jadi tak ingin duduk di sana karena takut merusak keindahannya." kata Bella tak percaya apa yang mereka  lakukan.


"Duduklah, kita kan ingin piknik." Kata Daihan


Bella lalu membuka sepatunya, merasa sedikit sayang merusak keindahan ini, dia lalu memperhatikan meja kecil itu, makanan mereka sudah tersusun rapi, di dominasi oleh buah-buahan, ada juga salad, Costco Sandwich rolls, BBQ meat kebabs yang di tusuk menyerupai sate, mini cake yang disusun dengan tatakan kue bulat berwarna putih.


Bella duduk beralasakan bantal yang memang di susun untuk mereka duduk, Daihan duduk di dapannya, Bella benar-benar tecengang hingga hampir tidak percaya apa yang dilihatnya.


" Ayo makan, jika nanti makanan ini kurang, kita akan makan di tempat yang lain saat kita sudah sampai di kota nanti. " kata Daihan.


"Wah, ini saja sudah sangat banyak kakak. " kata Bella sangat senang.


"Baguslah, ayo kita makan. "


Bella dan Daihan memulai makan mereka, semilir angin benar-benar membuai, membuat suasana itu terasa hangat namun juga menyejukkan, Bella benar-benar menikmati suasannya, atmosfir di sana membuat hatinya nyaman, dia rasa dia bisa hidup seperti ini selamanya.


Setelah makan, Bella dan Daihan masih duduk di sana, seolah tidak ingin meninggalkan kesenangan yang ada di sana. Sembari Bella memakan hidangan penutupnya, sebuah campuran buah-buahan yang di buat seperti sate, dia memakannya perlahan.


"Wah, ini benar-benar menyenangkan, Mika pasti sangat senang sepeti ini, bisa melihat laut, dan piknik di pohon setelahnya, aku bahkan ingin tidur di sini. " kata Bella tersenyum manis


"Jangan tidur setelah makan, tidak baik untuk pencernaanmu, lagi pula, kami tidak pernah piknik di sini." kata Daihan perhatian.


Bella terdiam, itu maksudnya? Jadi baru Bella yang diajak piknik oleh Daihan di sini.


"Jadi baru aku yang merasakan piknik di sini?"


"Ya."


"Wah, serius kak? Aku benar-benar terharu mendengarnya." Kata Bella dengan gayannya, tak ingin terlalu terlihat serius, menghindari arah pembicaraan yang akan kembali membuat canggung dirinya, karena dia sudah begitu menikmati keheningan dan kenyamanan ini.


Bella menikmati suara gelombang ombak yang terhempas di dinding pembatas, menikmati sinar matahari yang menerobos dedauan dan jatuh di sekitarnya, menikmati suara burung camar yang sahut-menyahut, menghirup dalam-dalam wangi laut yang asin, dan memang yang paling membuai dari segalanya adalah anginnya yang sepoi, tak terlalu kencang, namun juga tak telalu hilang hingga masih bisa di rasakan.


Mereka hanya diam, Bella meresapi segalanya, dan Daihan hanya mengamati Bella.


"Bukannya hidup begini saja sudah menyenangkan?" kata Daihan


"Ya. Kakak kau orang kaya yang paling santai yang pernah aku temui." Kata Bella melirik wajah Daihan yang tampan, senyuman manis itu kembali menghiasi wajahnya.


"Aku tak punya ambisi kuat seperti Angga, aku juga tidak telalu terfana oleh kekuasaan, bagiku bisa tertawa, tersenyum, menikmati setiap waktu bahagia dan membahagiakan orang yang aku sayang adalah hal yang menyenangkan." kata Daihan tersenyum sambil melirik lembut pada Bella, Bella yang menangkap tatapan itu membalas senyuman Daihan.


"Ya, akhirnya aku sadar, yang di butuhkan kehidupan hanya ketenangan dan keihklasan, terutama keikhlasan untuk menerima apa yang terjadi pada diri sendiri." Kata Bella dengan matanya yang sayu menatap Daihan. Daihan hanya tersenyum.


"Memaafkan bukan berarti kita lemah, justru karna kita kuatlah  kita bisa menerima segalanya dengan senyuman, dengan begitu hidup akan lebih tenang."


"Hah, seharusnya aku jatuh cinta pada kakak ya? " kata Bella sedikit tersenyum manis.


"Jadi dengan siapa kau jatuh cinta?"


Angga, nama itu tersebut langsung oleh kata hatinya, namun tak mungkin di utarakannya pada Daihan. Hal itu akan mematahkan hatinya langsung, Bella tidak ingin melakukannya.


"Bukan, aku hanya bilang, jika aku jatuh cinta dengan seseorang, seharusnya orang itu kau kak, hahaha." Kata Bella dengan tawa yang menutupi kegugupannya.


"Kalau begitu, cobalah mencintaiku sekarang." Kata Daihan lagi, memaksa dengan lembut.


Bella hanya tersenyum tipis, sayangnya perasaan itu tak bisa dipaksakan begitu, kata hatinya.  Dia lalu melihat handphonenya, tidak terasa mereka sudah ada di sana lebih dari 5 jam. Dan hari sudah hampir sore, Bella takut Angga akan pulang sebentar lagi.


"Kakak, bisakah kita pulang? Ini sudah sore. " kata Bella.


"Baiklah, ayo pulang. " kata Daihan


"Bagaimana dengan ini semua?"


" Asistenku yang akan mengurusnya, ayo, angin mulai kencang."


"Baiklah kak."


Mereka berjalan meninggalkan termpat itu, lagi-lagi Daihan menuntun Bella untuk turun dari tangga kecil itu, dia benar-benar berjalan perlahan-lahan, memastikan Bella tidak sampai salah langkah di tangga itu. Ya… mungkin seharusnya dia jatuh cinta pada seseorang seperti Daihan ini, pasti kehidupannya akan sangat manis jika bersama dengannya.


Setalah masuk ke dalam mobil, Daihan langsung melajukannya, dan segera menuju ke rumah.


Saat mereka tiba, untung saja Angga juga belum pulang, Bella tak tahu apakah Angga nantinya akan pulang malam atau tidak, dia sama sekali tidak memberikan kabar apapun, tapi sekarang pikiran dan hatinya lebih tenang, jadi dia tidak terlalu gusar sekarang.


"Hati-hati ya kak, dan terima kasih makan siangnya. " kata Bella semangat.


"Sama-sama." Kata Daihan sebelum masuk ke dalam mobilnya. Daihan membuka kaca mobilnya, sedikit tersenyum manis baru pergi meninggalkan tempat itu, Bella menunggu mobil itu hingga hilang di ujung pandanganannya. Setelah itu dia baru masuk dan segera membersihkan dirinya.