Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
57



Jangan sekali-kali berani padaku, mungkin kau tak ingin tahu betapa kelam diriku.


____________________________________________


Sania sedang duduk di apartemennya, dia masih ingat kejadian tadi malam, dia bahkan jadi bahan tertawaan beberapa orang, dia sangat malu, hingga tak tahu harus menyembunyikan di mana mukanya.


Pintu apartermennya terbuka, dia segera ingin melihat siapa yang datang, namun Aksa sudah masuk dengan cara kasar ke sana, dia menatap Sania dengan tajam, Sania kaget, bahkan baru datang saja wajah Aksa sudah tidak enak di lihat, tapi kenapa?. Aksa mengeluarkan gestur agar dua penjaga yang mengikutinya keluar, dua penjaga itu keluar dan menutup pintu rapat-rapat.


"Apa yang kau lakukan semalam? "kata Aksa tampak tajam menatap Sania, Sania bingung dengan pertanyaan Aksa, dia tidak melakukan apapun yang menurutnya bisa membuat Aksa marah.


" Apa maksudmu? "kata Sania yang tampak bingung, kenapa sekarang Aksa sangat kasar padanya, biasanya dia berbicara begitu lembut padanya.


Aksa dengan tenang  menunjukkan video dalam handphonenya, Sania melihat hal itu kaget, itu video dia, Mika dan Angga kemarin, di sana terlihat jelas Angga menyiramkan jus strawberry itu ke mukanya.


" Mulai sekarang, jagalah sikapmu, jika terus begini, aku tidak bisa memastikan bahwa kau boleh terus di sampingku." kata Aksa tampak dingin, namun wajahnya itu menunjukkan ke angkuhannya, seolah hidup Sania ada di tangannya.


"Apa  maksudmu? aku ke sana hanya ingin menunjukkan padamu Mika itu adalah Bella." kata Sania lagi.


"Tapi apa hasilnya? Kau dipermalukan, jika kau terus melakukan hal seperti itu, sama saja kau mencoreng namaku,aku tidak ingin dekat wanita yang memalukan seperti di video itu, "kata Aksa tenang menanggapi amarah Sania.


Sania menatap Aksa, pria ini memang punya reputasi yang sangat jelek, nasib Sania cukup beruntung karna Aksa membiarkannya berdekatan dengannya, tidak dijadikan hanya wanita pemuas nafsunya saja, Sania cukup bisa menerima yang hanya jadi pajangan.


"Lalu kau ingin dekat dengan siapa? Mika? "kata Sania dengan suara menyindir.


Mendengar nada suara Sania, Aksa menatapnya tajam, dia tidak suka ada wanita yang mengaturnya, Sania dia biarkan ada di sampingnya, selain dia cantik, dia dulu juga sangat penurut, sekarang, Sania sering membuatnya jengkel.


" Itu bukan urusanmu aku ingin dekat siapa, sudah aku bilang aku tidak suka dilarang, kau bukan siapa-siapa, "kata Aksa lagi duduk santai menatap Sania yang tampak penuh emosi, seolah menikmati keadaan itu.


" Aksa, dia wanita milik Angga, kau tak akan bisa merebutnya, "


"Kau meragukanku? Kau bisa lihat aku bisa merebutnya atau tidak, dan kau mulai membuatku jengkel, "kata Aksa mendekat ke arah Sania, menunjukkan tatapannya yang mengintimidasi, Sania sedikit takut, hingga dia mundur beberapa langkah, namun tubuhnya tertahan dinding di belakangnya. Napas berat Aksa terasa mengenai wajahnya.


" Aksa, kau sudah berjanji akan menikahiku," kata Sania mencoba memberanikan dirinya.


"Menikah? Apa kau tidak salah? "kata Aksa tersenyum sinis.


"Bukannya kau bilang setelah melenyapkan Bella, kau akan menikahiku?" kata Sania, dia tidak peduli sikap dan sifat Aksa yang kasar dan suka main wanita, dia hanya ingin posisi sebagai Nyonya Aksa, dengan begitu semua akan jadi miliknya.


" Aku bukan pria yang suka terikat, seharusnya kau tahu itu bukan? "kata Aksa memandangang Sania dengan tatapan menghina. Dia mengelus pipi halus Sania dengan tatapan liar seolah serigala yang siap menerkam, Sania mengerutkan bahunya, merasakan kegerian yang di berikan oleh Aksa yang menjalar ke seluruh tubuhnya yang mulai bergetar, namun Sania terus mencoba menatap pria itu seolah tak ingin menunjukkan ketakutannya.


"Kalau kau tidak menikahiku, aku akan membongkar semuanya, bahwa kau lah yang sudah membunuh Bella,"kata Sania ketus pada Aksa yang ada di depannya.


Aksa memicingkan sedikit matanya, menatap tajam pada Sania, tangannya yang tadi mengelus pipi sania perlahan itu jadi berhenti, wanita ini sekarang sudah berani padanya ternyata, mencoba menantangnya,


Aksa menyeringai menakutkan, seolah tak takut apapun, dia lalu mencekik leher Sania dengan satu tangannya. Menekan tenggorokan wanita  itu, memutus napasnya, benar-benar keras hingga kuku-kukunya menancap di lehernya.


Sania yang di perlakukan seperti itu tampak kesakitan, kesusahan bernapas. Dia memukul-mukul tangan Aksa mencoba melepaskan cekikkan Aksa. Mengepai seluruh yang bisa membantunya untuk bernapas, benar-benar menyakitkan, air matanya turun ke pipinya.


" Kau ingin menikah denganku? Kau tidak ingat apa yang telah ku lakukan pada istriku sebelumnya? Kau lupa, aku juga bisa melakukan hal itu pada istriku selanjutnya,"kata Aksa dengan tatapan yang mengancam, bagaikan binatang buas yang siap memangsa, wajahnya benar-benar menakutkan, bahkan Sania saja belum pernah melihat wajah asli Aksa ini.


"Aksa … lepas … kan aku,"kata Sania terbata-bata, dia kesusahan bernapas, dia bahkan sudah tidak sanggup lagi untuk berusaha melepaskan diri. lemas, lemah di sekujur tubuhnya, bibirnya mulai membiru, Seolah sangat menikmati itu Aksa hanya melihatnya saja.


"Kalau sekali lagi kau coba mengancamku, aku pastikan nasibmu sama dengan Bella,"kata Aksa lagi, setelah itu dia baru melepaskan Sania, Sania langsung tampak terbatuk - batuk, menghirup udara sebanyak-banyak, memegangi lehernya yang terasa masih sakit, dia hanya memandangi Aksa dengan tatapan benci. Pria ini ternyata benar-benar iblis berbungkus kulit manusia, Sania benar-benar harus berhati-hati dengannya.


Aksa menikmati cara Sania terengah-engah mengambil napasnya, seolah tak peduli dengan tatapan tajam Sania, dia pergi dari sana begitu saja. Meninggalkan Sania yang masih mengatur napasnya.