Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
255



Jofan melirik ke jam yang ada di atas meja kerjanya, dia sebenarnya tidak punya pekerjaan apa pun lagi, tapi dia tidak ingi. pulang ke rumahnya karena dia tahu Ayah dan Ibunya sudah menunggunya untuk membahas tentang hubungannya dengan Aurora.


Hanphone Jofan bergetar, dia melihat layarnya, nama Aurora terpampang di sana, dia sedikit ragu menjawabnya, namun dia putuskan untuk mengangkatnya.


"Halo?" Suara Jofan terdengar berat.


"Halo, bagaimana keadaanmu?" kata Aurora terdengar ramah.


"Aku baik," kata Jofan datar saja.


"Oh, apakah pekerjaanmu masih banyak?" tanya Aurora lagi.


Jofan tidak menjawab, dia tak tahu harus mengatakan apa?, yang pasti sekarang dia sama sekali tidak ingin membahas tentang hubungannya dengan Aurora.


"Oh! benarkah? aku mengerti jika kau masih banyak pekerjaan," Ucap Aurora lagi, Jofan mengerutkan dahi, dia bahkan tak menjawab apa pun tadi, kenapa Aurora menjawab seperti itu. "Maaf aku menganggu ya, paman dan bibi menyuruhku meneleponmu, kalau masih sibuk, tidak apa-apa, aku akan mengatakannya pada mereka, jangan lupa makan ya, aku matikan sekarang," kata Aurora dengan suara sangat ceria, seolah-olah dia benar-benar bicara dengan Jofan dan Jofan meresponnya dengan hangat.


Jofan mendengar suara Aurora itu merasa miris, wanita itu hanya ingin menutupi kesalahan Jofan, dia tahu orang tuanya pasti sudah marah dan kecewa karena menunggu Jofan dari tadi, tapi Aurora berusaha menuntupinya, berpura-pura seolah-olah Jofan sibuk.


Jofan terus dalam posisinya, bahkan ketika panggilan itu sudah terputus, hatinya berkecambuk, dia teringat tentang apa yang dikatakan oleh Ratu Ayana, 'seorang presiden tampa pendamping, terdengar menyedihkan'.


Tapi tak bisa dia pungkiri, perasaannya masih saja tertinggal pada Sania, seolah wanita itu sudah mencuri seluruh cinta yang di miliki Jofan hingga bagaimana pun wanita yang mendekat, tak sedikit pun ada rasanya pada mereka, semua terasa hambar.


Namun, perlakuan Aurora tadi padanya, cukup menyentuhnya, Aurora bisa saja mengatakan pada orang tuanya bahwa Jofan tidak meresponnya, tapi demi menyenangkan orang tuanya dan juga menjaga nama baik Jofan, dia melakukan hal itu.


Setelah cukup lama berpikir, mengunakan logikanya, dia akhirnya berdiri, menyambar jasnya, lalu keluar dari kantor dan berjalan pulang.


Aurora mengenggam handphonenya dengan erat, dia terus tersenyum, walau hatinya miris, semenjak pertama kali bertemu dengan Jofan, dia langsung jatuh hati.


Siapa sih yang tak akan jatuh hati dengan pria sepertinya, tampan, kedudukan tinggi, pendidikan tinggi, dari keturunan yang baik pula, namun bagi Aurora, satu-satunya hal yang membuatnya jatuh hati malah sikap dinginnya.


Dia bukanlah orang yang kastanya jauh beda dengan Jofan, Ayahnya adalah seorang menteri dan juga pengusaha sukses, kakek buyutnya adalah seorang pahlawan, dia sendiri sekarang bekerja di biro hukum kota itu, jadi untuk masalah pria, dia sudah bertemu dengan pria-pria yang setipe dengan Jofan, semua pria itu pun sangat menyanjungnya, hanya Jofan yang bersikap acuh padanya.


Dia tersenyum manis melihat Tuan Abraham, seceria mungkin menutupi hatinya yang miris, bahkan saat dia tanya tentang sibuk atau tidaknya, Jofan tak ingin menjawab, terlihat sekali dia sebenarnya tak ingin di ganggu oleh Aurora.


"Jofan masih sibuk Paman, ini juga sudah larut malam, aku rasa aku akan pulang," kata Aurora lagi.


"Kau harus memakluminya ya, sebagai presiden dia memang memprioritaskan semua kepentingan rakyat, hal itu juga yang membuatnya tak ingin menikah sampai sekarang," kata Ibu Jofan dengan halus memberikan pengertian.


Aurora hanya tersenyum manis, itu bukan alasan Jofan tak ingin menikah, dia tahu pasti apa alasannya, karena Jofan masih mencintai wanita yang sudah meninggalkannya.


"Tidak apa-apa bi, aku mengerti hal itu," Aurora mengeluarkan senyumnya kembali.


"Menginaplah di sini, sudah terlalu malam, nanti Ayahmu akan marah jika mengetahui anak gadisnya kami biarkan pulang begitu malam," Tuan Abraham meminta pada Aurora.


"Tidak paman, aku harus pulang, besok aku ada urusan yang penting sekali," ujar Aurora sembari mengambil tasnya.


"Bibi, kau akan pulang?" tanya Jenny yang tiba-tiba muncul di sana, memeluk boneka teddy bearnya, menatap Aurora dengan sedih, semua di sana kaget, bukannya Jenny sudah tidur tadi?.


"Jenny? kenapa terbangun sayang?" kata Aurora yang mendekati, berjongkok di depan Aurora agar wajah mereka sejajar.


"Aku mimpi ibuku, saat aku bangun, aku mencarinya, tapi dia tidak ada," kata Jenny mulai senggugukan. Aurora yang melihat itu tersentuh hatinya, anak sekecil ini sudah di tinggalkan oleh kedua orang tuanya.


Tuan Abraham dan istrinya yang melihat itu pun merasa sedih, terlalu cepat anak perempuam mereka satu-satunya pergi dan meninggalkan cucu mereka yang masih kecil.


"Baiklah, Jenny tenang ya, Bibi akan menemani Jenny tidur lagi, bagaimana?"


---***---


Aurora berdendang kecil, mengelus kepala Jenny yang sudah terlelap di atas ranjangnya, dia bergerak hati-hati agar Jenny tak kembali terbangun, dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Jenny dan setelah mengecup dahi Jenny, dia beranjak ke pintu.


Namun langkahnya berhenti ketika melihat sosok yang ada di depan pintu saat dia membukanya.


Jofan berdiri di sana dengan tatapan datarnya, melihat ke arah Aurora yang terkejut, sepeti baru tertangkap basah. Aurora tentu kaget, dia kira dia tidak akan bertemu Jofan malam ini, tatapan Jofan yang datar, membuat dia bingung apa yang dipikirkan Jofan sekarang, apakah dia marah?, Aurora masih ada di sana saat dia pulang.


"Aku, Jenny tadi bangun, dan dia ingin di temani tidur, jadi aku ...." jelas Aurora agar Jofan tak salah paham.


"Aku ingin bicara padamu," potong Jofan langsung, nada suaranya dingin.


Mendengar itu Aurora yang tadinya masih ingin menjelaskan pada Jofan langsung terdiam, sepanjang mereka sudah bertemu, baru kali ini Jofan mengatakan ingin berbicara padanya. Jadi Aurora cukup terkejut.


"Kau ingin bicara?" tanya Aurora lagi.


Jofan hanya mengangguk sekali, "Ayo, bicara di kamarku,"


Jofan memulai langkah, tak menunggu Aurora, Aurora segera menutup pintu kamar Jenny perlahan, lalu mengikuti Jofan dari belakang.


Aurora baru menyadari, betapa tinggi dan bidangnya tubuh Jofan, dengan postur tubuh Aurora yang kecil, dia bahkan bisa tak tampak jika di halang oleh Jofan.


Jofan membuka pintu kamarnya, mempersilakan Aurora untuk masuk ke dalam, Aurora menatap ruangan yang seperti ruang tengah itu, tak langsung menampakkan ruang tidur.


"Duduk lah," kata Jofan mempersilakan Aurora duduk, sedangkan Jofan menuangkan minuman keras ke gelas kecilnya. "Kau mau?" Jofan menawarkan.


"Oh, tidak, aku tidak suka minuman keras," kata Aurora menolak dengan halus. Jofan hanya tersenyum, dan meminum minuman keras itu dan langsung menuangkannya lagi, Aurora terpaku, baru kali ini dia menatap senyuman Jofan.


"Keberatan?" tanya Jofan sambil menunjukkan sepuntung rokok yang sudah ada di bibirnya, hendak dinyalakannya.


Aurora melihat itu, terdiam sesaat, tak tahu ternyata Jofan seorang perokok.


"Silakan," kata Aurora yang merasa tak punya hak untuk melarang. Jofan kembali tersenyum, menyalakan rokoknya dan mengambil minuman keras itu, duduk di depan Aurora yang menatapnya.


"Di ruangan ini aku sudah meniduri lebih dari 10 wanita," Jofan membuka pembicaraan dengan kata-kata yang mengagetkan.


"Apa?" kata Aurora, bukan tak mendengar, hanya tak percaya. Jofan mematikan rokoknya yang sudah mengebulkan asap di sekelilingnya, membuat Aurora sedikit terbatuk.


"Sebelumnya aku adalah pria br*ngsek, aku minum minuman keras, merokok, dan suka meniduri wanita," ujar Jofan menatap Aurora yang tampak agak ketakutan saat Jofan menatapmya dengan tatapan bengis. "Apa itu tak masalah untukmu?" senyuman mengoda Jofan yang sudah lama tak di munculkannya, mengembang di bibirnya


Aurora terdiam, dia menatap Jofan yang jauh berbeda dengan yang selama ini dia tahu, pria di depannya ini tampak seperti pengoda yang berbahaya.


"Aku yakin semua itu cuma masa lalumu," kata Aurora memberanikan diri. Merasa itu bukanlah Jofan yang sesungguhnya.


Jofan tersenyum sinis, seolah kata-kata Aurora sangat klise baginya, dia berdiri dan mendekati Aurora, dengan cepat dia langsung memagari tubuh Aurora dengan kedua tangannya yang disenderkannya di sofa belakang Aurora.


Aurora yang melihat itu tentu kaget, sedikit berteriak, namun di tahannya, dia menutup matanya, mencium bau alkohol dan rokok yang cukup menyengat, namun Jofan tak melakukan apa pun, hanya melihatnya.


Aurora memberanikan diri untuk membuka matanya, melihat ke arah wajah Jofan yang benar-benar dekat dengannya, Jantungnya serasa ingin copot, berdetak begitu keras hingga napasnya sesak, dia tak tahu apa yang ingin di lakukan oleh Jofan padanya nanti.


"Katakan pada Orang Tuamu, aku akan menikah denganmu secepatnya," kata Jofan memundurkan tubuhnya, berdiri dan membereskan jasnya, Aurora hanya terdiam melihatnya. "Ayo, ku antar kau pulang."


"Baik," kata Aurora.yang masih kaget dan belum bisa mengatur dirinya, namun dia segera berdiri dan keluar, melewati Jofan yang menahan pintu untuknya.