
"Apa salahmu? Secara langsung memang kau tidak punya salah padaku, tapi kau sudah merebut hati Aksa dari ku! " kata Shella, Bella mengernyitkan dahinya lebih dalam, namun tangannya tetap dengan kokoh mengacungkan pistol itu ke arah Shella. Merebut hati Aksa darinya? apa maksdunya?.
"Aku tidak tahu apa maksudmu, Aku tidak pernah merebut Aksa, bukannya kau tahu aku tidak mencintainya sama sekali," kata Bella.
"Iya, tapi kau yang ringkih, yang berpura-pura lemah, yang tidak bisa apa-apa ini membuat dia jatuh cinta, aku sudah menyukainya dari lama, namun di matanya sekarang hanya ada dirimu! tapi sekarang Aksa hanya ingin menyiksamu karena kau sudah melanggar janjimu untuk tidak mengatakan siapa pun bahwa anak ini adalah anak Angga, Aksa berkata, jika aku bisa membawamu kali ini padanya, dia akan mengizinkan aku bersamanya," kata Shella dengan senyuman sinisnya.
"Kau gila, dia tidak akan mau bersama denganmu, dia hanya memanfaatkanmu," kata Bella lagi, merasa miris karena ternyata mata Shella sudah tertutup oleh cinta, masalahnya dia jatuh cinta dengan Aksa, orang yang paling salah untuk di cintai.
"Aku tidak percaya padamu, terakhir kali aku bertemu dengannya, dia sangat lembut padaku, kau! Jika saja kau tidak ada, aku pasti sudah bersama dengannya, aku sudah ingin menyingkirkanmu dari awal, kau dan anakmu, betapa aku ingin membunuh kalian berdua, kalau saja Aksa tidak ingin menyingkarkanmu sendiri dengan tangannya, aku pasti sudah melakukannya, wanita yang lemah dan tidak bisa apa-apa sepertimu, hanya mengandalkan kecantikan, tidak pantas bersama dengannya, "kata Shella dengan tatapan kesal dan penuh emosi dan amarah.
"Aku sudah punya suami, jika kau ingin Aksa, aku tidak akan menghalanginya, asal kau melepaskan kami sekarang, aku hanya minta biarkan kami hidup tenang," kata Bella lagi, dia terus saja mengacungkan pistol itu walau pun tangannya benar-benar gemetar. Shella melihat tangan Bella yang gemetar itu tersenyum.
"Lihatlah, kau hanya wanita pengecut, yang bisanya hanya bergantung dengan suamimu, atau mengancam untuk bunuh diri, wanita yang sangat perlu di kasihani, benar-benar cara pela*cur, sudah ku bilang, Aksa menginginkanmu dan anakmu hidup, baru dia bisa menerimaku," kata Shella lagi dengan gayanya yang tenang, seolah mengatakan Bella sama sekali tidak membuatnya takut, Bella melihat gaya Shella itu benar-benar tak habis pikir, bagaimana wanita muda sepertinya bisa berubah keji seperti ini.
"Kau tahu, aku sudah melaporkan semua kejadian di sini, bahkan Aksa sudah tahu suamimu itu masih hidup, aku rasa sebentar lagi dia juga akan membunuh suamimu, sayang sekali pria setampan itu hanya akan mati mengenaskan, dan juga kau yakin dia akan membiarkan anakmu hidup? semua itu gara-gara dirimu Bella," kata Shella yang sekarang berjalan perlahan ke arah Bella.
"Jangan Mendekat!" kata Bella yang semakin gemetar memegang pistol di tangannya, bahkan sekarang tubuhnya sudah mengigil karena melihat Shella yang makin dekat padanya, selangkah demi selangkah.
"Lakukanlah, aku tahu bagaimana dirimu, lemah lembut bagaikan putri, kau bahkan tidak akan membunuh seekor nyamuk, hahaha … wanita lemah … " kata Shella terus menantang Bella.
Duarr!!!
----****----
Mobil yang mengantar Angga baru saja memasuki areal hutan tempat persembunyian mereka, sebelumnya dia harus mengantar Jofan dan membersihkan semua Make-up yang di gunakannya, lalu dia segera menuju ke tempat persembunyiannya.
Di sepanjang jalan dia berpikir sesuatu, dari suara dan juga tatapan Aksa, entah kenapa dia merasa Aksa mengetahui bahwa Angga ada di sana, dia juga sengaja mengatakan bahwa anak yang di kandung Bella adalah anaknya, entah bagaimana rasanya ada yang di tutupi oleh Aksa, Aksa hanya memberikannya informasi secara tersirat.
Mobil Angga segera berhenti di depan gubuk tua itu, dia lalu segera turun ketika supir itu membukakan pintu, dia segera membuka pintu gubuk itu, melihat penjaga yang ada di sana tertidur di lantai, mata Angga langsung terbelalak, bagaimana bisa mereka seperti ini, pasti ada sesuatu. Supir itu juga yang melihat keadaan seperti ini langsung kaget. Dari awal dia memang sudah merasa, persembunyian ini sudah di ketahui, makanya dia memberikan alat perlindungan diri untuk Bella.
"Tuan, jangan masuk, saya akan memanggil bantuan," kata Supir itu menarik tangan Angga.
"Aku tidak bisa menunggu!" kata Angga, entah kenapa, mungkin terinduksi oleh kecemasan dan kemarahan, dia dapat mengatakan hal itu keluar dan lancar.
Dia segera berjalan masuk ke dalam gubuk itu, di dalam benaknya hanya Bella, mudah-mudahan kali ini dia tidak terlambat,mudah-mudahan alat yang diberikannya juga membantunya, Jangan! jangan sampai lagi dia berpisah dengan Bella, dia bisa gila jika harus berpisah lagi dengan wanita itu.
Dia segera menscan kartunya, tak lama pintu lift terbuka. Angga masuk, supirnya yang sibuk melaporkan keadaan juga segera menyusulnya masuk, mencoba menjaga Angga walau pun dia ragu jika dia bisa menolong nantinya.
Hati Angga tak bisa tenang, dia terus menekan tombol lift itu, serasa lift yang bisanya bergerak cepat, ini begitu lambat, seandainya dia bisa melompat keluar, dia akan melompat agar segera tahu keadaan di bawah.
Saat pintu itu terbuka dia cepat-cepat segera menuju kamarnya, tidak memperhatikan lagi keadaan di sana yang penuh dengan orang-orang yang tak sadarkan diri, bergelimpangan di sepanjang koridor, mulai dari dokter hingga para penjaga, tak sadarkan diri dengan posisi mereka masing-masing, supir yang melihat itu hanya bisa menganga kaget, bagaimana semua orang bisa begini?.
Angga langsung masuk, langsung melihat ke arah Bella yang berdiri dengan pistol di tangannya, terlihat terdiam dengan mata membesar, badannya gemetar dengan napas yang memburu, tampak syok dengan apa yang baru saja dia lakukan, bahkan dia tidak percaya dia sudah melakukan itu, menekan pelatuknya hingga peluru tajam itu menembus tepat di kepala Shella, membuat Shella berhenti berbicara dan segera rubuh jatuh bersimbah darah di dekat kaki Bella. Mati seketika.
Bella tak tahu kenapa, hanya saja bayangan kehilangan Angga dan anaknya membuat dia memiliki keberanian itu, tidak ada yang boleh mengambil lagi Angga, apalagi anaknya, dia tidak akan membiarkannya, walau pun dia orang yang lemah, dia sebisa mungkin akan melindungi orang-orang yang dia cintai sekarang, dia tidak ingin lagi merasakan hidup dalam kematian seperti yang di rasakannya saat tahu Angga telah meninggal.
"Bella," kata Angga yang melihat ke arah Bella yang masih syok, Bella mengacungkan Pistol itu ke arah Angga, masih terlalu syok untuk menganalisa siapa yang datang, Angga yang melihat itu langsung menangkat tangannya, takut Bella yang terlalu di kuasai oleh ketakutan malah menembaknya.
"Bella, aku, plepaskan," kata Angga lagi.
Bella akhirnya bisa mengenali sosok yang ada di depannya sekarang, dia menangis dengan keras, tubuhnya masih gemetar, mengigil hebat, dia melepaskan pistol dari tangannya yang langsung jatuh ke lantai, Angga dengan cepat menangkap tubuh Bella, memeluknya erat-erat, Angga tahu apa yang baru di alami istrinya, kejadiaan ini pasti akan membuat dirinya trauma, pasti sangat membekas.
"Aku, aku, membunuh seseorang, aku sudah membunuh Shella, aku, aku, membunuh, "kata Bella dalam tangis terdengar ketakutan. Benar-benar seperti orang yang ketakutan.
"Tidak apa-apa,"kata Angga lagi, sebisa mungkin berbicara, menenangkan istrinya, walau pun kaku, dia tetap berusaha menenangkan Bella, menatap mata Bella yang terus saja basah, bibirnya gemetar, Bella tetap saja menangis, kembali mendekapnya erat.
Angga lalu mengiring Bella untuk keluar agar Bella tidak lagi melihat darah yang bersimbah di sana dan tubuh Shella.
Angga terus saja memeluk Bella hingga Bella sudah mulai tenang dan tangisnya mereda, namun tangannya masih terasa dingin, karena itu Angga mengenggam tangannya.
"Nyonya, silakan minum air hangat dulu," kata supir itu membawakan air hangat untuk Bella yang tampak sesekali menggigil. Angga mengaguk, lalu Bella mengambil minuman itu dan meminumnya, air hangat di tangannya terasa cukup menenangkan.
Tak lama tim bantuan datang, supir itu langsung melaporkan keadaan.
"Permisi Tuan, kami akan melakukan prosedurnya, " kata ketua kelompok melapor pada Angga. Angga mengangguk, dia terus merangkul Bella di dalam pelukannya.
Bella hanya memperhatikan apa yang mereka lakukan, tak lama mereka mengotong 1 kantung jenazah, dan pria yang ingin menyerang Bella tadi di seret keluar. Bagi para penjaga dan dokter mereka juga di tangani dan di periksa.
"Tuan, saya ingin melaporkan, kami sudah mengevakuasi 1 jenazah, menahan 1 pria yang di curigai sebagai mata-mata kerajaan, dokter dan para penjaga juga sudah di periksa, sepertinya mereka di berikan semacam obat bius atau obat tidur, hingga mereka tidak sadarkan diri seperti ini," kata Ketua itu melaporkan pada Angga.
"Baiklah,"kata Angga lagi, masih merangkul istrinya, Bella hanya terdiam di dalam pelukan Angga.
"Saya Permisi Tuan," kata Ketua Itu lagi, Angga mengangguk seadanya, lalu dia melihat Bella.
"Angga, Shella bilang dia sudah melaporkan pada Aksa bahwa kau masih hidup, aku rasa aku tidak sanggup lagi tinggal di sini, ayo kita pergi ke mana pun, asal tidak di dekat Aksa, aku mohon, aku mohon padamu," kata Bella memelas pada Angga.
Angga yang melihat itu, tidak bisa lagi menolak Bella, dia hampir saja kehilangan istri dan anaknya karena Aksa lagi, kali ini dia harus menekan ambisinya, bagaimana pun Bella dan anaknya adalah yang terpenting sekarang karena itu Angga langsung mengangguk.