
Aksa menarik tas Bella dengan sangat kasar, dia membuka tas itu dan mencari sesuatu, dia lalu melihat Bella.
"Serahkan handphonemu! " kata Aksa yang seperti orang kesetanan, Bella yang masih gemetar karena ketakutan mau tak mau menyerahkan handphonenya, Aksa segera membuka jendela, dan melempar handphone itu keluar.
Setelah dia menutup jendelanya, dia lalu melihat Bella dengan tatapan tajam nan menyeramkan, seringai senyuman yang seperti psikopat-psikopat di film-film di tampilkannya, membuat Bella makin ngeri melihatnya.
"Dengan begini Angga tidak akan bisa mencarimu lagi, "kata Aksa sembari menyimpan pistolnya, melihat itu Bella agak bisa mengendurkan otot-otot bahunya yang dari tadi tegang.
"Kenapa kau lakukan ini? aku tidak ingin lagi bersamamu, aku juga tidak akan melakukan apapun padamu, lebih baik kita berpura-pura tidak ada apapun di antara kita!" kata Bella mencoba memberanikan dirinya berbicara dengan Aksa.
Aksa langsung menatap Bella tajam, tajamnya tatapan itu berbeda dengan tatapan Angga, tatapan ini seolah benar-benar ingin membunuh. Tangan Aksa langsung memegang dagu Bella, menekan kuku-kukunya pada pipi Bella yang mulus, membuat pipinya seketika memerah, Aksa memaksa Bella melihat ke arahnya. Mata Aksa penuh dengan kebencian dan kemarahan, Bella bisa melihat itu, kalau dia benci dengan Bella kenapa dia harus membawa Bella? Kenapa tidak melepaskannya saja, Bella juga sudah tidak ingin berursan lagi dengannya.
"Karena kau sampai kapanpun milikku, Angga tidak akan bisa menyelamatkanmu lagi, jika kau tidak bisa aku miliki, tidak ada yang bisa memilikimu! " kata Aksa dengan suara yang terdengar tajam dan kejam, Bella berontak, berusaha melepaskan tangan Aksa yang mulai terasa makin erat dan makin menyakiti pipinya, air matanya mengalir, namun melihat itu Aksa malah tersenyum senang.
"Aku cukup terkasan, kau bisa sampai seperti ini, aku hampir mempercayai bahwa kau dan Mika adalah orang berbeda, tak ku sangka, bakat aktingmu sangat hebat, dan… kau juga sudah sangat berubah." kata Aksa memperhatikan Bella dari atas hingga bawah, seolah bagai serigala yang lapar, yang siap kapan saja menerkam Bella, Bella menahan amarahnya, matanya memerah, air mata itu tidak lagi mengalir, hanya ada amarah yang memuncak.
"Lepaskan! " kata Bella berontak makin keras, memukul-mukul tangan Aksa, melihat itu Aksa melepaskan Bella, di pipinya terlihat bekas kuku yang tampak seperti bulan sabit.
"Aku tidak ingin bersama mu! Aku tidak akan mau bersamamu lagi! " Teriak Bella.
"Kenapa? karena kau benar-benar sudah jatuh cinta dengan Angga?"
"Ya! " kata Bella tegas menatap Aksa dengan wajah penuh kebencian.
Plakk!!
"Aku pernah membunuhmu sekali, aku juga dengan mudah mengekskusi Sania, kau pikir aku tidak bisa melakukannya pada Angga? jika kau coba-coba untuk kabur dariku, peluru ini akan bersarang di kepalanya." kata Aksa dengan tatapan yang sangat mengerikan, mendengar itu tatapan benci Bella berganti ke khawatiran. Benarkah Aksa bisa melakukannya?
"Jangan coba-coba padaku. Kau akan tahu akibatnya. " kata Aksa sembari memperbaiki jasnya, lalu duduk dengan tenang di samping Bella yang masih memeng pipinya, perjalan itu terasa sangat menyakitkan bagi Bella, hujan deras benar-benar menambah buruk hari itu.
Tak lama mereka berhenti di sebuah tempat, hujan masih lebat, Aksa turun setelah pegawalnya membawakan payung untuknya, Aksa lalu segera berjalan menuju pintu Bella, Bella sama sekali tidak ingin turun, tapi pintunya segera di buka oleh Aksa, Aksa segera memaksa Bella untuk keluar, mau tak mau Bella keluar juga, Aksa memegang tangan Bella dengan sangat keras, menyeretnya hingga Bella ke susahan untuk berjalan apa lagi sedang hujan membuat dia beberapa kali ingin terjatuh.
Air hujan menguyur tubuh Bella karena dia sama sekali tidak di payungi, Bella meringis kesakitan, bahkan Bella hampir saja terjerembab karena Aksa menariknya dengan begitu kasar.
Bella memperhatikan tempat Aksa membawanya, dia terdiam, ini kastil Rose, Bella tahu tentang kastil yang sudah lama di tinggalkan ini, kastil ini bertempat di atas pegunungan di antara hutan-hutan dan banyak binatang buas di dalamnya, tidak ada yang tahu keberadaannya, dan tempat ini sangat terpencil, hanya keluarga kerajaan yang tahu tempat ini, di namakan Rose karena kastil ini dulu di dirikan untuk salah seorang Putri Alexandrite yang di beri nama Rose, oleh Sang Raja yang sangat mencintainya, dia di buatkan kastil ini, tapi sayang Rose ternyata melarikan diri, dan sampai sekarang dia tidak pernah di temukan, dan kabarnya karena tidak pernah berpenghuni, kastil itu berhantu.
Kastil bergaya victoria lama itu tampak suram, dindingnya berwarna kelabu, tanaman Ficus Pumila menjalar tak beraturan di seluruh dindingnya, melihatnya dari luar saja, Bella sudah bergidik ngeri, dari kecil Aksa sudah tahu kalau Bella sangat takut dengan hantu dan juga takut dengan kastil ini, saat penjaganya menceritakan kisah kelam dari kastil ini, dia bahkan tidak bisa tidur 3 hari, dan sekarang Aksa malah membawanya ke sini, tega sekali Aksa? dia benar-benar ingin menyiksanya.
Pintu kastil terbuka, Aksa mengeret Bella yang berontak untuk masuk ke dalam kastil itu, tubuhnya sudah hapir seluruhnya basah, Bella mengigil, tak tahu mengigil karna membayangkan akan masuk ke kastil itu, atau karena air hujan yang dinginnya menusuk tulang, wajar saja karna ini daerah pegunungan.
Aksa seolah tak kenal belas kasihan terus saja membawa Bella masuk, di dalam lebiih kelam lagi, karena memang sudah lama tidak di tinggali, dekorasinya hanya seadanya, ruang depan yang lebar khas istana, tampak kosong tanpa barang apapun, namun ada sebuah lukisan cat minyak yang tampak mulai berjamur dan rusak, gambaran wanita yang cantik dengan gaun putih itu terlihat menyeramkan bagi Bella, dia hanya menatapnya dengan terdiam, Aksa melihat kegerian dari mata Bella seolah menikmatinya.
Aksa kembali menyeret Bella masuk lebih dalam dari kastil itu, untungnya kastil itu sepertinya sudah terdapat listrik sendiri, Aksa membawa Bella menyusuri koridor panjang yang khas, kastilnya juga memiliki koridor seperti ini dulu, tapi yang ini benar-benar mencekam.
Tubuh Bella mengigil, di dalam sini juga ternyata sangat dingin, udaranya lembab, bau jamur dan debu tercium di sudut ruangan, perabotan-perabotan yang kusam benar-benar membuat Bella merasa sedang berada di rumah hantu. Hanya derap langkah Aksa dan Bella yang terdengar, selainnya hanya dengung keheningan yang menusuk telinga.
Aksa dan Bella sampai pada satu kamar, di depan kamar sudah berdiri 2 penjaga, begitu Aksa sampai, mereka segera membukakan pintu itu, Aksa kembali memaksa Bella untuk masuk kedalam ruangan itu, ruangan itu jauh lebih terang, sebuah kamar khas kastil namun dengan prabotan yang cukup modern, ada ranjang besar, meja rias putih, karpet di lantai dan juga lemari, semuanya tampak baru, sepertinya memang Aksa sudah menyiapkan kamar ini untuk Bella.
Aksa lalu menghempaskan tubuh Bella ke ranjang, hingga tubuh Bella cukup keras terguncang di sana, pintu tertutup, hanya mereka berdua yang ada di sana, Bella menatap Aksa dengan tatapan ngeri, tubuhnya yang basah membuat baju yang dikenakannya menempel di badannya, menunjukkan lengkuk tubuhnya yang sempurna.