Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
85



Waktu berlalu, Bella menatap jamnya, sudah hampir jam 11 malam, dan Angga sama sekali tidak ada kabarnya. Kemana dia? Pikir Bella sedikit cemas.


"Judy, apakah belum ada kabar dari Angga?" kata Bella dengan suara lembut namun juga cukup menunjukkan kekhawatirannya.


"Belum Nona,  Asisten Jang juga tidak membalas ataupun mengangkat telepon dari saya, sepertinya Tuan Angga sedang tidak ingin diganggu sama sekali, dulu Tuan Angga sering melakukannya." kata Judy menjelaskan.


"Oh." Kata Bella lemah, kembali melihat jam yang berdetak sangat pelan, bahkan setelah Angga pergi tadi, Bella hanya memandang jam itu, melihat detik yang terus bergerak, melihat menit yang perlahan bergeser, dan juga jam yang berpindah tempat, perlahan-lahan namun pasti bergulir membuang semua waktu yang tersisa.


Perasaan Bella sekarang campur aduk, dia bingung harus mengikuti siapa? Sebagian hatinya mengatakan di harus bertemu Sania, ingin setidaknya melihat keadaanya karena dia di hukum bukan karena kesalahannya, pasti dia sangat ketakutan sendirian terkurung di sel penjara. membayangkannya saja Bella sudah ngeri.


Benar kata Angga, terasa lucu sekarang, beberapa bulan lalu, Bella sangat membenci Sania, dia beranggapan wanita itu sudah menghasut Aksa untuk meninggalkannya, dia sangat ingin melihat Sania juga merasakan penderitaannya, tapi… saat semua itu sudah terjadi, apa yang dia dapat? Tak ada apapun… bahkan kepuasan yang di janjikan itu tak pernah di rasakan Bella. Yang ada malah rasa bersalah yang sangat… mungkin Aksa juga ada benarnya, hatinya terlalu lembut untuk masalah ini,  tapi setidaknya dia yakin dia masih punya hati.


Di lain sisi, saat ini dia tahu Angga begitu mencemaskannya, dia bahkan mengancam pria itu agar mengizinkannya pergi dengan Aksa. Kalaupun Bella menjadi Angga dia juga akan marah dan mendiamkan Bella seperti ini. Mana yang Bella harus pilih, jika memilih Angga, dia akan dihantui rasa bersalah seumur hidup. Kalau dia memilih Sania, Angga yang akan uring-uringan.


"Nona, Anda tidak makan malam, makanan Anda akan dingin. " kata Judy.


Bella tidak membalas Judy, hanya menatap layar handphonenya yang menyala, memperlihatkan belasan pesan yang dikirimnya untuk Angga. Tak satupun bahkan dibacanya.


Bella berdiri dari sofa ruang tengah itu, Judy kira dia akan makan, tapi ternyata tidak, Bella malah melanjutkan langkahnya ke kamarnya, Judy mengikutinya dengan khawatir dan bingung.


"Nona?" kata Judy menegur Bella sebelum dia masuk ke kamarnya.


"Ehm, Judy kau sudah boleh istirahat, aku ingin tidur sekarang." Kata Bella lemah tanpa nada.


Judy tak menjawab, hanya melihat Bella yang langsung masuk ke dalam kamarnya, tidak bisanya Nonanya seperti itu, dia jadi khawatir.


Bella berjalan ke arah ranjangnya, duduk di tepiannya, menaruh handphonenya di laci, perasaannya masih berat, bolehkah dia melupakannya sesaat?, perasaan begini benar-benar melelahkan dan membuat Bella seperti kehabisan tenaga, dia naik ke ranjangnya, merebahkan sejenak tubuhnya, tak lama terlelap namun tak nyenyak.


\-\-\-\-\-\-\*\*\*\*\*\*\*\-\-\-\-\-\-


Angga, dari dia kembali ke kantor kerjaannya hanya terdiam saja, tapi karena itu pula membuat semua orang di kantor itu jadi ketakutan.


Sudah hampir jam 1 malam, dan Angga baru keluar dari ruangannya, entah apa yang di lakukannya, tapi dia hanya ingin sendiri di ruangan itu.  Asisten Jang yang mungkin sudah tidur beberapa jam di luar, langsung terbangun karena melihat Angga keluar. Untung saja dia orang yang benar-benar peka dan gampang terbangun, kalau tidak Angga pasti sudah marah besar padanya.


"Mobil sudah siap Tuan, "kata  Asisten Jang mengikuti Angga.


Angga tak menyaut sama sekali, dia lalu berjalan ke arah liftnya, dan segera masuk ke dalamnya dan segera pulang setelah itu.


Sesampainya di rumah, sudah hampir pukul 2, kepala pelayan membukakan pintu untuk Angga, menyambutnya, Angga langsung menatap Judy yang juga ikut menyambutnya.


"Apa dia masih belum tidur?" kata Angga menyerahkan jasnya, meninggalkan kemeja putih dan dasi hitamnya, dia membukanya dasinya sedikit kasar.


"Sudah Tuan, Nona Bella sudah tidur di kamarnya sejak pukul 11 malam, tapi… "kata Judy yang mengikuti Angga yang hendak menuju tangga untuk langsung ke kamarnya.


"Tetapi apa?" kata Angga tetap berjalan.


"Nona Mika belum makan sedikitpun dari tadi siang."


"Kenapa begitu?" kata Angga yang sejenak berhenti.


"Nona hanya diam saja dari tadi, sering menanyakan apa ada kabar Anda, Nona terus duduk menunggu Anda di ruang tengah."


"Biarkan saja." Kata Angga dingin seolah tak peduli, dia lalu menapakkan kakinya ke anak tangga itu, tapi baru saja setengah dia naik ke atas, dia berhenti dan dengan cepat turun.


"Perintahkan Pelayan memanaskan makanan, cepat!" kata Angga langsung terburu-buru berjalan ke kamar Bella.


Angga masuk ke dalam kamar itu. Boneka teddy bear yang memang selalu dibawa Bella kemanapun dia pergi tampak di baringkan di sampingnya, Bella tidur dalam pelukan teddy bear itu, terlihat sangat nyaman.


Angga memperhatikan Bella sejenak, bagaimana dia bisa tidur tanpa mengunakan selimut, kalau besok sakit flu bagaimana? lagi pula kenapa tidak mengunakan baju tidur, Pikir Angga. Dia lalu menyelimuti Bella, Bella tampak nyaman dengan itu, namun karena itu juga Bella terbangun.


"Sudah pulang?" kata Bella masih memajamkan matanya, sesekali membukanya dengan mata yang dipicingkan, mungkin karena matanya masih sepet, apa lagi dia tidur dengan kontak lensnya.


"Kenapa tidur dengan kontak lens begitu, matamu bisa rusak." Kata Angga lagi.


"Oh, aku ketiduran, tidak ingin tidur sampai kau pulang, tapi juga takut ketiduran di sofa lagi, nanti kau terpaksa mengendongku ke kamar, kau kan sudah lelah. "kata Bella mencoba duduk, matanya benar-benar kering rasanya, hingga dia mengucek matanya dengan sedikit kasar.


"Hei, apa yang kau  lakukan, jangan mengucek mata seperti itu." Kata Angga menarik tangan Bella yang sedang asik mengucek matanya.


"Kenapa pulang begitu malam?"


"Tidak apa-apa."


"Kau marah padaku."


"Tidak."


"Jangan khawatirkan aku, aku yakin nanti tidak akan apa-apa." kata Bella lagi membuka pembicaraan tentang masalah mereka.


"Bagaimana kau bisa begitu yakin?" kata Angga yang menatap wajah Bella yang tampak masih terlihat mengantuk.


"Ya, karna aku yakin kau akan menjagaku." Kata Bella memaksakan sedikit senyuman di wajah baru bangun tidurnya itu.


"Kalau aku tidak pulang malam ini? apa perasaanmu?"


"Aku akan cemas."


"Walaupun kau tahu ada  Asisten Jang yang siap melayaniku, kau tetap akan cemas?"


"Ya." kata Bella mantap.


"Itu sama seperti perasaanku sekarang." Kata Angga menatap Bella dengan sorot matanya yang tidak dapat di jelaskan oleh Bella, tidak tajam, namun juga tak lembut, dia berdiri, setelah itu berbalik, lalu berjalan keluar meninggalkan Bella.


Sekali lagi Bella merasa serba salah dengan keadaan ini. Bella dan Angga memang punya sifat keras kepala, tidak bisa mengalah, jadinya mereka harus meredam perasaan masing-masing sekarang.


Tak lama Angga keluar dari sana, pintu kamar Bella di ketuk, membuat Bella yang tadinya menatap kosong, bahkan juga pikirannya kosong, jadi sedikit kaget.


"Ya?" kata Bella.


Pintu terbuka sedikit, seorang pelayan masuk membawakan beberapa piring berisi makanan.


"Tuan Angga mengatakan untuk Anda makan Nona." Kata pelayan itu.


"Aku tidak ingin makan, bawalah lagi." Kata Bella, dia merasa perutnya cukup lapar, dan saking laparnya sekarang terasa mual, lagi pula makan jam 2 pagi, dia tidak mau tidur dengan perut penuh.


Pelayan itu terlihat serba salah, namun terakhir patuh dengan perintah Bella, dia keluar lagi membawa makanan itu.


Bella turun dari ranjangnya, membuka kontak lensnya, lalu menganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Setelah itu dia kembali ke ranjangnya. Perasaanya sedang kacau balau, karena itu rasanya badannya selalu lelah, dan tidur adalah caranya melupakan masalah, setelah bermain-main dengan bulu Gaga, teddy bearnya, akhinrya dia terlelap lagi.