Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
210



Jofan terbangun dari tidurnya, dia melihat jam masih pukul 4 pagi, lalu dia melihat ke ranjang Angga, dia langsung terduduk melihat bahwa ranjang Angga kosong, dia segera melihat kesekelilingnya, tidak ada tanda-tanda Angga di dalam ruangan itu, dia segera melihat ke arah luar, melihat ruangan itu sedikit remang-remang karena pencahayaannya sedikit di kurangi. Jofan langsung memasang wajah bingungnya, ada kecemasan juga terlihat di sana.


Dengan cepat dia membuka pintu dan segera melihat ke lorong panjang itu, dia menemukan 1 ruangan yang biasanya kosong dan lampunya mati setiap malam, kali ini terang benderang, dia segera menuju ke ruangan itu.


Jofan langsung melihat ke dalam ruangan itu , melihat apa yang terjadi di sana dia langsung sedikit kaget, melihat Angga sudah duduk di kursi roda dengan ditemani dua orang dokter yang dengan sabar membantunya mengerakkan kaki dan tangannya, salah satu dari dokter itu segera melihat Jofan, dia segera menemui Jofan.


"Selamat pagi Tuan, Anda bangun pagi sekali,"kata Dokter itu menyapa Jofan, mendengar hal itu Angga langsung melihat ke arah Jofan, Jofan tersenyum melihat Angga, Angga mulai bisa mengerutkan wajahnya, menunjukkan sedikit senyum kakunya.


"Ada apa ini? " kata Jofan bingung.


"Dari jam 2 tadi pagi, Tuan Angga meminta untuk melakukan fisioterapi, dia sedang  belajar untuk mengangkat tangan kirinya dengan lebih leluasa, juga melatih mengerakkan kakinya, dia juga mulai belajar kembali mengucapkan kata-kata ataupun huruf-huruf, saat ini yang tampak memiliki kemajuan yang progresif adalah tangan dan kakinya, dia mulai bisa mengangkatnya, namun masih terlalu kaku,"kata dokter itu menjelaskan.


"Apa itu tidak apa-apa, dia baru saja bangun,"kata Jofan lagi.


"Tidak ada masalah, saat kami memeriksa tubuhnya, tubuh Tuan Angga mengejutkannya cukup sehat untuk bisa duduk sendiri seperti itu, aku rasa semangat Tuan Angga untuk sembuh sangat tinggi,"kata Dokter itu melirik Angga lagi, Jofan pun melirik Angga lagi, tampak dia sedikit berkeringat karena mengerakkan tangan dan kakinya, hal yang biasanya mudah, terlihat sangat sulit sekarang baginya.


"Kalian istirahatlah agar besok kalian bisa melakukan fisioterapi lagi padanya, "kata Jofan memerintahkan kedua dokter spesialis rehabilitasi medik itu. Mereka langsung berdiri dan mengangguk, lalu keluar dari sana, Jofan masuk dan mengantikan posisi dokter itu duduk di depan Angga.


"Tak bisa tidur? "kata Jofan yang mengetahui Angga dari dulu punya masalah tidur.


Angga menatap Jofan, dia langsung mengangguk, tak lama dia langsung menangkat tangan kirinya yang tampak lebih banyak bergerak dari pada tadi malam, lalu di lanjutkan dengan kedua kakinya.


"Jangan terlalu buru-buru, sudah ingin bertemu Bella? " kata Jofan lagi.


Untunglah saat sehat dulu wajah Angga selalu tampak dingin, jadi walau pun tidak bisa menebak bagaimana ekspresi Jofan, dia sudah terbiasa dengan wajah datar dan dingin Angga. Angga segera mengangguk serius.


"Aku merasa Bella di sembuyikan oleh Aksa di pulau Albaris, dia baru pergi hari ini ke sana setelah 2 bulan, sayangnya aku tidak punya akses ke sana, hanya presiden dan anggota kerajaan yang di perbolehkan masuk ke sana, jika kau sehat, kau bisa mengunakan hak anggota kerajaanmu untuk masuk ke sana, tapi itu tidak mungkin, jika kau keluar dengan keadaan begini, akan sangat berbahaya bagimu, " kata Jofan menjelaskan, Angga tak lagi melatih tangan dan kakinya, dia hanya mendengarkan apa yang di jelaskan oleh Jofan dengan serius.


"Ya, " kata-kata itu keluar dari mulut Angga, tidak seperti biasa, kata 'ya' itu terdengar seperti anak kecil yang baru belajar bicara, namun mendengar itu Jofan menjadi senang.


"Daihan sudah mengambil alih semua asetmu, perusahaan sudah ada di bawah kepemimpinannya, aku melakukan semuanya sesuai dengan perintahmu, " kata Jofan kembali lagi ke topik yang harus dia bicarakan pada Angga, Angga mendengar itu langsung mengangguk.


"Aku memiliki rencana, aku sudah menyiapkan semua hal untuk menjatuhkan presiden sekarang, aku akan membicarakannya pada ayahku dan Jendral Indra besok, jika sesuai rencana aku akan merebut kursi presiden itu secepatnya, dengan begitu aku akan punya hak untuk datang ke sana, juga untuk mengungkap kematian ayah dan ibumu, sebelum kau kecelakaan, aku sudah menerima bukti kuat atas kematian orang tua mu,"kata Jofan menatap Angga serius. Angga tampak mencoba mengapai Jofan dengan tangan kirinya.


"Be … lla … a," kata Angga dengan susah payah mengatakan itu, suaranya berat, Jofan tahu untuk mengucapkan itu saja Angga sangat kesusahan.


"Kau ingin aku fokus untuk mencari Bella dulu? " kata Jofan yang menangkap maksud Angga.


Angga segera menganggukan kepalanya dengan cepat. Matanya yang tajam itu menatap Jofan.


"Kau harus banyak beristirahat, tubuhmu baru saja pulih, tak bisa terlalu kau paksakan seperti ini, percayalah, aku akan membawa Bella untukmu, kali ini biar aku yang melakukannya," kata Jofan,


Jofan ingat saat dia kecil, dia pernah jatuh ke dalam kolam yang sangat dalam, dan saat itu dia sama sekali belum bisa berenang, dan tanpa pikir panjang, Angga masuk dan mencoba menolong Jofan, Jofan sangat panik saat itu dan hampir pingsan, namun Angga tetap mencoba menolongnya walaupun saat itu Jofan lebih banyak membenamkan Angga karena panik, dan untungnya Angga tetap bisa membawa Jofan ke pinggiran, hingga nyawanya bisa tertolong, kalau saja Angga tidak ada saat itu, dia akan mati tenggelam, sejak saat itu, Jofan merasa dia memiliki hutang nyawa pada Angga, walau pun Angga tak pernah lagi mengigatnya.


"Ter … " kata Angga mencoba mengatakan kata terima kasih tapi sama sekali tidak bisa mengatakan apa pun.


"Ya, aku mengerti, "kata Jofan tahu maksud temannya. " Ayo istirahat, kau bisa melanjutkannya besok lagi." Jofan mendorong kursi roda Angga, juga perlahan membawa tiang infus itu, saat sudah sampai di ruangan Angga, dia mencoba mengangkat tubuh Angga di bantu beberapa tentara yang masih berjaga di sana, dan akhirnya Angga kembali berbaring di tempat tidurnya.


"Kau istirahatlah, mungkin besok Daihan akan datang melihatmu, aku sudah memberitahukannya bahwa kau sudah sadar, tapi karena badai dia tidak bisa datang tadi malam,"kata Jofan menjelaskan lagi.


Angga segera menganggukan kepalanya, tanda dia mengerti tentang yang di bicarakan oleh Jofan, Jofan tertawa kecil.


"Untung kau dari dulu sudah begitu dingin jadi aku merasa keadaanmu seperti ini sudah seperti Angga yang normal, kalau tidak, aku pasti akan cemas,"kata Jofan lagi, Angga kembali menunjukkan senyum kakunya.


"Aku akan meninggalkanmu, tidurlah, aku harus mengurus semuanya sebelum aku bertemu ayahku dan Jendral Indra,"kata Jofan, dia mematikan lampu di ruangan itu, meninggalkan lampu tidur kecil hingga kamar itu cukup temaram,


Dia lalu segera meninggalkan Angga dan segera menuju ke ruang kerjanya, mencoba memastikan kembali semua yang di butuhkannya untuk memulai rencananya sudah sesuai, dia harus benar-benar hati-hati melakukannya, kalau tidak, semua ini akan menjadi senjata makan Tuan baginya, dan untungnya setelah dia memeriksa semuanya, dia rasa ini sudah cukup untuk memulai recanannya.