Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
152



Angga menatap Bella dengan serius, wajahnya benar-benar mengambarkan keseriusannya. matanya yang hitam itu memantulkan gambaran Bella, satu-satunya wanita yang bisa menerobos pertahanan seorang Angga.


"Maafkan aku," kata Bella.


"Lagi pula bagaimana kau berpikir aku akan dengan mudahnya mau dengan wanita lain, dasar bodoh," kata Angga kembali menyentil dahi Bella pelan, Bella langsung memengangi dahinya, Angga kembali dengan posisinya memagari Bella dengan kedua tangannya yang ditumpukan di meja rias.


"Jangan lakukan lagi, sakit tau," kata Bella menatap Angga dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.


"Kau pikir hatiku tidak sakit, itu pembalasanku karena pemikiran bodohmu, lain kali kau lakukan ini padaku, aku akan ... " kata Angga sebenarnya ingin melepaskan semua rasa kesalnya, namun belum selesai dia bicara, Bella mencium bibirnya. Angga kaget ... baru kali ini Bella berinisiatif memciumnya, kecuali dulu saat dia mabuk. Ciuman itu hanya sebentar namun sukses meluluhkan Angga.


"Tidak akan ada lain kali," kata Bella mengulangi kata-kata Angga yang pernah di katakan dulu.


Angga yang masih kaget itu, hanya bisa tersenyum manis.


"Pengoda kecil, sudah berani ya?" kata Angga lagi, dengan sigap menarik belakang Bella hingga bisa kembali mencium Bella, Bella awalnya kaget namun dia bisa menerima ciuman Angga yang makin lama makin ganas dan bernafsu, Bella ingat, baru beberapa menit yang lalu dia ingin melepaskan pria ini, mungkin jika dia melakukannya, maka seumur Bella akan ada dalam penyesalan. Yah ... sekarang Bella baru yakin, dia hanya ingin Angga yang ada di hidupnya.


"Bella, mulai sekarang cobalah untuk percaya padaku, jangan menyimpan apapun sendiri, percayalah aku bisa menjadi priamu," kata Angga lagi, kali ini nada bicaranya sudah lebih melembut.


Bella hanya mengangguk pelan, dia tidak akan pernah lagi meragukan Angga.


Pintu kamar di ketuk, Angga langsung berdiri, berjalan ke arah pintu itu.


"Maaf Tuan, Nona Nakesha sudah datang," kata Asisten Jang.


"Baiklah, aku akan menemuinya secepatnya," kata Angga dengan nadanya yang biasa, Angga lalu kembali menutup pintunya.


"Kau membawa Nakesha ke sini?" kata Bella kaget.


"Ya, ada yang harus aku tegaskan padanya, bersiaplah agar kita bertemu dia," kata Angga kembali dengan nada bicaranya, dia mengambil jam yang tadi di lepasnya, lalu memasangnya, sedangkan Bella hanya memberikan sedikit bedak pada wajahnya, memakai lipstik sedikit, agar bibirnya tak terlalu pucat.


"Sudah siap?" kata Angga melirik ke arah Bella.


"Ya," kata Bella bergegas mendekati Angga.


Angga melihat Bella sekilas, dia sedikit tersenyum, lalu Angga mengenggam tangan Bella, Bella menatap Angga, sedikit mengerutkan dahinya.


Angga dan Bella segera keluar, langkah Angga terlihat tegas namun tetap mengatur irama jalannya agar Bella merasa tak kesusahan di sampingnya, saat mereka masuk, Nakesha sudah duduk di salah satu sofa di sana.


Nakesha melirik pada Angga dan Bella yang datang, menatap aneh pada mereka, ingin membuat orang iri ya? pikir Nakesha.


Angga melepaskan tangan Bella, duduk di sofa tunggal yang menghadap langsung pada Nakesha, Bella duduk di dekat Angga, menatap Nakesha dalam, namun Nakesha hanya menatap Angga, seolah Bella tak ada.


Nakesha menatap pria di depannya, tampak begitu bersinar dinaungi cahaya matahari dari jendela di belakang tempat duduknya, saat pertama kali melihatnya, Nakesha tak terlalu memperhatikannya, kali ini dia sadar, pria ini tampan bagai malaikat, beruntung sekali si Bella ini, pikirnya.


"Ada apa? aku tak suka basa-basi, kau membuang waktuku, lagian kalau tidak di paksa, aku tak akan mau bertemu dengan kalian," kata Nakesha ketus. Bella hanya diam memperhatikan


"Ya, aku juga punya prinsip begitu, langsung saja Nona Nakesha, aku tak suka caramu mengancam wanitaku."


"Heh, tak ku sangka, kau seorang pengadu, sangat pengecut," kata Nakesha memandang Bella sinis, Bella yang melihat itu terpancing emosinya, tapi baru saja dia ingin bicara, Angga menyelanya.


"Mengadu itu adalah haknya sebagai wanitaku, aku sebagai prianya akan melindunginya, tak terkecuali dari mu Nona Nakesha, lagi pula cara Anda begitu licik, tak ku sangka, Anda bisa mengeluarkan tawaran yang begitu murahan," kata Angga lagi lebih dingin, sorot matanya tajam bagai sebilah pisau, Nakesha merasa terancam walau hanya melihat Angga, pria ini punya aura yang sangat kuat, Nakesha mengepalkan erat tangannya.


"Jadi, baiklah, aku rasa aku tahu jawabanmu, lagi pula sebenarnya aku tak punya minat dengan priamu, apa lagi sekarang mengetahui dia begitu angkuh dan arogan, mau kau serahkan atau tidak, aku akan tetap membawa ibu ku pergi," kata Nakesha dingin menatap Bella, Bella balas menatap Nakesha, ternyata benar kata Daihan, untung saja dia tidak melakukan hal bodoh yang akan membuat dia kehilangan Angga.


"Ibumu sudah aku amankan, dia sudah aku pindahkan ke suatu tempat, jadi kau tidak bisa membawanya ke mana-mana," kata Angga tenang.


Nakesha mendengar itu langsung kaget, dia langsung berdiri, menatap Angga dengan sangat marah, wajah cantiknya merah padam, matanya pun menunjukkan urat-uratnya, seakan dia siap meledak.


Bella yang mendengar kata-kata Angga pun kaget, dia juga ikut memandang Angga, benarkah?.


"Tidak mungkin, aku sudah menyembunyikan ibuku jauh dan tidak mungkin kau menemukannya," kata Nakesha kuat, tak percaya pada perkataan Angga.


"Bagaimana kau bisa menyembunyikan ibuku? kau memang licik, sengaja mengancamku, tapi kau tetap menyembunyikan ibuku?" kata Bella sudah tak tahan lagi, dia berdiri menatap Nakesha, Nakesha sedikit tersenyum licik.


"Memang dari awal aku tak punya niat untuk memberikan ibuku, aku hanya ingin membuat hidupmu hancur, sayang sekali, sepertinya tidak berhasil," kata Nakesha.


"Ku benar-benar licik," kata Bella emosi karena merasa sudah dipermainkan oleh Nakesha.


"Bella, tenang lah, duduk lah," kata Angga, Bella mendengar Angga, mau tak mau duduk.


Angga tampak tenang, tangannya mengadah, melihat itu Asisten Jang langsung sigap dan memberikan tablet pada Angga.


"Jika kau tidak percaya padaku, lihatlah," kata Angga.


Nakesha segera mengambil tablet itu, foto di sana menampilkan ibunya sedang dalam perawatan tapi entah di mana, sama sekali terlihat beda dengan tempat di mana Nakesha meninggalkan ibunya.


"Bagaimana bisa kau melakukan ini?" kata Nakesha geram.


"Aku menyuruh orang mengikuti kalian 24 jam, dan tentu aku bisa melakukan ini, dia adalah ibu kandung Bella, tes DNA sudah memastikan itu, dan kau tak bisa lagi mengelaknya, kalau aku tetap bersikeras membawanya, kita akan berjumpa di pengadilan," kata Angga tegas, Mendengar itu Bella senang artinya tak ada lagi keraguan, ibu itu benar-benar ibunya.


"Kalian semua orang yang kejam, bagaimana kalian bisa mengambil satu-satunya yang ku miliki? kalian benar-benar orang tak tahu diri!" kata Nakesha histeris, dia bahkan sampai membanting tablet itu ke lantai hingga pecah berkeping-keping, Bella dan yang lain terkejut melihatnya, namun Angga masih tampak tenang.