Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
159



Angga dan Bella keluar dari mobilnya, jam sudah menunjukan pukul 9 kurang 10 menit, Angga langsung di sambut oleh kepala kantor catatan pernikahan. Seluruh penjagaan dilakukan di setiap sudut kantor itu, Angga tak mau acara pernikahannya terganggu.


"Selamat pagi Tuan Angga, senang sekali saya mendengar kabar pernikahan Anda," kata Kepala Kantor catatan pernikahan menjulurkn tangannya pasa Angga.


"Ya," kata Angga menyambut tangan Kepala kantor catatan pernikahan tersebut namun seperti biasa, wajahnya datar dan dingin, tak ingin menurunkan wibawanya, melihat Bella yang mendekatinya, Angga langsung merangkul pinggang kecil Bella.


Kepala kantor pernikahan itu menatap Bella, awalnya dia begitu penasaran, siapa wanita yang bisa menahlukan seorang pria yang terkenal dengan reputasinya yang sangat dingin dan angkuh ini, tapi begitu melihat Bella, dia akhirnya tahu, siapa yang akan tahan dengan pesona wanita yang begitu cantik ini? bahkan dia pun tak bisa berkedip menatapnya.


"Ehm ...." kata Angga berdehem, membuat Kepala itu langsung sadar, Angga menatapnya tajam membuat kepala itu seketika salah tingkah.


"Selamat Nona atas pernikahan Anda, kalian pasangan yang sangat cocok, baiklah, saya tidak akan basa-basi lagi, silakan masuk," kata Angga dan Bella masuk ke dalam kantor catatan pernikahan itu.


Kepala itu langsung mengarahkan Angga dan Bella ke suatu ruangan, semua mata yang ada di sana tertuju pada mereka, siapa orang yang bahkan harus disambut dan dijaga begitu ketat, saat mereka melihat Angga dan Bella mereka terpana, pria tampan dan wanita yang cantik mempesona, pasti mereka artis atau kalau tidak pasti orang penting.


Setelah sampai di ruangan itu, beberapa petugas khusus sudah bersiap menyambut mereka.


"Nona, prosedur ini harus dilakukan, Anda harus melakukan pemeriksaan kesehatan, pemastian bahwa anda tidak sedang mengandung," kata Kepala itu agak sungkan pada Bella karena ingat tatapan tajam Angga tadi.


"Haruskah?" kata Angga lagi.


"Ya Tuan," kata Kepala itu.


"Hanya pemeriksaan saja, tak apa-apa," kata Bella lembut, hah ... bahkan suaranya saja sudah sangat membuai, pikir kepala kantor catatan pernikahan.


Bella berdiri, seorang petugas wanita mengarahkan Bella, Angga memberikan gestur pada Judy untuk mengikutinya, 2 orang penjaga juga langsung mengikuti Judy, Angga tak mau ambil resiko sama sekali.


"Surat pernikahan Anda akan segera selesai, setelah mengambil foto dan penandatanganan semuanya akan beres," kata Kepala itu lagi.


"Baiklah," kata Angga yang masih menatap pintu tempat Bella di arahkan, walau pun sudah penuh dengan penjagaan, perasaan Angga belum bisa tenang.


Setelah menunggu 15 menit akhirnya Bella kembali, wajah Angga lumayan membaik, uratnya yang menegang akhirnya bisa dia kendurkan sedikit.


"Baiklah, saatnya mengambil foto untuk buku pernikahan, Tuan dan Nona, silakan," kata Kepala itu menunjukkan sebuah ruangan. Asisten Jang lansung membukan pintu untuk mereka.


Angga dan Bella duduk bersampingan di ruangan itu, di depan mereka petugas segera bersiap.


"Tuan dan Nona, pernikahan hanya terjadi sekali, tersenyum lah bahagia," kata petugas itu sebelum mengambil foto.


Bella dan Angga berpandangan, melihat wajah gugup mereka masing-masing, karena itu mereka jadi tertawa sendiri, setelah itu menatap depan, dan petugas segera mengambil momen itu, tawa pernikahan memang tawa paling indah.


"Tuan dan Nona, silakan menunggu kembali, surat pernikahan kalian akan selesai dalam waktu 10 menit," kata petugas itu.


Bella berdiri dan Angga mengikutinya.


"Terima kasih," kata Bella pada petugas itu, membuat petugas itu pun salah tingkah, ah, dia akan mengcopy foto pria dan wanita ini, jarang sekali ada pria dan wanita yang sesempurna ini, mungkin mereka artis, pikirnya.


Angga duduk menunggu, tampak gugup, Bella memperhatikan Angga hanya tersenyum kecil.


"Ada apa?" kata Angga.


"Tidak apa-apa, jangan terlalu gugup, toh kita tinggal menunggu suratnya selesai," kata Bella mencoba menenangkan suaminya, memegang tangan Angga.


Tak lama Kepala kantor catatan pernikahan membawakan surat pernikahan Angga dan Bella.


"Tuan dan Nona, silakan menandatangani surat pernikahan kalian," kata Kepala itu menyodorkan surat itu pada Angga.


Angga menandatanginya, Bella melihat tanda tangan Angga yang tampak tegas dan jelas, seperti orangnya, Angga menyerahkan surat itu pada Bella dengan senyum tipis, Bella pun menandatanganinya, lalu mereka berdua tersenyum.


"Selamat,Tuan dan Nyonya, Anda berdua sudah resmi sebagai suami dan istri, data Anda akan kami masukkan secepatnya," kata Kepala kantor itu tersanyum sumringah.


Angga dan Bella saling menatap, wajah mereka berseri dengan kebahagiaan, tak menyangka mereka akhirnya jadi suami dan istri juga, tangan Bella di genggam erat oleh Angga.


Senyum manis dan bahagia tak lepas dari wajah ke duanya, atmosfirnya benar-benar menyenangkan, bahkan orang-orang di sana sampai bertepuk tangan.


"Selamat atas pernikahannya Tuan dan Nyonya," kata Asisten Jang.


"Selamat atas pernikahannya Tuan dan Nyonya," kata Judy.


"Terima kasih Asisten Jang, Judy, tanpa kalian, kami tak akan di sini sekarang," kata Bella lembut, Angga hanya mengangguk, tetap menjaga wibawanya, walau pun wajahnya tak pernah sebahagia ini.


"Surat ini adalah bukti, harap di simpan dengan baik Tuan dan Nyonya," kata Kepala kantor catatan pernikahan itu bangkit dari tempat duduknya, Bella dan Angga pun mengikutinya.


"Baiklah, terima kasih," kata Angga menjulurkan tangannya. Kepala kantor itu langsung membalas menyalami tangan Angga.


"Terima Kasih Tuan," kata Bella.


"Sama-sama Nyonya, Tuan dan Nyonya, maafkan saya, saya harus meninggalkan kalian, karena saya harus kembali mengurus pekerjaan yang lain, saya permisi," kata Kepala kantor itu memberikan salam.


"Baiklah," Kata Angga. Kepala itu segera keluar dari ruangan itu. Angga menyodorkan surat pernikahan mereka pada Bella. Bella melihatnya, tampak foto mereka berdua yang sangat bahagia, namun melihat namanya, Bella sedikit tersenyum, Mika, dia harus menerima nama itu adalah dia.


"Ini, kau ingin menyimpannya?" kata Angga lembut.


"Aku rasa lebih baik kau yang menyimpannya, suami" goda Bella pada Angga, Angga langsung tersenyum mendengar godaan Bella


"Baiklah," kata Angga. "Asistan Jang, tolong simpan di brangkas utama," Angga menyodorkan surat itu pada Asisten Jang. Asisten Jangan langsung mengambilnya dan menyimpannya.


"Baiklah, setelah ini kau akan pergi ke kantor?" kata Bella lagi.


"Tidak, ini hari ini, hari pernikahanku, tidak mungkin aku bekerja, kau ingin melihat tempat baru ibumu? sekalian memberitahukan dia tentang pernikahan kita, soal pesta pernikahan, bisa kita diskusikan setelahnya," kata Angga.


"Baiklah, ayo," kata Bella.


"Ya."


Angga dan Bella segera keluar dari ruangan itu, mereka juga segera keluar dari kantor catatan pernikahan itu, dan segera menaiki mobilnya.


Dari jauh, Aksa menatap Angga dan Bella yang baru keluar dari kantor catatan pernikahan itu, menatap dengan amarah, dia mengambil handphonenya.


"Jalankan rencananya," kata Aksa langsung menutup panggilan teleponnya. Mobil Aksa pun pergi dari sana.