Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
23



' Aku benar-benar berusaha untuk bersikap acuh padamu, tapi ntah kenapa? semakin ku mengacuhkan mu, semakin aku ingin tahu tentang dirimu'


____________________________________________


Setelah itu mereka pergi ke Mall Galaxy milik Angga, Mall itu sebenarnya sudah tutup namun di buka khusus hanya untuk mereka, Angga hanya duduk di ruangan khusus yang biasa di gunakannya untuk bekerja, sedangkan Bella, Dorland dan Judy pergi berbelanja apapun yang mereka mau, Dorland dengan bahagia memilihkan baju, celana, sepatu, tas, dan seluruh perlengkapan untuk Bella. Mereka membeli begitu banyak barang, hingga mobil mereka jadi penuh. Melihat mobil yang penuh, Angga memutuskan untuk naik mobil yang lain, sedangkan Bella, Judy dan Dorland naik mobil yang tadi mereka tumpangi.


Angga sudah sampai di rumah dahulu, Bella begitu sampai langsung menuju kamar tidurnya, Judy dan beberapa pelayan membawakan kantong belanjaan yang jumlahnya hampir 20 kantong.


" Letakkan saja disana, Judy, kau sudah boleh beristirahat, " kata Bella pada Judy.


" Terima kasih Nona, " kata Judy sambil memberi hormat lalu keluar dari kamar Bella.


Bella segera berjalan kearah kamar mandinya, mengisi air hangat pada bath upnya, lalu segera berendam, kakinya cukup lelah setelah berkeliling di Mall tadi bersama Dorland, jadi dia butuh releksasi.


Setelah beredam sekitar 5 menit dia lalu membasuh diri lagi, dan keluar dari kamar mandi itu, dia lalu memakai Loose sweater berwarna cream dan celana tidur yang sedikit gombrang. Rambutnya dia capit sedikit, ternyata punya rambut pendek terasa sedikit menyenangkan, tidak terlalu berat, dan mudah untuk mengaturnya, dia melihat dirinya yang sangat berbeda, hingga membuatnya senyum-senyum sendiri.


" Ayo Bella! Sekarang kau Mika, tidak boleh cemberut, harus tersenyum, Semangat! " kata Bella memotivasi dirinya sendiri. Dia segera tersenyum, ya, Mika suka tersenyum. Saat dia melakukan itu, tiba-tiba pintu kamar di ketuk, dia mengerutkan dahi, karena setau dia Judy sudah pulang.


Bella membuka pintu perlahan, menangkap sosok Angga yang berdiri di depan pintunnya, terlihat lebih santai dengan balutan sweater yang juga berwarna creamnya, wajahnya juga sudah lumayan lebih baik dari pada tadi.


" Ikut aku, " katanya datar saja


" Ok, baiklah " kata Bella dengan senyuman.


Angga membawa Bella keruang tengah, rumah itu sangat besar namun hening dan terkesan sepi, sekarang hanya mereka berdua ada disana. Angga menyuruh Bella untuk duduk di depannya, Angga lalu memandang lagi kearah Bella.


" Ada apa? Kau terus memandangku begitu, " kata Bella


" Tidak apa-apa, hanya terlalu familiar, " kata Angga lagi.


" Kau pasti sangat merindukan Mika ya?, " kata Bella.


Angga tak menjawab, hanya menatap kearah Mika dengan penuh kesuraman.


“ Ini, ini semua data tentang Mika, tadi siang aku sudah menyuruh Asisten Jang merangkumnya, pelajari lah, dan ingat beberapa detail penting, jika ada yang ingin kau tanyakan, bisa kau tanyakan padaku, " kata Angga berbicara seolah Bella adalah rekan bisnisnya.


Bella melihat berkas yang di berikan oleh Angga, lumayan banyak.


" Baiklah, terima kasih, aku orang yang cepat belajar kok, jadi tenang saja " kata Bella dengan wajah cerianya. Angga menatap Bella, sebelumnya gadis ini terlihat sangat suram, bahkan baru beberapa jam yang lalu dia tampak begitu sedih, tapi sekarang, gadis ini bahkan bisa tersenyum begitu ceria.


" Ehm.. seperti apa? " kata Bella yang mulai membuka berkas yang di berikan oleh Angga.


" Ceria seperti itu, padahal tadi kau begitu sedih, " kata Angga lagi.


" Haha, aku hidup 20 tahun mengikuti peraturan kerajaan, aku sudah terbiasa, aku harus tetap tersenyum walaupun aku sedang sedih, kalau tidak para pengajar dan penjagaku akan memberikan hukuman padaku, jadi aku rasa aku hanya terlalu terbiasa untuk tidak mengikuti keinginanku, " kata Bella dengan tawa kecilnya, bahkan untuk menceritakan kesedihannya dia masih bisa tertawa.


Angga terdiam mendengar kata-kata Bella, ada sedikit gejolak dalam hatinya, entah kenapa? Merasa hal yang dilakukannya saat ini salah, tapi dia tidak bisa mengatakannya, jadi dia hanya diam saja.


" Istirahatlah, beberapa hari ini kau bisa memperlajarinya, Lusa kita akan mengambil kontak lens itu, Aku sudah menyuruh dokter untuk melakukannya lebih cepat " kata Angga bangkit.


" Owh, aku belum begitu mengantuk, aku akan membacanya sedikit lagi, tidurlah jika kau ingin, " kata Bella.


" Baiklah, " kata Angga, dia lalu meninggalkan Bella sendiri.


Bella membaca berkas itu, banyak hal yang menarik perhatiannya, Namanya Mika Deya, ternyata umurnya sama dengan Bella sekarang, saat bayi dia di serahkan kepanti asuhan, saat umurnya 5 tahun dia di adopsi oleh kedua orang tua Angga, usia yang sama saat Bella harus berpisah dengan orang tuanya. Mika seorang guru di sekolah disabilitas, dia mengajari anak-anak disablitas, Hobbynya adalah menyelam dan mengeksplorasi laut. Banyak lagi detail tentang Mika ada disana, namun mungkin karena terlalu memaksakan diri, akhirnya malah Bella tertidur di sofa itu.


Angga bukan orang yang bisa tidur cepat, jadi dia tidak kembali ke kamarnya, dia kembali ke ruang kerjanya, memeriksa beberapa berkas yang akan di rapatkan besok pagi. Detak jam terdengar karena ruangan itu terlalu hening, namun tidak menganggu Angga sama sekali, memang beginilah caranya dia bisa melupakan segala tentang hidupnya. Dengan bekerja dia bisa lupa tentang kesedihannya yang menumpuk, walaupun sebenarnya cara ini sama saja lari dari masalah, bukannya menyelesaikannya.


Jam sudah menunjukkan pukul 2 malam, mata Angga mulai lelah manatap laptopnya, dia lalu mencubit sedikit pucak hidunganya, memijit sedikit matanya. Dia memperhatikan jam, walaupun belum mengantuk namun rasanya matanya sudah tak sanggup, karena itu dia menyudahi pekerajaannya dan keluar dari ruang kerja itu menuju kamarnya, namun sebelum ke kamarnya yang tepat berada di belakang ruang kerjanya, dia berjalan kedepan, karena ruang kerjanya ada di lantai 2, dia bisa melihat ke bawah, di bawah itu adalah ruang tengah, dari atas Angga bisa melihat Bella yang tertidur di sofa itu.


Melihat itu dia mendatangi Bella, bukannya sudah dia bilang untuk istirahat? Tapi gadis ini punya sifat keras kepala juga, jadinya dia tertidur di sembarang tempat seperti ini, Apa dia tidak takut sakit, udara di ruang tengah ini sangat dingin jika sudah malam begini, pikir Angga. Angga menatap Bella dalam diam, dia memperhatikan gadis itu tertidur dengan sangat lelap, di tangannya masih memegang berkas yang diberikan oleh Angga tadi. Benar-benar gadis yang bodoh…


Angga ingin meninggalkan Bella, membiarkan saja Bella tidur di sofa itu, namun baru ingin melangkah, Bella sedikit bergerak-gerak, sepertinya dia tidak nyaman tidur di sofa itu, tentu saja itu bukan tempat tidur, pikir Angga. Sekali lagi, dia ingin tidak peduli namun ada rasa dimana hatinya tidak tega, dengan cepat dia melangkah turun, pandangannya tak lepas dari Bella yang tidur dengan lelapnya.


Dia lalu perlahan-lahan menaruh tangannya di bawah pundak Bella, tangan satunya lagi di bawah lututnya, lalu dia mengendong Bella dengan perlahan, Angga kembali memperhatikan Bella yang tetap tertidur, dia hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Mika tidak pernah seceroboh ini… pikirnya.


Angga perlahan membawa Bella kembali ke kamar, perlahan-lahan merebahkannya kembali di ranjangnya, namun saat dia ingin melepaskan tangannya dan ingin berdiri, Bella malah memeluk leher Angga, hingga Angga kembali membungkuk, hampir saja dia jatuh gara-gara pelukan Bella . Angga tentu saja kaget karena Bella menariknya dalam pelukannya, wajah Angga begitu dekat dengan Bella, bahkan saking dekatnya dia bisa mencium aroma mawar dari tubuh Bella.


Deg… entah bagaimana tiba-tiba jantung Angga terasa seperti memburu, dia tidak suka akan perasaan itu, karenanya dia langsung cepat-cepat mencoba melepaskan diri.


" Ibu, jangan pergi, " kata Bella mengigau, malah mengetatkan pelukannya pada Angga yang mau tak mau pasrah di bawa dalam dekapan Bella.


Angga jadi terdiam mendengar kata-kata Bella, dia kembali memperhatikan wajah Bella yang tampak sedih, dia pasti merindukan ibunya hingga meracau saat tidur seperti ini.


Angga terus menatap wajah cantik Bella, senyum ceria yang tadi di tunjukannya terbayang di benak Angga. Gadis ini… terasa menyedihkan.


Angga menunggu cukup lama dengan posisi itu, menunggu agar dapat melepaskan tangan Bella, perlahan-lahan sekali, dia melepaskan tangan Bella yang melingkar di lehernya. Lalu memposisikan tangan Bella agar nyaman, lalu dia menyelimuti Bella. Kembali dia menatap gadis polos itu, tanpa sadar dia malah tersenyum, lalu melangkah pergi keluar.