Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
185



Angga ½ berbaring di ranjanganya, tubuhnya disangga oleh bantal, sedangkan Bella dengan manja tiduran di atas dadanya, menikmati malam mereka berdua, Bella memainkan handphone Angga.


"Tidak ingin memiliki Handphone lagi?  " kata Angga melihat Bella yang sibuk bermain game dari handphonenya.


"Tidak, aku tidak cocok memiliki handphone sepertinya, setiap aku memiliki handphone selalu saja hilang, " kata Bella dengan suara manjanya, Angga hanya tersenyum tipis melihat tingkah istrinya, mengelus rambutnya dengan perlahan, seorang Angga bisa juga memanjakan istrinya.


"Apakah sudah ada tanda-tandanya? " kata Angga lagi.


"Tanda-tanda apa? " kata Bella merubah fokusnya, menatap suaminya sekarang.


"Ini," kata Angga sambil menyusupkan tangannya ke dalam baju Bella, mengelus perut Bella dengan perlahan-lahan, membuat Bella kegelian hingga mutar tubuhnya, Bella sekarang ada di atas tubuh Angga, berhadapan langsung dengan wajah Angga. Angga menyusupkan kedua tangannya di bawah kepalanya, mengamati wajah istrinya yang cantik.


"Kita menikah saja belum sampai 1 bulan, menurut yang aku baca, aku bisa mulai mengeceknya bulan depan, itu juga setelah aku telat haid, " kata Bella menerangkan pada suaminya.


"Begitu? Apa tidak di ajarkan bagaimana caranya agar bisa cepat hamil?" kata Angga lagi tidak mengerti tentang hal ini.


"Katanya jika ingin cepat hamil, harus banyak konsumsi makanan-makanan tinggi asam folat, lalu melakukannya saat masa subur, " kata Bella mengingat apa yang dia pelajari.


"Kapan masa suburmu?"


"Aku belum menghitungnya, karena kita menikah tiba-tiba dan juga kita tidak membicarakan tentang punya momongan, jadi aku pikir aku akan mulai menghitungnya bulan depan, lagi pula kita kan harus mengadakan pesta bulan depan, jika aku hamil, itu tidak akan bagus untuk kandungan, karena pasti akan sangat lelah, "kata Bella lagi menjelaskan.


"Kalau bulan depan kau hamil, kita batalkan saja semuanya, itu hanya pesta, aku juga tidak terlalu suka pesta, "kata Angga menyelipkan rambut Bella ke belakang telinganya.


"Kau benar-benar ingin segera punya anak ya? " kata Bella lagi menatap Angga serius.


"Tentu, memangnya kau tidak mau? " kata Angga juga jadi serius.


"Ya tentu mau, masa tidak mau, ehm, kalau aku hamil, 3 bulan tidak boleh berhubungan dulu, "kata Bella lagi menjelaskannya.


"Aku bisa menahannya 27 tahun, 3 bulan bukan waktu yang lama, "kata Angga lagi. mendengar kata-kata Angga, Bella jadi terkekeh dia bangkit dan duduk di atas tubuh Angga.


"Ehm, karna kau tidak tahu kapan masa suburmu bulan ini, bagaimana jika kita akan melakukannya tiap hari? " kata Angga mengoda Bella, Angga langsung menaikkan tubuh bagian atasnya, menahannya dengan kedua tangannya, hingga tubuhnya lebih dekat dengan Bella yang sekarang duduk di atas perutnya.


"Ha? Bukan begitu juga caranya, tunggu saja bulan depan, itu akan lebih baik, "kata Bella segera mengeser tubuhnya lalu rebahan di samping Angga, Angga kembali berbaring di tempatnya tadi, hanya bisa tersenyum melihat tingkah istrinya.


"By the way, Benarkah Daihan sudah punya anak? " kata Angga lagi.


"E? kenapa tiba-tiba bertanya itu? " kata Bella, kenapa Angga bisa ingat hal itu?.


" Asisten Jang melaporkan bahwa Daihan sudah meminta ruangan khusus anak dan ambulance untuk malam ini, " jelas Angga.


"Archie separah itu? " kata Bella menatap suaminya, memiringkan tubuhnya agar bisa nyaman menatap Angga.


"Aku tidak tahu, Archie itu benar-benar anak Daihan? " kata Angga lagi menuntut jawab.


"Anak Mika, maksudmu? "


"Kak Daihan bercerita padaku, sebenarnya setelah dia bunuh diri di tebing, beberapa hari kemudian Daihan sudah menemukannya, namun Mika meminta kak Daihan untuk tidak memberitahukannya padamu, Mika mengalami kelainan mental, kak Daihan membawanya keluar negeri dan merawatnya di sana … " kata Bella menarik napas sebentar.


"Jadi maksudmu Mika masih hidup? " kata Angga tak percaya, apalagi ini? pikirnya.


"Mika bunuh diri beberapa hari setelah melahirkan Archie, awalnya dia ingin membuang Archie, kak Daihan mencoba menyelamatkan Archie, tapi sebagai gantinya malah Mika yang terjun, semenjak itu kak Daihan yang menjaga Archie dan kak Daihan memastikan Mika sudah meninggal, karena itu aku tahu Nakesha sudah pasti bukan Mika, "kata Bella lagi menjelaskan.


Angga terdiam, menatap mata indah Bella, cukup terkejut mengetahui hal itu, namun juga merasa hal ini sudah bukan urusannya, dia sudah berdamai dengan keadaannya, tidak ingin meributkan kenapa Daihan dan Mika harus begitu padanya, walaupun jika di pikir-pikir itu kejam, membiarkan orang merasa bersalah dan mencari selama 2 tahun, mempercayai Daihan di saat-saat terendahnya, padahal pria itu pula yang menyembunyikan semuanya dari dia, namun sekarang jika dia ulang lagi hidupnya, Angga akan melaluinya lagi, asalkan bisa mendapatkan Bella pada akhirnya. Angga menaikan sudut bibirnya, menatap wajah cantik Bella.


Bella yang menyangka Angga akan kembali emosi setelah mendengar penjelasannya, cukup terkejut melihat reaksi Angga yang terlihat tenang. Angga bahkan hanya kembali menyelipkan rambutnya kebelakang telinganya.


"Kau pernah bilangkan kalian memiliki penyakit keturunan? " kata Bella ingat sesuatu.


"Ya? kenapa? tenang saja, jika anak kita punya penyakit itu, aku bisa menyembuhkannya, "kata Angga lagi.


"Bukan, aku cuma berpikir, apa mungkin sekarang Archie mengalami penyakit itu? dia anak Aksa, dia juga punya hal itu bukan?" kata Bella. Angga menatap Bella serius.


"Ya, seharusnya dia memiliki penyakit itu, tapi soal apakah sekarang dia sedang mengalaminya aku tidak tahu. "


"Dulu bagaimana keadaanmu? " kata Bella.


"Demam hingga akhirnya perdarahan organ dan kejang, tapi entah bagaimana aku selamat, dan tubuhku membuat penawarnya, " kata Angga.


"Ehm, bisakah besok kita melihat Archie jika dia sudah ada di rumah sakit? " kata Bella dengan suara membujuk.


"Ya. "


"Kalau memang dia terkena penyakit itu, mau kah kau menolongnya? " kata Bella lagi.


"Kalau kau yang memintanya, akan ku lakukan, "kata Angga mengusap rambut Bella, Bella merasa perkataan Angga cukup manis namun juga cukup gombal.


"Aku penasaran dari mana kau bisa belajar berkata-kata gombal seperti itu? " kata Bella tersenyum manis.


"Haha, sudahlah, tidur atau kau ingin melakukan hal lain? "kata Angga.


"Tidak, kau harus bangun pagi besok kan? " kata Bella menarik selimut menutup tubuhnya lalu memiringkan badannya membelakangi Angga, sesegera mungkin berpura-pura tidur.


Angga tertawa melihat reaksi istrinya yang seperti itu, menyergap tubuh istrinya dari belakang, membuat hawa hangat tubuh Angga menyelimutinya, Angga berbisik sedikit, "Selamat tidur Nyonya Xavier. "


Bella tesenyum sedikit mendengar kata-kata Angga, lalu segera terlelap karena kenyamanan yang bisa dia rasakan.