
Aku bukan orang yang pandai berkata-kata, tapi diamku punya banyak makna, salah satunya adalah cinta
____________________________________________
"Boneka ini? Ini untukku? Benarkah?" kata Bella bahkan tidak percaya.
"Iya, ini untuk Anda."
"Wah! Aku menyukainya, lihatlah dia sangat empuk, aku ingin tidur di perutnya," kata Bella sambil memeluk perut boneka Teddy Bearnya, dia bahkan bisa tenggalam dalam kelembutan bulu boneka itu. Judy yang melihat tingkah Bella yang begitu hanya bisa tersenyum, dia benar- benar seperti anak-anak yang baru mendapatkan boneka pertamanya.
"Semua keperluan Anda akan segera di pindahakan kemari, baju-baju Nona Mika yang asli juga masih ada di sini, apakah Anda ingin memindahkannnya?" kata Judy.
"Tidak perlu, biarkan saja di sana, mungkin suatu saat akan berguna lagi," kata Bella, dia merasa mungkin Mika suatu hari nanti bisa saja kembali lagi, dia akan sangat marah jika tahu barang-barangnya sudah tidak ada hanya karena Bella membuangnya.
"Baiklah Nona," kata Judy.
"Aku sampai lupa, aku harus berterima kasih pada Angga," kata Bella segera melepaskan pelukannya dari boneka itu, lalu berjalan keluar menemui Angga di ruang tamu.
Saat Bella sampai di sana, Angga seperti biasa sedang sibuk dengan handphone, Angga memang selalu begitu, seolah-olah dunianya hanya ada di laptop dan handphonenya saja. Bella langsung berdiri di depannya. Angga yang mengetahui kedatangan Bella lansung teralihkan, melihat Bella yang tersenyum sumringah dengan ciri khasnya.
"Ada apa?" kata Angga menaikkan alisnya melihat kegirangan Bella yang begitu tampak.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih, Teddynya benar-benar imut, aku bahkan ingin tidur di perutnya," kata Bella tak bisa menutupi rasa bahagianya.
"Sama-sama"
"Bolehkah aku memberinya nama Gaga? seperti namamu?" kata Bella lagi.
"Silahkan, dia bonekamu, terserah padamu mau memberinya nama apa"
"Baiklah! terima kasih sekali lagi"
"Maaf, Menganggu Anda Tuan dan Nona," kata Asisten Jang.
"Ada apa?" kata Angga menatap Asisten Jang.
"Hari ini Tuang Raphael Tadder kembali mengajak Anda untuk makan siang di restoran Red Lotus karena kemarin Anda tidak bisa bertemu dengan beliau," kata Asisten Jang.
"Oh, benar, baiklah, aku akan menemuinya untuk makan siang," kata Angga, Angga melihat jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 11.15, dia lalu berdiri, sebenarnya ingin segera pergi dari sana, namun setelah melihat Bella, dia berhenti.
"Kau ingin ikut?" kata Angga.
"Ha? Aku? Apa aku boleh ikut?" kata Bella tak percaya, dia tadi tidak punya harapan sama sekali Angga akan mengajaknya.
"Aku sudah mengajakmu, tentu kau boleh ikut, " kata Angga lagi dengan nada datarnya.
"Tuan Raphael Tadder akan bersama istrinya, ini makan siang yang cukup formal, pakailan gaun," kata Angga lagi.
"Siap Tuan," kata Bella lalu segera meninggalkan Angga.
Dia sangat senang, karena ini pertama kalinya Angga mengajaknya makan siang, walaupun tidak berdua, tapi rasanya ini momen yang sangat langka, makanya dia benar-benar senang. Dia segera melihat beberapa gaun yang ada di sana, karena barang-barangnya belum dipindahkan jadi dia mengunakan baju Mika yang ada disana.
Gaun Mika tidak terlalu banyak, sepertinya dia benar-benar jarang mengunakan gaun, mungkin hanya pada acara-acara formal. Pilihan Bella jatuh pada dress A-line sederhana yang bagian atas dan lengannya see-through sesiku berwarna koral muda, dia segera mengunakan baju itu, ternyata baju itu sangat pas di tubuhnya, ternyata Mika punya ukuran yang sama dengannya. Dia lalu mengoleskan sedikit lipstick di bibirnya, mengunakan sedikit riasan mata, dan menata sedikit rambutnya, karena sekarang rambutnya hanya sebahu dia tidak begitu bisa menatanya.
Bella lalu melihat barisan sepatu yang ada di lemari Mika, dia punya banyak sekali koleksi sepatu dan tas, tapi hanya beberapa high heels, Bella lalu mengambil Stelleto berwarna nude, lalu mencoba memakainya, dia terkejut karena high heels itu benar-benar pas di kakinya yang putih dan bersih itu, seperti memang benar-benar dibeli untuk dirinya.
Setelah melihat dirinya lagi di kaca yang besar dan merasa sudah cukup, dia lalu keluar dan segera menuju ke ruang tamu, tidak ingin membuat Angga terlalu lama menunggunya.
Saat Bella datang, Angga sedang berbicara dengan Asisten Jang, namun begitu mendengar suara langkah kaki dari Bella, dia langsung melihat ke arah Bella, kali ini Angga benar-benar terpana, Bella benar-benar sangat cantik, terlalu cantik hingga bisa membuat seorang Angga tak berkedip, kulitnya yang putih sangat cocok dengan warna koral itu, wajahnya yang tak di ragukan lagi kecantikannya, bibirnya yang kecil dan merah, matanya yang indah walaupun tidak menunjukan keindahan yang asli, wanita ini benar-benar di takdirkan menjadi seorang putri. Angga terus melihat Bella dengan tatapan terpananya, membuat Bella yang di perhatikan seperti itu menjadi gugup sendiri. Apa dia cocok memakai baju Mika ini?
"Baiklah, aku meminjam baju Mika ternyata pas di tubuhku, Apakah cocok? Baju ku belum ada di sini," kata Bella yang sedikit gugup karena Angga melihatnya terus dan mencoba menjelaskan agar Angga tidak salah paham dia meminjam baju Mika.
"Ya, tidak apa-apa, sekarang yang ada di sini semua milikmu," kata Angga, dia bahkan tidak ingat kapan Mika pernah memakai baju seperti ini?, jika memang pernah, rasanya baju ini malah lebih bagus di pakai oleh Bella.
"Oh, Baiklah, " kata Bella
"Ayo, sekarang kita berangkat," kata Angga menutupi kekagumannya, dan segera pergi dari sana, seperti biasa Bella berjalan di belakangnya, diikuti Asisten Jang.
Asisten Jang menekan tombol lift, begitu lift terbuka Angga masuk kedalam, lalu di ikut oleh Bella. Saat mereka turun, lift mereka berhenti sebentar di lantai 12, saat pintu terbuka, ada 3 orang pria setengah baya yang ingin masuk, mereka terlihat liar menatap Bella yang awalnya berdiri di tengah, mereka terlihat tersenyum-senyum genit melihat Bella, Bella juga melihat ke 3 pria itu, dia tampak takut dan risih di perhatikan seperti itu.
Angga diam dan memperhatikan mereka, saat salah satu dari mereka masuk dan ingin berdiri di samping Bella, Angga segera menarik tangan Bella, lalu memposisikan Bella ke sebelah kirinya yang langsung berbatasan dengan dinding lift, sedangkan Angga berdiri menghalangi ke tiga pria itu, dia melirik pada 3 pria setengah baya itu dengan tatapan yang tajam dan mengintimidasi, suasana tiba-tiba saja menjadi sangat dingin dan menakutkan bagi mereka, membuat senyum genit mereka seketika berubah menjadi wajah kecut dan salah tingkah.
Saat pintu lift terbuka di basemen, ketiga pria itu buru-buru keluar meninggalkan Angga yang wajahnya sangat menyeramkan saat itu, dia lalu keluar dan segera masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan lift, Bella mengikutinya.
Mobil mulai berjalan keluar dari area apartemen itu, Angga terlihat masih buruk moodnya, sedangkan Bella ya tidak melakukan apapun kecuali menatap jalan-jalan itu.
"Raphael itu rekan bisnis yang paling penting, bersikaplah yang baik nanti," kata Angga.
"Oh, baiklah, apa ada yang harus aku lakukan di sana?" kata Bella lagi menatap Angga.
"Tidak, cukup jaga sikapmu, Raphael itu dari negara tetangga, dia juga dari keluarga terkaya di sana," kata Angga lagi.
"Iya, apakah dia sudah pernah bertemu dengan Mika yang asli?" kata Bella lagi.
"Tidak, Aku tidak pernah membawa Mika makan siang bersama clientku, Mika juga sering menolak jika aku ajak keluar terutama jika ada hubungannya dengan bisnis, dia lebih suka di rumah saja," kata Angga menjelaskan.
"Benarkah? Jadi kalian jarang keluar?" kata Bella lagi penasaran, bukannya kalau orang pacaran seharusnya sering keluar dan bersama-sama?