
Bella mendengar suara keras terkejut, dia langsung menghapus air matanya dan keluar dari kamar menuju ke arah suara. Beberapa pelayan yang ada di sana pun tampak berkumpul melihat apa yang terjadi, Bella lalu melihat Angga di ruang tengah, wajahnya sangat kesal dan marah, dia hanya memandang Bella sekilas, lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Bella melihat itu hanya diam, dia benar-benar sudah melukai perasaan Angga.
"Tuan Angga membuang foto Nona Mika." bisik seorang pelayan yang mengambil foto itu. Pelayan yang lain bergegas membersihkan pecahan kaca yang berserakan.
"Bolehkan aku saja yang menyimpannya." kata Bella.
"Eh, tentu Nona. " kata pelayan itu menyerahkan bingkai foto yang seukuran lukisan besar itu pada Bella.
"Kalian setelah ini istirahatlah, kalian sudah bekerja keras." Kata Bella lagi.
"Baik Nona."
Bella membawa foto Mika yang cukup besar itu ke kamarnya, meletakannya bersender di diding, dia kembali menatap wajah cantiknya.
"Kau akan kembali atau tidak? kalau kembali cepat lah, karena aku butuh kepastian." kata Bella berbicara pada foto Mika itu.
Tentu jawabannya tak ada, Bella menghempaskan dirinya ke ranjang. Apa yang terjadi jika tadi Bella langsung mengiyakannya? pikir Bella.
dia merenung, tak lama malah tertidur.
---****---
Bella membuka mata, posisi tidurnya masih seperti posisi kemarin, kakinya masih mengantung di ujung tepian ranjang, sedikit pegal, dia lalu melihat jam, masih jam 6 pagi, Bella lalu segera menuju jendela, ingin melihat Angga yang biasanya jam segini sedang berolah raga, tapi pria yang di carinya tak ada, halaman belakang itu kosong, kemana dia? pikir Bella.
Bella lalu masuk ke dalam kamar mandi, segera mencuci wajahnya dan mengosok giginya, merapikan sedikit rambutnya. Dia segera keluar dari kamarnya, menemukan Judy sudah dengan rapi berdiri di dekat pintu kamarnya.
"Selamat pagi Nona." Kata Judy memberikan salam.
"Pagi, ehm, di mana Tuan?" kata Bella
"Tuan masih di kamarnya belum keluar Nona."
"Tidak biasanya dia belum keluar jam segini?" kata Bella lagi.
"Ya, Tuan baru tidur setelah pukul 2 pagi, sebelumnya beliau berenang hingga dini hari." kata Judy menerangkan.
"Ha? dia berenang lagi? apa sekarang dia baik-baik saja? tidak sakit kan?" kata Bella cemas.
"Sampai sekarang Asisten Jang belum melaporkan keadaan Tuan, Nona."
"Ehm, baiklah." kata Bella.
"Tuan sudah menjadwalkan Tuan dan Nona akan pergi pukul 08.00 setelah sarapan." kata Judy lagi.
Bella segera menuju ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya, lalu dia mengunakan gaun abu tua dengan potongan A dengan gambaran ranting-ranting pohon, lengannya se siku, dan panjangnya di sedikit di atas lutut Bella, dia lalu sedikit mengunakan make up tipis, memoleskan bibirnya dengan lipstick berwarna soft pink, membuat wajahnya tampak lebih segar.
Setelah dia merasa cukup dan melihat jam sudah hampir pukul 7, dia segera mengambil high heels dan segera keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makan.
Saat menuju ke sana, dia sudah melihat Angga duduk di tempat biasa dia makan. Bella sedikit berhenti, menarik napasnya agak dalam, karena dia masih belum tahu harus bagaimana menghadapi Angga.
Bella lalu duduk di tempat biasa dia duduk, pelayan lalu membawa makanan dan minuman untuk Bella. Bella menatap Angga yang tampak tenang, dingin dan seperti tidak ada Bella di sampingnya. Sama sekali tidak melirik Bella. Bella tahu Angga masih marah padanya.
"Silakan Nona," kata pelayan itu pada Bella
"Terima kasih." kata Bella tersenyum pada pelayan itu.
Bella lalu melihat Angga lagi, sama sekali tidak terganggu oleh Bella, Bella yang merasa terabaikan hanya bisa memakan makanannya dengan perlahan, tidak bisa terlalu banyak makan karena merasa aura dingin di sana, seakan Angga dan Bella sama sekali tidak mengenal.
"Kita akan pergi sekarang." kata Angga, tak tahu berbicara dengan siapa? entah dengan Bella atau dengan Asisten Jang yang tampak kaget. Bella sedikit tersenyum, Angga memang selalu seperti ini jika marah, jadi Bella sudah cukup terbiasa dengan ke adaan dan nada dinginnya.
Bella lalu berdiri, mengambil tasnya, berjalan dengan Anggun mengikuti Angga yang sudah keluar dari sana. Judy langsung berjalan di sampingnya. Bella lalu melihat keluar, kenapa tidak ada mobil yang tersedia?
"Di mana mobilnya?" kata Bella menanyakan pada Judy.
"Kita tidak akan naik mobil nona, kita akan naik heli, karna tujuan kita cukup dari sini." kata Judy.
"Benarkah?" kata Bella terkejut, dia tidak tahu kalau akan naik Heli, sepertinya dia sudah salah kostum.
Helikopter sudah siap di halipad yang ada di halaman rumah Angga, Angga sudah berdiri sedikit jauh dari sana, Angga tak bisa tak melihat Bella, dia melirik Bella sedikit, kenapa pakai gaun? Apa dia tidak tahu akan repot mengunakan gaun saat naik Heli?.
"Bisakah menunggu aku ganti baju dulu?" kata Bella pada Judy, tapi Judy tak bisa menjawabnya, Judy melihat Angga. Bella ingin bertanya dengan Angga tapi Angga masih tampak dingin, dia urung melakukannya.
Angga lalu berjalan menuju helicopternya, Bella lalu mengkutinya, Helikopter ini telihat berbeda dengan helikopter yang biasa, interiornya tergolong cukup mewah dan lebar.
Bella lalu duduk di samping Angga, Bella belum pernah menaiki Helikopter, Judy membantunya untuk memakai sabuk pengamannya dan juga memakai headphone yang sudah tersedia, walau pun cukup nyaman Bella tetap merasa sedikit gugup
Bella duduk tegang di samping Angga, Angga yang melihat tingkah Bella tidak bisa mengabaikannya, apa lagi saat duduk, rok gaun Bella sedikit tertarik ke atas, menampakkan sebagian kulit putihnya dan di depan Bella ada Asisten Jang, Angga yang melihat itu hanya memasang wajah masamnya, Hah, gadis bodoh, masa pergi mengunakan baju seperti ini?.
Angga segera melepas jasnya yang berwarna biru tua, dia menutupi paha hingga kakinya dengan jas itu, Bella melihat itu kaget. Asisten Jang dan Judy pun hanya membuang pandangan mereka keluar.
"Lain kali jangan pakai baju ini lagi." Kata Angga masih terkesan dingin namun kelakuannya membuat hati Bella hangat, Bella tersenyum, ternyata walau pun semarah apa pun Angga padanya, dia tidak bisa tidak peduli pada Bella.
Setelah meletakkan jasnya, Angga kembali mengenakan sabuk keamanannya, dia memakai Headphonenya lalu setelah itu memegang tangan Bella yang terasa cukup dingin, mendapat perlakukaan seperti itu oleh Angga, Bella jadi menatap Angga terus menerus, Bella yang tadinya gugup dan tegang, merasakan hangat tangan Angga yang menjalar ke seluruh tubuhnya menjadi tenang seketika tak lama baling-baling helikopter itu mulai berputar, mereka meninggalkan kawasan rumah Angga.
Perjalan di atas helikopter bagi Bella cukup menakutkan, walaupun sebenarnya semua aman, tapi dia beberapa kali harus mengenggam tangan Angga dengan erat. Angga yang melihat ketakutan Bella, mau tak mau jadi luluh, emosinya di kesampingkannya.