
Semilir angin menerpa tubuh mungil Suri, dia bermain berkejaran dengan ombak-ombak di pantai depan rumahnya, tubuhnya yang putih memantulkan cahaya matahari, ikut berkilau bersamaan dengan permukaan laut hanya terlihat sedikit memerah karena panas, pakaiannya sudah basah kuyup, tapi tidak menyurutkan niatnya untuk bermain dengan air di sana. Dia begitu menyukai lautan, bahkan dari kecil dia sudah terbiasa bermain di tepian pantai ini. Senyumnya terus mengembang, bermain bola pantainya diawasi oleh Nadia.
"Suri! Ayo makan," Teriak Bella di beranda rumahnya. Suri segera melihat ibunya, dia berlari dengan langkah kecilnya, dia tumbuh dengan baik, bahkan semakin lama kecantikannya semakin bertambah, matanya yang indah turunan dari ibunya berbinar melihat ke arah ibunya, hidungnya yang mancung dan bibirnya yang kecil selalu merah bagaikan kelopak bunga mawar, rambutnya berwarna kecoklatan yang setengah basah terbang saat dia berlari.
Suri kaget ketika tubuh kecilnya tiba-tiba di sambar seseorang, dia langsung tertawa senang memunculkan lesung pipi yang dalam, dengan tangannya yang mungil, dia memegang wajah ayahnya yang sekarang mengendongnya, Angga membalas tawa anaknya dengan cubitan gemas di hidungnya.
Bella melihat dua orang yang paling penting dalam hidupnya sekarang berjalan menuju dirinya, dia hanya bisa tersenyum senang. Angga segera mencium Bella saat dia sudah ada di dekat Bella, membuat Suri sedikit cemburu dengan tingkah ayahnya, kenapa dia tidak di cium juga?.
"Papa," kata Suri dengan nada keberatan, kedua tangannya mencoba sebisa mungkin memisahkan ibu dan ayahnya.
"Kenapa? Suri juga ingin?" kata Angga bertanya pada anaknya. Suri hanya mengangguk dengan wajah cemberutnya, mirip sekali dengan ibunya.
"Haha, mandilah dulu, nanti papa akan menciummu," kata Angga.
"Tidak mau, cium," kata Suri manja, menyerahkan pipinya pada ayahnya untuk di cium. Angga tidak bisa menolak permintaan anaknya yang memandangnya dengan penuh harapan, dia segera mencium pipi Suri yang langsung tampak bahagia.
"Dasar, Anak papa, ayo, Suri mandi dulu," kata Bella, Angga segera menurunkan anaknya, Suri langsung patuh dan masuk ke dalam rumahnya, dia langsung di sambut oleh Nadia yang membantu Suri untuk mandi.
"Kau juga mandi," kata Bella melihat suaminya yang penuh dengan keringat. Baru saja pulang dari tempatnya bekarja.
"Kenapa? kau tidak ingin memelukku? Kau selalu memeluku saat pulang kerja dulu, apa karena aku tidak pakai jas lagi? "kata Angga melirik pada Istrinya, semenjak Suri ada waktu mereka tersita seluruhnya untuk Suri, apa lagi Suri tidak ingin sama sekali dijauhkan dari ayahnya yang sangat memanjakannya, jadi waktu untuk berduaan bagi mereka menjadi jarang.
"Tidak, jangan berkeliaran di rumah kalau bau mu seperti ini," kata Bella melirik Angga, dia langsung masuk ke dalam rumahnya, namun langsung dihentikan oleh Angga dengan cara memeluk pinggang istrinya dari belakang, Bella yang merasa Angga sangat berkeringat, hanya mencoba melepaskan diri.
"Kau mau ke mana?" kata Angga, memposisikan istrinya bersandar ke kusen pintu rumah mereka. Memandang wajah istrinya dengan dalam, sudah lama sekali rasanya mereka tidak saling pandang seperti ini.
"Kau bau keringat, mandi sana," kata Bella lagi menatap suaminya yang sekarang menghimpit tubuhnya, wajah Angga yang memerah dengan bulir-bulir keringat itu sebenarnya terlihat seksi.
"Sudah lama kita tidak bermesraan," kata Angga lagi mengoda istrinya.
"Kau ingin apa? nanti Suri dan Nadia Lihat," kata Bella menolak suaminya yang wajahnya semakin lama semakin mendekatinya.
"Dia sedang mandi," kata Angga lembut, menatap mata biru dan coklat Bella.
"Lalu? Mau apa? lagi pula di sini nanti ada orang yang …. " kata Bella, dan dengan cepat Angga membekap bibir Bella dengan bibirnya, selalu saja secerewet itu,pikir Angga. Padahal Bella juga akhirnya bisa menikmati ciuman Angga, walalupun dengan keringat dan lain-lainnya, Bella malah menikmati sensasinya. Tangan Angga terus memeluk pinggang kecil istrinya, sedangkan tangan Bella mulai dia kalungkan ke leher Angga.
"Papa! Papa!" teriak Suri dari dalam rumah saat dia berlari keluar dari kamar mandi dengan handuk kecilnya sebelum dia sampai ke tempat Angga dan Bella, mendengar itu Angga dan Bella segera melepaskan ciuman mereka, Angga tampak merasa tanggung, karena dia masih sangat menikmatinya, sedangkan Bella hanya bisa tertawa kecil, bukannya sudah dia katakan, Suri pasti mengganggu mereka.
"Suri, kenapa cepat sekali mandinya?" kata Angga yang ingin sedikit lebih lama bermesraan dengan Bella.
"No, aku ingin bersama Papa," kata Suri menatap Angga dengan matanya yang indah berbinar itu, wajahnya yang cantik nan imut itu pasti akan meluluhkan hati siapa pun yang melihat, jika di tatap seperti ini, mau semarah apapun Angga, dia langsung luluh.
---***---
Angga, Bella, dan Suri sedang makan siang, Bella dengan sabar menyuapi Suri dahulu baru dia makan, Namun Suri lebih tertarik melihat bukunya, sehingga Bella lebih lama menyuapi Suri. Angga yang melihat itu segera mempercepat makannya, agar bisa bergantian dengan Bella nantinya.
"Mama, aku ingin jadi seorang putri," kata Suri tiba-tiba, Bella dan Angga yang mendengarnya langsung sedikit kaget, Suri melihat ibunya dengan wajah serius.
"Kenapa Suri ingin jadi seorang putri? " kata Bella lembut.
"Putri itu cantik, punya gaun yang bagus, tinggal di istana, bukankah itu sangat indah? " kata Suri lagi menunjukkan buku cerita dongeng yang dia punya pada ibunya, Bella hanya tersenyum, sepertinya orang-orang seharusnya tidak lagi menulis betapa indahnya menjadi seorang putri, karena baginya, menjadi seorang putri adalah mimpi buruk yang pernah ada.
"Suri kan memang seorang putri," kata Angga yang baru saja selesai makannya, dia berpindah ke dekat Suri, " Sudah biar aku saja, makanlah," Angga mengambil piring Suri.
"Benarkah?" kata Suri tidak percaya melihat ke arah ayahnya.
"Ya, bagi papa dan mama, Suri adalah putri," kata Angga, Bella hanya tersenyum.
"Ya,tapi aku mau menjadi putri yang seperti di dongeng, mereka punya istana yang bagus, bisa makan di tempat yang bagus, lihatlah, mereka juga punya kapal sendiri yang sangat indah," kata Suri menunjukkan apapun yang ada di dalam bukunya.
"Suri mau semua itu? " tanya Angga.
"Ya, pasti sangat menyenangkan," kata Suri sambil membuka mulutnya saat Angga menyuapinya.
Angga hanya tersenyum, sejujurnya jika dia mau, dia punya itu semua, tentu saja, kekayaannya tidak kalah dari seorang raja.
"Hati-hati dengan apa yang kau inginkan Suri, hidup tidak seindah yang ada di buku dongeng," kata Bella pada Suri yang baru berumur 6 tahun itu hanya mengerutkan dahinya, tidak begitu mengerti kata-kata ibunya.
"Dia masih kecil, wajar jika bermimpi seperti itu, " kata Angga melirik Bella, dia mengerti kenapa Bella berbicara seperti itu pada Suri, Bella sangat membenci hidupnya yang dulu dan tidak ingin Suri merasakannya.
"Memangnya Suri tidak senang dengan hidup kita yang sekarang? "kata Bella lagi tersenyum pada anaknya. Suri melihat ke arah Ibu dan Ayahnya.
"Senang, Suri senang bersama mama papa," kata Suri dengan gayanya yang mengemaskan langsung tersenyum pada ibu dan ayahnya. Membuat Bella dan Angga tertawa.
"Tuan Devan, maaf, Ada seorang wanita yang mencari Anda," kata Nadia melaporkan keadaan.
"Wanita?" kata Angga bingung. Siapa wanita yang ingin bertemu dengannya?.
"Ya Tuan, dia mengatakan harus bertemu dengan Tuan Angga," kata Nadia lagi.
Bella dan Angga langsung saling berpandangan, di sekitar sini dia disebut Devan, bagaimana wanita itu tahu nama aslinya?.