
Awalnya aku tak peduli, diam-diam kau malah sudah ada di hati, tak tahu bagaimana cara kau menyusupi, yang pasti aku cinta kau bahkan rela mati.
__________________________________________
"Oh, maafkan aku, menyinggung tentang itu, kau harus mulai hidup baru Pangeran, menerima orang lain untuk masuk dalam hidupmu. "kata Bella menampakkan sedikit rasa simpatinya.
"Bagaimana dengamu Nona Mika, bisakah kau menerima orang lain dalam hidupmu? " kata Aksa membalikkan kata-kata Bella, Bella melirik Aksa dengan lirikan yang mengoda, lalu tersenyum manis.
" Kau mengodaku lagi pangeran Aksa? katakan padaku, apa kau ingin aku mengantikan Bella? "kata Bella tersenyum mengoda dengan suara lembut yang bagaikan alunan nyanyian yang merdu di telinga Aksa. Aksa tersenyum cukup lebar, senang dengan pertanyaan Bella itu.
Tiba-tiba bahu Bella di pegang dengan erat oleh seseorang dari arah belakangnya, ketika dia berbalik, sebuah tamparan sudah menyentuh pipi halus Bella, dia tampak sangat kaget.
Sania tampak berdiri di sana, tampak sangat marah hingga matanya memerah, menatap Bella bagaikan *******, wanita pengoda, berani-beraninya dia menanyakan hal tentang mengantikan posisi Bella, yang bisa mengantikan posisi Bella adalah dia! Sania.
Namun dengan cepat, sepertinya karma langsung bekerja, tanpa bertanya, tanpa mengatakan apapun, Aksa menampar Sania, menamparnya dengan sangat keras hingga kepalanya pusing dan bibirnya berdarah. Bella lebih terkejut dengan itu, bukan Bella saja, seluruh orang di sana terkejut. Pangeran menampar seorang wanita?.
Sania memegang pipinya yang panas, terasa mati rasa karena kerasnya tamparan itu, dia menatap Aksa dengan sangat marah, kebencian tampak pada matanya, tak tahu kebencian itu apakah di tujukan untuk Bella atau Aksa.
" Apa yang kau lakukan?! "kata Aksa yang tampak membela Bella.
"Aksa hanya kau ingat, aku punya mulut dan aku tahu apa rahasia kelammu,"kata Sania murka, dia bahkan tidak lagi memperdulikan begitu banyak pasang mata melihatnya.
Aksa menyipitkan matanya melihat Sania, giginya di gertakannya, tangannya mengepal, tampak sangat menahan emosinya, matanya memerah, tajam menusuk, menatap Sania. Sania juga menatapnya, tak peduli takutnya, Aksa tak mungkin membunuhnya di depan orang banyak.
"Kau tahu apa yang baru saja kau bicarakan? " kata Aksa.
"Aku sadar, dan kau wanita murahan! Apa yang kau katakan kemarin, kau bilang kau tidak akan mengoda Aksa, kenapa sekarang kau mengatakan hal tidak-tidak? "kata Sania menatap Bella dengan sorot mata yang ingin membunuhnya.
"Nona Sania, aku tidak mengoda siapapun, jika kau menganggap candaanku tadi adalah godaan, aku rasa kau terlalu melebihkan. Baiklah, terima kasih atas jalan-jalannya Pangeran, aku akan masuk, sudah saatnya jamuan makan malam." kata Bella yang pipinya masih tampak memerah, dia berjalan seolah tak ingin mencampuri urusan mereka. Aksa yang melihatnya pergi, hanya menatap suram, gagal sudah rencananya menarik hati wanita itu.
Dia mengalihkan wajahnya pada Sania yang masih tampak begitu emosi, menatap datar, tak menunjukkan emosinya. Dia lalu berbisik…
"Bagaimana jika besok kedua orang tuamu muncul sebagai headline utama di koran, meninggal secara teragis dalam kecelakaan? " kata Aksa berbisik dengan tenang, Sania mendengar itu wajahnya langsung berubah, dia tampak ketakutan, kalau ketakutan akan Aksa membunuhnya dia tidak akan terlalu gentar, tapi kalau sudah orang tuanya…
Aksa menatap Sania lagi, tersenyum sangat licik, Sania mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat, kenapa dia mau berurusan dengan pria ini?.
" Jadilah wanita yang baik, aku masih memberikanmu kesempatan,"kata Aksa, dia lalu pergi begitu saja, meninggalkan Sania yang masih mematung, tak bisa bergerak.
Mata Aksa awas memandang seluruh orang yang ada di sana, sampai dia menemukan sosok yang dia cari, dia lalu mengangkat sudut bibirnya, dengan cepat berjalan menujunya.
Bella dapat melihat Aksa yang menuju ke arahanya, dengan begitu lembut menatap pada Aksa, pipinya yang tadi di tampar Sania tampak sedikit bengkak.
" Apa kau tidak apa-apa? "kata Aksa peduli.
"Menurut Anda?, saya tidak nyaman berada di dekat Anda, maafkan saya,"kata Bella berdiri ingin meninggalkan Aksa, namun Aksa langsung menghalanginya.
"Nona Mika, maafkan kelakukan teman saya, saya sungguh-sungguh minta maaf, apakah Nona tidak ingin memaafkannya? "kata Aksa lagi.
Dia memperhatikan wajah Aksa yang tampak kepedulian, entah benar-benar peduli, atau hanya aktingnya saja, Bella tampak menyipitkan matanya, menatap Aksa, Aksa yang mengerti Bella sedang mengamatinya, tersenyum manis.
"Baiklah,"kata Bella.
"Mari makan bersama, "kata Aksa menjulurkan tangannya.
" Ya,"kata Bella, dia mengapai tangan Aksa, Aksa membawanya ke meja makan khusus yang sudah di siapkan oleh kerajaan. Meja makan itu lebih lebar dan tampak lebih spesial.
Aksa menarik kursi untuk Bella duduk, dengan anggun dia duduk, Aksa duduk di sampingnya, makanan mereka di hidangkan dengan cepat. Tiba-tiba handphone Bella berdering, dia segera mengangkatnya, matanya agak sedikit terkejut, namun dia segera mematikannya.
" Ada apa? "kata Aksa menangkap perubahan itu.
"Jadi? Apa kau ingin pulang sekarang? "kata Aksa dengan wajah suram.
"Tidak, aku rasa aku akan makan dulu bersamamu,"kata Bella tersenyum.
Aksa membalas senyuman itu dengan lebar, dia senang dengan perkataan Bella.
Tak lama Sania datang, dia membawakan dua minuman di tangannya. Bella dan Aksa menatapnya dengan tatapan heran.
"Kenapa kau yang membawa minumannya? " kata Aksa sedikit heran.
"Aku sudah melakukan hal yang tak pantas padamu dan dia, aku membawakan ini untuk kalian sebagai permintaan maaf,"kata Sania tersenyum manis. Dia meletakkan minuman itu, yang ada di tangan kanannya dia serahkan pada Aksa, sedangkan yang ada di kirinya, di serahkan pada Bella. Bella lalu mengambil minumannya, dia tampak hampir meminumnya, namun di urungkannya.
" Bagaimana jika kau memasukan sesuatu ke dalam minumanku? "kata Bella menatap Sania curiga.
"Apa maksudmu? "kata Sania, dia sedikit terlihat gugup, Aksa menatapnya dengan serius, melihat perubahan wajah Sania.
"Kau pernah melakukannya padaku kemarin kan? Aksa jangan-jangan minuman kita sudah di beri racun,"kata Bella pada Aksa. Aksa menatap Bella.
"Apa yang kau katakan?, kau benar-benar wanita licik,"kata Sania.
"Aku orang yang belajar dari pengalaman Nona Sania, dan aku tidak percaya lagi padamu soal minuman,"kata Bella.
" Waktu itu hanya kecelakaan, kau datang ke bar dan hanya minum jus, di bar itu mana ada minuman tanpa alkohol?. "kata Sania gugup.
"Kalau begitu, kau minum saja minumanku, aku akan minum milik Aksa, "kata Bella menatap tajam pada Sania, menyodorkan gelasnya, Bella lalu mengambil gelas yang di hidangkan untuk Aksa.
"Ayo, aku akan meminum ini, siapa tahu kau juga sakit hati pada Pangeran karena menamparmu begitu keras?"kata Bella menatap serius pada Sania, tangan Sania bergetar mangambil gelas Bella, saat Sania ingin meminumnya, dia melihat Bella juga sudah meminum minuman Aksa, Sania urung meminum minumannya.
Aksa yang melihat Bella benar-benar meneguk minumannya menjadi cemas, bagaimana kalau benar Sania sudah mencampur racun juga di minumannya karena dia sakit hati, maka yang akan mati adalah Mika, dia tidak ingin itu terjadi, entah kenapa rasanya hatinya sakit memikirkan itu, cemas menyelubunginya, dia baru kali ini merasakan perasaan seperti ini pada seorang wanita.
Aksa langsung menarik gelas itu, airnya tumpah ke tubuh Bella, namun ternyata Bella sudah menelan cukup banyak air di dalam gelas itu. Dia menatap Aksa dan Sania, pandangan mulai kabur, dan dia jatuh, untungnya saja Aksa segera menahan tubuhnya, kalau tidak dia sudah tersungkur ke lantai.
Semua orang yang melihat itu langsung kaget, Judy langsung menghambur ke arah Bella, Aksa tampak begitu cemas, Sania juga tampak begitu kaget, gelas yang ada di tangannya jatuh ke lantai dan pecah, membuat perhatian semua orang langsung tertuju pada mereka.
" Mika, Mika, bangun!"kata Aksa mengoyangkan tubuh Bella yang sangat lemah.
"Nona, bertahanlah, aku sudah memanggil ambulans, "kata Judy juga tampak cemas.
Semua orang mencoba membantu Bella, hanya Sania yang terdiam melihat keadaannya, terpaku.
" Kau! Kau juga ingin meracuniku! " kata Aksa keras, Sania tampak kaget karena suara dari Aksa itu, dia mengeleng pelan.
"Tidak, aku tidak melakukan apapun,"kata Sania tampak begitu gugup .
"Tangkap dia! Dia mencoba membunuhku!” kata Aksa memerintahkan pada para penjaga di sana, para penjaga yang mendapat perintah langsung menangkap Sania, memengang kedua tangannya, Sania yang masih tampak bingung dan syok dengan kejadian ini tampak kaget saat para penjaga menahannya, dia berontak sekuat tenaga.
"Aku tidak memasukkan apapun ke minumanmu! Aku hanya ingin membunuhnya, Lepaskan aku! aku bilang lepaskan aku!"kata Sania berteriak histeris, dia meronta-ronta ketika penjaga menyeretnya keluar dari ruangan itu.
" Apa ambulansnya tidak bisa lebih cepat?! " kata Aksa menyakannya pada Judy yang memegangi Bella. Judy hanya terdiam, melihat reaksi Judy, Aksa tak sabar, dia lalu mengendong tubuh Bella yang terkulai lemas, bahkan seperti tidak memiliki nyawa. Dia melihat wajah wanita itu sudah tampak pucat, dia segera menerobos orang-orang yang berkumpul, membawa Bella keluar, saat dia keluar ambulans sudah datang, dia segera meletakkan Bella pada tandu ambulans, saat dia ingin masuk ke ambulans, beberapa penjaga menghalanginya.
"Ada apa ini? "kata Aksa kesal, dia sedang cemas, kenapa malah dihalangi, Mika harus segera ditolong.
"Protokol kerajaan Pangeran, Anda tidak boleh keluar dari kerajaan karena cobaan pembunuhan ini," kata penjaga itu tegas.
Aksa menatap mereka dengan sangat tajam, tangannya mengepal, tapi dia tidak bisa apa-apa, kalau dia memaksa, maka kerajaan akan mengambil langkah tegas untuknya.
"Kau! jaga dia!" Perintah Aksa pada Judy yang sudah masuk ke dalam mobil ambulans, pintu itu tertutup, dan mereka segara pergi dari sana. Aksa hanya melihat kepergian ambulans itu dengan nanar, dia sangat cemas sekarang. Sania… wanita itu akan habis malam ini.