Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
50



Teruntuk cintaku yang masih bergelut dengan kasih semu, ku biarkan kau bermain-main dahulu, tapi jika kau sudah lelah dengan cinta-cinta palsu, tenang saja aku masih menunggu.


____________________________________________


Daihan awalnya ingin membawa Bella untuk makan berdua, namun Bella beralasan dia baru saja makan siang, jadi Bella menyarankan untuk kembali ke apartemennya, dan dia berjanji akan membuatkan makanan untuk Daihan, dan untungnya Daihan menyutujuinya.


Sebenarnya itu hanya alasan Bella, dia cukup tidak nyaman berjalan berdua dengan Daihan dengan cara seperti itu, apa yang akan di katakan oleh orang-orang?, mereka akan merasa mereka memang punya hubungan khusus, padahal Bella menganggap Daihan hanya sebagai kakak yang sangat baik. Apa lagi jika Angga mengetahui ini, untungnya dia sempat bilang ke Judy untuk tidak mengatakan apapun pada Angga, dan Judy menyetujuinya, dia takut Angga akan salah paham nantinya.


Bella segera menyiapkan beberapa bahan masakkan di dapurnya, Daihan permisi untuk menggunakan kamar mandi, dia ingin menyegarkan dirinya dulu sebelum makan, tak lama Daihan keluar, dia sudah menganti bajunya dengan kaos dan celana yang lebih santai, dia memang menyuruh asistennya untuk membawakan kopernya ke apartemen Bella, dia masih terlihat mengeringkan rambutnya, tampak lebih segar, bahkan wangi tubuhnya hingga tercium oleh Bella, menyeruakkan kesegarannya.


Bella menatap Daihan, pria ini bahkan dengan rambutnya yang acak-acakan saja tampak begitu manis, senyumannya selalu hangat, dan tatapannya yang lembut, Bella penasaran, berapa banyak wanita yang sudah luluh padanya.


" Tunggulah sebentar, aku sedang bersiap,"kata Bella tersenyum manis melihat Daihan yang sedang menatapnya dengan senyuman manisnya.


"Baiklah, tidak usah terburu-buru, aku suka menatapmu jika memasak seperti ini,"kata Daihan, kata-kata Daihan membuat Bella tertawa, pria ini benar-benar tahu cara menyenangkan wanita.


"Jangan mengoda begitu kakak, kau membuatku gugup,"kata Bella mengikat sedikit rambutnya, dia sudah memakai celemeknya, tampak aura keibuannya keluar dan Daihan menyukainya.


"Haha, aku benar-benar menyukaimu begini, aku bisa melupakan segalanya, dan akan menatapmu terus seperti ini,"kata Daihan lagi, membuat senyum di wajah Bella kembali mengembang.


Bell apartemen Bella berbunyi, Judy yang ada di sana ingin membukannya, namun Daihan segera mencegahnya.


"Biar aku saja, bantulah Nona Mika,"kata Daihan berjalan menuju ke pintu utama.


Senyum Daihan berubah ketika melihat Angga sudah berdiri dengan tatapan dingin di depannya, tatapan Angga begitu tajam seolah ingin menghabisi siapa saja yang ada di depannya sekarang, dan tatapan itu semakin tajam melihat Daihan yang tampak begitu santai, bahkan dia belum sempat merapikan rambutnya yang tampak berantakan, baru kali ini dalam seumur hidupnya dia tidak suka melihat Daihan.


" Siapa kak? "kata Bella dengan suara riangnya, menuju ke ruang depan sambil membuka celemeknya, wajah ceria Bella langsung berubah melihat wajah Angga yang sangat tidak enak di lihat, menatap tajam padanya, bagaikan ingin menelannya hidup-hidup. Bahkan Angga tidak perlu berkata apapun, Bella sudah tahu Angga sekarang  sangat marah.


"Angga, kenapa kau ada di sini? "kata Daihan yang sedikit bingung, jam segini bukannya jam kantor Angga, dan biasanya dia pasti sedang sibuk di kantornya, lalu untuk apa dia datang ke sini dengan wajah yang begitu tidak enak di lihat.


Angga tak bergeming, hanya kembali menatap Daihan dengan tatapan yang seolah berkata, aku yang harusnya bertanya begitu padamu Daihan, namun Daihan hanya membalas tatapannya dengan tenang, Angga lalu menarik tangan  Bella dengan kasar membuat Bella langsung keluar dari apartemen itu, namun langkah Bella terhenti ketika tangan yang lain di tarik oleh Daihan. 


Angga yang mengetahui itu langsung menatap Daihan, Daihan yang biasanya terlihat ramah itu tampaknya juga mulai emosi dengan kelakuan Angga. Sedangkan Bella meringis kesakitan karena tarikan kedua pria ini membuat tubuhnya tersentak.


" Lepaskan dia, "kata Angga dengan suara beratnya.


"Tidak, kami punya rencana yang lain, kau yang lepaskan dia,"kata Daihan serius, baru kali ini Bella melihat Daihan begitu serius, Bella yang di perlakukan seperti itu telihat serba salah dan bingung, menatap bolak-balik ke arah Daihan dan Angga.


" Lepaskan dia, jangan buat masalah denganku Daihan,"kata Angga.


Mendengar kata-kata Daihan, emosi Angga menjadi makin naik, apa maksudnya Bella bukan miliknya? Semua orang sekarang tahu bahwa Bella adalah Mika, dan Mika adalah pacarnya, dengan kata lain Bella ada miliknya, wanitanya.


"Lepaskan dia, dia wanitaku,"kata Angga dengan suara beratnya, melangkah maju ke arah Daihan, seolah menantang Daihan namun Daihan sama sekali tidak bergeming, seolah tak gentar atas tantangan Angga,


Mereka saling berpandangan dengan tajam.


"Aku tidak suka caramu memperlakukannya, dia bukan Mika, kau tidak bisa mengubahnya menjadi Mika, dia Bella, dan setauku dia bukan wanitamu,"kata Daihan lagi.


"Jadi kau mau apa? Kau menyukainya? "


"Iya, aku menyukainya,"kata Daihan dengan tegas, keseriusan dalam matanya terlihat.


Angga terdiam, menatap dalam pada sahabatnya itu, selama ini Daihan dan Angga tak pernah sekalipun berselisih seperti ini, biasanya Daihan adalah yang paling dewasa dari mereka, dia selalu mengalah pada Angga, jika Angga inginkan mainan yang di inginkan oleh Daihan, Daihan akan mengalah, namun kali ini, Daihan tidak akan mengalah, tidak akan pernah, karena Daihan benar-benar sudah jatuh cinta pada Bella.


Bella yang mendengar pengakuan Daihan juga terdiam, dia kaget, dia tidak tahu Daihan ternyata menyukainya, memang  Daihan begitu memperlakukannya dengan spesial, tapi dia kira apa yang dilakukan oleh Daihan padanya, juga Daihan lakukan pada Mika dan sejujurnya Bella sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada Daihan, dia benar-benar hanya menganggapnya kakak. Bella jadi sedikit sedih mengetahui bahwa Daihan menyukainya, sedih karena akan mengecewakan perasaan pria yang sangat baik itu.


"Baiklah, kita serahkan saja padanya, dia ingin ikut aku atau dirimu?,"kata Angga lagi dengan emosinya.


Sekarang dua pria itu melepaskan tangan Bella, dan menatapnya lekat-lekat, Angga menatap Bella dengan tatapan tajamnya, memperlihatkan bola matanya yang hitam kelam, sedangkan Daihan menatapnya dengan tatapan sendu lembut, seolah menunjukkan betapa dia menyukai Bella.


Bella bingung menatap  mereka berdua, dia tampak ragu sekarang, kepalanya sakit menghadapi situasi begini. Kenapa malah jadi seperti ini? Kenapa tidak seperti biasanya, bukannya Angga dan Daihan berjanji akan membantunya? Dan bukannya mereka sudah bersahabat dari kecil, Bella benar-benar merasa tidak enak karena sudah membuat dua sahabat ini bertengkar.


"Bagaimana? Kau pilih siapa? Jika kau pilih dia, maka kita sudahi semua ini, pergilah bersamanya, aku tidak akan melarang,"kata Angga dengan wajahnya yang dingin, namun sebenarnya saat dia mengatakan itu, dia sama sekali tidak rela, ada sedikit rasa takut jika benar Bella malah memilih Daihan. Dia tidak tahu harus apa jika itu benar terjadi.


"Bella, aku akan menjagamu, lepaskan semua ini, balas dendam tidak akan membuatmu membaik,"kata Daihan mencoba menyakinkan Bella agar Bella ikut dengannya.


Bella kembali menatap mereka berdua bergantian, bingung dan takut salah, jika dia ikut dengan Daihan maka semua yang sudah di usahakannya hingga hari ini akan sia-sia, dan Aksa dan Sania akan hidup bahagia di atas penderitaanya, dia belum bisa melepaskan perasaan itu, dia belum rela, benar-benar tidak rela hingga rasanya jika dia hidup bahagia sekalipun dengan Daihan nantinya, tetap saja ada yang menghantuinya nanti.


Bella mengigit bibirnya, menatap ke arah Angga, Angga tahu Bella sudah menentukan pilihannya, Angga tersenyum sinis menatap Daihan.


"Ayo,"kata Angga.


Angga lalu berjalan menuju ke lift yang ada di dekatnya sekarang, Bella pun berjalan menuju lift itu dengan tertunduk,  tidak berani melihat  wajah kecewa Daihan, dia masuk dan berdiri di belakang Angga, Angga tampak tersenyum puas, pintu lift pun tertutup, sebelum tertutup, Daihan tampak mengejar Bella, Bella bisa melihat wajah kecewa Daihan, ada perasaan sedih ketika melihat wajah kecewa Daihan, namun dia tidak punya pilihan apapun.


Daihan yang melihat kelakuan Bella tidak bisa menutupi kecewaannya, wanita itu belum bisa melepaskan semua rasa dendamnya, dia masih mengikuti emosinya, dia tidak menyalahkan Bella karena memilih bersama Angga, karena dia tahu Bella hanya masih buta, tapi  dia juga sedih, sepertinya usahanya untuk membuat Bella bahagia masih belum cukup, dia belum bisa meyakinkan Bella, walaupun tanpa membalaskan dendamnya, dia bisa membuat Bella bahagia, jauh bahagia dari yang pernah ada.