Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
81



Bella tampak tersenyum manis melihat kedua pria ini dengan patuh duduk di meja makan, Angga di kanannya, sedangkan Daihan di kirinya, namun lama-lama Bella jadi merasa cangung juga, mereka hanya melihatnya makan, bahkan mereka menatap Bella dengan sangat serius.


"Ehm… apakah kalian harus melihatku makan seperti ini? aku bahkan tidak bisa menelan makananku karena kalian menatapku seperti itu." Kata Bella bolak balik melihat Angga dan Daihan.


"Makan saja, jangan pedulikan kami." Kata Angga seperti biasa datar dan dingin.


"Ya, makanlah, kau baru saja sembuh, harus punya banyak energi." Dengan nada hangat yang selalu menaungi.


Bella jadi bingung di antara kedua sahabat kecil ini.  karena itu dia langsung memakan makananya cepat-cepat. Karena sedikit cepat, di ujung bibirnya terdapat sisa makanan. Daihan memperhatikan itu segera memberitahu Bella dengan cara menunjuk ke bibirnya, Bella tampak bingung dengan gestur Daihan, Daihan segera ingin mengambil tisu, namun Angga segera memegang dagu Bella, dan mengelap sisa makanan itu dengan ibu jarinya, melihat itu Bella langsung  kaget dan membelalakkan matanya, Daihan yang melihat itu juga terdiam dengan tisu di tangannya.


Angga tampak puas, kali ini dia tidak kalah cepat dengan Daihan, dia lalu mengambil tisu dari tangan Daihan dan mengelap jempolnya yang tadi mengelap bibir Bella. Bella yang melihat itu hanya diam saja, sepertinya dia salah mengundang keduanya untuk duduk bersama.


Setelah makan, mereka berdua mengikuti Bella ke mana saja, Bella jadi risih sendiri melihatnya, saat ingin ngobrol, mereka juga duduk mengapit Bella. Seperti anak-anak yang berebut mainan, dan bagaimana bisa 2 pria dewasa dimana yang 1 biasanya dingin dan yang 1nya lagi terlihat dewasa bisa terlihat sangat kekanank-kanakan sekarang. Melihat itu Bella jadi kesal.


"Aku ingin tidur! Kalian juga ingin mengapitku tidur?" tanya Bella menatap kedua sahabat ini.


"Baiklah, tidur lah, aku juga akan tidur." Kata Angga berdiri.


Daihan yang melihat itu juga berdiri.


"Kau tidur di sini?" kata Daihan.


"Ya, ini rumah ku, aku bebas tidur di mana saja."


"Kalau begitu aku juga tidur di sini."


"Tidak diizinkan." Kata Angga tegas dan dingin.


"Sudah, aku hanya ingin tidur, kalian mengobrol lah, seharusnya kalian lebih dekat, kan kalian sudah bersahabat dari kecil." Kata Bella kesal tapi mencoba melerai.


" Ngomong-ngomong ada yang ingin aku tanyakan padamu Bella, terakhir kali kita berhubungan, kenapa tiba-tiba memutuskan panggilan, dan tidak bisa di hubungi lagi?”kata Daihan, membuat langkah Bella urung di lakukannya, Bella melirik Angga sekilas.


"Oh, itu saat menelepon aku tak sengaja menjatuhkan handphoneku ke air," kata Bella berhati-hati mengatakannya, sekaligus sedikit menggamati wajah Angga, Angga mendengar itu menaikkan sedikit ujung bibirnya, pintar mencari alasan ya? Pikir Angga.


Daihan yang melihat kegugupan dari nada bicara Bella, mengalihkan perhatiannya pada Angga. Wajah Angga sudah berubah kembali dingin, seperti pegawas yang sedang mengawasi ujian.


"Kalau begitu beristirahatlah, aku tak akan mengganggumu malam ini,"kata Daihan menatap Bella lembut, Bella hanya tersenyum. Angga memperhatikan mereka berdua dengan mata yang agak di sipitkan. Dia tidak suka kata-kata Daihan. Karena jika begitu Daihan akan menganggu Bella di malam yang lain.


"Baiklah, akan aku antarkan kau ke luar," kata Angga dingin. Daihan tahu apa maksud Angga, dia pasti ingin mengatakan sesuatu padanya.


"Baiklah, aku tinggal dulu ya," kata Daihan sambil mengelus kepala Bella. Bella lalu tersenyum manis.


"Hei, berhentilah tersenyum, tidur!” Perintah Angga yang seakan tak bisa ditolak, Angga melemparkan tatapan tajamnya. Bella langsung manyun mendapat teguran itu, dan langsung meninggalkan tempat itu menuju kamarnya.


Daihan lalu keluar, Angga mengikutinya dari belakang, Angga menutup pintunya perlahan.


Daihan melihat Angga, Angga memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celananya, menatap dalam pada sahabat kecilnya.


"Apa Salahnya?” kata Daihan tenang, pembawaannya yang dewasa, membuatnya tampak mudah mengendalikan emosinya.


"Dia wanitaku sekarang, aku rasa siapapun tidak suka wanitanya berdekatan dengan orang lain,"kata Angga serius.


Daihan mengulum senyumnya, dia kembali melihat Angga.


"Apa dia sudah menerimamu?” kata Daihan seolah mengerti situasinya. Angga hanya diam menatap Daihan sinis, pertanyaan yang sangat telak baginya, kenapa sih Bella harus membuat syarat seperti itu?.


“Sedang dalam proses,"kata Angga seadanya.


"Selama dia belum menerimamu, dia masih bisa ku miliki, aku harap kau bisa menerima itu," kata Daihan dengan senyumannya. Angga juga tersenyum, namun senyumnya sinis, dia melirik ke Daihan.


"Ya, tapi aku pastikan dia akan menerimaku," kata Angga lagi.


"Baiklah,aku juga berusaha, tidak mengalah kali ini, satu lagi jangan pernah memaksanya, dan aku harap kau memang meyukainya karna dia Bella bukan Mika," kata Daihan lagi.


"Tenang saja, aku tahu perasaanku,"kata Angga sedikit menaikkan ujung bibirnya.


"Aku akan pulang sekarang, katakan padanya agar menjaga kesehatannya,”kata Daihan lagi.


"Baiklah,"kata Angga singkat, dia lalu melihat Daihan mulai meninggalkan tempat itu, menghilang di balik lift yang mulai tertutup. Dia hanya tersenyum sedikit, tidak menyangka Daihan yang dulu selalu ada di sampingnya, sekarang malah menjadi saingannya.


Angga masuk ke dalam apartermen kembali,. sedikit kaget melihat Bella yang menunggunya di ruang tamu, Bella sengaja menunggu di sana agar jika terjadi sesuatu, misalnya Angga dan Daihan bertengkar, dia bisa langsung melerainya, tapi yang dia temukan hanya senyap dan Angga masuk.


"Apa yang kau lakukan?" kata Angga menatap Bella yang tampak bingung.


"Kak Daihan sudah pulang?" kata Bella lagi.


"Ya, tidurlah." Kata Angga


"Baiklah. "


Bella lalu bersiap berjalan ke kamarnya.


"Hei!" kata Angga memanggil Bella lagi.


"Ya?" kata Bella menghentikan langkahnya, lalu berbalik melihat Angga yang ternyata sudah berada di depannya.


Angga segera memegang belakang kepala Bella, menarik kepalanya mendekat ke arah Angga,  mengecup lembut dahi Bella.


"Selamat malam." kata Angga tersenyum manis, menatap Bella yang hanya tediam diperlakukan seperti itu.


Setelah memperhatikan Bella sebentar, Angga langsung meninggalkan Bella  yang mematung tidak bisa bergerak. Momen seperti itu walaupun sederhana dan sejenak, namun sangat manis bagi Bella. Bella tersenyum senang, berbalik dan menuju ke kamarnya dengan bahagia, saking bahagianya dia sampai tidak bisa tidur.