
Aksa sedikit tersenyum, membuat wajahnya menjadi sedikit menyeramkan menurut Bella.
"Dia ingin membunuh seorang pangeran, menurut Anda apa lagi hukuman yang cocok untuknya." Kata Aksa tersenyum sinis.
"Ya, mungkin…ehm… aku hanya berpikir itu hanya keterlaluan, dia masih muda, aku tidak bisa membayangkan perasaannya sekarang." Kata Bella, kengerian akan kematian itu terasa lagi diseluruh tubuhnya, entah kenapa dia malah membenci apa yang sudah dilakukannya.
"Hati Anda hanya terlalu lemah Nona Mika, sayangnya tidak ada yang bisa aku lakukan, dia melakukan itu di dalam istana, aku tidak bisa membantunya." Kata Aksa tenang saja.
Bella menatap Aksa, pria ini bagaimana bisa begitu tenang?, dulu saat dia meleyapkan Bella, tidak sedikitpun ada belas kasih di matanya, sekarang pun begitu, Bella kira dulu Angga begitu menyukai Sania, hingga demi bersama dengannya, Aksa tega membunuh Bella. Tapi sekarang, Bella merasa dirinya dan Sania hanya korban dari Aksa.
Pria yang paling tak punya hati di dunia ini. Kenapa nasibnya seburuk ini bisa berhubungan dengan pria semacam Aksa ini, sepertinya dia menyesal berurusan lagi dengan pria ini, jika saat itu dia memutuskan untuk tidak mengikuti dendamnya, dia pasti tak punya hubungan lagi dengan pria gila ini.
"Benarkah? sama sekali tidak ada yang bisa Anda lakukan?" kata Bella lagi.
"Kenapa Nona Mika? sepertinya Anda ingin membelanya, bukannya seharusnya Anda senang, orang yang sering menyelakakan Anda akan hilang dari bumi ini." kata Aksa lagi.
Bella kembali terdiam, dia seperti menelan pil pahit, kenapa kata-kata Aksa itu menusuk hatinya, seperti mengambarkan dirinya orang yang sangat jahat… kenapa sekarang dia merasa apa yang dia lakukan tidak lebih baik dari pada yang di lakukan Aksa dan Sania malam itu?, sepertinya memang Bella dan mereka sama saja.
"Kapan eksekusinya?" kata Bella tersekat, hatinya benar-benar tak nyaman.
"Belum di tentukan, sekarang dia sedang mendekam di penjara kota." Kata Aksa santai sambil menyandarkan tubuhnya di sofa itu.
"Apakah aku bisa bertemu dengannya?" kata Bella dengan wajah cemas, dia benar-benar merasa sudah membuat kesalahan.
"Untuk apa?"
"Hanya ingin melihatnya." Kata Bella lagi.
"Baiklah, aku akan menemanimu."
"Tidak, aku akan menemuinya sendiri."
"Kenapa?" kata Aksa mengerutkan dahinya.
"Aku akan pergi sendiri, akan sangat canggung jika bersama denganmu, Tuan Aksa."
"Sayangnya, jika ada orang yang ingin melihatnya, hanya boleh dengan izinku Nona Bella, jadi jika memang Anda ingin bertemu dengannya, Anda harus bersama saya."
"Benarkah?" kata Bella berpikir, bola matanya tampak bergerak-gerak ke segala arah, seolah mencari cara bagaimana bisa bertemu dengan Sania tanpa Aksa.
"Ya."
"Tuan Aksa, aku rasa aku harus pulang sekarang, apa ada lagi yang ingin Anda bicarakan?" kata Bella terlihat gelisah, Aksa memperhatikan gerak gerik Bella yang sedikit mencurigakan menurutnya, tidak seperti biasanya Bella yang selalu percaya diri dan tenang, kali ini terlihat seperti orang yang habis tertangkap basah.
"Baiklah, aku rasa aku hanya ingin menyampaikan itu, melihatmu sudah sembuh, aku sudah tenang." Kata Aksa berdiri, dia mengulas senyum manis, Bella juga mengikutinya, hanya saja tak membalas senyumannya. Aksa sekali lagi memperhatikan Bella, biasanya gadis ini selalu punya senyuman maut, tapi kali ini dia bahkan terlihat sedikit pucat.
Aksa tak menunggu lama, dia lalu berjalan keluar, Judy membukakan pintu dan langsung menutup pintunya. Bella langsung menghirup napas dalam-dalam, terasa sangat sesak saat tadi berhadapan dengan Aksa, nyeri di tubuhnya terasa sekali, apa yang sudah di buatnya? Ternyata yang dikatakan Daihan benar, dengan membalas dendam artinya Bella tidak beda dengan mereka. Kenapa sekarang kepalanya jadi pusing…
"Nona Anda tidak apa-apa?" kata Judy yang memperhatikan kondisi Bella.
"Tidak… Judy, apakah ada kabar dari Angga?" kata Bella tampak cemas.
"Belum Nona, jika Anda mau, saya bisa melaporkan keadaan Anda, tadi Asisten Jang mengatakan Tuan Angga sedang ada pertemuan penting, tidak dapat diganggu."
"Jangan, bisakah kita menunggu saja di rumah."
"Ya Nona."
"Baiklah, aku ingin pulang sekarang."
Disepanjang jalan Bella hanya bisa terdiam, mengenggam tangannya sendiri, pikirannya jauh terbang, bagaimana keadaan Sania sekarang?, sejahat-jahatnya Sania di dalam pikiran Bella tapi dia tetap tidak tega memikirkan bagaimana keadaanya. Mungkin memang benar, hati Bella sangat kecil untuk bisa membalas dendam, bahkan pada orang yang sudah membunuhnya pun dia begitu khawatir.
\*\*\*\*\*\*\-\-\-\*\*\*\*\*\*
Angga duduk dengan sedikit santai di rumahnya, hari ini Jofan memberitahukan bahwa dia akan datang ke rumah Angga. Setelah menunggu tak terlalu lama, Asisten Jang melaporkan pada Angga bahwa Jofan sudah datang.
Angga melirik sedikit ke arah Jofan yang masuk ke ruang tengah rumahnya. Angga masih sedikit sibuk dengan bebarapa hal di laptopnya.
Jofan sedikit terhenti melihat foto Mika yang masih terngantung besar sekali di ruang tengah itu, alisnya sedikit bergelombang, seolah ada banyak tanda tanya di otaknya sekarang.
"Kau masih memajang foto Mika? bagaimana dengan gadis lain yang bernama Mika itu jika melihatnya." Kata Jofan tak lepas melihat foto itu, walaupun tak sedekat Angga dan Daihan, Jofan cukup mengenal wanita itu.
Angga melirik ke Jofan sebentar yang akan duduk di salah satu sofa di sana, Angga lalu menatap foto Mika yang tergantung di sana. Semenjak Bella datang dihidupnya, dia sadar dia sudah tak pernah lagi memandang foto Mika lagi. Benar kenapa dia masih memajang foto itu? mungkin hanya terlalu biasa ada di sana.
"Ehm… Namanya Bella." Kata Angga mengalihkan pandangannya dari foto itu, lalu menutup laptopnya.
"Maksudmu?" kata Jofan agak bingung, dia sampai mengangkat tubuhnya lebih condong ke Angga.
"Nama gadis yang aku temukan di pantai itu Bella, dan dia adalah Putri Alexandrite." Kata Angga menjelaskan dengan tatapan seriusnya.
"Kau serius? Jadi dia itu… dia itu seharusnya menjadi istri Aksa?" kata Jofan kaget. Dia mengenal Aksa, sebagai sesama Don Juan, dia sudah lumayan dekat dengan Aksa.
"Ya."
"Oh, jadi dia bunuh diri karena melihat tingkah suaminya seperti itu, aku mengerti, siapa sih wanita yang mau dengan pria seperti itu?." Kata Jofan, Angga menatapnya dengan tatapan yang seolah berkata, kau tidak berkaca.
"Woh, jangan menghakimi, aku memang suka bertualang, tapi jika nanti aku menikah, aku akan setia selamanya, kau bisa lihat itu nanti." Kata Jofan dengan begitu peracaya diri.
"Dia tidak bunuh diri, dia dibunuh oleh Aksa dan Sania, wanita yang sekarang akan di adili karena mencoba membunuh Aksa." kata Angga lagi.
"Kau serius? Wah, sudah berapa kali mengatakan 'kau serius' hari ini?, tapi aku benar-benar terkejut, Aksa membunuh Bella bersama dengan Sania, tapi akhirnya Sania akan diadili karena ingin membunuh Aksa. mengapa begitu rumit?" kata Jofan bingung.
"Ya, semenjak aku menolong Bella, aku mengatakan akan membantunya untuk balas dendam, karena itu aku izinkan dia memakai identitas Mika."
"Ok, to the point saja, apa yang kau ingin aku lakukan sekarang?"
"Ayahmu ingin kau menjadi Presiden di pemilihan kali ini bukan? Aku akan mendukungmu, kau tahu itu artinya itu kan?." kata Angga memandang Jofan serius, mendengar itu Jofan juga jadi serius.
"Apa maumu?"
"Aku ingin mengunakan kekuasaan ayahmu untuk mencabut hak istimewa kerajaan. Jika itu terjadi, aku akan mendukung semua langkahmu, selain itu aku juga akan membuat hal ini menjadi salah satu yang dapat mendukungmu, memastikan kau pasti akan menjadi Presiden."
Jofan tampak berpikir, melirik sekilas pada Angga yang juga tampak begitu serius, Jofan lalu duduk lebih tegak, dan bersandar ke sofa.
"Permintaanmu cukup berat dilakukan, kau tahu bagaimana kuatnya mereka bukan?." Kata Jofan saling menyatukan kedua tangannya dengan jari-jari yang terenggang, wajahnya masih tampak berpikir serius.
"Aku tahu, tapi keadaan masyarakat sekarang sudah agak kacau, kepercayaan mereka sedikit demi sedikit sudah mulai luntur pada kerajaan." Kata Angga.
"Maksudmu video tentang peracunan Aksa dan juga pemukulan Sania itu? Itu belum cukup untuk mencabut hak mereka. Harus ada lagi yang lebih mendorong masyarakat untuk melakukan pemeriksaan pada pihak kerajaan." kata Jofan lagi.
"Bagaimana dengan kasus Bella?" kata Angga.
"Bisa di pertimbangkan, namun kita tidak punya bukti yang bisa dilihat masyarakat, zaman sekarang masyarakat lebih tersulut dengan video dari pada harus membaca. Kita harus mendapatkan bukti yang lain. Jika kau bisa mendapatkannya, aku akan segera melancarkan rencana ini. By the way…untuk apa ini semua?" kata Jofan lagi.
"Aku ingin masalah pembunuhan kedua orang tuaku di usut tuntas."
"Baiklah, aku akan mencari celah bagaimana cara agar kita bisa dapat bukti yang lain, ehm… kalau menurutku, Sania itu adalah kuncinya." Kata Jofan lagi sedikit tersenyum sinis.