
Angga terbangun karena siraman air dingin ke wajahnya, dia mengoyangkan kepalanya, kedua tangannya terikat erat di belakang, dia di dudukkan di sebuah kursi, mulutnya di bekap sehingga dai tidak bisa berbicara, dia melihat ke sekeliling, ruangan itu sempit dan remang-remang, lembab dan sangat sumpek terasa, di dalam sana ada 3 orang pria, namun Angga tidak bisa melihat muka mereka. Dia berusaha berontak, namun dirinya terikat sangat erat pada kursi itu, selain itu luka pada lengan atasnya masih terbuka, mengeluarkan darah yang banyak, di sekujur tubuhnya juga penuh dengan luka-luka kecil bekas dari kecelakaan kemarin.
"Aku tidak menyangka seorang anak yang datang padaku dulu sekarang bisa seperti ini? " suara Raja Leonal cukup mengema di sana, siluetnya berjalan mengitari Angga, Angga hanya bisa memperhatikannya.
"Angga, dari dulu aku sangat menyukaimu, benar-benar anak yang tangguh, seandainya kau adalah anakku, aku akan sangat bangga padamu, "kata Raja Leonal lagi berbisik dari belakang, tepat di telinga Angga, membuat Angga berontak ingin melepaskan dirinya, namun tangannya yang masih terluka membuat tenaganya berkurang. Raja Leonal langsung membuka penutup mulut Angga.
"Jangan buang-buang energimu, kau tak akan bisa lepas,"kata Raja leonal kembali mengitari Angga, dia lalu segera mencengkram luka di bahu kanan Angga, Angga berteriak tertahan merasakan nyeri yang bahkan sampai ke ubun-ubunnya. Mata Angga memerah menahan rasa sakit dan emosinya, tubuhnya bergetar hebat.
"Aku sudah memintamu untuk datang secara baik-baik, namun kau selalu menolaknya, dan malah melakukan perlawan-perlawan yang bisa aku bilang cukup membuatku terkejut, " ujar Raja Leonal mengambil rokok, salah satu dari mereka segera nyalakan rokok itu untuk Raja Leonal. Angga hanya memperhatikan Raja Leonal dengan mata tajamnya yang penuh emosi.
" Di mana Bella? " kata Angga, karena hanya Bella lah yang ada di pikirannya begitu dia sadar, dia tidak peduli tentang dirinya atau keselamatannya, dia hanya ingin tahu di mana Bella berada?.
Raja Leonal mengerutkan dahinya, dia lalu melihat Angga dengan tatapan merendahkan, dia lalu tertawa dengan keras.
"Bella? Kau ingin tahu, mungkin anakku sedang bersenang-senang dengannya, " kata Raja Leonal menghembuskan asap pada wajah Angga, Angga mendengar itu makin emosi.
"Kalau kalian menyakitinya! Kalian akan menerima akibatnya! " Teriak Angga.
"Akibat apa? Bahkan kau sekarang sangat tidak berdaya Angga, " kata Raja Leonal mematikan api rokoknya pada luka di lengan atas Angga, membuatnya harus menahan sakit yang amat sangat, namun dia tidak ingin berteriak, hanya bisa menahannya dengan diam. Dia menatap Raja Leonal dengan sangat sinis, benar-benar tak bisa lagi menahan rasa marahnya.
"Aku akan menyerahkan darahku padamu, asal kau menyerahkan Bella padaku? " kata Angga lagi.
"Angga, aku melakukan ini bukan untuk berdiskusi denganmu, lagi pula, siapa yang akan bisa menolak wanita secantik Bella?, aku sekarang bisa mendapatkan yang ku mau dari mu dengan mudah, setelah aku mendapatkannya, kau sudah tidak lagi berharga, aku tidak perlu persetujuamu untuk mendapatkannya, ambil darahnya!" kata Raja Leonal.
Beberapa orang segera mendekati Angga dengan segala perlengkapan yang ada, beberapa orang segera membuka ikatan tangan Angga, Angga yang melihat kersempatan itu segera melayangkan tinjunya pada salah seorang di sana, namun karena dia terluka, tenaganya tidak seperti biasanya, sehingga dia dengan cepat dia bisa di atasi.
"Buat saja dia pingsan agar lebih gampang untuk di tangani, "kata Raja Leonal sambil santai menghisap rokoknya, Angga segera di lepaskan namun dengan cepat tubuhnya bergetar hebat, dia kejang karena disengat oleh alat penyetrum, tak lama tubuhnya lunglai dan Angga segera pingsan kembali.
Tubuh Angga segera diletakkan di kursi itu lagi, tim yang ada di sana segera mengecek pembuluh darah Angga, tampak bekas luka karena pengambilan darah beberapa hari yang lalu.
"Di lihat dari luka di tangannya, sepertinya dia baru mendonorkan darahnya beberapa hari yang lalu, "kata salah satu tim medis yang ada di sana.
"Lalu? Apa dia tidak bisa di ambil lagi darahnya? "kata Raja Leonal.
"Pengambilan darah akan sangat berbahaya pada tubuhnya, belum lagi dia sudah cukup kehilangan banyak darah karena luka di tangannya, jika terus di ambil, bisa-bisa tubuhnya akan trauma dan syok," kata Dokter itu menjelaskan pada Raja Leonal.
"Menurutmu aku peduli, hisap saja seluruh darah yang ada di tubuhnya, aku tidak peduli dia mati atau bagaimana, jika kau tidak ingin melakukannya, kau tahu sendiri kan akibatnya?" kata Raja Leonal enteng.
"Baik, "kata dokter itu gugup, dia langsung menancapkan jarum itu pada nadi di lipatan tangan Angga, darah langsung keluar dari selang itu dengan cepat menuju kantung darah. Raja Leonal yang melihat itu terlihat senang, awalnya dia ingin menunggu namun tak lama dia keluar.
"Detak jantungnya semakin cepat, napasnya juga semakin cepat dokter, kalau di biarkan dia akan jatuh ke keadaan Hipovolemik syok, darah dari lengannya juga tidak berhenti, " kata salah satu asisten dokter di sana, dokter itu terlihat panik, dia tidak mungkin membiarkan orang ini mati walau pun nyawanya juga menjadi taruhan.
"Kita hentikan saja, "kata dokter itu cepat-cepat memutus aliran darah dari selang itu.
"Tapi kita hanya punya 3 kantung darahnya, " kata Asisten itu.
"Tidak apa-apa, kita akan katakan hanya ini yang kita dapatkan,"kata Dokter itu langsung menyudahi segala prosedur pengambilan darah itu. Dia cepat-cepat mencabut jarum itu dari tangan Angga, dia segera menutup lukanya.
"Bagaimana dengan luka yang ini? " kata Asistennya.
"Kita tidak bisa melakukan apa pun untuk luka itu, tekan saja arterinya, jika tidak mau menutup, kita tidak bisa apa-apa, mungkin dia memang akan mati,"kata Dokter itu melihat wajah Angga yang sudah sepucat kapas.
Tak lama Raja Leonal, dia melihat dokter itu sudah selesai mengambil darah Angga, dia mengerutkan dahi.
"Sudah? " kata Raja Leonal menatap dokter itu, dia juga melihat Angga yang sudah lemas, lemah, dan pucat pasi.
"Kami sudah mengambil 3 kantong darahnya, aku rasa ini cukup untuk penelitian dan membuat obat untuk Anda, "kata dokter itu tampak gugup.
"Baiklah kalau begitu," kata Raja Leonal, dia lalu mendekati Angga yang sudah tak sadarkan diri, dia lalu berbisik tepat di telinga Angga, " Jangan bilang aku tidak punya hati, aku akan membiarkan kau hidup, jadi bukan salahku jika nantinya kau mati. "
"Suntikan dia obat itu, aku tidak mau dia bertingkah lagi jika nanti dia selamat, " kata Raja Leonal, penjaga Raja Leonal menyerahkan sebuah obat cair pada dokter itu.
"Tuan, ini bisa sangat berbahaya jika di suntikkan, dia bisa mengalami kerusakan otak dan kematian,"kata Dokter itu kaget dengan apa yang di bacanya.
"Perlukah aku ingatkan tugasmu hanya menuruti perkataanku, jika kau tak mau, kau pun akan ku suntikkan obat itu,"kata Raja Leonal tenang di antara kebulan asap rokoknya.
Dokter itu diam, tentu dia tidak mau sampai obat itu masuk ke dalam tubuhnya, dengan tangan bergetar dia segera mengambil obat itu dari tempatnya, dan segera menyuntikannya ke aliran darah Angga.
Obat itu bereaksi sangat cepat, Angga segera terserang kejang, seluruh tubuhnya kejang, dokter itu melihatnya dengan sangat khawatir, Pria ini tidak akan bisa bertahan, di mana tubuhnya terluka, dia juga kekurangan darah, di tambah efek dari obat mematikan itu, dia tak punya kesempatan lagi.
Melihat tubuh Angga yang kejang, Raja Leonal sepertinya sangat menimatinya, tawa puasnya membahana di seluruh ruangan, membuat dokter itu merinding mendengarnya, dia benar-benar menyesal sudah ada di ruangan ini.
"Buang dia, aku tidak mau ruangan ini menjadi bau bangkai,"kata Raja Leonal masih di selingi tawa jahatnya, dia langsung keluar, dokter itu melihat tubuh Angga yang masih kejang hanya bisa melihatnya, diam-diam dia mengambil kertas obat yang tadi di suntikkannya, dia lalu menyelipkannya ke saku celana Angga, berharap jika nanti dia selamat, yang menyelamatkannya akan mengetahui obat apa yang sudah di suntikkan ke tubuh Angga, dan mereka bisa mencari antidotnya. Dia hanya bisa berharap itu.
Setelah tubuh Angga berhenti kejang, detak nadinya sudah tak teraba, tubuhnya dingin, nadi di lehernya pun sangat-sangat lemah, dia tidak punya kesempatan apa pun lagi, setelah dokter mengeceknya, para penjaga segera membopong tubuhnya keluar dari ruangan itu, melemparkan tubuhnya ke mobil, dan mereka membuangnya begitu saja di pinggir jalan bebas hambatan.