Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
31



Bukan aku tak suka akan bahagia dan tawamu, yang tak bisa ku terima adalah sumber tawa itu bukanlah aku.


____________________________________________


Angga terhenti mendengar nada suara Bella yang begitu senang, dia tidak senang...


Judy menyuruh berberapa penjaga memindahkan karangan bunga itu ke kamar Bella, Bella mengikuti proses pemindahan itu dengan sangat senang. Dia lalu ingat belum mengucapkan terima kasih kepada Daihan, jadi ketika melewati ruang tengah, dia berhenti mengambil handphonenya lalu menelepon Daihan.


"Halo, kakak," kata Bella dengan begitu semagat dan senang.


"Apakah sudah sampai?" kata Daihan tesenyum.


"Sudah, Terima kasih kakak, aku suka sekali, bagaimana kakak tahu aku suka Teddy bear?" kata Bella lagi


"Kemarin saat di Mall aku lihat kau menatap boneka Teddy bear itu, jadi aku pikir kau pasti menyukainya," kata Daihan.


"Wah, kakak begitu perhatian..." kata Bella, belum selesai dia bicara, tiba-tiba Angga yang sedang ada di tangga langsung menyelanya.


"Bersiaplah, dokter itu bilang jam 8 dia sudah ada di tempat," kata Angga, membuat perhatian Bella ke arahnya, padahal tadi dia sedang senang-senangnya, tapi melihat wajah dan perkataan Angga yang begitu dingin, dia jadi terdiam.


"Baiklah, aku akan bersiap sebentar lagi," kata Bella lagi menanggapi Angga.


"Sekarang, Aku tunggu 15 menit dari sekarang," kata Angga.


Mendengar itu, Bella sedikit kesal, Angga memang bisa menghancurkan kesenangan orang dalam sekejap, padahal dia sedang bicara dengan Daihan, ingin menekspresikan betapa senangnya dia mendapat karangan bunga Teddy bear itu. Sedangkan di tempat lain, Daihan hanya bisa tersenyum kecut mendengar perkataan Angga dan Bella.


"Kakak, Aku sepertinya sudah harus pergi ke dokter, maaf ya, nanti aku telepon lagi, terimakasih sekali lagi, " kata Bella,


"Baiklah, Hati-hati di jalan," kata Daihan.


"Iya kakak," kata Bella kembali dengan suaranya yang begitu ceria dan semangat.


Angga masih menatap Bella yang tampak begitu senang, menatap Bella dengan sangat dingin, hanya mendapatkan karangan bunga seperti itu saja sudah begitu senang?, pikir Angga lagi.


Bella bersiap-siap, setelah itu dia keluar dan benar saja Angga sudah menunggunya di dalam mobil, dia segera masuk kedalam mobil itu, Angga memperhatikan Bella, raut wajah senangnya masih terlihat jelas, membuat mood Angga makin buruk, dia tidak tahu kenapa? Dia hanya tak suka Bella bersikap begitu kekanak-kanakan, Mikanya walaupun ceria dan selalu tersenyum, namun untuk bersikap, dia terlihat dewasa, berbeda dengan Bella.


"Lain kali bersikaplah lebih dewasa, jangan terlalu kekanak-kanakan seperti tadi," kata Angga dengan suara dinginnya.


"Maaf, Maaf, hanya saja aku begitu senang, walau mawar putih bukan bunga kesukaan ku, tapi aku sangat menyukai Teddy bear," kata Bella masih dengan wajah sumringahnya.


"Kau harusnya suka mawar merah," kata Angga.


"Iya, aku tahu, menurut berkas itu bunga kesukaan Mika, tapi apakah kau pernah tahu mungkin Mika suka bunga yang lain?" kata Bella yang ingat kata Daihan, Mika itu menyukai bunga Anyelir merah.


"Tidak, dia hanya menyukai mawar merah," kata Angga tanpa mengubah sikapnya, dingin dan menatap lurus ke depan.


"Oh, begitu..." kata Bella yang sedikit mengerutkan dahinya, bukannya mereka sudah berhubugan 5 tahun, bahkan Mika ikut dengan keluarga Angga dari kecil, tapi kenapa Angga sama sekali tidak tahu tentang kesukaan Mika? Apa selama ini Mika banyak menutupi segalanya dari Angga?


"Kenapa kau suka Teddy bear?" kata Angga lagi, kali ini nada bicaranya sudah mulai melembut.


"Dulu sewaktu kecil, ibuku membawaku ke sebuah tempat perbelajaan, aku merengek minta teddy bear, tapi ibuku tidak memberikannya," kata Bella menerawang ingatan masa kecilnya yang tersisa, seulas senyum tipis ada di bibirnya, matanya memancarkan kerinduan, Angga yang dari tadi terlihat cuek dan dingin, mendengar itu lalu menatap Bella.


"Apa kau ingat tentang masa kecilmu?" kata Angga.


"Tidak, aku tidak ingat, aku juga sudah mencoba mengigatnya, tapi tidak ada apapun yang muncul, " kata Bella, ada kesedihan dalam suaranya.


"Oh, baiklah," kata Angga tidak ingin melanjutkannya.


"Tapi aku ingat bagaimana wajah ibuku, dia juga punya mata yang sama denganku, ibu sangat cantik," kata Bella tersenyum pada Angga.


Angga yang menatap Bella dari tadi jadi menaikkan sedikit sudut bibirnya, tentu saja ibunya sangat cantik, karena Bella pun begitu sempurna, hanya saja hidupnya menyedihkan.


Sebenarnya perjalanan untuk kerumah sakit itu tidak terlalu lama, hanya 30 menit dari rumah Angga, tapi setelah mereka sampai, Angga melihat jam, dan itu masih jam 8.30, dia masih punya waktu 30 menit sebelum menemui dokter itu, karena alasan yang dia katakan tadi hanya sekedar pengalihan agar Bella tak melanjutkan teleponnya dengan Daihan karena dia tidak menyukainya, dia tidak tahu kenapa? Dia hanya tidak suka saja.


Angga membiarkan Bella untuk tidur 30 menit lagi di bahunya, dia tahu Bella tidak cukup tidur, jadi dia tidak ingin membangunkannya terlalu cepat, supir dan pengawal menunggu mereka di luar mobil. Pukul 9 tepat, Angga memposisikan lagi kepala Bella seperti awal dia tertidur, lalu dia keluar dari mobil.


"Selamat pagi Tuan," kata Asisten Jang.


"Pagi, tolong bangunkan Nona Mika, aku akan mengunggu di ruangan dokter itu," kata Angga lagi.


"Baik Tuan," kata Asisten Jang.


"Pelan-pelan saja, jangan sampai dia kaget, karena di baru saja tidur, " kata Angga lagi.


"Baik Tuan," kata Asisten Jang dengan patuh.


Angga lalu melanjutkan masuk ke dalam rumah sakit, Asisten Jang sesuai instruksi dari Angga membangunkan Bella dengan sangat hati-hati, namun memang karena baru saja tidur, Bella tersentak. Dia kaget melihat Asisten Jang, melihat ke sekeliling, Angga sudah tidak ada.


"Apa kita sudah sampai?" kata Bella yang masih belum sepenuhnya sadar.


"Sudah Nona, Tuan Angga sudah masuk dan menunggu di ruangan dokter mata Anda," kata Asisten Jang sehalus mungkin, karena dia tahu bahwa Bella masih belum sepenuhnya sadar.


"Aduh, maafkan aku, aku tertidur tadi," kata Bella.


"Iya, tidak apa-apa Nona, mari aku antarkan Anda kesana," kata Asisten Jang lagi


"Baiklah, terima kasih Asisten Jang," kata Bella.


"Sama-sama Nona," kata Asisten Jang.


Bella memakai masker dan kaca matanya lalu segera keluar dari mobil itu, dia lalu berjalan menuju ruangan dokter mata itu, saat Asisten Jang membukakan pintu, Angga sudah duduk dengan manis menunggunya disana.


"Maaf, aku tertidur tadi," kata Bella pada Angga.


" Mmm " kata Angga hanya bergumam seperti biasanya, hanya melirik lalu kembali memperhatikan dokter itu.


" Selamat pagi Nona, Kontak lens Anda sudah selesai, " kata Dokter itu tersenyum, sambil menujukkan tempat kontak lens itu pada Bella.


" Terima kasih, tapi bisakah Anda membantu saya bagaimana cara memakainya? " kata Bella.


" Tentu, silahkan cuci tangan Anda dulu, " kata Dokter itu.


Bella segera di tuntun ke tempat cuci tangan, setelah itu dia di ajari bagaimana mengunakannya, awalnya sulit, karena kontak lens itu terkadang terlipat, terkadang tidak pas, setelah beberapa kali dia mencoba, akhirnya kontak lens itu terpasang juga di matanya. Bella menatap dirinya, benar saja, sekarangnya matanya tampak sama, coklat gelap, Bella menatap dokter itu yang tersenyum puas, seolah seluruh kerja kerasnya akhirnya terbalas.


Bella lalu menatap ke arah Angga yang dari tadi menatapnya dengan penasaran, Angga tampak sedikit terkejut dengan penampilan Bella, bahkan tanpa matanya yang indah, Bella tetap secantik bunga Calla lily putih yang merekah.


" Bagaimana penampilanku? Apakah terlihat aneh? " kata Bella pada Angga, membuat Angga yang dari tadi terkesima akhirnya kembali mendarat ke bumi.


" Lebih terlihat normal, " kata Angga.


Bella mengerutkan dahinya, jadi selama ini Angga menganggapnya tidak normal, begitu?, kenapa Bella jadi kesal dan menyesal menanyakannya pada Angga.


" Nona, Setelah ini kami akan mengirimkan 6 set lagi kepada Anda secepatnya, " kata Dokter itu lagi.


" Baiklah, Terima kasih Dokter, Anda sudah bekerja begitu keras, " kata Bella sungkan.


" Baiklah, ayo, kau harus ikut aku ke tempat yang lain, " kata Angga dengan sikapnya yang biasanya, berdiri lalu pergi begitu saja


" Iya, sebentar, permisi Dokter, " kata Bella memberi salam pada dokter itu lalu dia pergi mengikuti Angga.


Dokter itu menghembuskan napas lega, Kalau tidak berpikir Angga membayarnya jauh dari rata-rata yang bisa di berikan rumah sakit lain, dia tidak akan mau bertahan di sini, bahkan hari libur pun dia harus datang walaupun hanya sekedar memberikan kontak lens itu.