Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
174



Angga berhenti, melihat Bella yang menatapnya curiga.


"Ada apa?" kata Angga menatap Bella.


"Siapa Sania yang di katakan oleh Jofan tadi?" tanya Bella dengan nada mengintrogasi. Angga terdiam sejenak, Bella ternyata mendengar percakapan mereka.


"Sania masih hidup," kata Angga


"Bagaimana bisa? bukannya kau sendiri yang bilang kalau Sania sudah dieksekusi, bahkan kau menyerahkan abu jenazahnya pada kedua orang tuanya, mereka sangat sedih saat itu," Kata Bella kaget.


"Sania memang dieksekusi malam itu, tapi orang-orang Jofan menyelamatkannya, dia terluka parah di bagian kepala, dan bahkan sebelum itu ternyata dia mendapatkan penyiksaan yang begitu parah, 1/2 wajahnya rusak parah hingga meninggalkan bekas yang membuat wajahnya sulit di kenali, bahkan dokter kesusahan untuk memperbaiki wajahnya yang hancur, seluruh tubuhnya penuh dengan luka sayatan, bahkan hingga ke wajahnya, dia di temukan bersimbah darah," kata Angga menjelaskan pada Bella.


"Pasti Aksa yang menyiksanya kan? itu semua gara-gara aku kan? Sekarang dia ada di mana? kita juga harus melindunginya," kata Bella terpancing emosinya, rasa bersalah itu muncul kembali, kalau bukan karena dia, Sania tidak akan mendapatkan hal seburuk itu.


Angga diam sejenak, mencoba menenangkan Bella yang mulai tampak penuh emosi, Angga menggiring Bella untuk duduk di sofa yang ada di sana.


"Dia ada di istana," kata Angga lagi dengan tenang.


"Istana? bagaimana dia bisa kembali ke sana?, Aksa akan kembali membunuhnya kembali, kenapa kalian tidak menolongnya?, apa lagi kau bilang keadaanya parah," kata Bella tak habis pikir kenapa Sania bisa kembali ke sana?.


"Dia ingin membalas dendam dengan Aksa, dan setuju untuk menolong rencana kami, karena itu kami bisa dapat obat itu, di sana dia menjadi pelayan khusus Ratu," kata Angga lagi, mencoba setenang mungkin berbicara, agar Bella pun tenang.


"Kenapa kalia izinkan dia membalas dendam, dia benar-benar akan di bunuh oleh Aksa!" Bella tiba-tiba merasa De Javu, dia pernah pula ada diposisi Sania, dan hal paling disesalinya dalam hidupnya adalah mencoba membalas dendam pada Aksa, kerena hal itu sia-sia, dan membuat dia harus terus hidup dalam ketakutan.


"Kami tak bisa melarangnya," kata Angga melirik istrinya.


Bella terdiam, saat dia dulu juga penuh dendam, dia pun tak bisa dilarang, jadi Bella tahu bagaimana perasaan Sania sekarang. Bella hanya bisa terdiam sejenak.


"Ratu? bukannya ayahnya Aksa belum menikah lagi?" kata Bella lagi.


"Dia memang belum menikah, yang aku bicarakan adalah ibu Aksa."


"Ratu Ayana? dia sudah meninggal lama bukan?"


"Tidak, dia belum meninggal, dia di kurung di menara sebelah utara, aku rasa dia adalah satu-satunya saksi yang mengetahui bahwa Raja membunuh orang tuaku, karena itu mereka mengurungnya," kata Angga.


Bella mengigit bibirnya, dia kenal Ratu Ayana, seorang wanita yang lembut, cantik dan benar-benar baik, dia hanya beberapa kali bertemu dengannya, namun Bella tahu Ayana adalah wanita yang penuh perhatian dan kasih sayang.


"Raja Leonal tidak membunuhnya pasti karena Aksa, dia sangat menyayangi ibunya," Kata Bella.


"Ya, aku pikir juga begitu," kata Angga.


"Angga, apakah kita akan selamanya di sini, kita tidak akan bisa terus bersembunyi bukan? bagaimana pun kita harus menuntas kan hal ini, " kata Bella menatap Angga, tangannya yang lentik menyentuh tangan Angga, Angga menatap Bella, yang di katakan Bella benar, tak mungkin selamanya mereka harus bersembunyi seperti ini.


Bella mengangguk pelan.


"Ini bukan hal yang bagus untuk menghindari masalah, kita harus menyelesaikannya, aku tidak mau hidup dalam ketakutan seperti ini terus menerus."


"Ya, tapi kau tahu kan Aksa bisa berbuat apa pun? bagaimana jika dia menculikmu lagi?" kata Angga.


"Kalau itu terjadi lagi, ada kau bukan? kau akan mencariku lagi, aku tak takut."


"Tunggulah sampai semua ini selesai, baru kita akan bisa hidup tenang," kata Angga sedikit tidak setuju.


"Tapi sampai kapan? kalau pun nanti kalian berhasil mengungkapkan semuanya, Aksa belum tentu bisa berhenti, apa kita harus terus takut seperti ini? " kata Bella.


Angga diam berpikir, memang tidak ada yang bisa memastikan bahwa Aksa tidak akan memburu mereka lagi walau pun nantinya rencana mereka berhasil. Aksa pasti masih punya kekuasaan yang besar untuk melukai mereka.


"Sebenarnya semua masalah ini aku yang memulainya, karena itu aku juga punya andil untuk mengakhirinya, kita harus menghadapinya, kalau begini terus Aksa akan merasa menang, dan akhirnya malah kita yang hidup tidak tenang, aku juga ingin membantu, bahkan Sania saja bisa membantu kalian, aku bukan wanita lemah yang harus terus bersembunyi dan dilindungi oleh kalian," kata Bella.


"Baiklah, kita akan pulang besok, tapi dengan syarat, penjagaan tetap ada," kata Angga tersenyum tipis pada Bella, membawa kepala Bella menyentuh dadanya.


"Mari melakukannya bersama-sama," Kata Bella lagi.


Angga mengangguk, sebenarnya hatinya tak tenang, namun yang dikatakan oleh Bella benar.


---***---


Sania meringkuk diranjangnya, suasana malam ini begitu dingin, hujan deras terdengar berderu, kilat dan guntur saling kejar mengejar. Dia membuka matanya, langsung terduduk karena mendengar suara dentuman guntur yang memekakan telinga, di jendela yang ada di samping tempat tidurnya, Sania bisa melihat hujan yang menghantam kaca jendelanya, kilatan-kilatan cahaya, dan ranting-ranting pohon yang mengetuk-ngetuk kaca karena terkena angin yang berhembus kencang.


Sania meremas selimutnya, di matanya timbul kengerian, semua ini mengingatkannya pada malam penyiksaan dan kematiannya itu.


Sama sepeti malam ini, Angin, hujan, seperti badai bergemuruh, Sania tidur di selnya yang dingin, namun dia terbangun karena suara keras jeruji besi yang di buka paksa.


Siluet tubuh masuk ke dalam selnya yang remang-remang, namun cahaya kilat dari jendela selnya yang kecil membuat wajah pria itu tampak jelas, Aksa berdiri di depannnya dengan wajah dinginnya.


Seketika wajah Sania langsung tampak menyiratkan kegerian yang dalam, dia memberikan gestur agar ke dua penjaga keluar dari ruangan itu, Aksa langsung mendekatinya, Sania dalam keadaan terduduk itu hanya sebisa mungkin menjauh darinya, Namun Aksa segera menyergapnya, menjambak rambutnya dengan keras hingga Sania harus mengadah, sebuah pisau saku di tekan di dagunya yang putih.


"Kenapa takut? aku hanya ingin menghabiskan waktu malam terakhirmu, seharusnya kau tersanjung aku masih mau menemanimu di detik-detik kematianmu," kata Aksa menyeringai menyeramkan. Sania menatap Aksa dengan penuh kebencian.


"Aku lebih baik mati sekarang dari pada menghabiskan sedetik lagi bersamamu," kata Sania meludahi Aksa, Aksa menerima itu hanya berwajah datar, dia lalu menekan lebih dalam pisau itu, menariknya memanjang mengikuti tulang dagu Sania.


"Akh !! ... " tariak Sania menahan nyeri dan sakit yang amat sangat, air matanya langsung keluar.


"Jangan buat aku marah Sania, kau sudah cukup membuatku marah, kau pikir aku akan membuat kematianmu begitu mudah? tidak akan. " kata Aksa lagi.