Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
67



2 hari kemudian…


Bella duduk di ruang tengah, sedang menikmati waktunya, Angga sudah sehat dan kembali bekerja, Angga juga sudah memberikannya handphone baru, tapi tetap saja walaupun bentuk dan warna sama, isinya berbeda, isinya hanya ada nomor Angga dan Judy saja, bahkan  Asisten Jang tidak di masukkan nomornya, kenapa sih Angga itu? Pikir Bella.


" Nona, ada sebuah undangan untuk Anda," kata Judy.


"Undangan? Dari siapa? " kata Bella dengan dahi berkerut.


"Heaven wings, sebuah  yayasan dari kerajaan.”


"Yayasan kerajaan, memangnya untuk apa?” kata Bella mengambil undangan berwarna putih itu.


"Sepertinya mereka ingin mengundang Anda karena Anda adalah kepala yayasan Blessing, lagi pula aku kira ini ada hubungannya dengan Tuan Aksa, karena yang menjadi penanggung jawab acara itu adalah Tuan Aksa," kata Judy menjelaskan sambil Bella melihat undangan itu.


" Acaranya lusa dan di laksanakan malam haru, sangat aneh acara amal namun di selengarakan pada malam hari, sudah melapor pada Tuan Angga? "kata Bella.


"Saya sudah memberitahu  Asisten Jang Nona, tapi belum ada balasan, mungkin Tuan Angga masih rapat,"kata Judy.


"Baiklah kalau begitu, tolong beritahu aku secepatnya jika ada kabar dari Angga. " kata Bella.


Bella menunggu cukup lama, namun bukan kabar dari Judy yang di dapat oleh Bella, orangnya langsung yang mendatanginya.


Angga langsung masuk dan menemui Bella yang kaget, siang begini dia sudah pulang, tumben sekali, apa dia sakit lagi? Pikir Bella mengerutkan dahi, sambil melihat Angga yang membuka jasnya dan di berikan pada Judy. Wajahnya dingin seperti biasa.


" Kau tidak apa-apa kan? "kata Bella melihat Angga sedikit cemas.


" Memangnya aku kenapa? "kata Angga mengerutkan dahi. Bella mendengar nada suara Angga merasa pria ini mungkin ada masalah di kantor, di belakang Angga  Asisten Jang memberikan semacam tanda dengan mengerakkan tangannya ke arah leher, menandakan Angga sedang tidak bisa di ajak bicara.


"Mana tau kau sakit lagi."


"Kau mendoakan aku sakit lagi? "


"Bukan, kenapa pulang jam segini? "


"Ini rumahku, terserah aku ingin pulang jam berapa,"kata Angga dingin seperti biasa, Bella sedikit kesal dengan tingkah Angga yang tidak bersahabat, di tanya baik-baik kok malah di jawab seperti itu, pikirnya tak ingin melanjutkannya.


Judy segera menyerahkan undangan itu pada Angga yang langsung membacanya dengan serius, tak lama dia menyerahkannya lagi pada Judy.


"Katakan Nona Mika tidak akan menghadirinya,"kata Angga.


Bella yang awalnya duduk dengan santai di sofa itu, langsung duduk tegak mendengarnya, dia kaget, bukannya acara itu bagus di jadikan tempat rencana mereka selanjutnya.


"Judy tunggu,"kata Bella yang melarang Judy yang tampak akan menghubungi pihak kerajaan, Judy lalu memutuskan panggilannya.


" Kenapa? "Kata Angga bingung dengan ulah Bella.


" Kenapa? aku yang harusnya bertanya, kenapa aku tidak datang ke sana? "kata Bella dengan tatapan penuh tanya.


"Kalau aku bilang jangan datang, ya jangan datang, itu saja,"kata Angga.


"Ya, tapi itu kesempatan yang bagus, mungkin di sana aku bisa membuat Aksa malu, Sania cemburu, atau apa lah,"kata Bella lagi merasa dia perlu datang ke sana.


"Untuk saat ini aku melarangmu untuk bertemu Aksa, "kata Angga, dia masih ingat tatapan Angga yang rasanya ingin memakan Bella itu, dan saat ini dia tidak menyukainya.


Bella mengerutkan terus wajahnya, tampak aneh dengan jawaban Angga, apa maksudnya, bagaimana dia ingin membalaskan dendamnya kalau tidak boleh bertemu Aksa?, padahal Bella sudah ingin cepat-cepat bisa membalaskan dendamnya.


Apa maksudmu aku tidak boleh bertemu dengan Aksa?, kata Bella dengan bahasa isyaratnya karena melihat ada  Asisten Jang dan Judy yang masih di sana memperhatikan mereka.


Angga yang melihat Bella mengeluarkan hal itu tahu pasti Bella sedang kesal.


"  Asisten Jang, Judy tinggalkan kami,"kata Angga menatap Bella yang matanya tampak kesal.


" Apa maksudmu aku tidak boleh bertemu dengan Aksa?," kata Bella mengulanginya lagi, kali ini dia mengatakannya langsung.


" Kalau aku melarang untuk bertemu, kenapa harus ada alasannya? " kata Angga menatap Bella.


"Ya, tentu harus ada alasannya, semua hal ada alasannya, tidak ada asap kalau tidak ada api."


"Aku hanya tak suka kau terlalu dekat dengan Aksa, kau lupa terakhir kali bagaimana dia mengodamu? "kata Angga langsung, wanita ini memang keras kepala, apa dia tidak tahu perasaan Angga?, apa dia tidak tahu rasanya menahan cemburu yang membakar seluruh tubuh, saat itu dia memang demam, tapi panasnya api cemburu malah lebih panas dari badannya, Angga tak mau merasakannya lagi, karena itu dia tidak akan mengizinkan Bella bertemu dengan Aksa.


Penyataan Angga itu membungkam Bella, dia terdiam, melihat sosok Angga yang tampak melihatnya dengan wajah kesal, matanya sedikit memerah.


Kenapa Angga harus tak suka Aksa mengodanya, bukannya dari awal itulah rencananya, Aksa harus tergoda dengan Bella sehingga Sania akan tersingkir, dengan itu dia harus  mengoda Aksa, dia akan membalaskan hatinya. Dengan mengoda Aksa, dia akan tahu di mana ibunya, tapi bagaimana dia akan bisa mendapatkan itu semua jika kalau dia tidak mengoda Aksa dan Aksa mengoda dia?. Apa sih yang di pikirkan Angga,  Apa jangan-jangan…


" Kau tidak mungkin punya perasaan denganku kan? "kata Bella menatap Angga serius.


" Kalau aku katakan aku punya, apa masalahnya? " kata Angga dengan wajah begitu serius.


Bella terdiam, menatap Angga tak percaya, mengamati wajahnya yang diam, dingin, dan tak menunjukkan apapun, bagaimana ini bisa terjadi? Mana mungkin Angga punya perasaan dengannya, baru beberapa hari yang lalu pria ini dengan sendunya mengenang Mika, foto wanita itu pun masih terpajang besar di sana. Dia pasti hanya becanda, atau pun kalau memang dia punya rasa, mungkin hanya perasaan yang ada karena terlalu terbiasa bersama. Perasaan Bella langsung tak enak karenannya.


" Kau tidak boleh punya perasaan denganku,"kata Bella lagi, bibirnya sedikit bergetar mengucapkannya, karena memang dia sebenarnya tidak ingin mengatakan ini, bagaimanapun Bella juga punya rasa untuk Angga.


Mendengar itu tiba-tiba Angga merasa emosinya naik, kenapa dia tidak boleh punya perasaan dengan Bella?.


" Kenapa? "kata Angga tak mau melanjutkan kata-katanya, dia takut yang keluar dari mulutnya akan dia sesalinya nanti.


" Kau tahukan, kenapa aku memilih ikut denganmu hari itu dari pada Kak Daihan? Itu karena aku masih belum bisa melepaskan dendamku pada Aksa, kau berjanji akan membantuku untuk melepaskan dendamku pada Aksa, tapi jika kau melarangku untuk berhubungan dengan Aksa, bagaimana aku membalaskannya? " kata Bella menjelaskannya, mencoba untuk terlalu terbawa kekesalannya, tapi tetap saja kekesalan itu tampak.


Angga berjalan dengan tegas ke depan Bella, sangat dekat hingga hembusan napasnya yang dalam karena menahan emosi pun terkena Bella.


"Jadi bagimu aku hanya pria yang membantumu membalas dendam? "kata Angga menatap Bella dengan sinis, pandangan tajamnya menusuk jantung Bella. Bella sedikit ragu menjawabnya, takut jawaban ini akan membuat Angga sakit hati, namun dia tidak mungkin menjawab dengan ambigu, kalau ambigu bisa-bisa Angga merasa di permainkan.


" Ya, tentu, bukannya dari awal hubungan  kita hanya itu, apa lagi maumu? " Kata Bella lagi, ada rasa sakit di dadanya ketika dia mengularkan kata-kata itu. Tapi bagaimanapun, dia tidak ingin ada yang terluka nantinya di antara mereka.


"Jadi bagaimana dengan semua perhatian yang tunjukkan? Kau juga hanya berpura-pura padaku, Nona Bella bagus sekali akting Anda,"kata Angga dengan mata yang memerah, senyum sinis menyeringai di bibirnya, Angga tampak sudah tidak bisa membendung emosinya, dia menenggam pergelangan tangan Bella dengan sangat erat, membuat Bella sedikit kesakitan, namun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari mata Angga yang tampak suram.


" Aku, aku hanya ingin membalas budi, dan aku yakin jika aku ada perasaan denganmu, itu juga hanya sementara, itu karena kita terlalu sering bersama, merasa sama-sama punya kesendirian dan kesepian, aku yakin perlahan perasaan itu akan hilang nantinya… jadi dari pada di teruskan, lebih baik tidak kita kembangkan," kata Bella menatap Angga, mencoba untuk mengatakannya tanpa emosi, agar Angga bisa mendengannya dengan baik, jika dia juga emosi, yang ada mereka tidak akan saling mendengarkan. Namun setiap kata yang dia ucapkan membuat hatinya makin sakit, Bella merasakan air matanya mulai menumpuk di pelupuk matanya, namun dia mencoba tak merubah ekspresinya, tetap menatap dengan mantap.


Angga menatap Bella lekat-lekat, memperhatikan wajahnya yang cantik, mencoba menganalisis emosinya, Bella pun hanya menatap wajah Angga, matanya tampak bergerak-gerak, hati Bella sedih. Angga pun sama.


" Dan mungkin kau lupa, aku sudah menikah, Aksa adalah suamiku," kata Bella menunduk, padangannya sudah berkabut, dia tahu air matanya sudah menumpuk, tak ingin Angga melihatnya, dia menyumbunyikan matanya di balik bulu matanya yang hitam dan lentik itu.


Perkataan Bella seolah menampar Angga dengan keras, bagaimana dia bisa lupa? Aksa memang adalah suaminya, tapi Aksa pula yang sudah membunuhnya, Angga yang  menghidupkannya lagi, tapi apa tidak ada sedikitpun rasanya untuk Angga? apa hanya ada kebencian di hatinya?, napas Angga rasanya sangat tipis, dadanya terasa terbakar, cukup pedas kata-kata itu terasa baginya.


" Kalau tidak mau mengembangkannya, ya sudah, "kata Angga dengan suaranya yang serak tersekat di tenggorokan, baru kali ini ada wanita yang menolaknya, dan rasanya ternyata parah. Dia melepaskan tangan Bella, Bella yang mendengar itu langsung menatap Angga yang langsung pergi, meninggalkan Bella yang masih mematung sendiri, perasaannya sedih sekali, rasanya sakit, sakitnya hingga dia kesulitan untuk bernapas, nyeri… kenapa bisa sesakit ini?. Tak terasa air matanya turun di pipinya yang putih, tak terbendung lagi, untunglah Angga sudah pergi, jadi dia tidak akan melihat kesedihan Bella, dia terduduk, menangis sejadi-jadinya. sedihnya bahkan tak bisa terkatakan...


Judy masuk ke ruang tengah, dia langsung menghampiri Bella yang masih menangis pilu, Judy merasa sangat kasihan, dia lalu mengambilkan tisu untuk Bella.


"Nona,"kata Judy, Bella yang melihat Judy langsung memeluknya, Judy membiarkan Bella menangis, menepuk pundaknya, tampak begitu prihatin, pasti rasanya sakit sekali. Setelah beberapa saat akhirnya Bella sudah bisa mengontrol dirinya.


" Jangan katakan apapun tentang ini pada Angga,"kata Bella menatap Judy dengan matanya yang bengkak dan memerah, pipinya pun tampak lebih merah, matanya yang biasanya berbinar, tampak begitu suram.


" Baik Nona, Tuan Angga sudah pergi, dia mengatakan, terserah Anda, mulai sekarang tidak perlu memberikan laporan lagi padanya,"kata Judy sedikit sungkan menyampaikannya.


"Baiklah, itu lebih baik,"kata Bella serak sambil sesekali mengambil napas yang dalam, Bella memang merasa itu akan lebih baik.


" Nona, Tuan Angga juga mengatakan untuk Anda kembali ke apartemen,"kata Judy.


Bella tak menjawab, dia hanya mengangguk kecil sambil tersenyum kecut, karena senyuman itu air matanya kembali mengalir, rasanya sakit mengetahui semuanya berakhir begitu saja, tapi mau apa lagi? memang lebih baik  begini, mereka tidak akan terlalu sering bersama, dengan begini perasaan mereka akan perlahan menghilang seiring dengan jauhnya jarak dan waktu.