Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
71



Angin berbisik padaku di suatu malam, dia bertanya mengapa wajahku begitu suram?, aku menjawab karna sekarang hatiku begitu kelam, dia tersenyum dan berbisik pelan... mungkin hanya karena rindu yang sudah lama kau pendam, lepaskan... mungkin begitu hatimu akan tentram.


____________________________________________


Aksa menatap jendela ruang tengah istananya, berdiri dengan tatapan kosong sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam katung celanannya. Wajahnya dingin. Istana utama dan istana pangeran memang berbeda tempat, namun masih dalam 1 lingkungan kerajaan, jendela ruangan itu bergaya klasik dengan keca-kaca kecil yang tersusun menjadi jendela yang besar. Ruangan interiornya juga terlihat megah, mewah, khas interior kerajaan.


Dua orang pegawal dengan jas serba hitam datang mendekati Aksa, menyadari itu Aksa sedikit melihat ke belakang, ingin tahu siapa yang datang.


"Bagaimana keadaannya?”kata Aksa dengan suaranya yang berat dan dingin.


"Sudah membaik, menurut informan Nona Mika sekarang sudah di ruangannya, Tuan Angga juga ada di sana,"kata salah satu pria itu melaporkan keadaan.


Mendengar nama Angga, perasaan Aksa jadi buruk, dia juga khawatir dengan Mika, tapi sekarang di sama sekali tidak bisa keluar.


“Kapan aku bisa keluar dari sini?”kata Aksa lagi.


"Setelah seluruh penyilidikan ini selesai, kami sudah berusaha untuk menyelesaikannya secepatnya,”kata Penjaga itu.


"Baiklah, sampai sekarang apa yang sudah di dapatkan?”kata Aksa.


"Di baju Nona Sania di dapatkan racun sianida, di dalam tasnya juga di temukan racun itu, jadi akan sulit baginya mengelak, sampel minuman sayangnya sudah tidak bisa di dapatkan.”kata Penjaga itu tegas.


"Kalau begitu hukum dia sesuai dengan apa yang dia lakukan,"kata Aksa mengenggam tangannya erat, wanita itu… berani-beraninya. Tapi memang seharusnya dia dilenyapkan, jika dia lenyap, maka tak ada satu pun saksi yang akan mengetahui apa yang sudah di perbuat Aksa.


"Satu lagi pangeran, sekarang ada masalah dengan keadaan masyarakat akibat ada yang menyebarkan video Anda menampar Nona Sania, karena itu Yang Mulya Raja ingin bertemu dengan Anda," kata Penjaga yang lain.


Aksa mengigit bibirnya, dia benci harus berurusan dengan ayahnya yang merasa tahu segalanya.


"Segera bereskan, katakan pada ayahku, aku akan menemuinya besok," kata Aksa lagi.


"Baiklah Tuan, kami permisi," kata kedua penjaga itu dengan sopan. Lalu mereka pergi meninggalkan Aksa sendirian.


Aksa masih melihat keluar jendela, pemandangan taman yang indah tersuguhkan di sana, namun dia sama sekali tidak  melihatnya, perhatian, pikirannya, hatinya terbang jauh ke Bella.


 


\-\-\-\\\*\-\-\-


 


Bella terbangun di ranjang rumah sakit, kepalanya masih terasa sakit, dia tidak ingat apapun, hanya yang dia ingat kemarin meminum minuman Aksa dan semua buram.


Dia menatap kesekeliling, ruangan ini adalah ruangan yang sama, saat dulu dia bangun setelah Aksa membunuhnya. Di ujung ruangan dia melihat Judy yang langsung bangkit karena Bella sudah bangun.


"Anda sudah sadar Nona?” kata Judy langsung mendekat.


"Ya," kata Bella singkat mencoba untuk duduk, Judy langsung membantunya.


"Apakah Anda lapar? Atau ada sesuatu yang ingin Anda lakukan Nona?” kata Judy.


"Tidak, terima kasih," kata Bella.


Dia kembali melihat kesekeliling, tidak ada Angga, sebenarnya semenjak dia membuka matanya, ada perasaan bahwa Angga ada di sana, bahkan rasanya semalam dia bermimpi Angga memegang tangannya semalamam,  tapi ternyata dia juga tidak ada di sana, mungkin hanya perasaan Bella saja, mungkin karena dia ingin bertemu pria itu,  mungkin dia merindukannya. Apa dia tidak tahu keadaan Bella?, ataupun dia tahu tapi tidak ingin menemuinya. Bella sedikit tersenyum kecut menutupi perasaannya yang kecewa dan sakit.


"Ini Nona.”


"Terima kasih.”


Bella lalu membuka handphonenya, tidak ada apapun di sana, dia lalu membuka bagian foto, memandang foto Angga yang sengaja difotonya diam-diam, memperhatikan wajahnya yang sedang serius namun menawan itu, awalnya  melihat itu Bella tersenyum namun setelah itu perasaannya tidak karuan, apa benar dia tidak peduli lagi pada Bella?, melihat foto itu malah dia bertambah sedih.


Ah, apa-apaan sih aku ini, kalau terus saja menyimpan dan menatap foto ini, bagaimana aku bisa melupakannya? Kata Bella dalam hati.


Dia lalu menyuntuh bagian bergambar tempat sampah di layar handphonenya, muncul pemberitahuan apakah dia yakin untuk menghapusnya, ingin memilih untuk menghapusnya, namun ada rasa ragu di hatinya, bagaimana jika Bella benar-benar rindu dengannya? Bagaimana nanti dia melampiaskan rasa rindunya? Bagaimana jika… ah, terlalu banyak bagaimana dan jika yang sekarang ada dipikirannya, dan ada perasaan tak rela untuk menghapus foto itu, jadi dia hanya mengunci layarnya hingga layar handphonenya menjadi gelap.


Dia menghempaskan badannya kembali ke tumpukan bantal yang sudah di susun Judy di belakang badannya. Ah… kenapa bisa begitu susah melupakan seseorang seperti dia?, jelas-jelas dia sudah tidak peduli, apa lagi Bella yang memang memutuskan agar dia dan Angga tak boleh memiliki perasaan apapun. Tapi malah Bella yang uring-uringan.


Bella menutup matanya, mencoba untuk tidur agar perasaannya lebih tenang, namun yang ada di malah tak bisa tidur, mungkin karena masih terlalu pagi untuk tidur. Tapi kalau dia tidak tidur, dia malah teringat dengan Angga, dan dia sangat-sangat merindukan Angga sekarang, ingin rasanya dia keluar dari rumah sakit ini, lalu datang ke kantor Angga dan memarahinya, kenapa dia malah kesal sekarang?. Dasar Angga menyebalkan! Pekiknya dalam hati, sambil memukul-mukul bantal yang ada di pangkuannya sekarang.


Karna tak tahu harus melakukan apa untuk menyalurkan kerinduannya yang mengebu-gebu hingga membuatnya hampir gila, Bella jadi mencoba menenangkan diri dengan bermain permainan, tapi karena tangan kirinya sedang di infus, dia selalu kalah. Dan itu malah membuatnya makin kesal.


"Judy, apa aku sudah boleh berjalan-jalan keluar, di sini sangat membosankan,"kata Bella manja, melihat Judy yang sedang mengupas apel untuknya.


"Tadi dokter mengatakan Anda sudah cukup sehat, mungkin berjalan-jalan sedikit tidak apa-apa Nona.” Kata Judy


"Baiklah kalau begitu, aku ingin berjalan keluar, bisakah kau membantuku?” kata Bella.


"Ya, silahkan Nona.”


Judy menurunkan pembatas ranjang Bella, dia turun dari sisi kiri, perlahan-lahan, lalu dia turun, Judy langsung mempersiapkan sendal khusus rumah sakit untuk dipakai Bella, dia lalu menginjakkan kakinya.


"Terima kasih Judy.”


"Sama-sama Nona.”


Bella berdiri, tangan kirinya menggenggam tiang infus, dia melihat dirinya yang mengunakan pakaian tidur berwarna biru dongker dan celana tidur panjang, untung saja Judy menyiapkannya, kalau tidak dia akan memakai pakaian pasien, dan Bella pasti tidak suka.


Dia berjalan perlahan, sambil membawa tiang infusnya, Judy menjaga di belakang, membukakan pintu untuk Bella agar bisa keluar. Saat melihat keluar lorong putih khas rumah sakit terlihat, bau cairan disinfektan yang menyeruak di sana membuat Bella sedikit mual, dia tidak suka wanginya.


"Boleh kah aku ke taman, di sini tidak enak sekali baunya," kata Bella.


"Baiklah, silahkan Nona.”


Bella berjalan dengan hati-hati, takut ada masalah dengan infus yang menancap di tangannya sekarang. Dia melangkah menuju luar, udara di luar sangat menyenangkan, dan untunglah rumah sakit ini punya taman yang lumayan luas,  jadi para pasien bisa sedikit menghirup udara segar.


Bella duduk di salah satu kursi taman yang disediakan di sana, tak ada tanaman bunga sama sekali, hanya tumbuhan-tumbuhan hijau yang memanjakan mata.


"Kenapa di sini tidak ada bunga?” tanya Bella memperhatikan sekitarnya.


"Sengaja memang tidak menanam bunga, karena takut pasien ada yang alergi dengan serbuk bunga." jelas Judy.


"Oh, begitu ya? Baiklah."


Bella kembali menikmati sinar matahari yang menyentuh kulitnya, hangatnya membuat hati Bella tentram, dia mengadahkan wajahnya agar seluruh wajahnya tersinari oleh sinar matahari, membuat sinar itu sedikit terpantul karena wajahnya yang putih bersih.


"Nona Bella, apa kabarmu?" kata seseorang membuat Bella kaget, dia menghentikan kegiatannya, melihat ke arah suara itu berasal.