Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
229



Tak lama mereka sampai ke pintu gerbang utama dari kerjaan itu, semua orang besar sudah berdatangan, namun yang paling di tunggu tentu saja ke datangan Tuan Presiden, pintu kerajaan itu segera terbuka, Angga dan Jofan bersiap diri, mencoba mendalami peran masing-masing.


Jofan langsung keluar, dan pihak kerajaan langsung menyambutnya, Angga berjalan di belakang Jofan, mengikutinya, penjaga yang lain berpencar, berjaga di sekitaran acara itu, memantau keadaan dari jauh.


Mereka di persilakan untuk duduk di bagian depan,  di mana tepat di depan peti jenazah Raja Leonal, peti itu sudah tertutup dengan sempurna, jadi mereka tidak bisa melihat lagi Jenazah Raja Leoanal.


Saat mereka datang, sebuah acara yang menjadi tradisi kerajaan sedang di laksanakan, hingga mereka tidak bisa mengucapkan bela sungkawa langsung pada Aksa, namun sebenarnya, Jofan memang tidak mau berhubungan dengan Aksa.


Dari balik Peti itu, Angga dan Jofan bisa melihat Aksa mengunakan baju kerajaannya duduk di berhadapan dengan mereka, Aksa menatap Jofan dengan tajam, sebuah senyuman sinis mengembang di wajahnya. Jofan mengamati itu, benar-benar orang yang sangat mengerikan, bahkan di acara seperti ini dia masih bisa menunjukkan wajah sinisnya itu.


Angga pun hanya memperhatikan sepupunya itu dari jauh, senyuman sinis mengembang membuatnya makin waspada dengan pria ini, bagaimana bisa Bella mengatakan dia sudah berubah? bahkan dari peringainya saat ini, Angga merasa Aksa lebih berbahaya sekarang.


Jofan mengikuti semua prosesi hingga ke pemakaman Raja Leonal, setelah acara itu selesai, Jofan harus mengucapkan bela sungkawa pada Aksa, karena itu mau tak mau dia harus mendatanginya.


"Saya turut berbela sungkawa, Pangeran Aksa," kata Jofan dengan sangat serius, tangannya menjulur pada Aksa yang menatap Jofan juga dengan sama tajamnya.


"Terima kasih Tuan Presiden, Saya tak menyangka akan bertemu Anda di acara seperti ini, " kata Aksa menekan kata Presiden, dia lalu tersenyum,


bagaimana anak bisa tersenyum di acara pemakaman ayahnya, walau pun dia tidak suka, setidaknya tak perlu menunjukkannya di depan publik, pikir Jofan.


"Ya, Saya juga tidak menyangka, kepergian Ayah Anda begitu mengejutkan saya, terlalu cepat, bukan?" kata Jofan sedikit menyindir Aksa, Jofan lalu menarik tangannya, namun tangannya tetap di jabat oleh Aksa dengan erat.


"Aku dengar Tuan Presiden merupakan sahabat dekat dari sepupuku, Angga," kata Aksa dengan gaya bicaranya yang santai. Jofan memandang Aksa dengan sedikit menyipitkan matanya. Angga yang ada di belakang Jofan mencoba tenang mendengarkannya.


"Ya, kami sangat dekat," kata Jofan tak membiarkan matanya yang tajam berpaling dari Aksa, dia tak mau di anggap kalah dari Aksa.


"Aku turut berduka cita atas kematiannya, kematian yang sungguh sangat meyedihkan," kata Aksa lagi dengan nada seolah menejek, Angga menangkap itu merasa ada yang aneh dari nada suara Aksa. Aksa akhirnya melepaskan jabatan tangannya.


"Terima kasih, Aku yakin kau tahu kenapa dan siapa yang membuatnya meninggal, sayangnya Beliau sudah lebih dulu di hukum oleh seseorang, sebelum aku menghukumnya," kata Jofan lagi dengan nada sarkasme. Aksa tersenyum sinis mendengarnya. Jofan pun pura-pura tersenyum.


"Tuan Presiden, aku rasa aku ingin sesuatu yang menjadi milikku kembali yang sekarang ada pada Anda," kata Aksa.


"Yang hanya mampu mengerahkan militer menembus  kerajaanku untuk membantu istirku untuk kabur hanya dirimu, Tuan Presiden, perlukah aku menjemput istriku yang sedang mengandung anakku dari tempatmu?" kata Aksa melirik ke arah Angga, Angga tentu kaget dengan lirikan Aksa itu, seolah dia tahu siapa yang ada di belakang Jofan sekarang ini, Angga menjadi ragu, apa Aksa mengetahui dirinya?.


"Maaf, tapi setauku gadis itu bernama Mika, dia istri dari Angga, dan yang di kandungnya sekarang pastilah anak Angga, dan Pangeran Aksa, ini acara pemakaman Ayah Anda, saya rasa tidak etis membincangkan hal ini," kata Jofan lagi, Aksa tersenyum, menatap Jofan dengan tatapan mengejeknya.


"Terima kasih sudah menjaganya sementara waktu, tapi aku akan mendapatkan Bella dan anakku segera," kata Aksa menatap Jofan, Angga yang ada di belakangnya hanya bisa mengepalkan tangannya, berusaha sekali agar tidak terlihat emosi saat menatap Aksa.


"Anda tahu yang ada di pikiranku sekarang, " kata Jofan mendekati Aksa, dia lalu berhenti ketika benar-benar sudah di depan Aksa, dia tahu pemakanam ini tertutup, bahkan handphone pun di larang untuk di bawa, jadi dia tahu tidak akan ada yang mengabadikan hal ini, sehingga Aksa bisa dengan santai berbicara hal ini di pemakaman ayahnya, kalau Aksa saja berani, kenapa dia tidak?. "Aku sangat kasihan padamu, kau mengakui anak orang lain sebagai anak mu, aku rasa anak yang menjadi anakmu, benar-benar tidak beruntung," kata Jofan dengan emosinya menatap Jofan, Angga yang mendengar itu langsung kaget, takut Jofan berbicara lebih lagi.


"Tuan Presiden … Anda Pulang, " kata Angga  menyela secepatnya, dia membesarkan suaranya agar sedikit berbeda dengan suara aslinya, takut Aksa mengenalinya dari suaranya.


Jofan yang mendengar suara Angga langsung mundur beberapa langkah, dia sedikit tersenyum mamandang Aksa yang menatap tajam pada Jofan.


"Senang berbincang denganmu Yang mulia Raja Aksa, lain kali kita akan bertemu lagi," kata Jofan lagi sebelum dia pergi dari sana.


Jofan langsung menuju dan masuk ke dalam mobilnya, Angga pun mengikutinya, Jofan yang masih terlihat emosi itu langsung di tatap oleh Angga.


"Apa … yang kau … lakukan? " kata Angga, kesusahan berbicaranya merusak nada marahnya.


"Aku hanya tidak bisa menahannya, untuk apa kau melindungi anaknya?, sedangkan dia ingin mendapatkan anakmu, jika dia menginginkan anak, berikan saja anaknya padanya," kata Jofan masih terlihat emosi, untung saja dia masih ingat untuk tidak memberitahukan secara gamblang bahwa anak Aksa sekarang ada bersama mereka.


"Kau mencelakakan Archie," kata Angga kesal pada Jofan.


"Seharusnya kau berterima kasih, jika dia tahu dia sudah punya anak, setidaknya dia tidak akan mengakui anakmu sebagai anaknya, lagi pula, suatu saat Archie harus tahu siapa orang tuanya sebenarnya, Daihan tidak mungkin selamanya mengaku sebagai ayahnya, saat dia tahu siapa orang tuanya, dia pasti sangat terluka karena selama ini dia di bohongi oleh kita semua, dan kau yakin dia tidak akan membenci kita? dengan tempramen yang di punyai Aksa, apa menurutmu dia bisa jadi setenang Daihan? come on! darah lebih kental dari pada air," kata Jofan yang dari awal memang tidak bisa menerima Archie.


Angga diam, tidak mau berdebat dengan Jofan, apa yang di katakan oleh Jofan bisa saja terjadi, tapi bisa juga tidak, tak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan.


Namun yang Angga tahu sekarang adalah Angga tidak mungkin tidak melindungi Archie, karena setelah tubuhnya di suntikkan racun, racun itu merusak selnya, darahnya tidak bisa lagi di gunakan untuk pengobatan penyakit keturunan itu, dengan kata lain, hanya darah Archie lah sekarang yang bisa menyelamatkan anaknya nanti jika anaknya terserang penyakit keturunan itu, karena itu dia harus menjaga Archie dari siapa pun.