
Daihan baru saja selesai dari semua urusan kantornya, tubuhnya sebenarnya sudah sangat lelah, namun dia masih ingat bagaimana Nakesha terdengar kecewa saat Nekesha memutuskan panggilannya sepihak, dia tahu pasti Nakesha ingin secapatnya bertemu dengan Daihan, karena itu dia putuskan untuk tidak pulang ke rumahnya, melainkan singgah sebentar ke apartemen Nakesha.
Daihan yang sampai ke sana langsung menuju lift dan menekan tombol 7, lantai apartement Nakesha. Saat dia keluar, dia masih bisa membayangkan wajah Archie yang akan berlari kecil ke arahnya, namun saat melihat pintu apartemen Nakesha terbuka, Daihan sedikit mengerutkan dahinya, Nakesha bukan orang yang suka membuka pintu apartemennya, apa lagi semalam ini, dia mempercepat langkahnya, dan langsung masuk ke dalam, keadaan rumah lumayan berantakan, dia juga melihat penjaga gedung di sana yang sudah tak sadarkan diri, Daihan yang panik langsung melihat ke arah sekitar, dia lalu masuk ke kamar Nakesha yang pintunya terbuka, menemukan penjaga Archie yang sudah tergeletak, dia lalu mencoba menyadarkan penjaga Archie tersebut, untungnya tidak lama penjaga itu sadar.
"Di mana Nakesha dan Archie? " kata Daihan cemas.
"Nona, saya tidak tahu Tuan, tapi seorang pria masuk dan segera memukul Nona, saya mencoba untuk mengambil Tuan muda Archie namun pria itu memukul saya hingga saya pingsan," kata penjaga Archie menjelaskan.
"Siapa pria itu?" kata Daihan lagi, suaranya yang tak pernah meninggi, kini meninggi karena cemas.
"Saya tidak tahu, yang saya dengar namanya adalah Luthier," kata penjaga Archie yang kebetulan mendengar Aksa menyebutkan namanya tadi.
"Luthier? Aksa ?" kata Daihan dengan mata yang menahan emosi yang sangat, dia tampak frustasi, bagaimana bisa Nakesha tidak meneleponnya tadi?, dia segera mengambil handphonenya, dan menelepon Jofan.
"Halo? " kata Jofan yang masih sibuk di meja kerjanya.
"Aksa menculik Nakesha dan Archie," kata Daihan to do point.
"Ya, Tuhan lagi? apa hobi aksa itu menculik orang-orang ya, ehm ... tapi tunggu dulu, ini bisa sangat menguntungkan kita," kata Jofan yang dalam pikirannya tiba-tiba muncul ide yang sangat brilian menurutnya.
"Apa?" kata Daihan bingung, bagaimana ini bisa menguntungkan untuk mereka?.
"Cari CCTV gedung, apa pun yang menunjukkan Aksa lah pelakunya, aku akan ke apartemen Nakesha sekarang," kata Jofan segera berdiri dan mengambil jasnya, berjalan meninggalkan kantornya.
"Baiklah, "kata Daihan.
Jofan akhirnya sampai ke apartemen Nakesha, para penjaganya langsung mengamankan area itu, dia melihat Daihan yang sedang duduk dengan gelisah di salah satu sofa di sana, begitu melihat Jofan masuk, Daihan langsung berdiri.
"Aku sudah mendapatkan laporan, Aksa membawa mereka ke kerajaan, bagaimana hasil di sini?" kata Jofan langsung.
"Semua CCTV di gedung ini dimatikan, kita tidak punya bukti apa pun," kata Daihan menjelaskan pada Jofan.
"Sial, padahal hal ini bisa dengan mudah menjadi bukti untuk membuat masyarakat dan dewan untuk mencabut hak istimewa Aksa sebelum dia menjadi raja," kata Jofan kesal, padahal dia sudah merancang semuanya seadainya bukti itu sudah ada.
"Tuan, ada monitor untuk mengawasi Tuan Muda Archie, Nona sengaja memasangnya agar bisa memantau saya dan Tuan Muda Archie selama Nona pergi mengurus ibunya," kata pengasuh Archie.
Daihan dan Jofan yang tadinya acuh dengan pengasuh Archie langsung menatap pengasuh itu, Jofan langsung semangat mendengarnya.
"Di mana? " kata Jofan.
"Apa ini bisa merekam?" kata Jofan langsung.
"Iya Tuan, ada, di dalam kameranya di sediakan kartu memori, Nona juga suka mengambil potongan video untuk di simpannya," kata penjaga itu, dia juga langsung tanggap dengan membawakan laptop milik Nakesha untuk diserahkan pada Daihan dan Jofan.
"Terima kasih," kata Jofan, dia mengambil memori yang ada di kamera itu, dia juga menghidupkan laptop milik Nakesha, namun sayang laptop itu dilindungi oleh kata kunci.
"Coba, Archie atau Mika, atau Bella," kata Daihan.
Jofan lalu mencoba semuanya, namun gagal, Daihan lalu berpikir, apa kira-kira yang menjadi kata kunci dari laptop Nakesha?.
Jofan melihat Daihan yang seperti berpikir, lalu dia mengetikkan sesuatu, dan tiba-tiba laptop itu terbuka.
"Apa kata kuncinya?" kata Daihan yang penasaran, bagaimana Jofan tahu kata kuncinya?.
"Namamu," kata Jofan tersenyum sedikit, ternyata temannya memang bisa menarik kakak beradik ini.
Saat tampilan layar itu terbuka, Daihan makin terkejut, dia melihat foto Daihan yang sedang tertawa, berwarna hitam putih, terpampang di sana. Jofan yang melihat itu hanya bisa mengelengkan kepala, sambil tersenyum seraya memasukkan kartu memori itu ke dalam laptop.
Hati Daihan tersentuh namun juga miris melihat fotonya ada di sana dan mengetahui kata kunci laptop Nakesha, wanita itu diam-diam tetap saja menyukainya, padahal sudah sekuat tenaga Daihan mendorongnya untuk jangan menyukai Daihan, namun dia tetap menyukai Daihan dalam diam, sifatnya memang berbeda dengan kakaknya, dia bisa terbuka dan berani dengan apa pun, namun dia juga bisa menyembunyikan perasaannya tanpa memaksakannnya.
Mereka dengan seksama segera melihat semua yang terekam di sana, dan benar, semua terekam, bahkan bagaimana Aksa memukul dan membawa Nakesha, hati Daihan terasa teriris ketika melihat adegan itu, bagaimana Nekesha tampak panik dan cemas namun sekuat tenaga tampak melindungi Archie, namun dia akhirnya harus menyerah, Archie juga di bawa oleh Aksa secara paksa, tampak Archie menangis menolak ayahnya sendiri.
Daihan mengepalkan tangannya kuat, dia sangat marah sekarang, rasanya emosinya sudah sampai batasnya, dia tidak akan memaafkan Aksa untuk apa pun juga kali ini.
"Ini sudah cukup, Ajudan, secepatnya hubungi seluruh wartawan, siapkan tempat untuk kita menyampaikan berita ini, satu lagi, segera kepung kerajaan, jangan sampai Aksa bisa kabur dari sana," kata Jofan lagi, dia tersenyum licik.
"Aku akan menjemput Nakesha dan Archie, " kata Daihan dengan tangan masih di kepalkannya kuat.
"Tunggu, kau harus memiliki pengawalan," kata Jofan.
"Bukannya pasukanmu sudah mengepung kerajaan, aku rasa aku akan aman, aku akan menunggu mereka di sana, soal bicara dengan para wartawan, kau bisa menyuruh asistenku untuk melakukannya, aku ingin mereka melihatku saat pertama kali mereka keluar." kata Diahan dengan wajah begitu tegas, bahkan Jofan tidak pernah melihat wajah Daihan setegas itu, ternyata jika Daihan marah, bahkan lebih menakutkan dari pada Angga, orang yang selalu tenang, memang menyeramkan saat dia benar-benar marah.
Jofan hanya bisa mengangguk, tidak bisa melarang Daihan, dia segera pergi dari sana, Daihan bahkan tidak mengunakan lift, dia turun dari lantai 7 menggunakan tangga darurat, dia tidak peduli dengan tubuhnya, bahkan sekarang rasa lelah itu entah hilang kemana, yang ada di pikirannya sekarang, dia ingin melihat Nakesha dan Archie secepatnya.
Dia melajukan mobilnya ke arah kerajaan, dia mengemudikaannya dengan sangat cepat, matanya awas menatap jalanan, tajam dan penuh emosi, baru kali ini terlihat sekali Daihan benar-benar menakutkan.