Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
199



Jofan segera membuka pintu mobilnya, dia langsung disambut oleh hujan deras yang memperkeruh suasana malam itu, entah bagaimana langit yang begitu cerah tadinya, menjadi begitu kelam, hujan benar-benar lebat hingga membuat semua orang kesusahan untuk melihat.


Tempat kejadian kecelakaan itu sudah kacau, mobil itu sudah hancur di segala sisi, puing-puingnya berceceran di mana-mana, tempat itu juga sudah ramai oleh polisi dan beberapa wartawan, bahkan polisi harus menghadang mereka agar tidak telalu dekat dengan kejadian perkara, juga agar tidak merusak tempat itu.


"Bagaimana? " kata Jofan sedikit berteriak, karena suara hujan yang begitu besar.


"Seluruh penumpang tewas seketika, namun kami tidak menemukan tubuh Tuan Angga, " kata kepala polisi yang ada di sana.


Jofan kaget, dia langsung menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh kepala polisi itu, 3 kantong jenazah berwarna hitam sudah berjajar, beberapa polisi dengan sigap membukakan kantong jenazah itu.


Jofan mengalihkan pandangannya saat melihat wajah-wajah yang sudah memucat, beberapa masih bersih, namun ada juga yang bersimbah darah, tapi Jofan masih bisa mengenali mereka, salah satunya adalah  Asisten Jang. Dia miris, namun ini bukan saatnya untuk terlalu bersedih soal itu, dia harus mencari di mana Angga.


" Apa ada petunjuk kemana Angga? apakah dia selamat atau tidak? "kata Jofan lagi pada kepala polisi.


"Belum ada petunjuk, namun kami menemukan jejak ban mobil lain yang ada di sekitar mobil ini, namun sepertinya sekarang sudah tertutup oleh air hujan,"kata kepala polisi itu lagi.


"Angga memakai alat komunikasi, kita bisa lacak dari situ,"kata Jofan lagi memutar otaknya.


"Sayangnya, saya takut mereka sudah membuangnya, anak buah saya menemukan ini 500 meter dari sini, jika begini, sepertinya ada orang yang memang sengaja menculik Tuan Angga, "kata Polisi itu memberikan kantong berisi alat komunikasi yang tadinya terpasang di tubuh Angga.


Jofan mengertakkkan giginya, dia melihat ke sekeliling, keadaan sekelilingnya sangat gelap dan mulai berkabut, dia bingung melihat TKP yang begitu berantakan, di depannya 3 mayat berjajar, dan lagi sudah banyak sekali hal terjadi, malam ini, dia benar-benar pusing memikirkannya semuanya.


"Kalau begini kemungkinan Angga hidup masih ada? " kata Jofan pada kepala polisi itu,


"Tidak ada yang bisa memastikannya Tuan, kami akan terus melakukan investigasi, kami akan melakukan yang terbaik untuk hal ini, " kata Kepala Polisi ini lagi.


"Ya, Aku yakin dia masih hidup, seseorang pasti menculiknya,"kata Jofan sambil memegangi kepalanya, terasa sakit sakit hingga tak bisa lagi berpikir.


"Ya, kami akan melaporkan setiap perkembangannya Tuan, Anda bisa menunggu, jika Anda di sini akan memancing media untuk memberitakan hal yang tidak benar, "kata Kepala polisi itu lagi.


"Urus segala keperluan untuk pengurusan jenazah mereka, salah satunya adalah orang kepercayaan Angga, aku yakin dia ingin orang kepercayaannya itu mendapatkan pengurusan yang layak,"kata Jofan lagi sebelum dia pergi dari sana.


"Baik Tuan, " kata kepala polisi itu memberikan hormat sebelum Jofan masuk kembali ke mobilnya.


Jofan berjalan di lorong di markas militer itu, langkahnya tegas, begitu juga wajahnya, benar-benar tegang hingga tak bisa tersenyum sama sekali. Kepalanya benar-benar sakit, dia tidak tahu apa yang harus di lakukannya sekarang, hujan pun tak berhenti, malah semakin deras menambah mencekamnya malam ini.


"Tuan Jofan," teriak seorang prajurit pada Jofan. Dia seketika berhenti dan segera melihat ke belakang, seorang prajurit langsung berlari ke arahnya.


"Ada apa lagi? " kata Jofan, berharap tidak ada lagi kejutan untuknya malam ini, sudah cukup kasus Angga dan Bella ini, sudah cukup 4 orang meninggal, sudah cukup semua masalah di kepalanya yang hendak pecah.


"Nona Sania sudah di pindahkan kemari, dia sudah ada di depan," kata Prajurit itu memberitahukan.


Jofan mendengar itu langsung bersemangat, sedikit berita baik untuknya malam ini, dia segera berjalan ke arah depan markas militer itu, tampak tergesa-gesa, bahkan langkahnya bagaikan orang yang sangat terburu-buru.


Tak lama dia sampai di depan, mobil yang membawa Sania bahkan baru saja berhenti di depan markas militer itu, pintu segera di bukakan oleh salah satu tentara, Sania turun dengan wajah bingung, Jofan langsung mendekatinya, dengan tanpa di sadarinya langsung memeluk Sania dengan erat.


Sania yang awalnya mengira dia akan di bawa ke Aksa, sedikit terkejut ketika yang dia lihat adalah Jofan, apa lagi begitu dia turun, Jofan langsung menyambutnya dengan pelukan yang begitu erat, dia benar-benar terkejut, kehangatan tubuh Jofan langsung menyelimutinya, wangi tubuh Jofan segera membuatnya nyaman dalam pelukan itu.


"Kau tidak apa-apakan? Maafkan aku membuatmu mengunggu lama di sana,"kata Jofan.


"Tuan … " kata Sania pelan.


"Hmm… di luar sangat dingin, tunjukan Nona Sania di mana tempat tinggalnya,"kata Jofan mencoba menemukan kembali wibawanya.


"Siap Tuan," kata Prajurit itu.


Jofan kembali melihat Sania yang memandangnya, dia mencoba untuk tersenyum, namun senyumnya bukan senyum percaya diri yang biasa dia tunjukkan, namun senyuman canggung yang membuat wajahnya terlihat gugup. Melihat itu Sania jadi tersenyum tipis, kehangatan tubuh Jofan masih bisa dia ingat.


"Terima kasih Tuan,"kata Sania lagi sambil mengikuti prajurit itu.


"Nona Sania, aku rasa aku akan mengantarmu juga,"kata Jofan lagi.


"Baiklah Tuan, "kata Sania tersenyum manis, membuat Jofan semakin salah tingkah, ada apa dengannya? padahal dengan wanita mana pun dia belum pernah begitu gugup menghadapinya.


Jofan mengikuti Sania dari belakang, hatinya cukup tenang, setidaknya pikirannya lebih sedikit membaik dari pada tadi, wajahnya pun sedikit lebih melembut, tak setegang yang tadi.


Prajurit itu membawa Sania ke tempat kediaman khusus pedana menteri yang dulu pernah di tempati oleh Angga dan Bella,  Sania melihat tempat itu sedikit kaget, dia kira dia akan di tempatkan di mes biasa seperti yang kemarin dia tempati, kenapa sekarang dia di berikan tempat yang begitu mewah?.


"Semoga kau suka tempat ini Nona Sania, "kata Jofan lagi.


"Tentu, tempat ini sangat bagus Tuan Jofan, ehm … tapi kenapa aku bisa di sini? terakhir kali yang aku ingat aku di bekap oleh  Asisten Wan dan aku di masukkan dalam sebuah penjara, mereka bilang mereka akan membawaku ke atasan mereka, aku kira itu Aksa, tapi kenapa malah Anda Tuan? " kata Sania.


Sania berpikir dia akan mati kali ini, dia sudah bersiap menerima semua hal yang akan di lakukan oleh Aksa, dia benar-benar sudah siap mati kali ini, namun yang dia lihat sekarang Jofan dengan senyum manisnya.


" Asisten Wan adalah mata-mata yang kita miliki, dia melaporkan melihatmu ingin membunuh Aksa, jadi dia langsung mengamankanmu, kenapa kau lakukan itu Nona Sania? " kata Jofan serius menatap Sania, dia tidak habis pikir kenapa Sania bisa senekat itu, jika  Asisten Wan tidak ada dan dia benar-benar melancarkan aksinya, jika memang berhasil dia akan di hukum mati karena sudah membunuh seorang pangeran, jika tidak berhasil dia juga akan kembali di bunuh oleh Aksa, sebenarnya apa yang di pikirkan Sania karena apa yang di lakukannya kemarin sama saja bunuh diri.


"Aku tidak bisa membiarkan Aksa hidup, aku ingin membunuhnya,"kata Sania dengan sorot mata penuh dendam.


"Tapi yang kau lakukan sama saja seperti kau membunuh dirimu sendiri,"kata Jofan lagi sedikit meninggi namun berusaha untuk tetap terdengar lembut.


"Aku tidak pernah berencana untuk hidup lebih lama, Tuan Jofan,"kata Sania dengan penuh emosi.


Jofan terdiam, dia melihat mata indah Sania yang tertutup oleh topeng, tidak pernah terlintas dalam benaknya Sania akan mengatakan kata-kata itu, bagaimana dia tidak ingin hidup lebih lama, padahal selama ini Jofan sudah berusaha untuk mencari obat yang terbaik untuk Sania, dia juga memikirkan bagaimana mengembalikan penampilan Sania seperti dirinya yang dulu.


"Apa katamu? " kata Jofan tak percaya, bahkan seperti ada petir yang menyambarnya.


"Aku tidak ingin hidup lebih lama, untuk apa aku hidup lebih lama dengan kedaaan seperti ini, lagi pula hidupku juga tidak lama lagi Tuan, penyakit ini sudah mengerogotiku,"kata Sania.


Mendengar pengakuan Sania, Jofan seperti tersambar petir dua kali, apa maksudnya?, namun dia hanya bisa terdiam menatap Sania tidak percaya, apa lagi ini?.


"Keadaanku tidak baik Tuan, aku menyuruh dokter untuk berbohong padamu agar aku bisa membalas budi ku pada kalian, sekarang aku sudah menyelesaikan balas budiku, aku sudah siap mati untuk membalaskan dendamku, toh tanpa itu aku tetap saja akan mati, " kata Sania dengan lirih dengan air mata di sisi-sisi matanya.


"Kau tak ku izinkan mati, kau tidak boleh mati! Aku akan pastikan kau bisa hidup lebih lama lagi, jangan coba-coba berpikir untuk mati!” kata Jofan tegas, membuat Sania kaget dan terhenyak, kenapa Jofan tiba-tiba begitu penuh emosi.


" Untuk apa hidup ... " Kata Sania ingin menjelaskan pada Jofan, namun Jofan langsung memotongnya.


"Untuk Aku! Hiduplah untukku, aku sudah menghidupkanmu dari kematian, sekarang hiduplah untukku! Di sini tidak ada hak mu untuk mengambil hidup yang sudah aku berikan, hanya aku yang boleh mengizinkanmu mati! Nona Sania! Itu hutangmu padaku! Aku tak ingin lagi ada kata-kata hidupmu tidak berharga! Hidupmu adalah milikku! "kata Jofan dengan penuh emosi, dari tadi kepalanya benar-benar ingin pecah, di tambah lagi ternyata hal yang dia kira akan menghiburnya  malah membuat emosinya semakin memuncak.


Jofan tak ingin lagi ada di sana, dia langsung keluar meninggalkan Sania, Sania hanya terdiam mendengar kata-kata Jofan yang begitu emosi, di hatinya, dia merasa sedih, sudah membuat seseorang seperti Jofan marah padanya, perasaannya benar-benar tidak enak.