
Aksa berjalan menuju kamar ibunya, seperti biasa penjaga langsung membukakan pintu untuk Aksa, hanya dia dan Asisten Wan yang masuk ke dalam ruangan itu, Asisten Wan menuggu di samping pintu, Aksa melihat kesekelilingnya, kamar ibunya sudah berubah, penuh dengan bunga yang membuat suasannya lebih menyenangkan. siapa yang melakukan ini? pikirnya.
Aksa segera mendekati ibunya, ibunya masih terlihat sama, menatap kosong pada tembok yang suram. Aksa segera duduk di samping ibunya, Aksa menatap wajahnya, sedikit tersenyum sambil mempebaiki rambut ibunya yang ikal.
"Selamat ulang tahun bu, maaf kemarin aku tidak datang, "kata Aksa lembut, dia hanya bisa selembut ini pada Ibunya, satu-satunya wanita yang paling di hormatinya.
Hening ... hanya ada suara sepi, bahkan ibunya tak bergeming sedikit pun, seolah tak ada orang di sana, dia tetap memandangi tembok itu dengan diam, bahkan berkedip pun tidak.
"Apa kabarmu bu? " kata Aksa lagi, namun lagi-lagi tidak ada yang terjadi, hanya kesunyian yang menyelimuti.
Aksa lalu menarik napasnya dalam-dalam, menatap tembok yang ada di depannya, mengikuti gaya ibunya, dia hanya diam, tidak melakukan apapun, keheningan yang ada membuat hatinya perlahan tenang, apakah ini alasannya ibunya selalu menatap tembok?.
Cukup lama dia diam, hanya duduk di samping ibunya, tangan ibunya di genggammnya, jemari-jemari lentik yang kurus itu terasa dingin baginya. Dia beberapa kali mengusap tangan ibunya dengan lembut, membuat dia bisa merasa lebih nyaman, seperti yang biasa ibunya lakukan dulu saat dia sedang gugup atau saat menidurkannya, mengingat itu Aksa sedikit tersenyum manis.
"Tuan, maaf menganggu Anda,"kata Asisten Wan mendekati Aksa.
"Kenapa? " kata Aksa dengan suara dinginnya, meresa sedikit terganggu, karena dia sedang menikmati momen ini.
"Rencana pembunuhan Tuan Angga sudah berjalan dengan baik, dia sudah menkofirmasi akan datang ke pertemuan dengan kliennya di restauran Golden Dragon, besok malam, " kata Asisten Wan, matanya sejenak melirik ke arah Ayana yang masih diam tak bergeming.
"Kenapa kau membicarakan hal ini di sini? " kata Aksa sedikit meninggi suaranya, dia tidak menyangka Asistennya malah membicarakan rencana yang seharusnya rahasia di sini.
"Karena saya rasa di sini tempat yang tepat, jika di luar, Raja Leonal punya banyak sekali mata-mata, di sini hanya ada Anda, saya dan Ibunda Ratu, namun saya rasa Ibunda Ratu tidak akan mengerti apa yang kita bicarakan, "kata Asisten Wan kembali melirik Ayana, Aksa melihat ibunya, melepaskan tangannya, dan segera menatap Asisten Wan.
"Bagaimana persiapannya? " kata Aksa berpikir yang di katakan oleh Asisten Wan benar adanya.
"2 penembak jitu yang akan bersembunyi di gedung yang sudah di siapkan, begitu Tuan Angga keluar dari mobil, mereka akan segera menembaknya tepat di kepala," kata Asisten Wan lagi menjelaskan. Aksa tampak berpikir.
"Jangan sampai melukai Bella sedikit pun, aku hanya ingin Angga yang mati, biarkan dia menjadi janda hingga aku bisa memilikinya kembali, dia tidak akan punya perlindungan lagi, "kata Aksa segera dengan senyuman yang menyeringai seram.
Ayana mendengar semua ini membuat dia terkejut dan hatinya sangat sakit, awalnya dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh Sania, namun sekarang dia bahkan lebih tidak percaya apa yang di dengarnya sendiri, Aksa benar-benar sudah berubah, bahkan dengan mudahnya dia membunuh sepupunya sendiri?, bagaimana dia bisa menjadi seseorang berdarah dingin seperti ini?.
Aksa melihat kembali ibunya, matanya masih menatap tembok kosong itu, tidak ada gunanya sebenarnnya dia datang ke sini, toh ibunya telalu gila untuk mengetahui dia ada di sini, Aksa lalu berdiri.
"Lakukan eksekusinya sebaik mungkin, aku ingin kau pastikan dia mati, dan … suruh pelayan khusus ibuku untuk memberikan obat itu padanya lagi setelah aku keluar dari sini, aku ingin dia tak mengingat apa pun yang kita bicarakan sekarang, "kata Aksa pada Asisten Wan.
"Baik, " kata Asisten Wan, Aksa segera keluar meninggalkan ruangan ibunya, Asisten Wan langsung mengikutinya, saat Asisten Wan keluar dari kamar itu, dia langsung menyuruh penjaga untuk memanggilkan Sania, memerintahkannya untuk memberikan obat lagi pada Ratu, padahal Ratu baru saja minum obatnya, namun Sania mengikuti semua perintah mereka, kalau tidak nantinya mereka akan curiga.
Bibir Ayana tampak bergetar, dari matanya yang biasa kosong mengalir air mata yang bening, sebening kristal, jatuh berbulir membasahi kulitnya yang putih pucat karena tak pernah bertemu matahari, hatinya nyeri sekali sekarang, dari dulu dia mengira Aksa tak tahu kalau selama ini dia dicekoki racun oleh suaminya, namun hari ini dia cukup sadar dan tahu bahwa Aksa juga mengetahui hal itu, dan lebih parahnya dia malah ingin ibunya minum obat itu lagi, Ayana memejamkan matanya yang perih, membuat air matanya yang berkumpul dan membuat pandangannya kabur itu mengalir bebas membasahi pipinya.
Tidak! dia tidak boleh membiarkan Aksa terus menerus seperti ini, dia akan terus menjadi pembunuh, dia akan menjadi pria yang menyeramkan, dia tidak boleh membiarkan Aksa membunuh Angga.
Pintu kamar terdengar akan di buka, cepat-cepat Ayana menghapus air matanya, dia lalu segera kembali mencoba menatap temboknya, dia takut Aksa kembali lagi dan melihat perubahan wajahnya dan matanya, untunglah yang datang hanya Sania.
"Ibunda Ratu, Aksa menyuruhku untuk memberikanmu obat ini kembali, namun aku tidak akan memberikannya, kecuali memang kau sendiri yang ingin, "kata Sania halus, Ayana langsung menatap Sania, dia segera memegang tangan Sania.
"Hentikan dia! Hentikan Aksa! "kata Ayana dengan penuh emosi, dari matanya terpancarkan kengerian, wajahnya pun juga terlihat sangat ketakutan, bahkan bibirnya tampak bergetar, melihat sikap Ayana, Sania tampak bingung.
"Ada apa? " kata Sania.
"Angga dalam bahaya, Aksa menyiapkan 2 penembak jitu untuk membunuhnya dan mendapatkan Bella kembali, Iva! Aku akan membantumu, tapi tolong gagalkan rencananya untuk membunuh Angga kali ini, jangan sampai Angga tewas, aku mohon! "kata Ayana lagi dengan raut wajah cemas dan ketakutan, Sania yang mendengar itu tentu terkejut, rencana pembunuhan Angga? dia harus segera melaporkannya pada Jofan, kalau terlambat, Angga pasti tewas.
"Baiklah, obat ini simpanlah, mungkin akan berguna bagi Anda, aku akan mengatakan Anda sudah meminumnya. "
"Baiklah, kau harus cepat, mereka akan mengeksekusinya di restoran Golden Dragon. "
"Iya, aku akan segera melapor, "kata Sania, Ayana mengambil obat itu, dia meletakkannya di bawah kasur tempat tidurnya, Sania segera berjalan dan keluar dari kamar Ayana, Ayana kembali dengan posisinya semula.
Sania segera berjalan ke kamarnya, dia segera masuk dan memastikan tidak ada yang mengikutinya, dia lalu segera mengambil telepon yang ada di bawah tempat tidurnya, mengetik pesan panjang, karena jika dia menelepon sekarang takut ada yang mendengarnya, jadi dia hanya mengirim pesan, awalnya di tujukannya pada ajudan Jofan, namun setelah dia pikir-pikir, lebih baik langsung pada Jofan, dia pasti akan langsung bisa bertindak.
Jofan sedang rapat saat tiba-tiba handphonenya bergetar, awalnya dia tidak ingin peduli, namun setelah melihat sekilas dan melihat siapa yang mengirimkannya pesan, Jofan langsung sigap melihat Handphoneya, Sania tidak pernah mengirimkan pesan apa pun padanya, pasti ada hal penting.
Jofan membaca pesan yang dikirimkan oleh Sania dengan seksama, hingga akhirnya dia kaget dan matanya langsung membesar, dia langsung berdiri, membuat seluruh orang dalam rapat itu memperhatikannya, bahkan yang sedang berbicara pun segera terhenti.
"Ada keadaan darurat, aku harus pergi sekarang, "kata Jofan pada mereka, karena ini adalah rapat perusahaan, dia tidak mungkin menceritakannya sekarang. dia buru-buru keluar dari ruang rapat itu, dia segera menelepon Angga.
"Halo?" kata Angga dari seberang.
"Di mana kau? " kata Jofan tampak serius, dari suaranya dia tampak begitu cemas.
"Berjalan pulang menuju rumah, "kata Angga.
"Kapan pertemuanmu di Golden Dragon? "kata Jofan.
"Besok malam, dari mana kau tahu aku punya pertemuan di sana? "kata Angga mengerutkan dahinya, dia tahu ada yang tidak beres.
"Aku akan ke rumahmu sekarang, ada yang harus aku katakan padamu, " kata Jofan tergesa-gesa masuk ke dalam mobilnya, tak lama mereka langsung melaju meninggalkan area perkantoran itu.