Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
77



Kenapa kau begitu pemaksa? bahkan kadang aku bingung menanggapinya, kalau memang yang seperti ini dikatakan cinta, berarti aku belum juga paham cara kerjanya.


____________________________________________


Bella yang tampak meringkuk malu di belakang Angga, Angga langsung berpindah posisi, hingga chef itu bisa melihat Bella dengan jelas. Dandanan Bella sekarang benar-benar seperti orang baru bangun tidur, chef itu memasang wajah herannya, Bella  yang melihat kelakuan Angga pun kaget, dia sangat malu bertemu dengan chef itu dengan keadaan begini. Apalagi antrian panjang yang ada di samping mereka semuanya melihat ke arah Bella, setidaknya itu lah yang ada di pikiran Bella.


Angga merentangkan tangannya, mengapai bahu Bella yang tak jauh darinya, menariknya ke dalam pelukannya. Bella yang di perlakukan seperti itu lagi-lagi hanya bisa menatap Angga dengan terkejut, namun Angga sama sekali tidak melihat ke arahnya, hanya melihat ke arah chef itu dengan dingin.


"Wanitaku baru keluar dari rumah sakit, dia sangat pemalu, tapi aku tidak bisa makan tanpa dia, jadi bagaimana?" kata Angga dingin mengatakan pada chef itu.


Sebenarnya restoran itu merupakan restoran fine dining yang di mana menawarkan kemewahan dan pelayanan terbaik. Baik pelayan maupun pengunjungnya harus berpakaian rapi, pengunjungnya minimal memakai gaun dan jas. Karena itu chef itu hanya terngaga melihat dandanan Bella. Melihat dari atas hingga bawah.


"Ah, aku kan sudah makan, aku tunggu di mobil saja ya," kata Bella merasa tidak enak membuat chef itu jadi kebingungan, namun Angga sama sekali tidak menjawab, dia malah mengetatkan pegangannya di bahu Bella, membuat Bella sedikit kesakitan, tapi tahu artinya bahwa Angga tidak akan mengizinkannya pergi.


"Baiklah Tuan, untuk Nona yang baru sakit, ini semua pengecualian." kata Chef itu terlihat berat mengizinkannya, tapi mau bagaimana lagi, Angga adalah orang yang punya pengaruh yang besar untuk kesuksesannya.


"Baiklah." Kata Angga, dia lalu mengikuti Chef itu yang mengantar mereka ke dalam. Bella hanya bisa menunduk di antara banyak pasang mata yang menatapnya iri. Bagaimana wanita dengan dandanan seperti itu diizinkan masuk? Siapa sih pria itu?, mereka bertanya-tanya.


Saat mereka masuk, Bella tambah malu, bukan karena dia tidak pernah datang ke tempat fine dining seperti ini, saat dia masih di kerajaan dia tahu bagaimana tata krama di meja makan dengan jelas, bahkan mungkin lebih mengerti dari pada orang-orang yang ada di sana, karena itu dia tahu seberapa memalukannya sekarang dia. Tega sekali Angga membawanya ke tempat seperti ini saat dirinya seburuk ini, Bella bahkan tak bisa mengangkat dagunya, hanya berjalan menunduk, tanpa percaya diri sedikit pun. Angga benar-benar ingin menjatuhkan harga diriku ya?, pikir Bella berjalan lemah.


Saat dia menunduk, Angga menggengam tangannya. Seketika kehangatan tangan Angga menyelimutinya, membuatnya melihat ke arah Angga. Angga hanya tersenyum manis, sekarang Bella bisa melihat keadaan restoran yang tampak fancy itu. Orang-orang di sana seperti Bella pikir, semuanya penuh dengan orang-orang berkelas.


"Tuan Angga, tak di sangka Anda datang kemari, saya sangat senang bertemu Anda," kata seorang pria dengan setelan jas rapi, seorang wanita separuh baya berdiri di sampingnya dengan anggunnya.


"Saya juga senang bertemu dengan Anda Tuan Pedana Menteri," kata Angga tersenyum sedikit lebar. Bella lalu kaget, Pria ini Pedana Menteri? Wow, yang makan di sini ternyata orang-orang hebat, dan bahkan Pedana Menteri pun mengenal Angga.


"Kami sedang ada jamuan makan siang, Apakah Anda ingin makan siang dengan kami?"  kata Pedana Menteri itu dengan sangat sopan dan bertata krama.


"Maaf, saya harus menolaknya, karena wanitaku baru saja keluar dari rumah sakit, aku takut dia tidak akan tahan mengikuti jamuan makan siang Anda. Terima kasih untuk ajakannya." Kata Angga tersenyum sopan.


Tuan Abraham tampak memperhatikan Bella yang malu-malu berdiri di samping Angga, Abraham hanya tersenyum, bahkan dengan pakaian polos tanpa dandanan sekali pun, Tuan Abraham bisa melihat seberapa cantiknya Bella, berlian walaupun ditutupi lumpur, tetap saja berlian. Pantas saja Angga dengan bangga menggenggam tangan wanita ini, bahkan memamerkannya.


"Wanita Anda sangat cantik Tuan Angga, baiklah, lain kali aku harap kita bisa makan bersama." kata Pedana Menteri itu tersenyum, wanitanya yang berdiri di sampingnya pun hanya tersenyum, hanya sebagai pajangan.


"Baiklah, Terima kasih, saya permisi dulu." kata Angga dengan sopan, Tuan Abraham mempersilahkan lalu Angga menarik Bella ke tempat duduk yang sudah di sediakan untuk mereka.


Tempat duduk mereka cukup istimewa, berada di sudut ruangan, di sampingnya langsung berbatasan dengan jendela-jendela kaca, menunjukkan pemandangan yang cukup membuai mata, kita bisa melihat taman luas. Pilar-pilar di sana di buat sedemikian rupa menyerupai dahan-dahan pohon, dan lampu yang di letakkan secara artistik membuat pemandangan atap tempat itu lebih dramatis. Tempat duduk mereka sendiri adalah sofa berlapis beludru berwarna merah hati, sangat empuk dan nyaman.


Angga segera duduk, Bella pun mengikuti, duduk di depannya.


"Berikan dia jus strawberry, no ice," kata Angga pada pelayan itu. Bella yang duduk dengan sikap sempurnanya itu lalu menatap Angga, yah… harus minum minuman yang paling tidak enak sedunia itu lagi, pikirnya. Pelayan langsung meninggalkan mereka.


"Seharusnya kau tidak mengajakku ke sini dengan dandanan begini, kau tahu bagaimana malunya aku tadi?" kata Bella protes, dia sudah malu bahkan sebelum masuk.


"Ya, memangnya kenapa? biarkan saja mereka." Kata Angga seolah tak peduli.


"Yang datang ke sini tidak boleh sembarangan, lihat apa yang mereka pakai."


"Aku memang bukan pria sembarangan, lagi pula, siapa yang bisa melarangku membawa kau dalam keadaan seperti ini, bahkan Pedana Menteri Abraham saja memujimu. "


"Dia hanya basa-basi." Kata Bella kesal pada Angga karena mempermalukannya seperti ini.


Angga tak melanjutkan perbincangan itu, dia lalu mengambil handphonenya, dengan tenang sambil menyenderkan tubuhnya di kursi itu, dia lalu menelepon seseorang.


"Halo? Sekarang kau di mana?" kata Angga seperti biasa dengan nada bicara ciri khasnya.


"Baiklah, aku sudah ada di sini." kata Angga lagi, setelah itu dia langsung mematikan handphonenya, Bella hanya menatapnya, masih ada perasaan kesal di dirinya. Angga hanya memandangi wajah Bella yang cemberut.


"Temanku akan bergabung dengan kita." kata Angga dengan santai, Bella mendengar itu langsung terkejut.


"Teman? Kau benar-benar ingin mempemalukan aku ya?, masa kau mengundang teman makan bersama saat penampilanku sangat kucel seperti ini, lagi pula kalau kau sudah punya teman mengapa harus mengajakku makan." kata Bella lagi kesal, akhir-akhir ini dia mudah sekali kesal, mungkin dia sedang PMS.


"Kalau tidak ditanya, jangan berbicara padanya." kata Angga tak menanggapi kata-kata Bella.


"Baiklah, aku juga tak ingin berbicara denganmu atau temanmu."


Angga hanya diam, tidak ingin melawan atau menanggapi kata-kata Bella. Tak lama kemudian, matanya seperti tertuju ke sesuatu di belakang Bella, melihat itu Bella langsung melihat ke belakang.


Bella menatap seorang pria dengan jas semi formal berwarna hitam kilat satu set dengan celananya, di dalamnya dia memakai rajutan berkerah tinggi, badannya sangat bagus, bagaikan seorang model, dengan bahu bidang, dan kaki yang panjang. Wajahnya pun tidak kalah tampan, putih dan sangat manis ketika dia tersenyum, ternyata di dunia ini banyak sekali pria-pria tampan, bukan hanya Aksa, Angga dan Daihan saja, pria ini juga bagaikan maha karya.


"Hai, bro." kata Jofan tersenyum menyapa Angga, tanpa dia suruh,  Asisten yang ada di belakangnya langsung menyuruh pelayan untuk mengambilkan kursi tambahan di meja Angga. pelayan langsung mengambilkannya, meletakkanya di tengah, sehingga dia ada di antara Angga dan Bella yang duduk berhadapan.


"Bagaimana kabarmu?" kata Jofan menatap Angga, Angga hanya sedikit tersenyum.


"Baik." Kata Angga.


"Kau harus mengurangi sifat dinginmu itu. Ehm.. siapa wanita ini?" kata Jofan melihat Bella, wajahnya tampak heran, sejak kapan Angga sudah bisa melupakan Mika? dan wanita ini walaupun tidak mengunakan apa-apa, terlihat Ok juga. Pikirnya, tapi sayangnya dia tidak suka wanita berdandan sederhana seperti ini, Dia bukan tipenya, pikir Jofan.