
Bella melihat jalanan yang awalnya dipadati perumahan berangsur-angsur menghilang terganti dengan pepohonan, dia mencoba untuk menenangkan emosinya, setelah sedikit merasa tenang, Bella lalu bertanya.
"Benarkah Sania menyiapkan rumah itu untuk mereka?"
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku hanya mengarangnya, rumah mereka sangat padat, aku tidak ingin setiap aku ke sana, akan mengundang begitu banyak perhatian, lagi pula di usia mereka yang sudah tua, akan lebih menyukai kegiatan bercocok tanam di taman berdua, rumah yang aku berikan cocok sekali untuk mereka, bukan begitu?" kata Angga lagi, Asisten Jang mendengar itu langsung memberikan foto rumah yang tadi di tunjukan oleh Angga.
Rumah itu terlihat sederhana namun dengan kesan elegan, punya taman yang luas di bagian depan dan belakang, terlihat juga rumah itu di kawasan elit.
"Kau ingin bertemu mereka lagi?" kata Bella tak percaya, bukannya reputasi Angga adalah orang yang tidak peduli sama sekali dengan orang lain, lalu kenapa dia peduli dengan orang tua Sania?.
"Bukannya kau pasti ingin bertemu kedua orangnya lagi kan?"
"Iya sih, lalu apa hubungannya?"
"Aku akan mengatarmu ke sana." kata Angga yang ingat kata-kata Aksa di penjara kemarin, dia tidak akan membiarkan Bella pergi sendiri lagi.
"Baiklah, sekarang kita ke mana?" kata Bella lagi, wajahnya sudah agak lumayan membaik.
"Pulang. " kata Angga datar.
"Yah, pulang, kita sudah diluar, ayo lakukan sesuatu."
"Apa?"
"Ehm, kita kan sudah pacaran, ehm, ayo pergi kencan." Kata Bella sungkan, pipinya memerah saat mengatakan kata pacaran.
"Baiklah, ingin makan di mana? biar Asisten Jang mereservasinya. " kata Angga sambil melihat tablet miliknya, Bella mengintip sedikit, ada grafik garis yang tak dia mengerti.
"Aku tidak ingin kencan seperti itu,"
"Lalu?"
"Yang begitu terlalu mudah, makan di restoran mahal, aku sudah pernah makan denganmu seperti itu."
Angga mengerutkan dahinya mendengar kata-kata Bella, tapi dia masih sibuk dengan grafiknya.
"Aku kira semua wanita suka makan di tempat mewah seperti itu, biasanya mereka selalu mengajakku ketempat-tempat seperti itu. " kata Angga santai saja, seolah itu obrolan yang umum.
"Wanita? Berapa banyak wanita yang mengajakmu kencan seperti itu?" kata Bella sedikit panas mendengarnya.
"Lumayan banyak, terutama dulu saat awal-awal aku membuka diri setelah kematian Mika, Daihan dan Jofan mengenalkanku dengan banyak wanita." kata Angga datar saja, apa dia tidak berpikir Bella akan cemburu mendengarnya?.
"Oh, ya sudah. "kata Bella menghempaskan dirinya pada sandaran kursi, tangannya melipat di kedua dadanya, matanya lurus, dan wajahnya kesal. Angga yang akhirnya sadar melihat ke arah Bella.
"Kau cemburu? "
"Menurutmu? "
"Mengapa gampang sekali cemburu? "
"Karena aku…! " kata Bella mengebu-gebu, namun seketika terhenti mengingat mereka sedang ngobrol di mobil, ada Asisten Jang dan supir di depan mereka sekarang. "Menyukaimu. " kata Bella lalu berbisik pada Angga, Angga yang di perlakukan begitu langsung sedikit tersenyum, dia melipat bibirnya ke dalam, dia lalu mencodongkan tubuhnya ke arah Bella, artinya dia tertarik.
"Baiklah, ingin kencan yang bagaimana?"
"Ayo kencan tanpa mengunakan fasilitas apapun. "
"Maksudmu? "
"Naik bis, jalan-jalan di pingir jalan, lalu ke Mall. " kata Bella sumringah.
"Umurku sebentar lagi 28 tahun, dan kau 26 tahun, apa hal itu tidak terlalu kekanak-kanakkan?. " kata Angga
"E? " kata supir itu ragu.
"Turuti saja dia. " kata Angga yang kembali ke posisinya, apa lagi yang di inginkan Bella, hah…anehnya Angga sama sekali tidak bisa menolaknya, walaupun kadang keinginannya sangat konyol.
Mobil berhenti di dekat salah satu halte seperti kata Bella, Bella langsung keluar dengan antusias, sedangkan Angga sedikit ragu-ragu, dia orang yang tertutup, dia bukan orang yang suka keramaian, bagaimana nanti jadinya? Pikirnya.
"Ayo! " kata Bella begitu semangat.
"Tuan, sepertinya Anda butuh ini." kata Asisten Jang buru-buru sebelum mereka meninggalkan mobil.
"Apa ini? " kata Angga melirik sebuah kartu.
"Untuk pembayaran transportasi umum, sudah saya isi." kata Asisten Jang, dia tahu bosnya tidak pernah seumur-umur naik angkutan umum. Angga hanya mengerutkan dahinya, Bella merampasnya dari Angga yang masih berpikir.
"Terima kasih Asisten Jang, sampai jumpa, tak perlu mengikuti kami. " kata Bella tersenyum manis sekali.
"Baik Nona. "kata Bella.
Angga tampak keberatan, namun dia berusaha untuk tetap diam, wajahnya terus berkerut menuju halte bus yang ramai itu. Tangannya di masukkannya ke dalam saku celananya.
" Jangan terlalu bertekuk seperti itu, ini kan bukan rapatmu," kata Bella menatap Angga.
"Hmmm… " kata Angga seadanya saja.
Halte bis hari itu cukup penuh, Angga berdiri di barisan paling bekalang, dia benar-benar mengeluarkan gestur tubuh bertahannya, mencoba untuk tidak ada orang yang dekat-dekat dengannya, karna dari kecil memang tidak pernah suka dengan keramaian, hal ini cukup menganggunya, terlihat sekali dari wajahnya dan gerak-geriknya, Bella yang melihat itu sedikit tersenyum.
"Kenapa tersenyum?" kata Angga menangkap senyum Bella.
"Tidak, kau harus sering-sering keluar, kau sudah seperti anti sosial." kata Bella.
"Aku tidak suka keramaian." kata Angga datar dan serius.
"Aku suka, bagaimana dong?"
"Akan ku usahakan." kata Angga tetap datar, Bella merasa hal ini sangat lucu dan juga romantis, demi Bella, Angga mau mengusahakan hal yang dia tidak sukai.
Bis pertama datang, tapi karena bergitu ramai yang menunggu, jadinya mereka tidak bisa naik bis yang ini. Angga memandang heran dengan pengemudi bis yang melarang mereka masuk. Apa dia tidak tahu Angga siapa?.
"Silahkan menunggu bis berikutnya, bis ini sudah penuh Tuan." kata supir bis itu, menutup pintu otomatis bis. Angga sedikit kesal, dia tidak pernah ditolak seperti ini sebelumnya, jika ingin apa-apa, semuanya pasti tersedia.
Bis mulai berjalan, asapnya mulai mengebul, menerpa wajah Angga yang masih terpaku di sana, wajahnya langsung masam.
"Ayo kita kembali saja. "kata Angga lagi.
"Katanya ingin di usahkan, kenapa begini saja sudah menyerah?" kata Bella menarik tangan Angga yang sudah ingin pergi kembali ke mobilnya yang masih menunggunya.
Angga terdiam, dia lalu menurut lagi pada Bella, Bella lalu mengajak Angga duduk di salah satu tempat duduk di sana.
" Aku yakin sebentar lagi akan ada bis kok. " kata Bella menatap Angga, sepertinya Angga sudah tidak tahan dengan panasnya, terlihat dari bagian dahinya yang mulai berkeringat, dia juga membuka kancing kemejanya, membuat penampilannya lebih santai dan menawan. Tapi wajahnya tetap saja terlihat risih dengan keadaan ini.
Bella mengambil sapu tangan dari tasnya.
"Kemari, " kata Bella
"Hmm? " kata Angga melihat Bella.
"Kemari, mendekatlah. "kata Bella
Angga tak berkata apapun, dia langsung mendekatkan dirinya, Bella dengan lembut dan hati-hati menyeka keringat Angga, Angga yang di perlakukan seperti itu terdiam, menatap lurus pada Bella, harum khas Bella tercium dari sapu tangannya, tangannya yang lentik dengan perlahan mengusap keringat di wajah Angga yang bagaikan beludru itu, sangat halus dan sedikit kemerahan karena menahan panas.
"Sekarang kau baru tahukan, tidak semua hidup mudah, bahkan untuk menaiki bis saja, kita harus sabar menunggu." kata Bella lembut seolah seorang ibu yang menunjukkan arti hidup pada seorang anak.
"Karena itu aku bekerja keras agar tidak perlu menunggu bis." kata Angga dengan sifat keras kepalanya. Bella hanya tersenyum sedikit, ego prianya tidak dapat di tembus.