
Angga menunggu di samping ranjang rumah sakit Bella, Bella masih belum sadar, di kepalanya terlihat perban, sobekan di dahinya lumayan panjang, mungkin tertusuk salah satu batang pohon yang tumbang itu.
Malam itu sebelumnya, setelah ditangani oleh dokter di rumah sakit terdekat, Bella langsung dibawa ke rumah sakit di daerah militer.
Sorot mata Angga suram, melihat wajah Bella, mata kiri Bella tampak sedikit bengkak, di sudut bibirnya tampak luka sobek dan berwarna kebiruan, selain itu kemarin saat dokter menanganinya, begitu banyak luka di kakinya, tidak besar, namun meninggalkan goresan-goresan yang tampak menyayat hati Angga, siku dan lututnya pun lecet, apa sebenarnya yang terjadi padamu? pikir Angga.
Angga menunggu Bella sadar hingga pagi, bahkan dia tertidur di samping Bella, mengenggam terus tangannya, takut jika Bella terbangun, Angga tidak sadar.
Sekitar pukul 7 pagi, Angga merasakan tangan Bella bergerak, dia langsung bangun, melihat Bella yang mulai sadar, Bella langsung memegang kepalanya.
Bella membuka matanya, ruangan yang mulai terang itu membuat matanya sedikit silau, mata kirinya tambah berat, mungkin karna infeksi yang di sebabkan oleh Aksa, apa lagi sekarang mata kirinya terasa sangat silau menatap cahaya matahari itu.
Angga segera berdiri, membuat pandangan Bella segera mengarah padanya, Bella melihat wajah Angga yang tampak suram, tapi tetap tidak menutup ketampanannya, Bella terus menatap Angga lekat-lekat, air matanya berkumpul, membuat pandangannya buram.
Bella berpikir dia tidak akan bisa menemui pria ini lagi, selama dia di sekap, dia hanya ingin bisa melihat wajah Angga sekali lagi, tidak di sangka, pria ini mencarinya, datang mencarinya untuk menyelamatkannya, seharusnya ini menjadi kriteria seorang pangeran bukan? Angga lah pangerannya.
Air mata membuat pandangannya memburam, mengalir ke sela rambut Bella, jatuh begitu saja, meninggalkan jejak basah.
"Apa ada yang sakit lagi? Sebentar aku akan memanggilkan dokter lagi." kata Angga kaget melihat air mata Bella. Dia langsung terlihat begitu cemas.
Bella mengeleng, dia rindu suara Angga yang dingin itu, padahal dia baru saja berpisah dengan Angga 1 hari, tapi rasanya benar-benar menyesakkan hingga membuat air matanya tak terbendung lagi.
"Jangan menangis, kita sudah aman. " kata Angga menghapus jejak air mata Bella dengan tangannya.
"Iya. " kata Bella serak. Dia lalu mencoba untuk duduk, saat dia baru bergerak kali ini dia baru merasa perih dan nyeri di seluruh tubuhnya, terutama kakinya, kenapa dia semalam tidak merasakan apapun ya?.
Angga yang melihat itu segera membantu Bella untuk duduk, menaruh beberapa bantal di belakang pungungnya.
"Kita ada di mana?" kata Bella lagi, melihat ke arah ruangan yang tidak seperti rumah sakit biasanya Bella di rawat, tidak terlalu bagus dan perlatannya pun seadanya.
"Rumah sakit di markas militer, aku tidak bisa membawamu ke rumah sakit biasa, Aksa masih bebas, karena hak istimewanya dia tidak bisa di tahan."
"Ya, aku tahu. Kakiku sakit."
"Hanya sedikit luka kecil, mungkin terkena ranting atau duri. Akan segera sembuh." kata Angga lembut membuat Bella terhenyuh.
Angga menatap Bella yang tampak agak layu, dia menatapnya dalam-dalam, seolah begitu merindukan wanita ini, padahal malam ini dia habiskan menunggunya sadar. Rasa lelahnya terbayar, seharian menanggung rasa cemas dan khawatir benar-benar menguras semua energinya, namun melihat Bella sekarang ada di depannya, semuanya terasa lenyap.
Hening, mereka hanya saling menatap, menunjukkan betapa perasaan sudah cukup untuk menghantarkan semua kata-kata, kadang apa yang terasa tidak perlu di lukiskan dengan kata-kata. Angga sangat ingin memeluk Bella, tapi takut akan membuat Bella merasa kesakitan, dia tahu seluruh badan Bella penuh dengan luka.
"Apa sudah lapar?" kata Angga menaruhkan helaian rambut Bella ke belakang telinga Bella, sentuhan lembut tangan Angga di pipi Bella membuat Bella merasa tersengat, namun sangat nyaman.
Bella mengeleng lembut, Angga hanya tersenyum tipis, menunjukkan lesung pipinya yang membuat wajahnya seketika terlihat manis.
"Tapi kau harus makan, aku akan menyuruh Asisten Jang untuk membawakan makanan sekarang juga. " kata Angga ingin beranjak. Bella menarik tangannya, membuat Angga menghentikan langkahnya.
"Duduklah di sini lebih lama." kata Bella
Angga hanya tersenyum, mengikuti permintaan Bella, Bella kembali menatap Angga, seolah benar-benar ingin mengingat bagaimana wajah Angga, Bella merasa jika Aksa sudah mengetahui dia masih hidup, hal seperti ini bukan tidak mungkin akan terjadi lagi.
"Mengapa memandangku seperti itu, kau tidak akan kenyang hanya melihatku, kau harus makan, jika tidak kau tidak akan bisa minum obat." kata Angga sedikit tegas
"Apa kau tidak merindukanku?" tanya Bella
"Menurutmu bagaimana? " kata Angga menatap Bella dengan serius.
"Mengapa tidak menjawab, 'ya aku merindukanmu', aku akan senang mendengarkannya."
"Kau lebih suka aku mengatakannya atau menunjukkannya?"
"Tapi tidak ada perlakuanmu yang menunjukkan kau rindu padaku." kata Bella tampak cemberut.
Angga lalu menarik Bella dengan lembut masuk ke dalam pelukannya. Mengelus kepala Bella dengan sangat lembut, merasakan kehangatan tubuh Angga, membuat seluruh tubuh Bella menjadi tenang.
"Lain kali aku tidak mengizinkanmu pergi sendiri lagi ke mana pun." Kata Angga
"Benarkah? masa aku harus mengikutimu terus?" kata Bella lagi
"Masih ingin membantahku?" kata Angga melihat wajah Bella dengan tatapan tajamnya, Bella hanya tersenyum, tidak jawab perkataan Angga, tak di sangka dia masih bisa melihat tatapan tajam itu lagi.
"Handphoneku dibuang Aksa." kata Bella manja mengadu pada Angga.
"Nanti aku akan suruh Asisten Jang untuk membeli yang baru, tapi setelah kau sehat, aku tak mau kau bergadang karena menonton drama atau membaca novel."
" Tapi nanti di sini akan membosankan. kau pasti sibuk kerja."
"Aku akan menemanimu sampai kau cukup sehat pulang ke rumah." kata Angga serius
"Benarkah?" kata Bella dengan tatapan sedikit tak percaya.
"Ya." kata Angga singkat seperti biasanya. Bella mencoba untuk percaya, padahal dia tahu Angga kan jarang bisa meninggalkan perusahaannya.
"Oh, kau tahu, kemarin sepertinya aku melihat hantu! " kata Bella mengingat kejadian kemarin.
Angga mengerutkan dahi, hantu? Dia bukan orang yang percaya soal supranatural.
"Kau hanya berhalusinasi." kata Angga datar
"Kau tidak percaya? Aku benar-benar melihatnya, aku rasa dia itu Rose. " kata Bella serius, Angga hanya tertawa kecil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengirim pesan pada Asisten Jang untuk menyediakan makanan untuk Bella.
"Kalau begitu bagaimana wajah nenek buyutku?" kata Angga lagi, mencoba menanggapi celotehan Bella yang tak masuk akalnya.
"Cantik, ehm… Rose nenek buyutmu?"
"Ya, dia Ibu dari kakekku. Kenapa kau tidak tanyakan dia kenapa dia kabur?"
"Aku rasa dia tidak kabur, dia mengatakan, bahwa mereka tidak bisa membunuhnya dua kali. Apa mungkin kakek buyutmu membunuhnya lalu mengatakan bahwa dia kabur?" kata Bella mengingat apa yang di katakan wanita itu kemarin, dia tampak penasaran dengan apa yang terjadi pada Rose.
"Dibunuh? Kakek buyutku sangat mencintainya, bahkan setelah Rose menghilang, dia frustasi hingga tidak menikah, sebelum dia menikah nenek buyut Aksa." kata Angga bercerita
"Benarkah? lalu siapa yang membunuhnya? Apa mungkin keluarga Aksa yang membunuhnya? Bukannya nenek buyut Aksa yang mengantikannya, jadi kalian berbeda keturunan dari sana? " kata Bella berspekulasi, begitu banyak pemikiran dalam kepalanya, ternyata hidup seorang Putri Alexandrite itu memang tak pernah berakhir bahagia, pikir Bella.
"Entahlah, kakekku tidak berbicara apapun soal pembunuhan. Kakekku seharusnya menjadi Raja, tapi dia keluar dari kerajaan, bukannya aku sudah cerita padamu."
"Jadi seharusnya, kalau kakekmu menjadi raja, kau juga seharusnya jadi putra mahkota?" kata Bella
"Mungkin." kata Angga singkat sambil mengambil air putih untuk Bella yang masih tampak berpikir.
"Kalau begitu, seharusnya aku menikah denganmu, bukan Aksa." kata Bella menghubung-hubungkan semuanya.
"Mungkin " kata Angga lagi sambil menyerahkan segelas air putih itu, Bella menatapnya.
"Jadi Tuan Putri, Anda ingin menikah dengan Pangeran Angga atau Angga saja?" kata Angga mengoda Bella yang hendak minum. Bella tersenyum.
"Yang mana saja, asal dia dirimu." kata Bella sebelum minum air yang di suguhkan Angga.
Angga tertawa kecil mendengar kata-kata Bella.
"Dasar, pengoda kecil. " kata Angga.